Tuesday, March 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 7

Oleh. Yuli F Riyadi



Silvi melotot saat melihatku berdiri dengan sebuah ransel besar di punggung tepat di depan pintu kamar kostnya. Tanpa dipersilahkan, aku ngeloyor masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan ransel yang lumayan berat membebani punggungku. Pegel juga. Silvi masih melotot, kali ini dia bersedekap tangan menghampiriku.

“Lo apa-apaan? Bawa ransel ginian ke kostan gue. Minggat dari rumah lo ya?”

Aku cuma nyengir. Kemana lagi aku harus kabur selain kostan dia? Hanya Silvi satu-satunya teman cewek yang dekat denganku. Ada sih lainnya beberapa, tapi aku tidak akrab dengan mereka.

“Gue nginep beberapa hari ya di sini. Gue bayar kok, beneran.”

Silvi menayun-ayunkan tangannya. “Masalahnya kenapa lo kabur begini?”

“Gue males ditanya macem-macem sama orang rumah.”

“Emangnya lo habis ngapain?”

“Mph ... “ aku mengarahkan kedua telunjuk tanganku ke kedua lubang telingaku dan menyumpalkannya di sana. “Gue putus sama Naren.”

“Whatttt?!!!!!!!!!”

Hufht, untung aku sudah antisipasi teriakan yang bisa-bisa memecahkan gendang telinga. Menyangkut soal Naren reaksi Silvi akan selalu berlebihan.

“Lo sinting? Lo bego?! Kan gue udah bilang , lo harus pertahanin Naren dari si barbie centil itu. Masa lo malah nyerah gitu aja?! Percuma gue support hubungan lo.”

Harusnya memang aku tidak datang ke tempat Silvi, ke penginapan aja sekalian. Pun di sini aku mendapat omelannya. Sebenarnya orang rumah belum tahu aku putus dengan Naren, tapi aku yakin mereka akan segera tahu. Naren masih terus menemuiku di rumah. Berusaha membujukku agar mau mendengarnya.

“Mending lo sekarang temuin Naren dan bilang sama dia nggak jadi putus.”

“Igh! Nggaklah. Lo kira keputusan gue main-main. Gue benci dikhianati.”

“Kan gue udah bilang bisa saja si Alisya yang nyosor duluan.”

“Tapi Naren membalasnya.”

“Oh membalasnya.” Silvi mengangguk paham. Sejurus kemudian dia terperangah. “Apa?! Membalasnya?!”

Aku mengangguk lantas merebahkan diri di satu-satunya tempat tidur di kamar ini.

“Selama ini gue selalu percaya sama dia. Tapi mendengar dia bilang begitu kok rasanya nyesek yaa? ” ujarku menatap langit-langit kamar. “Gue nggak pernah aneh-aneh. Satunya cowok yang nyentuh gue ya dia. Tapi dia malah main sosor seenaknya sendiri.”

Silvi duduk di sampingku menatap penasaran ke arahku. “Emang lo udah diapain aja sama prince charming?”

Aku menatap Silvi malas. Anak ini pikirannya pasti sudah mulai ngawur.

“Kepo!” aku membalikkan badan menyamping menghadap tembok memunggungi Silvi yang rautnya berubah cemberut.

“Cerita dikit kan nggak apa-apa Kan. Gue penasaran aja. Eh-eh ... gimana sih rasanya ciuman sama prince charming? Gue bener-bener suka liat bibir merahnya, gemes gitu. Kalo dicium pasti manis.”

“Gue mau tidur. Nggak mau ngomongin hal yang nggak penting kayak gitu.”

Kurasakan Silvi mendorong pundakku gemas. Tapi dia membiarkanku tidur juga.

-oOo-

Aku memutuskan langsung pergi ke kampus. Saat bangun tadi, Silvi sudah tidak ada di kamar. Mungkin dia sedang berada di workshop. Dari kemarin aku belum sempat mengaktifkan ponselku. Setelah mendapat izin dari ibu aku langsung bergegas pergi ke kostan Silvi.

Dan saat aku menyalakan ponsel puluhan notif masuk. 50 panggilan tak terjawab dari Naren, dua dari ibu dan satu dari mas Bagas. Belum lagi pesan-pesan WA saat sejenak aku menghidupkan paket data. Tanpa mau membacanya, aku mematikan ponselku lagi. Aku tidak ingin diganggu. Malas menanggapi apapun.

“Idih, ini dia! Cewek sok kecakepan yang berani mutusin Naren.”

Baiklah,  tebalkan telinga Kanya.

Astaga! Gue kira cantik banget eh nggak taunya lebih cantik pembokat gue.”

Sabar Kanya.

“Sok-sokan mutusin cowok ganteng. Lagian Naren bego sih mau-maunya jalan sama cewek model begitu. Cantikkan gue kemana-mana lah yaw.”

Emang model lo kayak apa???

Yaelah cewek kaya gitu aja belagu. Dia pikir dia siapa?!”

Gue Kanyalah dodol.

Sumpah, aku paling malas menghadapi manusia model seperti ini. Aku pacaran dengan Naren salah, putus juga salah. Kalau aku menuruti setan yang ada dalam hatiku sudah bisa dipastikan akan ada perang adu mulut yang tidak terelakkan. Dan aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk hal konyol seperti itu.

Selain Silvi, aku tidak memberitahukan pada siapapun soal kandasnya hubunganku dengan Naren. Tapi kenapa gosipnya cepat sekali menyebar? Aku hanya menarik napas dalam-dalam saat melewati gerombolan orang nyir-nyir barusan. Meladeni mereka itu artinya aku sama-sama gila.

Tujuanku semula adalah menyusul Silvi ke workshop DKV tapi langkah kakiku membawaku ke wilayah berkumpulnya anak-anak klub wall climbing. Beban yang menumpuk di dada harus tersalurkan segera caranya adalah ....

“Woy! Siapa yang mau tanding sama gue naik ke atas?!”

Seluruh kepala yang ada di sana menengok mendengar teriakanku. Dengan langkah kesal aku menghampiri Odi yang sedang membawa hardness.

“Ayo, siapa yang mau lawan gue?”

Tidak ada suara. Mereka malah melongo melihatku.

“Kenapa pada diem?!”

Dan tak lama kemudian mereka saling tunjuk. Pemandangan menyebalkan apalagi ini?

“Oke, kalo nggak ada yang mau gue tunjuk acak. Lo!” tunjukku pada salah satu anak yang aku ketahui bernama Ran, anak fakultas tehnik. Seketika kulihat wajahnya pias.

"Kok gue? Kak Odi ajah tuh!"

"Lah, lo yang ditunjuk," elak Odi langsung.

"Gue mah belum bisa apa-apa Kak Kan,  beneran."

Aku berdecak.  "Cemen kalian semua!"

"Udah Ran, maju aja sana. Nggak bakal mati juga."

Akhirnya Ran menerima tantanganku dengan wajah pasrah. Kebiasaanku kalau sedang badmood sudah terbaca oleh mereka.
Wajah-wajah yang bikin moodku anjlog seketika akan pecah saat aku sudah berhasil menyentuh puncak dinding.

-oOo-

Kenan menyambutku saat aku baru turun. Membuka sebotol minuman mineral dan memberikannya padaku. Sejak kapan dia datang?

"Aku tau kamu hebat. Jadi,  sudah lega?" tanyanya begitu aku selesai meneguk minumanku yang sekarang tinggal setengah.

Sebenarnya aku malas menjawabnya. Untuk ukuran orang yang baru saja patah hati tentu tidak bisa kemudian langsung menjadi lega setelah memanjat dinding, belum lagi cemoohan kaum sok tahu dan sok paling benar yang dengan seenaknya mengumbar omongan unfaedah yang bisa bikin kuping terasa panas.

"Apa yang aku dengar itu benar?" tanya Kenan lagi. Bahkan dia sudah tahu. Kali ini aku bersamanya duduk agak jauh dari tempat latihan. Bersandarkan tembok gedung dengan mata lurus ke depan dan sesekali melihat kekonyolan teman-temanku lainnya.

"Kelihatannya?"

"Begini Kanya,  tidak semua yang kita lihat itu benar. Jadi itulah perlunya orang untuk saling berbicara."

"Aku sudah bicara. Dan apa yang aku lakukan menurutku benar."

"Jadi, Naren bilang apa?"

"Dia sadar sesadarnya saat melakukannya. Mataku juga nggak rabun." Aku mengedik.

"Mau aku traktir es krim?" Kenan berdiri kemudian mengulurkan tangannya.

"Mungkin aku memang butuh yang manis-manis sekarang."

Aku tersenyum menyambut uluran tangannya. Apa salahnya? Aku tahu Kenan hanya ingin menghiburku. Dengan tidak menanyakan terus menerus masalahku dengan Naren, itu sudah cukup memberitahuku bahwa dia bisa memposisikan dirinya agar aku bisa tetap nyaman jalan bersamanya.

Namun tak sampai berapa detik waktu berlalu, tangan Kenan yang tadinya menggenggam tanganku terlepas.

"Naren!" pekikku terkejut melihat tubuh Kenan terhempas mundur dan terjatuh.

Laki-laki posesif itu merangsek maju mendekati Kenan yang belum siap menerima serangan dadakan. Entah sejak kapan Naren tiba-tiba muncul. Aku segera melompat dan menarik tubuh Naren sebelum dia kembali melayangkan tinjunya. Manusia ini benar-benar sudah gila.

"Naren, stop!" teriakku berusaha mencegah tubuhnya yang terus saja ingin menerjang Kenan.

"Berani-beraninya lo nyentuh Kanya!" tunjuk Naren berang ke arah Kenan yang kini sedang berusaha untuk bangkit. Keributan ini mengundang anak-anak klub. Mereka cepat bergerak menolong Kenan.

"Maaf Kenan,  nanti kita bicara lagi," ucapku menatap Kenan menyesal. Lalu beralih memaksa si tuan posesif agar pergi dari tempat ini. "Cepet kita keluar."

Aku terus menarik tangan Naren keluar gedung. Memalukan. Memang apa yang sudah Kenan lakukan sehingga dia pantas mendapat pukulan dari manusia ini? Harusnya dia yang pantas mendapatkannya.

"Kamu gila ya?! Kenapa kamu memukul Kenan?" aku menghempas tangan Naren saat kami sudah tiba di tempat parkir,  area yang agak sepi dari jangkauan anak-anak kampus.

"Kanya,  dia memegang tangan kamu."

"Lalu masalahmu apa?"

"Kamu itu pacar aku, Kanya."

"Kita sudah putus kalo kamu lupa."

"Aku belum sepakat soal itu."

"Aku tidak perlu kesepakatan dari pengkhianat seperti kamu."

"Aku bukan pengkhianat?"

"Terus apa? Tukang selingkuh?"

"Kanya please! Semua nggak seperti apa yang kamu pikir. Aku dan Alisya nggak ada hubungan apapun. Dia yang terus menggangguku."

Aku jengah. Nggak ada hubungan apa-apa kok ciuman? Mengajak Naren putus memang tidak segampang itu, aku sadar. Tapi untuk apa juga dipertahankan?

"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku sudah anggap kita selesai. Dan jangan coba-coba bertindak bodoh lagi di depan teman-temanku seperti tadi."

Aku mundur selangkah untuk kemudian berbalik. Namun sebelum aku menggerakkan kaki lagi, Naren menyambar lenganku.

"Kanya please, jangan seperti ini. Aku minta maaf. Iya aku salah. Aku minta maaf. Tapi tolong jangan menjauh. Aku nggak akan tenang pergi ke Harvard kalo kamu seperti ini." Nadanya kembali melembut.

"Ada atau nggak ada aku,  kamu akan tetap pergikan? Nggak usah berlebihan deh."

"Tapi aku ingin saat aku berangkat,  kamu bisa mengantarku dengan senyuman Kanya. Bukan dengan kobaran api seperti ini. Please, aku minta maaf Kanya."

Naren melangkah maju. Mencoba menyentuh wajahku.

"Stop, jangan bergerak."

"Kanya,  kamu mau maafin aku kan?"

Bukan berarti panas setahun dihapus hujan sehari. Tapi kesalahan Naren kali ini bagiku seperti racun. Mematikan perasaan dan meninggikan egoku. Darimana pikiran itu berasal? aku merasa Naren memang punya hubungan khusus dengan Alisya tanpa sepengetahuanku.

Jika saja aku tidak melihat kejadian itu, entah sampai kapan Naren akan menyembunyikan semuanya dariku. Bahkan sampai saat ini, dia masih meyakinkanku kalau mereka tidak ada hubungan apapun.
Mana ada maling ngaku?

Mataku memejam, lagi-lagi bayangan mereka saling menempelkan bibir memutar.
Menghela napas, aku mencoba menenangkan dadaku yang mulai bergemuruh.

"Baik,  aku maafin kamu_"
Aku menggantungkan kalimatku saat kulihat dia mengukir senyum. "Tapi aku mau semuanya cukup sampe disini, " sambungku membuat senyum itu lantas  memudar.

"Ka--Kanya."

Aku mundur beberapa langkah. "Dari awal kita memang tidak cocok. Selama ini aku mungkin yang terlalu memaksakan diri untuk bisa ngimbangin kamu. Dan aku rasa kamu memang lebih cocok dengan perempuan itu. Dia lebih baik dariku segala-galanya."

Naren menggeleng.

"Kamu nggak perlu cemas Naren, nggak akan ada lagi si keras kepala yang membuatmu kesal. Dan perempuan itu pastinya lebih menghargaimu daripada mendebatmu."

Naren masih terus menggeleng.

"Kamu tampan, dia cantik, paskan? Orang nggak akan sakit mata kalo lihat kalian jalan berdua karena kalian pasangan yang sangat serasi."

Aku tersenyum getir. Mengingat kembali tiap kali jalan berdua dengan Naren di lingkungan kampus ada saja orang yang mencibir.

"Kanya, nggak seperti itu."

"Jangan menggangguku lagi Naren, please ... biarkan aku sendiri."
Mataku sudah terasa panas. Kuangkat tanganku saat Naren hendak mendekat.

Aku bergegas menjauh. Rasanya begitu sesak. Ada sesuatu yang hendak meledak di dalam dadaku. Dan membiarkan air mata tidak tahu diri ini mengalir di depan Naren, bukanlah hal yang ingin kulakukan. Sehancur apapun perasaanku saat ini.

-oOo-

Beberapa hari setelahnya, Naren benar-benar menuruti apa mauku. Dia tidak lagi menelepon atau pun mengirimiku pesan. Aku memutuskan kembali ke rumah.

Tepat saat kakiku menginjak halaman rumah kembali, sebuah notif WA muncul di ponsel.

Besok pesawatku terbang pukul 7 malam. Aku masih berharap kamu mau mengantarku Honey.

Aku mendesah pelan sebelum melangkah memasuki rumah.

"Galaunya sudah sembuh Dek?"

Aku berjengit kaget. Kukira tidak ada orang di rumah. Tiba-tiba saja Mas Bagas muncul dari arah dapur membawa sebuah mangkok yang kutahu dari aromanya bisa kutebak berisi mi rebus.

"Yee,  siapa yang galau."

Aku membaui aroma mi rebus yang membuat produksi air liurku meningkat.

"Bagi dong Mas."

"Mau?"

Aku mengangguk antusias.

"Bikin aja sendiri."

"Pelit ah," sungutku kesal.

"Perutku lagi laper banget Dek, ibu lagi ke rumah budhe, nggak ada makanan apapun selain mi instan. Jadi, kalo kamu laper juga, gih buat sendiri aja."

"Aku nggak laper, sebelum pulang tadi makan dulu di warteg sama Silvi."

Mas Bagas mulai menyantap mi rebusnya.

"Naren, apa kabar? Dia pernah sekali kesini pas kamu nggak ada di rumah. Kasian banget aku liat mukanya. Sebenarnya kalian ada apa sih? Berantem?"

Aku menghela napas. Tanpa aku bicara pun, Mas Bagas sepertinya sudah bisa menebak.

"Aku nggak mau ikut campur urusan kalian sih. Cuma jangan sampe kamu buat keputusan yang bikin kamu nyesel nantinya."

Nyesel? Aku belum sampai pada tahap itu kurasa.

"Besok pesawatnya berangkat pukul tujuh malam," beritahuku tanpa Mas Bagas minta.

"Kamu mau nganter dia ke bandara?"

"Aku nggak tau Mas."

"Kalo kamu emang mau, pergi aja. Tekan dulu yang namanya ego. Kaliankan udah kenal lama. Kasian loh, dia pasti ngarepin kamu anter."

Tidak aku pungkiri aku memikirkan kata-kata Mas Bagas saat aku masuk ke kamarku. Aku mencoba menyelami hatiku sendiri. Masih adakah sedikit rasa empatiku untuk Naren setelah semuanya?

Jawabannya membuat kepalaku menggeleng keras. Aku tidak menyukai ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja seiring dengan berjalannya waktu. Kami akan sama-sama disibukkan oleh dunia masing-masing. Yah, aku rasa itu memang yang terbaik.

-oOo-

Aku bergerak gelisah di atas ranjangku. Sebentar berguling, sebentar duduk. Sesekali melihat ke arah jarum jam yang terus bergerak. Sebentar lagi pesawat Naren take off. Kalau sekarang aku pergi ke bandara, mungkin masih bisa kekejar.
Aku kemudian meraih tasku,  berdiri sebentar, tapi lantas duduk lagi. Berpikir lagi. Bertanya pada diri sendiri. Perlukah aku ke sana?

Baiklah, Aku memang sudah putus dengan Naren. Tapi rasanya tidak salah kalau aku mengantarnya ke bandara. Setidaknya aku akan mengucapkan salam perpisahan sebelum dia pergi jauh. Mas Bagas benar. Aku bergegas bangkit sebelum berubah pikiran lagi. Selamat kau menang wahai hati.

Dan sekarang aku di sini. Di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Sial, aku tidak tahu Naren ada di gate berapa. Tempat ini sangat luas.  Aku sedang melihat LCD besar yang menampilkan schedule penerbangan luar negeri saat sebuah suara memanggilku.

"Mbak Kanya!"

Aku menoleh dan mendapati Arsen melambai kepadaku. Dia berlari kecil menghampiriku. Di tangannya ada sebuah gelas kertas yang menguarkan aroma kopi.

"Mba Kanya di sini juga? Pasti mau nganter Kak Naren kan?" tanyanya begitu sampai di depanku. Melihat Arsen aku jadi merasa tertolong,  setidaknya aku tidak perlu kebingungan mencari-cari Naren di tempat seluas ini.

"Oh, iyah. Kamu juga?"

"Ya iya dong aku kan adiknya. Ada Papa sama mama juga kok. Ayok Mbak kita kesana."

Aku berjalan beriringan bersama Arsen. Dia itu mukanya sebelas duabelas dengan Naren. Tinggi juga hampir sama. Tipe fansgirl banget. Aku yakin ketenarannya di sekolah juga tidak beda jauh dengan Naren. Bedanya apa yaa???

"Haiii manis, malam ini cantik deh."

"Halo cantik, kapan-kapan kita minum kopi bareng yah."

Astaga! Itu dia bedanya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak belasan tahun di sampingku. Hampir semua cewek yang berpas-pasan dengan kami dia kerling. Sepertinya anak ini punya jiwa playboy yang lagi diasah.

"Nah, tuh Kak Naren ada di sana."

Aku mendongak saat telunjuk Arsen mengarah ke deretan kursi tunggu yang tak jauh dari kami.

"Eh tapi, dia sama siapa ya? Perasaan tadi cewek itu nggak ada deh."

Itu Alisya. Mataku melihat perempuan itu menggenggam tangan Naren. Aku terpaku, tidak jadi melanjutkan langkah. 

"Kok mbak Kanya berhenti?"

Sebenarnya tidak ingin, tapi aku memaksakan diri untuk tetap tersenyum di depan Arsen.

"Arsen, maaf aku lupa sesuatu. Tiba-tiba saja aku ingat ada janji malam ini dengan temanku. Sepertinya aku nggak bisa mengantar Naren. Maaf Ya... " sekuat hati aku menyembunyikan perasaanku yang mendadak ngilu di hadapan Arsen.

"Tapi Mbak,  katanya_"

"Tolong kamu jangan bilang Naren kalo aku ke sini yah, please."

"Tapi_"

"Arsen, berjanjilah, aku mohon yaah."

"Oke,tapi Mbak_"

"Kalo gitu aku pergi dulu."

Aku buru-buru membalikkan badan dan berjalan cepat.

"Tapi Mbak ... Mbak Kanya tunggu ...."

Sempat aku mendengar Arsen masih terus memanggilku.

Bodoh! Untuk apa aku datang ke sini? Jelas-jelas Naren sudah melupakanku. Ada Alisya, perempuan cantik yang bisa Naren banggakan. Harusnya aku bersikukuh dengan tekad awalku. Sekarang mungkin logikaku sedang mengejekku karena lebih menuruti kata hati dari pada mendengar perintah otak di kepalaku.

Ya Tuhan,  kenapa aku jadi secengeng ini? Berengsek memang. Aku benci produksi air mataku yang melimpah ruah. Tapi aku harus akui, ini jauh lebih sakit dari saat pertama kali tahu Naren bermain di belakangku.

BERSAMBUNG





Prince bakalan slow update karena aku sedang on going belajar menulis lebih baik lagi.

Semoga semuanya berjalan lancar terkendali.

No comments:

Post a Comment

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...