Sunday, April 26, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa


Oleh. Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 14

Aku kesal setengah mati dengan perbuatan konyol laki-laki itu hingga berakhir  pada diriku yang basah kuyup. Kelakuannya benar-benar norak. Tak hentinya aku mengumpat sepanjang jalan dia membawaku ke kamarnya di lantai paling atas hotel ini.

"Kamu bisa pake ini." Naren menyerahkan sebuah kemeja lengan panjang. Aku menerimanya ragu. Ya masa aku haruslah pake kemeja doang?

Seakan mengerti dengan kegelisahanku,  Naren kembali ke arah walk in closed dan mengambil sesuatu di sana. Dia menyodorkan sebuah celana pendek bergambar ...  Spongebob! 
Tawaku hampir saja meledak kalau tidak segera kubungkam mulutku dengan tangan. 

"Kalo mau ketawa, ketawa aja. Nggak usah ditahan. Itu memang boxer milikku. Yang milih juga kamu, kalo kamu lupa."

Aku spontan merubah mimikku. Masa iya? Aku mengambil boxer itu dari tangan Naren. Tanpa banyak bicara aku berjalan menuju kamar mandi.

Saat aku keluar, Naren sudah duduk di sofa dengan dua buah cangkir mengepul yang terletak di meja kecil di hadapannya. Dia sudah berganti pakaian juga. Aku menghampiri lalu duduk di sebelahnya.

"Ini jahe susu, minum." 

Naren mengangkat salah satu cangkir itu dan menyerahkannya padaku. Minuman Naren memang tidak jauh-jauh dari susu. Cara hidup sehat yang dia terapkan kadang membawa keuntungan sendiri buatku. Aku bukan tipe orang yang mau repot demi menjaga pola makanku agar tetap bagus.

Jadi dulu itu, saat dirasa aku sudah terlalu berlebihan dengan gaya makanku yang kurang sehat,  Naren akan selalu menjadi alarm buatku. Tapi anehnya, dia terlalu sulit untuk diajak olahraga outdoor yang terlalu berat, karena itu sangat merepotkan  baginya.

Minuman jahe ini langsung bisa menghangatkan tubuhku. Setelah beberapa kali aku menyesapnya,  aku meletakkan kembali cangkir itu ke meja.

"Aku bantu keringkan rambut kamu."

"E-eh nggak perlu... "

Rambutku yang masih basah berjatuhan saat Naren berhasil membuka handuk yang melilit di atas kepalaku.

"Aku bilang nggak perlu, aku bisa sendiri. Siniin handuknya."

Tangan Naren mengelak,  menjauhkan handuk itu dari jangkauanku.

"Udah sih kamu diam, bentar aja kan."

Dia malah memutar badanku agar memunggunginya. 

"Ta-tapi... "

Percuma, tangannya mulai mengusap-ngusap rambutku dengan handuk itu. Tubuhku membeku, entah apa yang aku pikirkan. Aku hanya diam saat tangan Naren terus bergerak lembut di atas kepalaku.

"Wangi."

Kepalaku sontak menjauh saat Naren menciumi aroma rambutku. Sial. Hatiku berdebar tak menentu hanya karena itu.

"Kamu ngapain sih?" aku mendelik.

"Kamu lihatnya aku ngapain?"

"Sini handuknya, biar aku keringin sendiri."

"Kapan sih kamu nggak jutek sehari aja?"

Aku tidak peduli lagi ocehannya. Terserah dia mau berpendapat apa. Bel pintu berbunyi,  Naren beranjak dari duduknya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah nampan besar berisi dua porsi makanan dan dua gelas minuman.

"Kita nggak bisa makan di bawah karena baju kamu basah, jadi aku pesan via room service aja. Dia juga sudah membawa bajumu untuk dilaundry. Nggak papa 'kan?"

Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya sekilas. 

"Ayo kita makan dulu."

Aku mengikutinya menuju dapur kecil yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Mengambil tempat duduk bersebrangan dengannya. Lalu kami makan dalam diam.

Aku  menyuap sendok terakhir saat kulihat Naren sudah menandaskan minuman di gelasnya. Sepertinya dia kelaparan.

"Makanan di sini lumayan enak. Sangat sesuai dengan lidahku."

Aku tidak merespon ucapannya. Tanpa dia kasih tahu pun aku sudah paham seleranya itu seperti apa.

"Kanya,  pembicaraan kita belum selesai."

"Apalagi?"

"Jangan pura-pura lupa, Kanya. Kamu mau 'kan kembali padaku lagi?"

Aku tidak lupa. Cuma malas membahasnya saja. Aku membereskan piringku lantas beranjak ke bak pencucian piring tanpa menjawab pertanyaan Naren. 

Aku hendak mencuci piring kotor itu,  saat Naren dari belakang mencegahku, membuat aku terperanjat.

"Nggak perlu cuci piring itu, nanti mereka juga akan membawanya."

"Oke."

Aku menyalakan keran air dan mencuci tanganku lalu mengeringkannya pada mini dryer yang ada di dinding atas bak cuci piring.

Tanpa aku duga, Naren menyentak tanganku hingga tubuhku limbung dan sukses terjerembab tepat di dadanya.
Dia mendekapku sangat erat,  begitu erat membuatku yang tadi seketika kaget berubah tegang.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku," bisiknya pelan.

Aku seperti terlempar pada sebuah dejavu masa lalu. Ucapannya serasa baru kemarin terlontar dan kini aku mendengarnya lagi. Saat aku merasa muak dengan semua kata cintanya. Ketika aku ingin jauh dan lepas darinya.

Tapi sekarang, yang aku rasakan bukan seperti itu. Aku malah ingin semakin membenamkan diri dalam pelukannya.

"Kanya, stay with me, marry me, please...."

Aku masih membisu. Tidak tahu apa yang ingin aku katakan. Karena tiba-tiba saja wajah Nadine dengan tawanya yang renyah berkelebat.

"Naren, Nadine.... " Aku mendorong dadanya mundur. Dia menatapku dengan kening berkerut. Mungkin aneh, di saat seperti ini kenapa aku malah menyebut nama orang lain?

"Ada apa?"

Posisi kami masih saling menempel dengan kedua tangan Naren yang masih memeluk erat pinggangku.

"Nadine, di-dia menyukai kamu... "

Naren membuang napas, lalu mengendurkan pelukannya. Seolah apa yang aku katakan tadi itu mengganggunya. Tanpa aku duga dia melangkah pergi begitu saja,  dan menjatuhkan diri ke sofa. Aku menatapnya bingung. Apa dia tidak ingin mengatakan sesuatu?

"Bukan hanya Nadine, kalo kamu memang ingin tau." Naren menoleh padaku. Aku melihat ada raut tidak suka yang dia tunjukkan.

"Tapi kenapa itu seolah penting buatmu?"

"Karena Nadine itu temanku," jawabku mendekat padanya.

"Lalu?"

"Dia pasti terluka kalo kamu seperti ini."

Seperti tidak peduli dengan ucapanku, Naren beranjak, mengambil sesuatu kemudian langkahnya menuju balkon. Dia bersandar di sana. Beberapa detik kemudian, pandanganku memicing saat ku lihat dia menjejalkan sesuatu pada mulutnya lalu memantik api. Detik berikutnya asap itu mengepul keluar dari mulutnya perlahan. Naren merokok! 

Cepat-cepat aku berjalan mendekatinya.
"Sejak kapan kamu berani merokok?"

Aku masih tidak percaya. Naren bukan tipe laki-laki yang gemar merokok. Membaui asapnya saja dia paling anti. Lalu ini apa?

"Sejak aku kehilangan kamu," jawabnya tanpa menatapku. Pandangannya menerawang jauh ke gemerlap cahaya lampu malam kota Surabaya yang tampak indah terlihat dari atas sini.
Naren seolah menikmati isapannya pada benda bernikotin itu.

"Na-Naren, kamu nggak seharusnya seperti ini."

"Apalagi, Kanya? Setelah membawaku mencintai batang nikotin ini, kamu mungkin akan segera membawaku mencintai minuman beralkohol. Kamu nggak sadar atau gimana? dari dulu kamu selalu membuatku gila."

"Naren..."

"Apa kurangku Kanya? Apa harga diriku masih belum cukup untuk melawan ego kamu yang besar itu selama ini?"

Naren membuang rokoknya yang masih menyala, lantas menginjaknya hingga baranya mati.

"Aku nggak pernah memikirkan apa pun untuk mencintai kamu. Tapi kamu malah peduli dengan orang lain tanpa memikirkan perasaanku."

"Naren aku,  aku nggak bermaksud... "

Bibirku bergetar, aku selalu takut untuk memulai lagi. Hanya itu. Perasaanku terlalu dalam pada laki-laki ini. Hingga aku merasa takut untuk memulainya kembali jika pada akhirnya aku akan patah hati lagi.

Entah sejak kapan mataku terasa basah dan perih. Dadaku terasa terhimpit dan teramat sesak. Aku bukan sosok yang cengeng. Nyaris tidak pernah menangis di hadapan Naren. Tapi pertahananku kali ini sangat buruk.

"Kanya? Kamu menangis?" Suara Naren panik, dia mendekatiku segera. "Apa ucapanku tadi menyinggungmu? Kanya, sorry. Aku nggak bermaksud kasar..."

Berengsek. Kalaupun aku harus menangis, tidak seharusnya di hadapannya langsung seperti ini. Aku merasa payah. Air mata sialan ini malah semakin menjadi. Terus saja mengalir seolah tidak mau berhenti.

Bagaimana aku bisa bicara dengan baik kalau begini? Tapi aku memang tidak ingin bicara apa pun lagi,  terlebih sekarang Naren membawaku kembali pada pelukannya yang hangat. Rasanya tidak pernah berubah dari dulu. Sekuat apa pun aku menyangkal, nyatanya dekapan laki-laki posesif ini masih sangat menenangkan.
 
Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Naren mengangkat tubuhku, dia membopongku dalam sekali sentak. Tanganku spontan mengalungi lehernya. Lantas kubiarkan langkah Naren membawaku menuju sebuah ruangan yang terdapat bed berukuran besar di tengahnya. Ada pintu kaca tinggi yang terbuka lebar dengan tirai melambai di terpa angin malam. Sepertinya itu balkon kamar.

Naren meletakkan tubuhku dengan pelan  ke atas bed. Lalu dia mengusap sisa air mata di sudut mataku.

"Aku minta maaf." Kubiarkan saat dia melabuhkan kecupan di keningku.
Jarak kami yang dekat seperti ini menyadarkanku  bahwa kenyataannya memang aku sangat merindukan kehadirannya.

Aku memejamkan mata, sedetik kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Sudah sangat lama. Jadi rasanya bagiku seperti  baru mendapat ciuman pertama. Mendebarkan dan menghanyutkan.

BERSAMBUNG
Penerimaannya pada sentuhanku seolah menjadi jawaban. Aku yakin, seyakin-yakinnya perasaannya masih ada untukku.
Tatapan matanya yang berubah sendu. Gerakan bibirnya yang seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak kunjung kudengar juga.

Ini gila. Tapi aku benar-benar merindukannya. Aku terus memagutnya mencurahkan segenap rinduku yang membuncah. Sesekali aku mengurai, tapi kemudian aku mencecap bibirnya kembali tanpa henti. Hingga sampai detik ini, Kanya masih saja candu buatku.

"Kanya... "

Sial! Kenapa suaraku terdengar serak seperti ini? 

Mata beningnya menatapku, seakan menungguku mengatakan sesuatu.

"Kanya, apa aku boleh..."

Di luar dugaanku, Kanya membungkamku dengan bibirnya. Kenapa aku malah dibuat mabuk seperti ini?

Tanpa pikir panjang lagi, aku membalasnya. Kali ini lebih bersemangat dari sebelumnya. Bahkan saat tanganku membuka satu kancing kemejanya dia tidak mempermasalahkannya. Dan berengseknya aku, sebuah lolosan desahan Kanya membuat akal sehatku hilang saat aku bermain pada leher jenjangnya.



Saturday, April 18, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 13


Kenan langsung saja berlalu ke belakang begitu aku membuka pintu, membuat Naren melengos. Aku bisa menebak wajah geram setengah mati yang Naren coba tahan. Aku tidak peduli sih. Aku hendak menyusul Kenan ke belakang saat Naren bersuara.

"Apa dia seperti itu kalo ke sini?"

"Maksudmu? Kenan?"

"Ya, dia bertingkah seolah dia tuan rumahnya saja."

"Nggak usah dipermasalahkan itu udah biasa. Dia cuma mau mengambil peralatan pendakian."

"Kamu mau mendaki?"

"Bukan aku, Kenan."

"Kanya! Semuanya masih oke kan?!" teriak Kenan dari arah dalam.

"Sepertinya aku harus ke sana."

"Aku ikut."

Naren mengekor di belakangku. Dia sudah seperti pengawal saja. Padahal ini rumahku sendiri. Dan orang yang dia khawatirkan hanya Kenan. Selama dia tidak ada, Kenan telah menjadi teman yang baik buatku.

Aku baru akan melihatnya ke kamar tamu saat Kenan sudah menyeret sebuah ransel gunung kebanggaanku. Sudah hampir satu tahun aku tidak ikut rombongan mendaki. Alasannya tentu saja karena pekerjaan. 
Nyaris semua pekerjaan yang aku tangani memintaku agar bekerja lebih cepat. Syukur-syukur Tata masih ingat memberiku libur di hari sabtu-minggu. Kalau tidak, aku akan terpenjara dalam studionya setiap hari.

"Aku tau kamu nggak akan ikut pendakian lagi. Jadi aku nggak perlu repot membawa peralatan pendakiku. Semua masih oke 'kan?" tanya Kenan lagi.

"Semua benda-benda yang aku sayangi akan selalu oke. Kamu nggak perlu meragukan itu."

"Aku tau itu."

"Jadi kapan lo mau mendaki?" itu Naren yang bertanya. Dari tadi dia hanya melihat bagaimana Kenan menata ulang kembali barang-barang yang dia pinjam dariku.

"Lusa. Kenapa? Lo tertarik ikutan?"

"Gue bukan orang gunung. Jadi ya, maaf saja."

"Beda lagi kalo Kanya ikut. Lo pasti akan mendadak berubah jadi orang gunung."

Naren mendengus. Dia terlihat tidak menyukai apa yang Kenan katakan. Setelah beres dengan semuanya,  Kenan membawa ransel itu ke pundaknya untuk digendong.

"Kanya, aku pergi dulu ya. Masih ada keperluan lain yang harus aku beli. Tadinya aku mau ngajak kamu. Berhubung sekarang kamu ada tamu ya terpaksa aku pergi sendiri."

"Kamu yakin nggak mau aku temeni?" tanyaku membuat Naren di sampingku berdecak.

"Dia sudah dewasa Kanya. Timbang gitu doang masa minta temen."

Kenan tertawa, apa ada yang lucu dari ucapan Naren tadi?

"Lo masih sama aja kaya dulu. Posesif, padahal lo bukan siapa-siapa Kanya lagi."

Aku melirik Naren sekilas. Dia mengarahkan tatapan membunuh ke wajah Kenan yang masih saja tetap santai. Entah sejak kapan Kenan punya hobi memancing emosi orang. Dulu yang sering melakukan itu Ramon. Anak itu suka mencari perkara dengan Naren. Ah, mengingat Ramon aku jadi teringat Alisya.

"Ya udah aku cabut yah." 

Kenan melangkah keluar rumah diikuti aku dan Naren. Aku sangat iri saat Kenan menyimpan ransel pendakian itu di tempat duduk bagian belakang mobilnya. Iri sekali,  karena sebenarnya aku sangat rindu mendaki. 

Kenan memundurkan mobil lantas mulai berbelok meninggalkan latar rumah kontrakanku. 

Kini yang ada hanya aku dan Naren. Mendadak suasana hening. Naren memutar badan ke arah ku, menatapku lurus. Hari menjelang senja. Semburat cahaya jingga menerpa wajahnya, semilir angin berhembus mengibarkan helaian rambutnya yang hitam. Melihatnya di hadapanku sekarang seperti oase di musim kemarau panjang.

"Kanya," suara beratnya menyebut namaku. Ada getar aneh yang menyelinap pelan di relung dadaku. Aku bisa melihat dengan jelas tatapan teduhnya. Tatapan penuh harapan dan cinta yang hampir lima tahun tidak pernah aku lihat lagi.

"Apa kamu mau ikut denganku? Ada, sesuatu yang ingin aku tunjukkan."

Aku belum bereaksi apapun saat tiba-tiba saja gerakkan tangan Naren membuatku menahan napas. Dia menyelipkan anak rambutku yang menjuntai ke balik telingaku.  Kakiku melangkah mundur,  aku tidak mau ambil resiko Naren menangkap kegugupanku.

***

Naren mengajakku ke salah satu  residen hotel termewah di Surabaya. Sebenarnya ada tanda tanya besar di kepalaku. Mau apa dia mengajakku ke sini? Apa selama di Surabaya dia menginap di salah satu kamar hotel ini? Atau dia berniat mengajakku makan malam di restoran mewah yang ada di sini? Bukannya apa, dulu Naren sering melakukan itu. Tempat-tempat yang sering dia kunjungi semua berkelas 'wah'  menurutku.

Aku masih belum bersuara saat Naren menghampiri salah satu resepsionis cantik yang ada di front lobbi hotel. Aku memang sudah dua tahun di sini,  tapi belum sekali pun datang ke hotel ini. Dan penampakkan dari depannya saja sudah sangat membuatku berdecak kagum. Mengusung gaya arsitektur jawa tapi kesan modern tidak ketinggalan. Aku lebih memilih duduk di salah satu sofa, yang berjejer rapi di area lobbi. Membiarkan Naren yang terlihat berbicara serius dengan resepsionis itu. Menikmati view dari sini lumayan bisa memanjakan mata.

"Kanya, ayo ikut aku. Sebelum kita ke restoran aku mau kamu melihat-lihat sekeliling hotel ini."

"Tapi kenapa?"

Naren hanya tersenyum, lalu gestur tubuhnya mengajakku untuk segera bangkit mengikutinya.

Naren mengajakku berkeliling area outdoor hotel. Lampu-lampu terpancar indah di sepanjang jalan kami menyusuri tiap jengkal pelataran hotel yang sangat asri.

"Sebagian besar baru selesei renovasi. Biasanya aku sebulan sekali meninjau. Karena di Jakarta sudah ada Arsen,  aku bisa leluasa pergi ke sini untuk beberapa lama. Dan bisa jadi mungkin aku akan di sini seterusnya."

"Maksud kamu apa?"

"Sudah hampir satu tahun  residen hotel ini diambil alih oleh papa."

Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikan tadi. Apa namanya juga sama dengan nama hotel-hotel milik keluarga Naren lainnya?

"Tidak mudah untuk penggantian nama, tapi kasusnya sudah terselesaikan sih. Jadi, sebentar lagi nama barunya akan segera di pasang," terang Naren kembali.

Selain apartemen, keluarga Naren juga memiliki bisnis perhotelan. Aku tahu, Mas Bagas dulu yang pegang proyek pembangunannya di Bandung dan Cirebon. Tapi rasanya janggal, jika Naren hanya mau mengurus hotel ini,  karena jelas dibandingkan yang ada di Jakarta,  ini belum ada apa-apanya.

"Apa yang membuatmu tetap di sini? Aku tau hotel dan apartemen keluarga kamu berpusat di Jakarta. Sebagai anak pertama,  bukannya seharusnya kamu yang mengelola di sana?"

"Aku atau Arsen itu sama aja Kanya. Tidak ada anak pertama atau kedua. Dan lagi pula, ada alasan kuat kenapa aku memutuskan untuk mengelola hotel ini secara langsung."

Aku mengerutkan kening. Alasan kuat? Aku tidak mau berpikir macam-macam. Tapi saat ini tatapan Naren menghunus sempurna ke manik mataku dengan senyum yang sedikit mencurigakan.

"Alasanku adalah kamu, Kanya."

Aku ingin sekali terkejut. Tapi nyatanya tidak. Karena alasan Naren sama seperti yang aku pikir. Aku menghembuskan napas panjang.

"Naren dengar..." langkah kami terhenti tepat di tepi kolam renang. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pegawai hotel dan mungkin beberapa tamu yang hilir mudik.

"Tolong jangan libatkan aku dalam hal ini. Keluargamu lebih membutuhkan tenaga dan pikiran kamu. Nggak ada yang lebih penting dari itu. Kalo kamu memang tetap ingin di sini,  tolong kamu cari alasan lain yang lebih kuat. Yang jelas alasan itu bukan karena aku."

"Kanya, kamu itu penting buat aku. Aku beneran nggak paham akan situasi ini bahkan lima tahun yang lalu. Kamu ninggalin aku, Kanya. Padahal kamu tau, aku sangat mencintai kamu."

Harusnya aku lega mendengar ini. Tapi entah kenapa dadaku malah memanas. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat bagaimana cara dia membuatku kecewa.

"Tidak ada pengkhianatan dalam cinta, Naren." Aku berusaha tetap menjaga intonasi suaraku agar tidak meninggi.

"Aku bahkan sudah minta maaf untuk hal itu. Apa kamu nggak bisa lupain itu dan membuka lembaran baru bersamaku?"

Tidak semudah itu. Aku perlu waktu lama untuk menyembuhkan lukaku sendiri. 
Menerimanya kembali artinya aku membenarkan apa yang dia lakukan dulu.  Meskipun aku akui perasaan sentimentil ini masih ada, aku tidak semudah itu kembali padanya.  Ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan.

"Aku nggak bisa."

"Kanya, sekali lagi aku minta maaf." Tatapan mata Naren berubah sendu. Aku membenci ini.

"Dengan wanita manapun aku tidak pernah seperti ini,  termasuk mamaku sendiri. Tapi demi memintamu untuk kembali padaku, aku nggak peduli biarpun aku harus terlihat bodoh di mata orang lain."

Apa-apaan ini? Tindakan Narena sudah diluar perkiraanku. Dia berhasil membuatku terkejut dan malu secara bersamaan.

Naren menjatuhkan kedua lututnya tepat di depan kakiku. Aku kontan mundur, apa yang ada dalam pikiran laki-laki ini?

"Kanya, aku mohon terimalah aku kembali menjadi bagian hidup kamu."

"Naren, hentikan," desisku panik. Orang-orang mulai memperhatikan kami. Astaga! Laki-laki ini benar-benar keras kepala.

"Aku akan berhenti saat kamu mau menerimaku kembali."

"Aku nggak bisa Naren."


Tangan Naren bergerak meraih kakiku, namun aku bisa menghindarinya secepat mungkin. Meskipun akhirnya aku kehilangan keseimbangan karena gerakan tiba-tiba yang aku lakukan. Bodohnya aku,  yang tidak ingat tepat di belakangku itu kolam renang. Ya! Tubuhku sukses basah kuyup karena terjebur ke dalam air kolam. Sial. Ini gara-gara kekonyolan manusia bebal itu.

BERSAMBUNG




Rasanya tidak tahan melihat keakraban Kanya dengan Kenan. Bagaimana tidak? Laki-laki itu dengan bebas memasuki wilayah pribadi Kanya
Aku tidak menyangka saja. Selama aku tidak ada di siai gadis itu, posisiku seolah tergantikan dengan kehadiran Kenan. 

Apapun caranya, aku harus bisa membuat Kanya menerimaku kembali. Bahkan berlutut di depannya sekali pun. Seperti yang aku lakukan sekarang. Tapi sialnya, adegan drama yang aku buat kacau seketika saat tubuh Kanya malah terjatuh ke dalam kolam yang berada tepat di belakangnya.

Kemampuan renang Kanya tidak bisa aku ragukan lagi. Tapi entah kenapa aku tetap saja menceburkan diri, menolongnya. Ah ini bukan menolong. Tapi menyusul masuk ke dalam air. Lihat, dia bisa menepi dengan sendirinya.

"Dasar bodoh!" umpatnya saat berhasil naik ke permukaan kolam.
Dia menatapku garang. Aku sangat rindu tatapan galaknya itu. Tak pelak itu membuatku malah tersenyum.

"Apa yang sebenarnya ada di otakmu itu, heh?!"

"Kamu."

"Berhenti bercandan, Naren. Itu nggak lucu!"

"Siapa bilang lucu? Aku serius."

Dia menatapku kesal. Malah sepertinya berkali-kali lipat kesalnya. Di saat seperti ini, mata jalangku langsung peka. Melihat tubuh Kanya basah kuyup seperti itu membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas. Sial! Aku menelan ludah dibuatnya.

Cepat-cepat aku mengedarkan pandangan. Untungnya ada pegawai hotel yang sigap mengantarkan handuk untuk kami.

Aku segera mengambil handuk itu dan menutup badan Kanya yang kuyup dengan handuk itu. Sumpah, tadi itu membuat naluri kelakianku berdesir. Terlebih karena wanita di depanku itu adalah Kanya.

"Kita harus ganti pakaian. Kalo nggak nanti masuk angin."

Kanya melirikku, "kamu pikir aku siaga bakal basah kaya gini?"

Aku bangkit, dan mengulurkan tangan membantunya berdiri.

"Ayo ke kamarku dulu. Nanti aku suruh pegawai hotel melaundry pakaianmu secepatnya."

Kanya terlihat ragu,  namun akhirnya dia mengalah dan meraih uluran tanganku. 


Friday, April 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F Riyadi 

BAGIAN 12


Aku masih terpaku di tempat. M-E-N-I-K-A-H. Menikah?  Aku tidak salah dengarkan? Atau mungkin sebenarnya aku sedang tidur lalu bermimpi yang aneh seperti ini. Naren mengajakku menikah? Yang benar saja.

"Kanya."

Tapi melihat dia memanggil namaku denga menggoyangkan tanganya yang masih tertaut di tanganku, membuatku sadar kalau ini bukan mimpi atau halusinasiku saja. Buru-buru aku melepas tanganku.

"Naren, kayaknya kamu lagi terserang kantuk parah. Mending sekarang kamu pulang aja."

Matanya mengerjap pelan. "kantuk parah apa? Mataku masih seger gini. Atau kamu mungkin yang ngantuk?"

"Ah ya! Aku yang ngantuk. Jadi sekarang kamu pulang oke?"

Dia menggeleng tapi lantas berdiri. Itu membuat aku bernapas lega. Dia menatapku sekali lagi. 

"Kanya yang aku katakan tadi itu benar,  aku ingin kita menikah."

Aku menelan ludahku dengan susah payah.
 
"Dari dulu sampe sekarang cuma kamu satu-satunya wanita yang mau aku nikahi."

Sengatan kecil menyerangku kembali. Itu hanya sebuah ucapan Kanya. Tidak seharusnya kamu jadi salah tingkah seperti ini. Lagi pula,  aku harus ingat Naren pernah mengkhianatiku.

Aku memalingkan wajah. Ternyata luka itu masih saja bersisa. Dan kadang perasaan seperti ini lah yang membuatku merasa akan lebih baik kalau Naren menjauh saja.

"Aku ngantuk."

Sekarang aku benar-benar tidak ingin melanjutkan percakapan ini.

"Baiklah. Aku pulang. Kamu pergi tidur saja."

Naren beranjak, tangannya terulur hampir menyentuh kepalaku. Namun, dia menariknya kembali.

"Selamat malam."

Dan aku masih saja terpaku di sini saat derum mobilnya pergi meninggalkan pelataran rumahku. Rasanya ada yang salah. Kenapa aku malah menyuruhnya pulang? Harusnya aku ajak saja dia bicara dan menolak ajakkan menikahnya, dengan begitu dia tidak akan repot-repot lagi menemuiku karena sudah aku tolak.
Iya, harusnya seperti itu.

Apa motivku membiarkan tanyanya menggantung? Bahkan untuk menikah saja tidak ada dalam daftar rencanaku. Jika Naren bertanya kembali bagaimana?

***

Wanita di depanku memandangku intens.  Selama mengenalnya baru kali pertama  aku dibuat serisih ini. Apa yang dia pikirkan dengan menatapku seperti itu?

"Aku nggak nyangka ternyata wanita yang sangat Naren puja adalah kamu."

Nadine tertawa getir saat mengatakan itu. Aku sudah mengecewakannya.

"Mbak aku benar-benar nggak tau kalo laki-laki yang kamu maksud adalah dia. Tapi Mbak,  aku sama dia udah lama berakhir."

Nadine menggeleng pelan. "Naren tidak berpikir begitu. Mungkin jarak memisahkan kalian. Tapi sedikit pun dia nggak pernah menghilangkan kamu dari ingatannya. Aku hanya salah seorang saja yang kebetulan belum menyerah untuk bisa bersamanya walaupun sebatas teman. Banyak wanita lain yang menjauh perlahan saat Naren dengan terang-terangan menolaknya."

Itu tidak mungkin. Nadine hanya tidak tahu saja pernah ada wanita lain yang mengisi hati Naren. Namun anehnya aku nggak tahu keberadaannya sekarang.

"Ah! Ada satu lagi."

Mataku sontak memandangnya. Satu lagi?

"Wanita yang aku kenal sangat gigih meminta Naren jadi pacarnya. Tapi dia sudah meninggal dua tahun lalu karena maag akut yang dia derita."

Keningku berkerut halus.

"Namanya Alisya, dia juga kuliah di Harvard bersama kami. Aku mengenalnya di sana."

Mataku melebar kaget. Alisya? Sudah meninggal? Aku tahu dia penyebab hubunganku dengan Naren retak. Tapi mendengar dia sudah meninggal sedikit membuatku pilu. Dia masih sangat muda.

"Apa kamu mengenalnya?"

"Iya. Bukannya dia itu memang sudah berpacaran dengan Naren?"

"Setahuku sih nggak. Tapi perjuangannya mendapatkan Naren aku akui luar biasa. Sayangnya, Naren sama sekali nggak tersentuh. Padahal dia sangat cantikkan?"

Aku menarik gelas panjang mendekat. Mengaduk isinya sebelum memyeruput pelan. Naren tidak pernah berpacaran lagi setelah putus denganku. Apa aku harus bahagia mendengar kabar ini?

Tanganku bergerak gelisah. Awalnya aku pikir pertemuanku dengan Nadine akan membahas soal pekerjaan, tidak tahunya dia penasaran dengan masa lalu Naren, aku.

"Apa kamu masih mencintai Naren?" Nadine bertanya dengan nada pelan. Terkesan hati-hati.

Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku kembali menyeruput minumanku. Aku harus menjawab apa? Dari tatapan matanya aku tahu Nadine ingin jawaban yang membuat hatinya lega. Dia mencintai Naren. Tidak mungkin aku menjawab hal yang akan menyakiti hatinya. Sebisa mungkin aku harus menjaga perasaan nya. 

Tapi hey, hatiku sendiri menanyakan hal serupa dengan yang Nadine tanyakan. Apa aku masih mencintai laki-laki itu?

"Naren  masa laluku Mbak," jawabku akhirnya.

"Lalu? Apa itu menutup kemungkinan kamu masih tetap mencintainya?"

"Aku rasa perasaan itu udah nggak ada."
Entah mengapa hatiku berat mengatakan itu.

"Apa kamu yakin? Seandainya Naren minta balikkan sama kamu,  apa kamu akan menolaknya?"

Aku semakin tidak nyaman. Nadine seolah menekanku dengan pertanyaan itu. Namun tak urung itu membuatku mengangguk pelan.

"Kenapa? Apa karena Kenan?"

"Kenan? Ah nggak. Kenan teman saja."

"Tapi yang aku liat dia nggak menganggapmu begitu."

Sebenarnya aku tidak terlalu suka berbagi privasiku pada orang lain. Jujur aku merasa risih dengan segala pertanyaan yang Nadine lempar. Mungkin aku tidak perlu memberitahu apapun tentang Kenan.

Aku bernapas lega saat dering ponsel menyela obrolan kami.

"Mbak, maaf aku angkat ini dulu ya."

Nadine mengangguk. Aku segera menyingkir dari hadapannya. Panggilan dari Kenan.

"Ya halo?"

"Kamu dimana? Rumah sepi."

"Oh aku lagi sama Nadine di luar. Ini aku mau pulang. Mau nunggu?"

"Baiklah. Nggak pake lama loh."

"Aku usahakan."

Begitu sambungan terputus aku kembali ke meja.

"Mbak, maaf.  Aku kayaknya harus segera balik. Kenan udah nungguin."

"Oh,oke. Kalo gitu kita nanti ngobrol lagi."

"Minumannya bi--"

"Biar aku yang bayar. Kan aku yang ajak kamu."

"Terima kasih ya Mbak. Kalo, gitu aku pamit  ya."

Aku buru-buru keluar dari cafe begitu Nadine mengangguk. Sedikit merasa lega karena bisa lolos dari segala pertanyaan Nadine yang bisa jadi tidak akan berhenti jika aku tidak pergi.

Aku langsung pulang ke rumah,  dan menemukan Kenan sedang duduk di teras. Aku pikir dia sendiri saja, tapi aku salah. Selain dia, mataku menangkap sosok Naren di sana.

Mataku terpejam. Ini tidak akan baik. Aku pikir selepas dari Nadine, aku bisa bernapas sedikit lega. Tapi nyatanya? Ini jauh lebih sulit. Menghadapi mereka berdua itu sangat melelahkan. Apa aku kabur saja sebelum mereka menyadari keberadaanku? Ah iya,  aku rasa itu ide terbaik.

Baru saja aku memutar badan suara seseorang yang sangat familiar berseru memanggilku. Suara pemilik rumah. Gagal sudah rencanaku.

Aku nyengir mendapati wanita bertubuh tambun yang kini berada di hadapanku.

"Mbak Kanya mau kemana? Itu loh ditungguin sama dua laki-laki ganteng. Luar biasa sekali mereka. Kenal dimana sih Mbak? Apalagi yang pake topi itu Mbak, waduh cakepnya ngalahin artis luar negeri."

Aku meringis. Yang dimaksud adalah Naren.

"Mereka teman-temanku dari jakarta Bu."

"Owalah, pantes saja gayanya keren begitu."

Apanya yang keren. Perasaan mereka biasa-biasa aja.

"Yo wes sana,  jangan bikin mereka lama menunggu loh Mbak.  Sayang kalo dianggurin. Saya pamit dulu ya."

Aku mengangguk. Lantas beralih menoleh pada kedua sosok manusia yang sekarang tengah memandangiku heran.

BERSAMBUNG



Harus sekali ya aku bertemu dengannya di sini? Di rumah kontrakan Kanya.  Dia benar-benar ancaman buatku. Untuk apa dia datang kalau tidak untuk mendekati Kanya? Jangan harap keinginannya bisa terwujud selama aku masih hidup.

Aku menatap kesal pada sosok laki-laki yang sedang duduk di teras depan rumah ini. Dia tersenyum sok ramah seperti biasanya.

"Gue pikir lo udah balik ke Jakarta?" tanyanya begitu aku keluar dari mobil.

"Kenapa? Ngarep banget gue cepet balik."

Dia tertawa sok akrab. "Nggak juga sih. Kali aja Kanya malah seneng ketemu lo lagi."

Seneng? Kalau memang iya, tidak mungkin Kanya masih menjaga jarak denganku. Dan itu aku yakin salah satu alasannya karena manusia satu ini.

"Kanya nggak ada?"

"Seperti yang lo liat. Nih gue lagi nunggu dia balik."

Aku sebenarnya males berlama-lama karena ada dia. Tapi aku juga tak sudi membiarkan Kanya berdua saja dengannya nanti.

Sampai aku mendengar seseorang yang memanggil nama Kanya, aku menoleh. Aku melihat seorang ibu sedang berbicara dengan Kanya. Aku tidak mendengar 
jelas mereka membicarakan apa. Tapi raut Kanya seperti merasa tidak nyaman dibuatnya. 

Setelah ibu itu berlalu,  Kanya berjalan pelan mendekat. Ada senyum yang terkesan dia paksa.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.

"Memangnya aku kenapa?"

"Aku kira kamu bermasalah dengan ibu tadi."

"Nggak ada."

"Nadine nggak kamu ajak ke sini?" suara Kenan membuatku menoleh. Maksudnya apa?

"Kamu habis bertemu Nadine?"

Kanya tidak menjawab pertanyaanku. Muka enggannya nampak jelas terlihat. Dia lebih memilih bergerak menuju pintu rumahnya.

Perasaanku mengatakan telah terjadi sesuatu. Setelah kejadian di restoran tempo hari,  aku tidak yakin jika Nadine bertemu dengan Kanya hanya membahas soal pekerjaan. Nadine itu tipe wanita yang serba ingin tahu. Semoga saja Nadine tidak berbuat sesuatu yang membuat Kanya merasa tidak nyaman. Apalagi sampai membuat Kanya ilfil padaku.

Saturday, April 4, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa


By. Yuli F Riyadi 

BAGIAN 11


Aku menggeram kesal. Saat sepanjang perjalanan naik taksi tadi aku terus diam. Kenan menoleh melihat tingkahku. Merasa ada yang tidak beres, dia mendekat.

"Ada apa?" tanyanya.

"Menurutmu?"

"Aku sih biasa aja. Tapi kenapa kamu mencak-mencak? Kamu marah?"

"Kenan please deh,  jangan ngomong kayak gitu lagi di depan dia."

Kenan malah tertawa.  "Si Prince Charming itu ternyata belum bisa move on dari kamu,  kalian sama saja."

"Apa?"

"Nggak usah menyangkal Kanya. Kamu tanya sama hatimu sendiri. Setelah kalian dipertemukan lagi, gimana perasaanmu? Bahagia atau sedih?"

Aku diam. Tidak ada kewajibanku untuk menjawab. Aku lebih memilih pergi ke dapur menyeduh kopi.

"Kamu mau kopi?" tanyaku pada Kenan yang mengikutiku ke dapur.

"Sebaiknya kamu kurangi kopi. Sejak kapan sih kamu suka ngopi?"

"Nggak tau. Aku lupa."

Sejak putus dari Naren,  aku jadi menggilai minuman ini. Padahal Naren paling anti minum kopi. Segala yang Naren tidak suka malah membuatku tertantang untuk mencobanya. Jika aku melakukan hal yang dia, suka lantas mengingatnya itu wajar. Padahal aku melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang disukainya tetap saja itu tidak membuatku terus lupa. Menyebalkan.

"Aku agak sedikit kecewa sih melihat dia hadir di hidupmu lagi."

Gerakkanku mengaduk bubuk pembawa aroma wangi itu terhenti.

"Entahlah aku merasa kamu akan jauh lagi dariku. Kacau sekali aku ini,  udah ditolak, masih nggak tau diri." Kenan tertawa sumbang.

"Dia memang kembali,  tapi bukan berarti aku akan bersamanya lagi. Hubunganku dengannya udah lama berakhir."

"Kalo kamu memang sudah nggak ada rasa. Mungkin kamu akan lebih mudah membuka hati. Tapi nyatanya?"

Aku tertegun. Meskipun tidak ingin, aku akui perasaanku pada Naren yang entah sekarang disebut apa, seperti mengakar jauh ke dalam lubuk hatiku. Tapi dulu itu, rasa sakit karena merasa dipermainkan mengalahkan segala rasa simpati yang aku punya. Dia berhasil meluluhlantakkan segalanya. Dan aku harus jatuh lagi ke lubang yang sama? Rasanya itu bodoh sekali.

Kenan salah,  aku menutup hatiku bukan karena aku masih mencintai Naren. Tapi lebih pada menjaga diriku sendiri agar tidak lagi terluka. Itu saja. Mungkin suatu saat aku akan punya kesiapan menghadapi sebuah perasaan sensitif yang seperti itu lagi.

***
Aku baru saja akan menutup mata saat ponselku berdering. Dengan gerakan malas aku mengambil benda itu di atas nakas. Sejenak aku melihat layarnya,  keningku berkerut, nomor tidak dikenal. Aku biarkan saja hingga dering itu mati sendiri.  Saat ternyata ponselku kembali berdering aku menutupnya dengan bantal.

Aku tersenyum, dering itu terhenti. Aku mengambil kembali ponselku. Tapi tak berapa lama notif Wa muncul.

Kanya, kenapa kamu nggak angkat telponku?

Aku melihat gambar profilnya. Astaga ternyata tadi itu Naren. Bagai tersengat arus listrik, dadaku bergetar. Dan ini kenapa? Jantungku ...  Deg-degan? Aku tidak menyukai ini. Selang beberapa detik, ponselku berdering kembali. Dan bodohnya aku malah bingung sendiri,  antara mau diangkat atau tidak.

Aku menarik napas panjang. Lalu mengeluarkannya pelan. Jariku menggeser ikon berwarna hijau di layar itu.

"Ha-halo?"

Apaan sih aku? Kenapa aku gemetaran seperti ini?

"Kanya..." ponselku kembali menangkap suaranya. Sudah lama sekali rasanya.

"Iya."

"Maaf, apa kamu sudah tidur?" tanyanya.

"Aku... aku sedang membaca buku."

Bah! Kebohongan apalagi yang aku buat. Dan untuk apa aku berbohong? Aku menggigit bibir bawahku.

"Kanya, aku minta maaf."

"Udah berapa kali kamu mengatakan itu? Memangnya, kamu nggak bosan."

"Aku nggak akan pernah bosan. Apalagi itu menyangkut soal kamu."

"Naren aku..."

"Boleh kita bertemu?"

"Apa? Ka-kapan?"

"Sekarang."

"Apa?"

"Aku akan menemuimu sekarang. Aku harap kamu belum tidur."

"Tapi Naren ini sudah ma--"

Sambungan terputus. Aku menatap layar ponselku tak percaya. Naren seenak jidatnya mematikan ponsel padahal aku belum selesai bicara. Aku menengadah, lalu mengusap wajah. Merutuki diri sendiri yang sempat salah tingkah hanya gara-gara laki-laki itu menelepon. Itu benar-benar menggelikan.

Namun tak berapa lama aku tertegun. Saat sebuah suara mobil terdengar dari luar. Mataku membeliak, segera kusingkap selimut dan menuju ke jendela kamar. Aku mengintip dari balik tirai. Dan mendapati mobil Naren sudah terparkir tidak jauh dari rumah.

Laki-laki itu beneran datang? Mau apa? Malam-malam begini. Dasar keras kepala. Aku meraih cardigan panjangku saat suara ketukan dari luar terdengar.

Aku menarik napas panjang sebelum keluar kamar. Dadaku bergemuruh seiring kakiku yang melangkah mendekati pintu ruang tamu. Aku membuka kuncinya dan menguak pintu pelan.

Naren dengan senyum manisnya berdiri tepat di hadapanku. Untuk pertama kalinya kakiku merasa lemas berhadapan dengannya. Tanganku masih berpegangan erat pada engsel pintu. Setidaknya ini bisa aku jadikan sandaran agar tubuhku tidak ambruk ke lantai.

"Aku boleh masuk?" tanyanya. Tidak aku jawab,  namun gerakan tanganku yang membuka lebar pintu memberinya jalan untuk masuk.

"Kamu mau apa ke sini? Ini sudah malam."

"Aku kangen sama kamu."

Mataku melebar.  Jika itu diucapkan saat aku dengannya masih bersama reaksiku mungkin tidak akan seperti ini.

Aku tahu Naren itu orang yang blak-blakan. Ucapan manisnya hampir membuatku bosan dulu. Tapi yang aku dengar sekarang membuatku merasa... entahlah aku bingung. Yang jelas keadaan jantungku di dalam sana terasa mencemaskan.

"Jadi bener kamu sendirian di sini?" tanya Naren lagi kali ini tangannya bergerak menutup pintu.

"Ke-kenapa pintunya ditutup?"

"Diluar banyak angin. Nggak baik."

Naren mengucapkan itu dengan nada biasa-biasa saja namun itu sanggup membuat jantungku yang dari tadi sudah bekerja cukup keras karena kehadirannya,  kini tambah  berdegup semakin keras.

Aku masih terpaku di samping pintu yang tadi Naren tutup. Pandangan kami sesaat bertemu. Sebisa mungkin aku menutupi rasa gugupku.

"Ka-kamu mau minum sesuatu?"

Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari mulutku. Aku harus segera menghindar darinya.

Naren menghela napas. Dia kemudian duduk di satu-satunya sofa ruang tamuku.
"Apa saja,  aku lagi nggak ingin minum sih."

"Jadi?"

"Jadi ya cukup kamu aja duduk di sini nemenin aku." Dia menepuk sofa sebelah kanannya.

Aku melotot. "Mending kamu pulang aja deh. Ini udah malam aku ngantuk."

"Mood kamu masih sama kaya dulu cepet berubah."

"Maksudnya kalo emang nggak ada yang penting-penting banget kamu pulang aja."

"Kangen sama kamu itu penting loh. Dan kalo nggak segera ditangani bisa gawat."

Aku memutar bola mataku. Garing sekali.

"Kenan,  sering ke sini?" tanyanya.

"Kalo dia lagi di Surabaya sering."

"Sekarang dia ada di Surabaya berarti dia akan sering datang ke sini. Itu nggak bagus Kanya."

"Apanya yang nggak bagus? Dia ke Surabaya karena ada seminar di ITS."

"Oya?"

"Dia jelas ada tujuannya. Yang nggaj jelas itu kamu."

"Aku nggak jelas? Aku ke sini memang ada perjalanan bisnis. Meninjau proyek hotel yang lagi dibangun. Dan tujuanku semakin jelas setelah bertemu kamu lagi."

Alisku menukik. Tidak mengerti maksudnya apa. Tapi lantas Naren melebarkan bibirnya, tangannya menjangkau tanganku yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

"Kanya, bagaimana kalo kita menikah saja?"

BERSAMBUNG


Aku tidak menyukai ini. Kenan juga berada di sini. Itu artinya dia pasti akan sering mengunjungi Kanya.

Jadwal awalku di Surabaya hanya sekitar seminggu. Tapi bertemu Kanya kembali rasanya aku enggan cepat-cepat untuk pulang ke Jakarta.

Apalagi setelah laki-laki itu, aku ketahui semakin akrab dengan Kanya. Ini tidak bisa dibiarkan. Selama dia masih di sini,  kemungkinan aku akan tetap bertahan sementara waktu.

Dan tentu saja momen ini akan aku buat semaksimal mungkin untuk mendekati gula jawaku kembali.

Malam ini aku datang ke rumahnya. Sudah hampir pukul sepuluh malam saat aku mengetuk pintu. Tapi Kanya untungnya mau membuka. Aku tahu dia pasti tengah bersiap tidur. Tapi mendengar suaranya saja ditelepon tadi rasanya tidak cukup buatku.

Melihatnya hanya mengenakan baju tidur dan rambut yang dicepol asal-asalan saja dia masih bisa membuatku terpesona. Wajah polos tanpa make up itu membuatku tidak bisa menahan rindu. Mati-matian aku menahan untuk tidak memeluknya.

Aku bisa merasakan kegugupan pada wajahnya. Dan aku suka melihat dia bertingkah seperti itu.  Seolah memberiku sepercik harapan untuk bisa kembali padanya. Aku tidak cukup yakin sih, tapi seperti biasa aku bisa dibilang nekat saat tiba-tiba mengajaknya menikah.

Aku bisa melihat ekspresi Kanya yang agak sedikit terperangah mendengar permintaanku. Tapi untuk ini aku benar-benar serius mengatakannya. Lima tahun berpisah dengannya itu petaka buatku. Kehilangan dia lagi setelah menemukannya, tidak ada dalam impianku sama sekali.

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...