Friday, February 28, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa


BAGIAN 6

Naren menjemputku tepat pukul tujuh malam. Dan aku? belum bersiap apapun saat dia datang. Selain ada serial kartun kesayangan, sebenarnya aku sendiri ogah-ogahan ke rumah Naren. Kalau bukan karena menghormati tante Wanda mungkin lebih baik aku bergelung dengan selimutku lebih awal. Tentu saja aku juga enggan berdebat dengan ayah karena disebut anak bengal yang tidak menghargai orangtua. Biar bagaimanapun perusahaan papa Naren adalah klien yang lumayan sering menggunakan biro milik ayah. Beberapa kali ayah memenangkan tender dari proyek perusahaan Om Damian, papa Naren. 

Lihat saja,  sekarang Naren dan ayah juga Mas Bagas sedang bercengkrama di ruang tamu. Mereka terlihat sangat akrab. Dan yang selama ini aku tangkap, ayah seolah memberikan sinyal harapan padaku agar selalu bersikap baik terhadap Naren dan mungkin saja ayah juga mengharap sesuatu yang lebih dari hanya sekedar berpacaran. Maaf ayah, rasanya yang satu itu belum bisa aku kabulkan.

"__Harvard bagus itu." Sepenggal kalimat yang keluar dari mulut ayah membuatku berhenti melangkah menuju ruang tamu. Aku berdiri di belakang sekat yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu. Dari sini percakapan mereka terdengar cukup jelas.

"Jadi lo kapan berangkatnya?" Itu suara Mas Bagas yang bertanya.

"Minggu depan."

"Gue pernah mimpi ambil S2 disana,  sampe sekarang belum terwujud. Tapi gue cukup puas dengan mengambil S2 di Indonesia sih."

Harvard? Apa Naren akan melanjutkan study di sana? Dan apa tadi? Minggu depan? Naren bahkan tidak pernah membahas soal itu denganku. Aku yakin tidak secara mendadak dia memutuskan pergi ke sana. Ada banyak yang perlu diurus pastinya. Dan dalam rentang waktu itu, Naren sama sekali tidak pernah menyinggung sedikitpun. Apa dia akan menjadikanku orang terakhir yang tahu kalau dia akan pergi? 

Tanganku refleks mengepal. Aku semakin merasa salah dalam hubungan ini. Mungkin aku tidak sepenting yang dia katakan. Dia yang meminta padaku untuk jangan pergi meninggalkannya,  sekarang dia sendiri yang akan pergi jauh dariku.

Kanya, ada apa denganmu? Dia pergi untuk belajar bukan untuk memutuskan hubungan seperti yang kamu inginkan.

Kepalaku mendadak berdenyut. Aku terlalu berlebihan. Lalu apa? Kalau Naren memang mau pergi ke luar negeri ya pergi saja. Bukannya jalan untuk lepas dari laki-laki itu malah menjadi mudah? Aku mengganguk mantap sebelum keluar.

"Kamu sudah siap Kanya?" ayah yang menangkap kedatanganku pertama kali bertanya. Aku hanya mengangkat bahu.

"Kita berangkat sekarang saja ya, takutnya nanti kamu pulang kemalaman," ujar Naren berdiri diikuti yang lain. "Om kami berangkat dulu yah."

Naren sempat menjabat tangan ayah dan Mas Bagas sebelum keluar rumah. Aku mengekor di belakangnya.

"Kamu beda, malam ini kamu cantik banget," kata Naren saat kami sudah berada di dalam mobil. Aku melotot padanya yang dari tadi menatapku lekat.

"Kamu dandan yah?"

"Apa?"

Aku dandan? Yang benar saja! Tadi aku cuma pakai bedak tipis dan lipgloss. Tunggu! Benarkah aku dandan? Seketika aku meraba pipiku yang menghangat. Sial. Naren masih saja terus melihatku.

"Apa yang kamu lihat?! Ada yang aneh?" tanyaku was-was.

Naren menggeleng. "Kamu cantik, aku senang kamu melakukan ini buatku."

Apa? Orang ini tingkat kepedeannya tinggi sekali. Aku akan bertemu orang tuanya, dan hanya sedikit dandan agar tidak malu-maluin di depan mama dan papanya. Siapa juga yang dandan untuknya?

"Lebih baik cepat jalan, waktu terus berjalan."

"Oke manis."

Aku memutar bola mata jengah. Perlahan mobil Naren melaju meninggalkan pelataran rumahku.

"Jadi beneran kamu lulus?" tanyaku memecah keheningan.

"Kamu meragukan kecerdasan pacarmu?"
Hah! See? Sifat narsisnya muncul lagi. Biarkan saja, mungkin dia mendapatkan kepuasan tersendiri dengan sifatnya itu.

"Jadi tante merayakan kelulusanmu sekarang?"

"Nggak sih,  mama cuma bilang ingin mengundangmu makan malam. Katanya sudah lama sekali kamu nggak ke rumah."
Huft! Ini akan sulit. Aku harus berbasi basi dengan tante Wanda.

"Di rumah ada siapa aja?"

"Papa, mama, dan Arsen."

Arsen itu adik Naren. Dia masih sekolah menengah kejuruan.

Tiba di rumah Naren,  tante Wanda menyambutku antusias. Pelukan hangatnya langsung menyerangku.

"Sayang,  apa kabarmu? Kenapa sekarang nggak pernah datang kesini lagi? Kalian baik-baik aja kan?"

Aku tersenyum canggung. Tidak sebaik yang tante harap. Tentu saja itu cuma aku katakan dalam hati.

"Kanya, agak sedikit sibuk di kampus tante."

"Liburan kalian menyenangkan kan?"

"Iya tante." Aku melirik Naren yang masih berjalan di belakangku. Dia menunduk memainkan kunci mobilnya. Entah hanya perasaanku,  tapi aku melihat ada raut sedih dari wajahnya.

"Tante masak spesial buat kamu dan Naren. Ayo kita makan sekarang. Papa dan Arsen bentar lagi turun."

Di meja makan sudah tertata rapi hidangan istimewa. Ada cumi saos padang kesukaanku. Ternyata tante Wanda masih ingat. Dan juga ada ayam penyet makanan favorit Naren. Serta lauk pauk lain juga sayur.

Tak lama Om Damian dan Arsen datang. Setelah berbasa basi sebentar, kami langsung duduk di depan meja makan. Tante Wanda dengan antusias menawarkan macam-macam menu yang tersaji. Aku jadi merasa tidak enak. 

Mereka, orang tua Naren menerimaku dari pertama kali aku datang. Disaat aku minder dengan diriku sendiri, meraka malah bilang aku sangat cantik dan manis. Aku tahu kok,  itu hanya untuk menghiburku. Kenyataannya bahkan tante Wanda masih lebih cantik jika dibandingkan denganku.

"Kamu harus sering mengunjungi kakekmu nanti di Brooklyn." Om Damian menatap Naren yang duduk di sampingku.

"Kakekmu pasti sangat senang kamu akan melanjutkan mastermu di Cambridge,"

Naren menoleh ke arahku. Aku pura-pura tidak tahu saja dengan terus menekuri isi piringku.

"Yes, Pah," jawab Naren singkat.

"Jadi, nggak apa-apa kan sementara kalian berdua long distance?" Itu suara tante Wanda. Wanita yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang menginjak setengah abad itu memandangku dan Naren bergantian.

"Sebenarnya aku nggak suka berjauhan dengan Kanya Mah."

"Belajar yang baik Nak. Mama yakin tak sampai dua tahun pasti kamu bisa lulus."

Tante Wanda benar. Biar bagaimanapun aku harus mengakui kecerdasan Naren. Di sekolah dulu, dia kerap menjuara berbagai macam olympiade. Akademisnya bagus sangat timpang denganku yang malah menyukai seni dan petualangan. Di saat anak-anak lain memilih klub sains,  aku malah memilih klub seni rupa dan wall climbing. Aku sudah cukup kesulitan belajar fisika dan tetek bengeknya,  tidak mungkin sekali aku harus menceburkan diri ke klub sains dengan taruhan kepalaku akan retak jika dijejali rumus-rumus yang membuat aku harus memutar otak dengan keras. Itu namanya bunuh diri.

Aku pamit tak lama setelah makan malam selesai. Tidak. Tepatnya Naren yang mengajakku untuk segera meninggalkan rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus saja diam. Hingga tanpa aku sadar mobil Naren sudah berhenti.
Aku tersentak. Ini bukan pelataran rumahku. Ini seperti ....

"Mampir sebentar yah sebelum aku antar ke rumah."

Ya! Aku berada di parkir bawah tanah tower apartemen Naren. 

"Ada apa?" tanyaku keluar dari mobil.
Naren menarik pinggangku mendekat. Membawaku masuk ke lift yang menghubungkan langsung ke unitnya di lantai 18.

Naren tinggal terpisah dengan orang tuanya. Dengan alasan mempersingkat waktu. Kampus dan kantornya memang tidak jauh dari sini. Naren bekerja di kantor milik Om Damian. Aku tidak heran jika Om Damian mempercayakan beberapa proyek untuk anaknya itu. Naren sangat kompeten.

Aku langsung duduk di sofa putih begitu masuk ke unitnya. Aku sudah jarang main ke sini setahun belakangan. Banyak tugas kuliah dan tentu saja aku lebih sering menghabiskan waktu latihan di klub.
Naren ikut duduk di sampingku membawa dua minuman jus kalengan yang dia ambil dari kulkas. Membuka penutupnya dan memberikannya padaku. Aku teguk sekali dan meletakkannya di atas meja. Tidak terlalu haus.

"Maaf, kamu harus mendengarnya bukan dariku langsung. Rasanya aku berat mengatakan itu sama kamu."

Naren bersuara, aku tidak terlalu menghiraukan. Lebih fokus menatap layar ponselku. Aku tidak pernah lebih malas dari malam ini sebelumnya berhadapan dengan laki-laki itu. Astaga, aku ingin marah tapi tidak bisa.

"Bagaimana menurutmu?"

Aku bergeming. Masih asik berselancar di media sosial membaca beberapa berita yang bagiku lebih menarik dari ocehan Naren.

"Kanya, kamu mendengarku kan?"

"Ya, aku dengar," jawabku tanpa berbalas menatapnya. Ku dengar desahan nafasnya lirih.

"Jadi bagaimana menurutmu?"

"Ya, pergi saja. Kamu kan kesana untuk belajar."

Aku mendengar dia mendesah kembali.

"Kanya aku benar-benar nggak ngerti. Ada apa denganmu? Aku minggu depan akan berangkat."

"Lalu?"

"Gimana aku bisa tenang? Kamu masih bersikap seperti ini."

Naren menatapku gusar. Lalu kedua tangannya mengusap wajah seperti orang frustasi. Sejenak kulepaskan mataku dari layar ponsel.

"Aku mau kita putus, " kataku akhirnya. 

Mendengar itu, gerakan tangannya yang mengusap wajah terhenti. Dia lantas menatapku tak percaya.
"Ka_kamu bicara apa Kanya?"

"Aku mau kita putus." Aku mengulang kalimatku. Sebisa mungkin aku mengucapkannya tanpa ekspresi.
Naren menggeleng seolah yang dia dengar hanya gurauan.

"Jadi ini yang menyebabkan kamu beberapa hari ini berbeda. Kamu ingin semuanya berakhir?" tanyanya lirih.

Aku melempar pandangan kemanapun asalkan tidak ke wajah laki-laki itu.

"Apa yang kurang dariku Kanya?" lirihnya nyaris tak bersuara. "Aku sudah berusaha, kadang aku merasa hanya aku yang mencintai kamu. Disini aku merasa berjuang sendiri. Tapi bodohnya aku, itu nggak membuatku lantas berhenti mencintai kamu. Aku seperti orang yang terjebak. Masih saja terus berharap kamu menganggap aku ada. Memandangku sebagai orang yang juga kamu cintai."

"Berhenti bicara seolah-olah kamu hanya memiliki satu hati Naren."

Jujur aku muak mendengarnya. Aku benci dia menilaiku seperti itu. Seolah menuduhku manusia yang tidak memiliki perasaan.

"Maksudmu? Kamu pikir berapa hati yang aku punya?" Dia memundurkan badannya. Menatapku lebih seksama.

"Aku minta putus bukan tanpa alasan. Aku bisa memaklumi segala kesalahan tapi tidak dengan pengkhianatan." Aku beranikan diri menatap matanya. Menghujamkan tatapan tajam.

"Pengkhianatan?" matanya memicing.

"Sudahlah, aku pulang."

Naren menarik tanganku saat aku mulai berdiri.
"Kita belum selesai bicara Kanya. Astaga Kanya! Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" tanyanya tak terima.

Dia sudah berhasil lulus ujian skripsi dan sebentar lagi dia akan pergi ke Cambridge. Aku rasa tak masalah jika sekarang aku memuntahkan semua kekesalan yang beberapa hari ini menimbun di dadaku. Hah! Seharusnya aku tidak perlu mempertimbangkan itu semua kalau aku tidak ingin dia terluka.

"Aku melihat itu ...."
Mataku memejam. "Aku melihat kalian berciuman."

Cengkramannya di tanganku terlepas. Aku sudah cukup tahu arti dari reaksinya sekarang.

Beberapa saat keheningan menyelimuti kami. Naren yang terenyak dan aku yang terus menatap matanya.

"Kanya ...  Itu tidak, seperti yang kamu pikirkan."

"Jadi menurutmu aku harus berpikir apa saat melihat pacarku mencium perempuan lain?" kedua alisku terangkat.

Naren mengusap wajah dengan sebelah tangannya. Aku ingin tahu penyangkalan apa yang akan dia berikan untuk membenarkan sikapnya. 

"Waktu itu Alisya yang_"

"Yang melakukannya terlebih dulu? Begitu?" sambarku cepat.

"Aku_"

"Kamu membalasnya?"

"Kanya ini nggak seperti apa yang_"

"Cukup jawab iya atau tidak."

Naren semakin gusar. Aku terus saja menekannya. Seandainya saja dia mengamini ajakanku untuk putus, aku tidak perlu membahas masalah yang  dari kapan hari menggangguku ini. Tapi bukan Naren artinya jika hanya menuruti apa yang aku mau.

"Iya, aku membalasnya tapi semata hanya agar dia tidak menggangguku, mengganggu hubungan kita."

Dia membalasnya. Ingin rasanya aku menghentikan rasa sakit yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Itu artinya dia menerima, menikmati, tidak peduli alasan apapun yang mengiringinya. Dia bisa saja  menghindar atau bahkan mendorong perempuan itu sebagai bentuk penolakan. Tapi dia membalasnya. Aku bisa berkata apalagi? Dan beberapa hari setelahnya dia melakukannya padaku tanpa merasa bersalah, tanpa merasa ada yang perlu dijelaskan. Lalu jika aku menuduhnya berkhianat, apa aku salah?

"Oke, itu cukup. Keputusanku rasanya, benar. Kita selesai Naren." 

Aku bergegas melangkah menuju pintu keluar.

"Kanya,kamu nggak bisa gini. Aku nggak pernah menginginkan putus. Kamu hanya mengambil keputusan sepihak, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu."

Naren membuntutiku, terus membujukku untuk tetap tinggal. 

Aku sudah tidak peduli lagi apa yang dia katakan. Telingaku rasanya tuli. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar penjelasan apapun darinya. Bersamanya aku melambung tinggi karena berasumsi jika tidak akan pernah ada perempuan lain selain aku. Tapi kini aku dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.

Naren terus mengejarku hingga ke lobbi. Memohon padaku agar aku mau mendengar penjelasannya. Beruntungnya aku begitu keluar sudah ada taksi di sana sehingga aku bisa langsung naik.

"Kanya, please dengarkan aku. Kejadiannya nggak sesimpel itu. Kamu perlu tau yang sebenarnya. Jangan pergi dulu, please."
Naren masih terus berusaha membuatku berubah pikiran. Dia mengetuk-ngetuk jendela taksi agar aku mau keluar.

"Jalan, Pak," kataku pada supir taksi yang sepertinya kebingungan.

Taksi melaju perlahan dengan posisi Naren yang masih terus  memintaku berhenti.

"Mbak mas itu ... "

"Terus jalan Pak."

"Baik Mbak."

Sampai aku berhasil lepas dari laki-laki itu. Aku memukul dadaku kuat-kuat. Ini memang keputusanku, tapi kenapa aku merasa sesakit ini. Dadaku teramat sesak. Dan lagi-lagi air mata sialan ini mengiringi rasa sakitku.

Meyakinkan diri sendiri agar tidak menyesali keputusanku. Seperti yang Silvi bilang, soal ciuman itu bisa saja Alisya yang melakukannya dulu. Aku hampir saja mau menerima itu, tapi mendengar Naren yang ternyata membalas ciuman itu, tidak mungkin rasanya dia melakukannya secara impulsif. 

Mau memberi penjelasan apalagi? Mau bilang kalau dia tidak sadar melakukannya? Aku bukan gadis kecil lagi yang bisa dia bohongi. Bagiku tindakan Naren sudah terlampau jauh. Jika tidak karena ada sesuatu mustahil dia bisa berbuat seperti itu, menghianati perempuan yang katanya sangat dia cintai. Bullshit.

BERSAMBUNG



Aku mengerang kesal. Bukan ini yang aku harapkan di hari aku dinyatakan lulus oleh dosen penguji. Bukan ini yang aku inginkan saat aku akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study

Aku tidak menyangka saja beberapa hari keanehan yang Kanya lakukan berakhir dengan tindakannya yang ingin putus dariku.

Jelas ini hanya salah paham. Kanya melihatku berciuman denga Alisya saat di Karimunjawa. Astaga! Aku meremas rambutku jengkel. Merutuki kebodohanku. Harusnya aku menyadari itu dari awal. Aku terlampau tenang karena kukira Kanya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, aku pikir hal itu tidak perlu aku beritahukan padanya. Aku pikir itu tidak terlalu penting.  Tapi lagi-lagi dia seperti boom waktu. 

Aku yakin beberapa hari setelah itu dia berusaha menekan amarahnya padaku agar tidak meledak saat itu juga. Alasan dia tidak ingin liburan denganku, alasan dia menolak sentuhanku, dan alasan dia seolah menjaga jarak denganku. Ya Tuhan! Aku sudah menyakitinya tapi sumpah niatku tidak seperti itu. 

Kanya tidak tahu betapa rumitnya perempuan yang bernama Alisya itu. Ah! Sialan! Aku merasa sudah dijebak. Melihat perempuan itu ada di pulau bersama Kanya, aku sudah memiliki firasat yang tidak menyenangkan. Dan see? Semuanya berakhir seperti ini. 

Tidak, ini belum berakhir. Kanya harus mau mendengarku. Kehilangan Kanya adalah mimpi buruk. Aku tidak mau itu terjadi.


Saturday, February 22, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 5 

By. Yuli F Riyadi


Karena di sini kebanyakan wisata pantai. Aku dan Naren hanya mengunjungi beberapa tempat saja. Kami menuju ke aquarium raksasa di Ocean Kura-Kura Park yang terdapat berbagai macam kura-kura dan penyu. Lalu lanjut menuju ke museum Kartini.

Sebenarnya aku tidak terlalu bersemangat. Tapi Naren terus saja menarik tanganku kesana kemari mengabadikan segala yang menurutnya menarik dengan kamera leica kebanggaannya. Seharian kami mengelilingi kota Jepara dan tidak lupa membeli berbagai macam oleh-oleh yang akan kami bawa pulang ke Jakarta. 
Kami kembali ke cottage menjelang sore.

Angin laut berhembus pelan menerpa wajahku. Hanya ada beberapa orang di pantai resort. Karena memang pantai ini tidak dibuka untuk umum jadi kesan sepi dan syahdunya sangat kentara sekali. Aku bisa menikmati senja dengan tenang. 

Hanya suara deburan ombak sebagai musik alam yang memecah kesunyian.
Aku memejamkan mata,  menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Berusaha menikmati sore terakhir di sini. Karena besok pagi aku akan kembali ke Jakarta.

Bola merah di ufuk barat perlahan turun ke peraduan. Dari dulu aku memang sudah jatuh cinta dengan senja. Saat masih sekolah menengah atas, tak jarang aku pulang ditemani senja karena menghabiskan sisa hari dengan ekstrakurikuler yang aku sukai, wall climbing. Dan bahkan ini berlanjut sampai menginjakkan kaki di bangku kuliah. Senja di ujung kota ataupun di garis cakrawala laut bagiku sama-sama indah.

"Kamu nggak kedinginan?"

Aku menoleh mendapati suara Naren. Hah, merusak suasana saja.

"Aku cari kemana-mana ternyata di sini. Melihat sunset nggak ngajak-ngajak," ujarnya lagi mengambil tempat di sebelahku.

"Aku pikir kamu capek habis jalan seharian."

"Nggak sih,  kan jalannya bareng kamu."

Aku memutar bola mataku. Bicaralah sesuka hatimu selagi bisa. Karena saat aku sudah tidak ingin melanjutkan permainan ini, jangan harap aku bisa membiarkanmu berkata manis lagi di depanku.

Harusnya aku tak boleh memikirkan hal itu di saat seperti ini. Naren benar-benar merusak segalanya. Seandainya saja kejadian di Karimunjawa tidak aku lihat,  mungkin aku bisa menikmati liburan ini. Naren memang hanya membuat satu kesalahan. Tapi bagiku itu sangat fatal. Kepercayaanku padanya nyaris tak tersisa.

Aku menoleh menatap wajahnya yang kini hanya bisa aku lihat siluetnya saja. Sial. Bahkan hanya siluetnya dia masih terlihat sangat tampan. Kenapa Tuhan mengirimkan mahluk sempurna sepertinya padaku jika akhirnya hanya membuatku kecewa?

Aku bukan tak tahu saat Naren menggenggam tanganku erat. Gestur yang sudah tak asing lagi bagiku setelah menjalin hubungan dengannya. Awalnya aku sangat risih dengan perlakuannya, apalagi Naren adalah tipe laki-laki yang tidak segan memamerkan perhatiannya di depan umum. Tapi berjalannya waktu, aku sudah terbiasa dengan itu semua. Menggenggam tangan, mengusap rambut atau mengecup kepala sudah menjadi rutinitas Naren setiap kali aku bersamanya. Hangat dan manis. Lalu bisakah aku melalui hari tanpa perlakuan manis Naren?
 
Hah! Tentu saja bisa. Apa susahnya? Bahkan selain bersikap manis, dia juga bisa bersikap sangat menyebalkan. Sangkin menyebalkannya, kadang aku sampai tidak tahan dengan keberadaan laki-laki itu. 

Aku menyentak dengan keras tanganku hingga terlepas dari genggaman Naren. Laki-laki itu terkejut. Aku hendak melangkah pergi saat lenganku berhasil dia tarik lantas kemudian tubuhku dia peluk begitu erat.

"Tolong maafkan aku, aku nggak tau salahku apa. Tapi tolong maafkan aku. Tolong jangan berpikiran untuk meninggalkan aku. Please."

Deg!

Dia tahu apa yang aku pikirkan? Aku sudah berusaha untuk bersikap biasa saja. Tapi Naren seperti bisa membaca hal yang ada dalam otakku.

"Kanya please, don't go anywhere,  stay with me." Dia ... memohon. 

Tidak, aku tidak boleh luluh. Tapi kenapa dia bertingkah seolah sangat mencintaiku? Apakah dia tipe manusia yang bisa memiliki perasaan dua arah?

Melihatnya seperti ini, hatiku merasa nyeri. Setelah apa yang sudah dia lakukan di belakangku,  harusnya aku bisa dengan mudah membencinya. Bukannya aku sudah bertekad akan meninggalkannya segera?

"Naren, lepasin aku. Aku nggak kemana-mana. Kamu ini ngigo atau gimana?"

Dia menggeleng kuat. Dekapannya semakin erat.

"Astaga Naren,  kamu bisa membunuhku. Aku sesak napas."

Aku berbicara seolah aku akan terbunuh betulan. Setelahnya dia baru mau mengendurkan pelukannya dan pelan-pelan mengurai.
Aku pura-pura menghembuskan napas lega.

"Apa kamu senang melihatku mati begitu?!"

Dia menatapku sendu mendengar omelanku. Ck, aku benci Naren yang seperti itu. Dia jadi terlihat sangat lemah.

"Berhenti pasang muka memelas seperti itu. Mukamu jadi seperti kucing yang minta perhatian." Aku membuang muka menghindari tatapannya.

"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku Kanya. Aku tau kamu pandai bermain peran, tapi kamu nggak bisa membohongiku."

Matahari sudah menghilang beberapa menit yang lalu. Kini yang tinggal hanya kepekatan malam. Lampu-lampu dari arah cottage terlihat begitu terang.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ayo kita kembali, aku sangat lelah."

"Kanya kamu nggak sedang menghindariku kan?"

"Nggak."

"Kamu menjaga jarak. Bahkan kamu nggak mau aku sentuh."

"Nggak Naren."

"Kanya."

"Aku nggak bohong."

"Kalo gitu biarkan aku tidur denganmu malam ini."

"Kamu gila?! Setan-setan nanti bisa datang berhamburan. Jangan ngaco."

"Memang kita ngapain? Orang cuma tidur. Kamu merem, aku merem. Kalo sama-sama melek baru itu yang bahaya."

Apa?

"Aku nggak mau dengar lelucon garingmu lagi," geramku sewot berbalik arah menuju cottage.

"Kanya! Tunggu!"

Aku menyesal sudah merasa kasihan padanya tadi. Ternyata itu cuma alasan konyol yang dia buat-buat.

"Kanya aku serius. Aku merasa kamu menjaga jarak denganku."

Dia berhasil menjajari langkahku. Aku terus berjalan tidak mau mendengar ucapannya lagi. Jangan sampai aku luluh untuk yang kedua kalinya.

"Kanya...."

Aku merasa tubuhku tertarik ke belakang. Tangan besar itu kembali mendekapku. Wajahnya menunduk tenggelam di punggungku. Drama apalagi ini? Aku mendesah kesal.

"I love you, love you much," bisiknya.

Seakan tidak pernah bosan, dari jaman aku belum mengenal arti cinta, Naren sudah sering mengumbar kata itu di depanku. Jika kata itu juga dia berikan pada orang lain, aku tidak kaget. Lidahnya mungkin sudah sangat fasih mengucapkannya.

"Aku cinta sama kamu. Kamu maukan jadi pacarku?"

Horornya aku saat ditembak kata-kata di saat usiaku belum genap 13 tahun. Bukannya bangga aku malah lari terbirit-birit. Siapa yang tak kenal sosok Naren jaman SMP? Teman-temanku bahkan terang-terangan menyukainya. Tapi laki-laki yang dikenal paling tampan di sekolahku waktu itu menyatakan cintanya padaku, sungguh diluar nalar otakku. Aku bahkan menyebut Naren gila waktu itu.

Mengingat itu, membuat sunggingan samar di bibirku. Aku mengenal Naren lebih dari apapun. Dan saat aku harus terima kenyataan kalau dia punya hati yang lain, rasanya ... yah begitulah.

🍁🍁🍁

"Naren selingkuhin gue."

Silvi yang tadi sibuk memilah milih souvenir yang aku bawa dari  liburan menatapku, menyipit,  kemudian menggeleng seolah tidak percaya apa yang barusan aku katakan.

"Terus gue harus percaya setelah kalian berdua pergi liburan bersama?" Silvi kembali memilah milih. "Duh ini semua cantik-cantik Kan, gue pengin semua!"

"Naren beneran selingkuh."

"Lo serius bilang kalo pacar lo selingkuh dengan muka datar kaya gitu?"

"Jadi gue harus gimana?"

"Lo jangan asal ngomong kalo nggak ada buktinya."

"Gue lihat dengan mata kepala sendiri, Sil."

"Siapa?"

"Alisya."

Silvi menghembuskan napas. "Itu mah udah cerita lama kalo si Alisya itu mepet Naren terus. Sejak lo go public aja dia kelihatan ngejauh gitu. Jadi lo nggak usah terlalu diambil ati kalo tuh cewek kecentilan ama laki lo."

Ck, gaya bahasa Silvi sering bikin aku merinding. Dia selalu menyebut Naren 'laki lo', seperti aku sudah jadi bininya tuan posesif itu saja. Tapi serius, dia ternyata teman yang enak untuk berbagi hati. Meskipun aku baru mengenalnya saat baru masuk pertama kuliah, dia cukup loyal. Dan aku cukup berterima kasih dia tidak mencela atau memakiku saat tahu kalau aku dan Naren punya hubungan khusus. Secara kan Silvi termasuk deretan pengagum garis keras Naren yang disebutnya prince charming itu.

"Okelah gue akui sempet sesaat patah hati karena lo tiba-tiba digandeng sama si prince charming, tapi setelahnya gue dukung 100% hubungan lo sama dia. Jadi Please deh, jangan bikin kecewa fans yang udah relain hatinya ini buat lo."

"Kok kayak Naren yang jadi korban sih. Gue loh yang diselingkuhi. Kalo nggak ingat dia bakal sidang skripsi lusa, gue pasti uduh mutusin dia."

"What?! Lo bego atau tolol sih?! Cowok seganteng Naren mau lo putusin. Sinting! Lo harusnya bersyukur bisa pacaran sama cowok yang digilai cewek sekampus."

Aku berdecak sebal. Aku nggak seberuntung itu. Buktinya diselingkuhi.

"Denger ya Kan, Naren bisa aja dapetin yang lebih dari lo---"

"Nah tuh lo tau," potongku membuat Silvi menggeram.

"Dengerin gue dulu! Tapi lo nggak boleh nyerah gitu aja dong. Secara penampilan dan keseksian serta kecantikan jelas lo kalah jauh sama Alisya__" Sialan. "Tapi secara potensi dan kesempatan,  lo jauh lebih banyak peluangnya. Jadi, lo jangan biarin prince charming lepas dari tangan lo. Apalagi jatuh ke cewek centil macam Alisya."

"Masalahnya gue gak bisa maafin kalo pasangan gue ketauan selingkuh. Itu fatal buat gue."

"Lo yakin Naren selingkuh?"

Aku mengedikkan bahu. "Yang jelas gue lihat mereka berciuman, saling menempelkan bibir."

"UwaoW! Rasa bibir Naren kayak apa ya?"

Astaga! Ini anak malah ngebayangin.

"Sil, fokus dong!"

Silvi terkesiap lalu segera menegakkan punggung. "Sori, hehe. Kali aja Naren disosor duluan sama orok centil itu."

Aku mengibas. Apapun itu yang jelas bibir Naren sudah bersentuhan dengan perempuan lain selain aku. Aku juga tidak mau terlihat posesif. Tapi apa pantas laki-laki yang sudah punya komitmen sama perempuan yang katanya sangat dicintainya berciuman dengan perempuan lain? Tidak. Otakku tidak bisa menerima itu, terlebih hatiku.

🍁🍁🍁

Pesan whatsapp dari Naren masuk saat aku baru sampai di rumah setelah menjemput ayah.

Sayang, aku lulus. Nanti malam pukul 7 aku jemput, kita ke rumahku. Mama bilang ada syukuran kecil-kecilan.

Aku senang mendengar dia lulus. Tapi untuk datang ke rumahnya malam ini, rasanya malas. Bertemu dengan tante Wanda--mama Naren-- di hari-hari terakhirku bersama Naren sebagai pacar, tidak ada dalam daftar rencanaku.

Aku disambut baik oleh tante Wanda saat Naren mengajakku ke rumahnya bertemu sang mama. Pembawaan ramah tante Wanda membuatku jadi cepat akrab. Beda denganku, sejak pertama kali pacaran Naren memamerkanku pada mamanya. Orang tuaku sendiri baru aku beri tahu setelah berjalan setahun hubungan kami.

Memiliki Naren bukan aib, tapi entah mengapa aku merasa kurang percaya diri dalam urusan seperti itu. Aku memang banyak memiliki teman laki-laki,  tapi terlibat hubungan yang mereka sebut cinta bagiku terasa aneh dan entahlah .... Aku hanya ... bagaimana menjelaskannya? Baiklah begini, Mas Bagas kakakku satu-satunya, bereaksi sangat menyebalkan saat tahu aku pacaran dengan Naren. Dia terbahak-bahak seolah mengejekku. Aku memang banyak kekurangan, tapi tidak kusangka reaksi kakakku sendiri bisa semenyebalkan itu.

"Naren suka sama lo? Sulit dipercaya."

Dan dia berkata seperti itu sambil menyeka sedikit air di sudut matanya setelah tawanya sedikit mereda. Benar-benar menjengkelkan. Yah, pacaran dengan Naren benar-benar membuatku merasa terintimidasi. Mungkin karena itu juga, aku sering bersikap jutek pada Naren. Lebih karena aku menutupi rasa kurang percaya diriku. Dan anehnya Naren bisa bertahan selama itu di sisiku, menerimaku, dan memposisikanku sebagai perempuan yang istimewa. Meskipun kadang caranya membuatku kesal setengah mati.

BERSAMBUNG


Aku merasa Kanya akan meninggalkanku. Entahlah, feelingku mengatakan seperti itu. Gestur tubuhnya yang memberiku sinyal itu. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan. Meskipun kemudian dia bersikap seolah tidak ada apa-apa, aku yakin ada sesuatu. 

Aku kenal dia bukan hitungan hari, melainkan bertahun-tahun. Jadi perubahan sekecil apapun pada dirinya, aku tahu.
Aku berusaha tidak terganggu dengan sikap Kanya akhir-akhir ini. Aku tidak mau konsentrasiku buyar saat sidang nanti. Aku harus tetap fokus. Urusan Kanya biar aku lanjutkan setelah ini.

Beberapa hari setelahnya, aku bersyukur bisa menjalani sidang dengan baik. Dengan nilai yang sempurna. Harusnya aku bisa memeluk Kanya saat keluar dari ruangan sidang. Tapi dia beralasan akan menjemput ayahnya ke bandara. Baiklah, aku mencoba mengerti. Walaupun sumpah, dalam hati aku merasa tidak nyaman. Gila! Setelah sekian tahun, kenapa Kanya masih saja tidak bisa membuatku merasa menjadi laki-laki yang memiliki dia seutuhnya?

Saturday, February 15, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 4


Bertolak dari pantai Kartini mobil Naren menuju ke arah pantai Bandengan.  Konon pantai yang memiliki pemandangan terbaik di Jepara,  sehingga banyak resort atau hotel berdiri anggun di sana.

Mobil Naren memasuki kawasan sebuah resort yang dekat dengan pantai.

"Kita istirahat di sini. Ini cottage terbaik yang aku temui di daerah ini. View pantainya bagus. Dan tidak dibuka untuk umum," jelas Naren.

Aku tidak banyak bicara selama perjalanan, jadi Naren mungkin merasa perlu menjelaskan tempat kami akan menginap. Memang tidak buruk. Bagus. Pantai Bandengan memiliki pasir putih tidak seperti pantai utara lainnya yang kebanyakan berpasir hitam. Nyiur yang melambai-lambai seolah mengundangku untuk mendekat. Aku tidak terlalu histeris sih. Selama lima hari di pulau cemara besar cukup membuatku puas dengan pesona alam laut ini.

Kamar yang kutempati menghadap tepat ke laut lepas. Sejak awal inilah yang Naren inginkan berlibur di suatu tempat. Tapi mungkin bukan di Jepara. Ada destinasi lain yang sudah dirancang  otaknya sebelum aku merusaknya dengan liburan kemping bersama klubku ke karimunjawa. Mengambil praktisnya akhirmya dia ikut berlibur di sini. 

Jepara tempat yang menarik, aku tidak menyesal memutuskan berlibur di sini.


"Kamu suka?" 

Aku sedang berdiri di balkon kamar saat suara Naren terdengar jelas di telingaku. Sejak kapan manusia ini berada di belakangku? 

Aku menggeser tubuhku saat kurasakan Naren hendak merangkul pundakku.

"Kamu marah?"

Aku masih diam menatap view pantai di hadapanku. Bahkan deburan ombaknya bisa aku dengar.

"Kanya, ada apa? Aku merasa kamu mendiamkanku dari kemarin. Apa aku berbuat salah?"

Tepat. Kupikir dia tidak menyadarinya. Aku mencoba sekuat hati agar emosiku tidak meledak. Lagi-lagi aku mengingat itu.
Jika bukan karena sidang skripsinya yang tinggal beberapa hari lagi, bisa saja aku menumpahkan caci maki yang dari kemarin aku pendam. 

"Aku nggak apa-apa," jawabku mengubah posisi berdiriku menghadapnya. "Jadi apa kamu sudah siap jalani sidang skripsi nanti?"

Naren kembali merekahkan senyum. Kemudian jemarinya meraih sebelah tanganku. "Tentu saja aku sudah siap. Kamu bisa menemaniku kan?" 

Kalau saja kejadian di Karimunjawa tidak pernah aku lihat,  mungkin aku dengan senang hati menemani dan mendukungnya saat sidang berlangsung.  Tapi sekarang, keinginan itu sudah terjun bebas. Aku tidak  memikirkan apapun lagi selain keinginanku untuk melepas Naren, sesegera mungkin.

"Aku nggak janji. Hari itu ayah pulang, aku harus menjemputnya di bandara." Aku tidak bohong soal ini. 

Naren menekuk bibirnya. "Masa kamu nggak mau mendukungku sih?"

"Ayah maunya aku yang jemput. Ibu tentu saja sibuk dengan bakery-nya. Masa iya aku nyuruh supir kamu buat jemput ayah."

"Oke, tapi selepas itu temui aku di apartemen."

"Buat?"

"Merayakan kelulusanku dong."

"Yakin lulus?"

"Kanya!"

Biasanya aku akan tergelak mendengar geraman Naren yang seperti itu. Tapi tidak kali ini. Suasana memang sudah agak sedikit mencair,  tapi hatiku belum.
Aku lebih memilih berjalan menghampiri tempat tidur.

"Aku mau istirahat. Kamu keluar sana."

"Aku mau tidur di sini saja."

Tanpa kuduga, Naren melemparkan diri ke tempat tidurku. Dia menatapku dengan seringai jahilnya. Aku menggeleng.

"Sidang aja belum tentu lulus, udah mau nidurin anak orang," gerutuku membuat Naren menegakkan tubuhnya kembali. Matanya melebar tak percaya.

"Mulut kamu masih pedes aja sih dari dulu." 

Ku dengar dia mendengus. Dan belum sempat aku menghindar lenganku sudah ditarik hingga tubuhku terjatuh tepat di pangkuannya.

"Buat nidurin anak orang, aku nggak perlu nunggu lulus dulu. Apalagi buat nidurin kamu," ucapnya pelan membuat detak jantungku tak beraturan. Sial.

Aku mendorong kuat dadanya hingga membuatnya terjatuh ke kasur. Lantas aku melompat turun. Aku tidak mau manusia posesif ini membuat pertahananku hancur. Naren tergelak melihat tingkahku.

"Kanya, Kanya, baru digituin aja udah ketakutan."

Aku melotot kesal ke arahnya. "Keluar nggak?!"

Tawa Naren makin kencang. Aku menarik tangannya menyeretnya ke pintu.

"Awas,  kalo berani kembali," ancamku sebelum menutup pintu dengan keras.

"Jam tujuh kita makan malam sayang!" teriak Naren dari luar. Dan aku juga sempat mendengar dia masih tertawa. Menyebalkan.

🍁🍁🍁

Aku masih tertidur saat pintu kamarku diketuk. Aku menggeliat. Tapi malas bangkit.

"Kanya?"

Naren menyembulkan kepalanya di pintu.
"Masih tidur?"

Aku mengangguk tanpa mau membuka mata. Tak berapa lama kurasakan ujung tempat tidurku melesak. Aku tahu dia duduk di sana.

Setelah makan malam aku memutuskan untuk tidur. Tidak mengindahkan ajakan Naren menikmati malam di tepi pantai. Kata dia sih romantis mendengarkan deburan ombak di pantai pada malam hari. Tapi peduli apa? Aku sudah tidak berminat diromantisin manusia posesif itu. 

"Renang yuk," ajaknya.

"Males ah masih ngantuk." Aku malah semakin menaikkan selimutku. Kudengar helaan napas Naren.

"Masa liburan diisi cuma tiduran aja sih. Pumpung kita masih di sini.  Kita nikmati suasananya."

"Tapi aku masih mengantuk." Aku harap dia pergi dari kamarku.

Alih-alih pergi, Naren malah merebahkan tubuhnya di sebelahku. Aku  jadi deg-degan. Harus aku akui, tiap kali Naren berjarak sedekat ini denganku, aku selalu deg-degan. Tak peduli bagaimana pun suhu hubungan kami.

"Oke, aku temani."

Mataku kontan membuka.

"Jangan ngaco deh,  mending sana kamu keluar."

Naren memiringkan tubuhnya, sehingga dia bisa memandangku langsung.

"Kamu kelelahan banget ya? Bukannya kamu bilang kemarin nggak capek?"

"Aku lagi males aja."

"Males sama aku?"

"Nggak."

Naren menarik lenganku, hingga posisiku miring menghadapnya. Jarak antara hidung kami hanya sejengkal. Hingga bisa kucium kombinasi aroma maskulin dan Shampo yang biasa dipakainya. Tentu saja dia sudah wangi dan bersih. Sedang aku? Mungkin saja di pipiku ada bekas iler yang sudah kering. Belum lagi aroma khas bangun tidur yang mungkin saja mengganggu. Aku segera menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

"Loh, kenapa ditutup?"

"Aku berantakan, baru bangun tidur. Dan aku belum gosok gigi."

Naren terkekeh. Menurunkan tanganku yang menutupi wajahku.

"Kamu jauh lebih cantik kalo habis bangun tidur gini."

Aku mendelik. Dan dia lagi-lagi tertawa. Lalu setelah itu kami diam cukup lama. Harusnya udara pagi plus AC yang ada di kamar ini cukup dingin. Tapi kenapa aku malah merasakan gerah yah?

Mataku sudah tidak mengantuk lagi. Kupandangi Naren dengan seksama. Kulihat matanya sedang menatapku dengan sungguh-sungguh. Aku belum pernah melihat mahluk setampan dia.

Naren mengelus lenganku. Lalu, tangannya naik menuju kepalaku. Rambut dan pipiku pun dielusnya dengan hati-hati, seolah jari-jarinya takut bisa melukai kulitku.

Tiba-tiba Naren mendekatkan kepalanya. Lalu bibirku dipagutnya. Awalnya mengejutkan, tapi lama-lama berangsur melembut dan hati-hati. Aku membiarkannya. Aku meresapinya.

Di ujung sensasi ciuman Naren, aku merasakan sesuatu mengusik hatiku kembali. Seolah membangunkan aku dari kenyataan. Bahwa bukan hanya aku saja yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang Naren. Refleks aku mendorong dada Naren, sempat aku melihat Naren agak sedikit terkejut.
Aku segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. 

Bisa-bisanya dia menciumku setelah sebelumnya mencium perempuan lain?! Napasku terasa sesak. Aku benci begini. Tanganku mengepal. Bodohnya aku membiarkannya. Sudah sedalam itu kah perasaanku pada laki-laki itu?

"Kanya, kamu baik-baik aja?" seru  Naren dari luar. Aku tidak baik-baik saja kalau dia mau tahu. Aku membenci sekaligus mencintainya pada waktu yang bersamaan.

"Kita sarapan, aku tunggu di luar ya!"

Aku masih diam. Tidak menyahut. Harusnya hatiku tidak selemah ini. Dalam hitungan hari aku harus segera menyelesaikannya. Iya, aku pasti bisa menjalani kehidupanku tanpa dia. Bukankah itu yang selama ini aku mau?


Naren sedang berenang saat aku memutuskan untuk keluar kamar. Di meja dekat kolam renang sudah tersedia dua piring sandwich dan segelas susu serta jus jeruk.

Aku duduk memerhatikan Naren berenang dengan gaya bebasnya. Dia masih saja terlihat menawan saat berduel dengan air. Cepat dan berirama. Seolah air adalah daerah kekuasaannya yang senantiasa bisa dia taklukan. Naren tidak pernah suka dengan olahraga outdoor. Berenang atau ngegym, hanya itu olahraga yang sering dia lakukan. Tubuh bagusnya terbentuk dari situ. Bukan ditempa alam seperti halnya Kenan.

Aku hendak mengambil sandwichku saat ponsel Naren yang tergeletak di meja berdering. Pemiliknya masih saja asyik berenang. Aku melirik ponsel itu dengan rasa ingin tahu. Sebenarnya ini bukan kebiasaanku. Hatiki tiba-tiba mencelos.

Alisya, nama yang tertera di layar. Sampai deringan berakhir aku mengabaikannya. Dan setelah ada tiga kali panggilan, layar itu menampakkan sebuah balon percakapan.

'kita harus ketemu.'

Hanya kalimat pendek. Namun seolah bisa mengobarkan suluh di dadaku. Tak berapa lama, Naren keluar dari kolam renang bertepatan dengan suapan terakhir sarapanku.

"Kamu udah lama nunggu?" tanya Naren memakai bathrobe-nya.

"Lumayan, cukup buat habisin sarapanku.  Sorry ya aku duluan makan, laper."

Naren tersenyum dan meraih susu putihnya. Itu juga salah satu kebiasaan dia. Lebih memilih minum susu tiap pagi daripada teh,  kopi atau sejenisnya. "No, problem."

"Tadi ada yang terusan nelpon kamu. Mungkin penting. Kamu bisa telpon balik," kataku saat Naren mulai mengambil sandwichnya.

"Oya?  Siapa? Kenapa nggak kamu angkat?"

Aku hanya mengedikkan bahu. Dan Naren mengambil ponselnya. Mengecek layarnya sesaat. Aku mencoba melihat air mukanya. Ingin tahu reaksinya. Tapi nihil. Naren tidak nampak terkejut atau apa. Mukanya sedatar papan.

"Hanya Alisya," ucapnya meletakkan ponselnya kembali lalu melanjutkan makannya.

Untuk beberapa saat aku sempat melongo. Apa dia tidak perlu untuk menjelaskan sesuatu padaku?

"Kamu harusnya ikut renang tadi."

"Kamu nggak berniat telpon balik?" tanyaku masih mencoba ingin tahu.
Naren mengerutkan alisnya. Mengusapnya pelan seperti orang sedang berpikir.

"Nggak perlu sih. Nanti juga bisa."

Aku mengangguk ragu. Baiklah. Mungkin Naren ingin bicara dengan Alisya tanpa gangguanku.

"Aku ganti baju dulu. Kamu tunggu di sini. Kita akan jalan-jalan," katanya bangkit dari duduk.

"Tapi aku--"

Hah! Aku tidak ingin jalan kemana pun. Yang aku inginkan pulang ke rumah. Itu saja.

BERSAMBUNG



Aku merasa Kanya tidak dalam mood yang bagus. Aku bukannya tidak menyadari, tapi lebih memilih abai saja. Karena biasanya gadis itu akan membaik dengan sendirinya. Aku hanya perlu bersabar dan selalu tetap di sisinya.

Saat aku memaksanya istirahat di resort pun dia masih terus diam. Ada apa dengannya? Sebegitu tidak relanya kah berpisah dengan teman-teman konyolnya itu? Aku tak percaya. Padahal aku pacarnya sendiri. 

Atau mungkin ada kata-kataku yang membuatnya sebal? Ah! Tidak biasanya Kanya diam lebih dari sehari. 

Aku baru bernapas lega saat Kanya menunjukkan sikap sinisnya lagi. Memang selalu seperti itukan dia memperlakukanku?

Tapi lagi-lagi tanpa aku duga dia seolah menjaga jarak denganku. Di tengah ciuman kami, tiba-tiba saja dia mendorong dadaku kuat. Tidak biasanya dia seperti itu. Ehem! bukannya apa, tapi Kanya selalu bisa menikmati sentuhan yang aku beri. Aku yakin sekali. Jadi diperlakukan seperti itu, aku agak sedikit terkejut. 


Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 3

Aku belum sempat mengurai pelukannya saat kulihat Alisya berjalan melewati kami. Astaga! Aku melupakan itu. Tadi Alisya aku tinggalkan di dalam tenda. Aku melihat punggungnya semakin menjauh. Tanpa menoleh sedikit  pun. Aku semakin membuatnya terluka.

Aku melepas pelukan Naren. Menatap wajahnya penuh tanda tanya. Bukannya seharusnya dia masih ada di Makassar? 

"Kenapa kamu ada disini?"

"Sudah aku bilangkan? Aku kangen sama, kamu."

"Memangnya urusan kamu di Makassar udah beres?"

"Udah dong. Makanya aku langsung kesini menyusulmu. Gila, empat hari Kanya kamu nggak ngasih aku kabar. Ponselmu kamu apain?"

Aku melangkah. "Disini nggak ada sinyal. Jadi lebih baik ponsel aku matikan."

Naren mendesah dan segera menjajari langkahku.

"Selama aku nggak ada, banyak yang coba deketin kamu nggak?"

Lihat,  baru datang pertanyaannya sudah membuat orang suntuk. Aku terus berjalan mengabaikan pertanyaan konyolnya.

"Kok nggak dijawab sih. Jadi benar banyak yang gangguin kamu?"

Kakiku berhenti melangkah, menatap Naren setengah geram. "Pacarmu ini nggak ada menariknya sama sekali. Jadi berhenti bertanya seolah aku ini banyak peminatnya."

"Siapa bilang?  Pacarku adalah gadis yang sangat manis dan menggemaskan."

Aku memutar bola mataku. Telingaku sudah kebal dengan ucapannya yang berlebihan. Dia meraih tanganku,  menautkannya ke dalam rangkuman tangannya yang besar. Ada aliran hangat yang aku rasakan. Seolah Naren sengaja mengirimkan energi itu. Aku tidak pernah memungkiri segala sikap manisnya. Itu menyenangkan. Dan hal seperti ini seakan membenarkan ucapan Kenan 'kamu sangat mencintainya'.

"Hari ini ada kegiatan jelajah pulau. Kamu nggak perlu ikut. Kamu istirahat saja. Karena akan sangat melelahkan."

"Tapi siapa nanti yang akan menjagamu?"

"Aku sudah empat hari disini. Semua baik-baik saja. Mereka menjagaku."

Hanya ada tujuh perempuan yang ikut kemping ke sini. Termasuk Alisya. Selebihnya laki-laki. Jumlah mereka cukup untuk menjaga kami.

"Tapi--"

"Kali ini jangan membantahku. Aku yakin dari Makassar kamu langsung kesini. Aku bisa melihat muka lelah di mata kamu. Kamu butuh istirahat."

Dia terlihat ragu. Meskipun dia memaksa ikut,  aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak mau peristiwa merapi tempo hari terulang lagi. 

Naren mengangguk pasrah. Syukurlah aku tidak perlu mendebatnya untuk hal ini.

"Tapi kamu nggak boleh lama-lama. Jangan dekat-dekat dengan Kenan ataupun lainnya."

Astaga! Aku tidak segenit itu.

"Apa aku juga perlu live kegiatanku nanti?"

Naren tergelak. Mengacak rambutku lalu mencubit gemas pipiku. "Sorry sayang."

Apa aku seberuntung itu memiliki pasangan seposesif dia? Tapi kadang aku juga tidak yakin dengan apa yang Naren lakukan. Lagi-lagi aku harus mengatakan ini. Aku bukan gadis istimewa. Yang istimewa di sini adalah Naren.

Mengetahui kenyataan itu, aku tidak ingin memerangkap perasaanku pada Naren terlalu jauh. Risikonya terlalu besar. Meskipun selama ini terlihat baik-baik saja. Pemikiran patah hati kadang tiba-tiba saja hadir. Jadi,  aku membentengi diriku sendiri dengan tidak terlalu menganggap serius hubungan ini. Tapi Naren selalu bisa memporak porandakan benteng yang sudah susah payah aku bangun dengan segala sikap manisnya. Iyah,  aku gampang sekali luluh, padahal baru semenit lalu aku merasa sebal padanya. Itu wanita banget. Hey! Aku juga wanita. 

Siapa yang tahan jika harus dicekoki sikap manis setiap hari oleh laki-laki setampan Naren? Jujur aku malu mengakui ini. Karena selain sikapnya yang manis laki-laki itu juga bisa membuatku jengkel setengah mati.

Saat aku mulai lelah dengan hubungan ini,  ada saja hal yang Naren lakukan untuk bisa membuatku bertahan di sisinya. Selama kesalahan Naren adalah sesuatu yang bisa aku maafkan dengan berbesar hati, maka aku akan tetap menjaga hubungan ini. Iya,  aku akan dengan mudah memaafkan kesalahan Naren selama dia tidak 'bermain' di belakangku. You know? Aku tidak bisa menolerir jika pasanganku berkhianat.

***

Jelajah pulau sangat melelahkan. Kami menyusuri hutan konservasi, merayapi rumpun bruguiera dan rhizopora, menyebrangi jurang curam dengan tali,  mendayung perahu, dan berbasah-basahan di pantai. Menyelam untuk menghitung karang merah di dasar lautan. Seharian ini kami ber-out bound training layaknya pasukan militer. Dan itu sangat menyenangkan sekali.

Aku dan Kenan kembali terlebih dulu dibanding yang lain. Mereka sepertinya masih asyik bermain dengan air laut yang jernih lengkap dengan penghuninya yang menakjubkan. Aku sendiri masih akan terus betah jika tidak ingat Naren aku tinggalkan di tenda sendiri.

Aku mencari sosoknya begitu sampai  tenda. Yang kupikir mungkin dia sedang terlelap ternyata tidak. Dia tidak ada dalam tendanya. Aku mencari dia di sekitaran tenda yang lain.  Tapi tidak juga aku temukan.

"Kenapa Kan?" tanya Kenan.

"Kamu lihat Naren Ken?"

"Di tendanya nggak ada?"

Aku menggeleng, "Di sekitaran tenda lain juga nggak ada."

"Oke, aku bantu cari yah. Mungkin dia di belakang sana."

Kenan menuntunku ke arah sumber mata air. Mungkin saja kan Naren ada di sana. Agak masuk ke dalam hutan konservasi memang ada mata air jernih, ada sungai juga yang mengalir. Kami menggunakan itu untuk mandi.

Aku baru akan bersiap meneriakkan nama Naren saat mataku menangkap sosoknya dari kejauhan. 

Hampir saja aku mendatanginya kalau saja ternyata mataku juga menemukan sosok lain bersamanya.

Aku menghentikan lajuku, Kenan di belakangku juga ikut berhenti.

"Kenapa Kan?" tanya Kenan bingung. "Itu Naren dan Alisya kan?"

Iya benar. Aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa sampai harus pergi berdua seperti itu. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap. Tapi kemudian aku tahu saat tiba-tiba hal yang sama sekali tidak ingin aku lihat terjadi. Alisya merapatkan jaraknya, dia berjinjit menangkup pipi Naren dan menempelkan bibirnya ke bibir laki-laki itu.

Aku hampir saja kehilangan nafas. Mataku terpejam. Mendadak aku menyesal telah menyusulnya ke sini. Aku tak perlu mencarinya kalau tahu akan... Sesakit ini. 

Sulit aku yakini. Tapi aku benar-benar merasa tidak baik. Rasa panas yang tiba-tiba menjalar di dadaku sangat tidak nyaman. Bukan hanya itu, aku tidak menyangka rasanya juga akan sesesak ini.

Aku memutar tubuhku dan mendapati Kenan menatapku dengan pandangan menyedihkan. Satu lagi yang aku sesalkan harusnya aku tidak perlu melibatkan Kenan untuk mencari Naren.

Aku berjalan cepat melewati Kenan begitu saja. Hal yang aku khawatirkan selama ini akhirnya terjadi. Sekuat apapun aku membentengi diri rasa sakit itu ternyata masih bisa menembusnya.

Aku benci diriku yang sekarang. Harusnya aku bisa memaklumi. Aku tidak mungkin bisa disandingkan dengan Alisya. Jelas aku kalah jauh. Dan Naren adalah laki-laki normal. Tentu saja dia akan tertarik pada hal yang lebih baik.

Sial, kenapa mataku ikut menghangat. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak secengeng ini.

"Kanya," suara Kenan di belakangku 
memanggil. Aku hampir melupakannya. Langkahku terhenti.

"Ka_kamu baik-baik aja?" tanyanya pelan.

Aku tidak boleh memejamkan mata. Tidak ingin air mata sialan itu berhasil menerobos kelopak mataku.

"Aku tidak apa-apa," jawabku tanpa membalikkan badan. "Apa aku bisa meminta sesuatu?" 

Masih berusah tetap kuat aku mengadahkan wajahku. Karena aku merasa mataku semakin panas.

"Iya?"

"Tolong, anggap kejadian tadi nggak pernah ada. Aku atau kamu tidak pernah melihatnya," ucapku menahan nada agar tidak bergetar.

"Kanya ak_"

"Bisakan?"

"Baiklah. Tapi apa kamu baik-baik aja?"

"Terima kasih, aku baik-baik aja. Aku balik ke tenda dulu yah."

Tanpa pikir panjang lagi aku kembali melangkah, bergegas menuju tendaku.
Aku kecewa dengan diriku. Air mata yang sudah aku tahan mati-matian akhirnya melaju melewati pipiku. Untuk apa aku menangis? Baru saja aku bicara  soal sebuah kesalahan yang tidak bisa aku maafkan, baru saja aku membahas hal patah hati, dan kejadian yang aku lihat tadi serasa menggodamku.

Apa sebenarnya mereka punya hubungan? Jika mengingat semua perjuangan Naren hanya untuk mendapat kata 'iya'  saat mengajakku berkomitmen, harusnya aku tidak perlu meragukan keyakinanku. Tapi yang aku lihat membuatku harus menelan kembali kata yakin itu.

Aku tahu ada yang salah dengan hubunganku dan Naren. Tapi bodohnya, aku masih mempertahankannya. Jika saja aku lebih berpikir rasional, mungkin saja aku tidak akan seterguncang ini mendapati Naren dan Alisya... Ah!

Aku mengusap kasar air mata sialan yang tidak mau berhenti mengalir ini. Aku harus terlihat tegar apapun yang terjadi. Untuk beberapa saat aku akan mencoba meredam emosi dan sakit yang sebenarnya ingin aku luapkan seketika itu juga. Aku harus bisa, sebelum aku menjatuhkan boom itu.

***

Sisa waktu di Karimunjawa aku habiskan untuk mendiamkan Naren. Aku ingin menutupi rasa marahku. Marah? Iya aku marah. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Setiap kali melihat wajah Alisya dan Naren, kelebatan mereka saling menempelkan bibir itu terbayang. Tak ayal itu membuat dadaku terasa sesak.

Naren seperti tidak menyadarinya, seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Dia masih saja bersikap manis padaku. 

Semakin sering menggenggam tanganku. Aku terpaksa membiarkan, padahal dalam hatiku merasa muak. Disini aku seperti sedang dibohongi. Diam-diam aku juga memperhatikan Alisya yang kerap mencuri pandang ke arah Naren. Mencoba melihat interaksi mereka dalam diam. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak menggubrisnya.

Bus yang menjemput rombongan kami di pelabuhan kartini sudah menunggu. Hari ini kami akan kembali ke Jakarta. Menghabiskan liburan dengan aktivitas kami masing-masing.

Naren masih menggenggam tangaku saat kami keluar bersama rombongan menuju bus. 

"Mobilku sudah menunggu kita," ucapnya.  Iya aku bisa melihat Pak Roni, supir keluarga Naren sudah ada di sana.

"Aku naik bus saja bareng yang lain," tolakku.

"Ayolah Kanya, kita bisa mampir dulu ke hotel untuk istirahat. Perjalanan ke Jakarta masih jauh. Dan kamu terlihat sangat kelelahan."

"Kamu yang lelah, aku nggak."

"Aku sudah menuruti larangan kamu untuk tidak ikut jelajah pulau kemarin. Apa kali ini juga kamu mau menolakku?"

Ya! Dan seharusnya aku tidak membiarkanmu tinggal di tenda dan berduaan dengan si barbie. Hingga.... 

"Aku nggak enak sama yang lain. Aku berangkat bersama mereka jadi aku pulang juga harus sama mereka."

"Aku sudah bicarakan ini sama Kenan. Dan dia nggak masalah."

Aku mendengus kesal. Tentu saja, Naren tidak akan dengan mudah membiarkanku pergi bersama mereka. Aku tidak tahu apa yang laki-laki ini inginkan dengan terus menempel padaku. Bukankah dia sudah mendapatkan yang lebih dari segalanya? Gadis cantik yang digilai para laki-laki di kampus. Sepadan dengannya kan?

Kulempar pandanganku ke arah rombongan di bus. Kenan ada di sana,  mengomando semua agar segera masuk bus. Tatapan kami bertemu. Aku segera berpaling. Tidak mau dia membaca kesedihan dan amarah yang sedang berusaha aku sembunyikan.

Kurasakan Naren meraih dan menggenggam erat sebelah tangan kananku. 

"Ayo!" ajaknya. Aku menyentakkan tanganku dan membuatnya agak sedikit...  Terkejut. Tanpa mempedulikannya aku menghampiri Kenan yang akan hendak menaiki bus.

Laki-laki itu tersenyum canggung. Sambil sesekali matanya melihat ke arah Naren. 

"Sorry ya Ken, aku nggak bisa balik bareng kalian," kataku.

"Yah, aku ngerti. Kamu baik-baik yah." Dia menepuk-nepuk kepalaku sekilas. "Prince charming-mu dari tadi melotot ke arahku,"   bisiknya pelan. Matanya mengedar lagi.
Aku tak peduli.

Kenan tersenyum sebelum masuk bus. 

"Kami berangkat dulu yah."

Aku mengangguk lalu melambaikan tangan melepas rombongan kemping. Aku masih berdiri menatap bus itu merayap meninggalkan area pelabuhan saat seseorang merangkul pundakku.

"Kita juga harus pergi. Kamu perlu diservis extra biar kondisimu fit kembali." 

Aku mengernyit. Menatap Naren kesal. Melepas rangkulannya dan berjalan menghampiri Pak Roni.

Aku tahu setelah ini akan terjadi apa. Si tuan posesif itu akan memanjakanku, menghamburkan uangnya untuk mengajakku menikmati fasilitas hotel dari mulai kamar suit president seluas apartemennya sampai layanan kamar yang tagihannya bisa membuatku tecengang.

BERSAMBUNG




Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 2

Pulau Cemara Besar memiliki air laut yang jernih dengan pasir pantai putih yang bersih. Endapan pasirnya terbentang begitu luas. Di sepanjang pesisir pantainya banyak ditumbuhi pohon cemara yang cukup lebat hingga dari kejauhan nampak indah dan sejuk. Yang paling menakjubkan adalah biota lautnya. Ribuan jenis mahluk, sebagian besar filum Coelenterata dan Porifera menghias dasar dengan  keelokan bentuknya.  Berbagai jenis nekton bahari, ikan-ikan kecil berwarna-warni berlarian di sela-sela Anthozoa. Luar biasa cantik.

Aku memanjakan kakiku berendam di air laut yang dangkal, duduk pada sebuah karang menikmati panorama yang memanjakan mata. Ada banyak ikan kecil warna warni berenang bebas di dekat kaki telanjangku.  Sebebas diriku sekarang. Tanpa ada gangguan Naren.

Ini adalah hari keempat aku kemping di pulau cemara besar. Salah satu pulau di kepulauan karimunjawa. Tidak seperti bayanganku.  Ternyata pulau ini begitu indah.

Dari jarak seratus meter tempatku duduk,  ada tujuh buah tenda berdiri tegak disana. Tiga puluh lebih mahluk menghuninya, sebagian besar dari klub pecinta alam dan wall climbing.

Selama empat hari ini pula aku tidak mendapat kabar Naren. Bersyukurlah aku,  karena provider ponselku kehilangan sinyal di pulau terpencil ini. Sehingga gangguan Naren yang sering menelepon aku pun ikut lenyap.

"Kanya!  Jangan sendirian disitu!  Nanti tenggelam!" teriak Odi melambai dari tenda.

Ngigau itu anak. Ini airnya dangkal mana mungkin aku tenggelam. Dan kalaupun iya aku tenggelam,  memangnya aku tidak bisa berenang? Aku tidak akan diterima di klub pecinta alam kalau tidak bisa berenang. Itu ketentuan yang mereka buat.

Aku melambaikan tangan membalas. Odi merusak suasana pagiku saja.  Dan tanpa sengaja mataku menangkap sepasang kekasih yang sedang jogging bersama menyusuri pesisir pantai. Kekasih? Aku tidak yakin. Itu Ramon dan Alisya.

Alisya??? Iya dia gadis itu. Gadis yang tidak gentar mengejar cinta Naren. Aku tidak habis pikir kenapa barbie itu ikut kegiatan kemping klubku. Kegiatan yang kami lakukan disini tidak cocok untuknya. Terlebih untuk keamanan kulit mulusnya.

Dari semua anak,  yang aku yakini penyebab Alisya berada disini hanya Ramon. Laki-laki itu terobsesi dengan si barbie. Salah satu alasan juga dia begitu sangat memusuhi Naren.

"Hei... "

Lamunanku buyar. Saat suara berat itu menyapa. Kenan. Dengan kaos oblong dan celana cargo pendeknya sudah berdiri di hadapanku. Kenapa aku tidak menyadari kedatangannya?

"Kenapa melamun disini?"  tanyanya.

"Kamu lagi rindu dengan prince charming-mu itu ya?" lanjutnya.

Aku berdecak. Aku sudah menghabiskan masa bertahun-tahun mengenal Naren. Hanya tiga hari aku tidak berjumpa. Mana mungkin aku rindu dengan orang yang membuat hatiku bahagia dan kesal secara bersamaan itu?  Mustahil.

"Jangan menyebutnya seperti itu. Sebutan itu sama sekali nggak cocok untuknya."

Kenan tertawa. Entah apa yang lucu.
"Mereka yang menyebutnya seperti itu."

"Dia lebih cocok dengan sebutan si tuan posesif yang menyebalkan. Prince charming terlalu manis untuknya."

"Dan untuk gadis yang suka bergerak bebas seperti kamu bisa bertahan disisinya selama ini,  bukankah itu suatu pencapaian yang luar biasa?"

"Tentu. Harusnya aku dapat penghargaan untuk itu."

Kami tertawa, seolah ini hal lucu. Sebenarnya aku enggan membahas apapun tentang Naren.

"Kamu sangat mencintainya. Itu sebab kamu bisa bertahan."

Kenan selalu beranggapan seperti itu. Tapi aku jarang menanggapi. Entah apa maksudnya. Dia bicara seperti itu dengan nada yang sulit aku mengerti.

"Pagi ini kita sarapan apa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku rasa Kenan menyadarinya. Dia tersenyum masam.

"Kita akan sarapan nasi goreng spesial buatan Odi,"

Reflek tanganku mengusap-usap perut. "Kedengarannya enak,  mendadak perutku jadi laper."

Aku bangkit dari tempatku duduk. Menerima ajakan Kenan untuk menemui anak-anak lain yang tengah berkumpul di dekat tenda, bersiap untuk sarapan pagi. Sebenarnya aku tidak ingin terlibat obrolan lama dengannya. Apalagi hanya berdua. Meskipun tidak melihat, aku tidak mau Naren terus berasumsi kalau Kenan menyukaiku.

***

"Kelihatannya Kenan suka sama lo." 

Gerakan tanganku yang sedang mencari-cari sesuatu dalam ranselku terhenti.
Aku tahu itu suara siapa. Suara kenes yang mendayu-dayu. Posisiku membelakanginya. Tapi aku bisa yakin itu suara milik Alisya. Tambah satu orang lagi yang berpikiran Kenan menyukaiku.

Aku kembali merogoh isi ranselku,  tanpa berniat merespon ucapannya.

"Lo itu cocoknya sama cowo kaya dia. Bukan sama Naren."

Oya? Terus Naren cocoknya sama siapa? Lo gitu?
Harusnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Tapi rasanya malas untuk membuka suara.

"Mungkin mata Naren perlu diperiksa. Kali aja dia salah sasaran pas nembak lo."

Aku sudah pernah bilang seperti itu dulu. Langsung dengan yang bersangkutan. Jadi aku tidak terlalu terusik dengan  kemampuan  perempuan itu 'mengolah kata' yang berusaha membuatku merasa tak nyaman.

"Lo denger gue ngomong nggak? Lo nggak budegkan?!"

Bagus Kanya! Lo bikin si barbie meradang.
Aku menghentikan kegiatanku mengorek-orek isi ransel. Menoleh ke arah Alisya, menatapnya heran. Sebenarnya mau perempuan ini apa? Aku lihat  kemudian dia tersenyum. Bukan jenis senyum ramah atau manis. Melainkan senyuman sinis seolah dia mengumandangkan genderang perang.

"Lo ngomong sama gue?" tanyaku datar. Aku yakin ekspresiku membuat kekesalannya bertambah.

"Gue kira lo budeg."

"Kenapa?"

"Naren.... "

"Kenapa Naren?"

Perempuan itu menggeram. "Lo yang bikin dia ngejauhin gue. Sebelum dia pacaran sama lo,  dia masih deket sama gue. Sekarang dia terus ngindarin gue. Sebenarnya apa kurangnya gue dibanding lo?"

Aku menghela nafas. Sedekat apa Naren dengan perempuan ini? Aku tidak peduli.
Tidak ada yang tahu hubunganku dengan Naren sejauh mana. Tiga bulan,  terhitung semenjak tiga bulan aku baru mau diajak go public oleh Naren.  Setelah sebelumnya selama dua tahun aku menjalani hubungan tanpa diketahui siapapun. Termasuk kedua orang tuaku.

Aku tidak pernah melarang Naren bergaul dengan perempuan lain. Aku percaya padanya. Dia memang baik, tapi kadang kebaikannya itu disalahartikan. Perempuan yang merasa dibaiki, mudah sekali baper karenanya. Mungkin termasuk Alisya. 

Gosip antara Naren dan Alisya memang dulu terdengar simpang siur. Dan aku tidak pernah mendengar dari mulut Naren sendiri tentang kebenaran hubungan mereka seperti apa. Dan seberapa dekat. Aku juga enggan bertanya.

Tiga bulan ini mungkin Alisya syok karena merasa kalah saing denganku yang hanya gadis biasa-biasa saja bisa pacaran dengan Naren. Tidak sepertinya yang dipuja banyak laki-laki. Harga dirinya terluka karena kehadiranku yang tiba-tiba saja muncul digandeng Naren di depan mata semua manusia kampus. Padahal aku sendiri tidak pernah menganggapnya atau siapa pun yang menyukai Naren saingan. 

Sungguh,  itu sangat menggelikan bagiku.
Naren,  dia benar-benar telah banyak mematahkan hati para gadis rupanya. Bukan hanya Alisya, aku tidak terlalu mengenal perempuan itu. Silvi teman dekatku di kelas pun ikutan syok saat tahu aku ternyata pacar Naren. Padahal setiap hari dia tidak pernah absen membicarakan tentang Naren padaku. Betapa kagum dan sukanya dia pada sosok prince charming itu. Ya Tuhan...  Naren tidak se-charming itu.

"Maaf kalo sudah buat lo patah hati. Itu diluar keinginan gue," kataku akhirnya.

"Maksud lo?"

"Gue bukan orang yang tiba-tiba saja hadir di kehidupan Naren. Gue juga nggak merasa ngejauhin lo dari Naren. Lo cantik, pinter. Nggak ada yang kurang dari lo. Semua orang tau itu."

"Tapi dia lebih milih lo timbang gue?!"

"Gue nggak merasa ada dalam pilihan yang seperti lo bilang. Naren tidak pernah memilih gue."

"Apa sih yang dia lihat dari lo?"

Body shaming. Jika aku tetap disini dan meladeni semua kata-katanya mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Lebih baik aku menyingkir. Aku sudah pernah membandingkan diriku dengannya. Hasilnya aku kalah telak jika beradu fisik.

"Lebih baik lo tanya sendiri ke Naren, dia mungkin punya jawaban yang tepat."

Aku keluar dari tenda. Aku mendengar dia menggumam tak jelas. Tapi tidak kepedulikan lagi.

Kenapa Naren memilihku? Pertanyaan yang mungkin ada di semua benak orang yang mengenal Naren di kampus. Aku memang bukan siapa-siapa. Tidak sepopuler Alisya. Tidak ada yang bisa dibanggakan untuk bisa terlihat menonjol.

Seperti yang aku katakan, aku tidak berada dalam pilihan. Naren tidak memilihku. Aku sudah lama mengenal Naren,  sejak dari SMP. Seperti halnya  sekarang, di sekolah dulu dia juga banyak yang suka. 

Tidak akan ada yang percaya kalau Naren sudah tiga kali mengutarakan cintanya. Dan semuanya aku tolak. Pertama saat aku masih menjadi anak kelas 1 SMP. Aku menganggap dia anak kurang waras. Aku yang bahkan waktu itu belum tahu apa arti cinta. Tapi sudah diajaknya pacaran. Tidak pantang menyerah, setahun kemudian dia mengajakku pacaran lagi. Dan yang ketiga saat aku kelas 2 SMA. Naren saat itu baru masuk perguruan tinggi. Aku pikir dia akan lelah.

Ya Tuhan, Alisya benar. Apa yang dia lihat dariku? Sebenarnya aku sendiri tidak yakin saat itu. Mungkin saja apa yang Naren rasakan hanya euforia sesaat saja. Hanya rasa penasaran dengan gadis berkulit coklat yang super aktif karena bosan pada gadis-gadis cantik disekitarnya. 

Aku cenderung defensif tentang perasaan.  Apalagi Naren yang, yah aku harus akui dia memang tampan, tidak, sangat tampan malahan, dan dia menyukaiku. Aku sulit mempercayainya. 

Dan baru yakin pada diriku sendiri saat Naren mengatakannya untuk kali keempat.

***

Aku baru keluar beberapa langkah dari tenda saat mendapati sebuah punggung kokoh yang sangat aku kenal.

Perlahan punggung itu berbalik. Dan menampakkan wajah pemiliknya. Mataku sesaat melebar sebelum akhirnya menatap mahluk di depanku dengan pasrah.

"Hai, sayang...," sapa orang itu dengan senyum ciri khasnya.

Aku masih berdiri ditempatku saat dia mendekat dan memelukku sangat erat. Erat sekali. Seolah dia akan mati kalau lama-lama tidak mencium bauku.

" I  miss you so so so much baby."

Aku menghembuskan nafas. Membalas pelukannya. Naren, dia menyusulku. Ya Tuhan laki-laki satu ini benar-benar.
BERSAMBUNG



Aku memeluknya sangat erat. Menumpahkan segenap rindu yang terasa sudah meluap. Seminggu aku tidak menemui gula jawaku serasa seabad lamanya. Ehem! Oke aku agak sedikit berlebihan. Tapi aku terlampau senang sekarang. Jadi,  aku harap tidak ada yang memprotes kelebay-anku.
Wajahnya terlihat lebih tirus dari terakhir aku melihatnya. Kulitnya sedikit lebih gelap dan kemerahan. Dan entah mengapa itu semakin membuatku terpesona.

Aku benar-benar rindu padanya. Tidak mendengar kabarnya terhitung empat hari lalu semenjak dia menginjakan kakinya ke pulau ini, membuatku kalang kabut. Pikiranku terus menduga-duga apa yang sedang dia lakukan tanpa pantauanku. Aku terbiasa mendengar gelak tawanya, menerima sikap juteknya, dan tentu saja aku juga agak sedikit khawatir pada kedekatannya dengan laki-laki bernama Kenan.

Aku bisa melihat laki-laki itu naksir dengan gula jawaku. Cuma Kanya saja yang kurang peka sehingga tidak menyadari itu. Jangan salahkan aku, jika aku ingin serba tahu apa yang dia lakukan. Bayangkan saja! hampir semua teman-temannya itu laki-laki. Aku tidak mau ada diantara mereka yang berani mengganggu Kanya. Khususnya si Kenan Kenan itu.


Sunday, February 2, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa



BAGIAN 1 

Aku tidak berniat mematahkan hati gadis-gadis pejuang prince charming di kampus ini. Sungguh ini diluar kuasaku. Mereka bilang aku menjadi gadis paling beruntung. Aku akan memutar bola mataku tiap kali dengar kata-kata itu.

Sungguh siapa yang tidak kenal prince charming? Dia menjadi salah satu laki-laki pujaan para gadis di seantero kampus. Harapan para jomblowati. Meskipun sekarang harapan itu pupus saat gosip prince charming sudah menemukan tambatan hatinya tersebar.

Aku bergidik mendengarnya. Sebenarnya julukan prince charming itu mereka yang menyebutnya. Aku lebih suka menyebut laki-laki itu sebagai si tuan posesif. Baiklah,  mungkin mereka harus mencoba dulu menjalin hubungan emosional dengannya. Aku bukan  tanpa alasan menyebutnya si tuan posesif.

Tatapan mendamba itu masih bisa aku lihat manakala aku berjalan berdampingan dengannya. Ya ampun,  padahal ada aku disisinya pun mereka masih saja genit menggoda. Seperti sekarang. Aku jengah melihat pemandangan yang nyaris sama setiap harinya.

"Hay... Naren... Makin ganteng ajah!"

Bising.

"Naren, kapan putusnya nih?"

Yang ini kurang ajar.

"Naren..., ngarep nih jadi yang kedua."

Aku mendelik mendengar itu. Dan yang membuat aku semakin sebal. Si tuan yang jadi objek masih setia menebar senyum mautnya. Menyebalkan!

"Kamu lihat? Pamorku nggak sedikit pun berkurang walaupun mereka tau aku sudah punya kekasih."

Kurasa aku melupakan satu hal. Selain tuan posesif,  dia juga bisa disebut Si tuan narsis. Ya Tuhan,  bagaimana mungkin aku bisa menerima orang sepertinya jadi kekasih? Mungkin dulu kepalaku terbentur benda keras. Disorientasi. Itu penjelasan yang masuk akal.

"Mending kamu diam aja dari pada semakin membuat perutku mual."

Naren tergelak. Seolah perkataanku tadi lucu. "Sehari aja kamu nggak pasang muka jutekmu itu pasti kamu akan terlihat sangat manis sayang."

Aku memutar bola mataku. Naren akan bersikap sangat manis padaku saat kami hanya  berdua saja. Tapi jika salah seorang dari temanku datang, ia akan pasang kuda-kudanya. Aku akan malas berdebat menghadapi sikapnya yang seperti itu setelahnya.

"Ya ampunnn... Kanya! Bagaimana aku nggak khawatir? Teman-teman kamu hampir laki-laki semua! Atau kamu memang sengaja menyembunyikan hubungan kita agar mereka nggak tau kalo kamu udah ada yang punya? Biar mereka bebas seenaknya menggodamu begitu?"

Lihat, apa yang ia katakan seolah sedang memutarbalikan fakta. Aku tidak pernah digoda siapapun. Dan teman-temanku, ya aku akui memang 90 persen laki-laki  mereka tidak hobi menggodaku seperti yang para gadis itu lakukan padanya.

Aku lelah dengan segala macam tuduhannya. Dulu, hubungan ini sengaja aku sembunyikan tidak lebih hanya karena aku tidak mau dimusuhi para gadis penggemar setianya. Bicara soal khawatir, harusnya aku yang lebih khawatir. Naren di kelilingi gadis-gadis cantik yang setiap saat siap menjadi gandengannya. Bahkan mereka terang-terangan menggodanya di depan mataku.  Dan saat aku mempermasalahkan itu, ia akan berdalih.

"Semenarik apapun mereka aku nggak bakal tergoda, karena aku cintanya sama kamu."

Baiklah aku tidak terlalu peduli. Sikap posesifnya selama ini menunjukkan itu. Dan jujur, semakin lama membuatku merasa, terpaksa harus aku katakan, tak nyaman.

Naren mulai merecoki pertemananku. Astaga! Kemanapun aku beranjak, dia akan selalu mengekoriku. Bahkan jadwal harianku,  dia harus tahu. Biarpun cepat berbaikan kembali, tapi setiap hari kami selalu berdebat. Dan yang menjadi sumber masalah adalah kecemburuan Naren pada teman-temanku. Ya ampun, aku tidak semenarik itu untuk dicemburui. Sulit dipercaya.

Perlu diketahui, banyak yang menyayangkan Naren akhirnya memutuskan mencintaiku. Mungkin aku salah, perkara jatuh cinta tidak serta merta asal tunjuk dan putuskan. Tapi aku juga tidak mau dipersalahkan saat Naren bilang cinta padaku. Sungguh,  aku tidak  melakukan apapun untuk menarik perhatiannya. Aku tidak punya kemampuan untuk itu. Waktuku terlalu banyak kuhabiskan di bengkel dan wall climbing daripada di salon kecantikan. Untuk apa aku tebar pesona pada Si Tuan Posesif itu? Dan wajahku yang pas-pasan ini akan terlihat bodoh kalau bersikap sok genit seperti mereka.

Wajah pas-pasan? Aku butuh meyakinkan diri berulang kali saat Naren bilang ingin jadi kekasihku, itu beberapa tahun yang lalu. Mungkin dia manusia tampan yang punya masalah pada penglihatannya. Jelas-jelas yang ngejar-ngejar dia cantik-cantik luar biasa. Tapi dia malah jatuh cinta pada si itik buruk rupa ini. Baiklah, aku berlebihan. Aku tidak seburuk itu.

Aku memang tidak secantik Alisya, gadis paling populer di kampusku, dia anak bisnis satu tingkatan dengan Naren. Setiap gadis pasti mendamba ingin memiliki tubuh dan paras seperti dia. Alisya salah satu gadis yang gencar menarik perhatian Naren. Dan dengan bodohnya Naren malah menjatuhkan dirinya padaku daripada menyongsong gadis itu.

Jika dibandingkan denganku,  Alisya cantiknya sudah level gunung uhud. Tubuh tinggi semampai bak model dan nilai plusnya dia memiliki beberapa tonjolan di bagian titik yang pas. Kulitnya putih bersih dan terlihat begitu licin serupa porselen dari dinasty Ming. Wajah ala-ala artis dari negeri gingseng.

Sedang aku??? Aku memang tinggi. Dan mungkin akan terlihat menarik jika saja aku memiliki beberapa cadangan lemak untuk menyumpal bagian dada, pinggul dan bokong, hingga menyerupai tusukan sate yang seksi. Ampuni aku Tuhan,  yang tidak tahu syukur ini.

Jika Alisya memiliki kulit laksana porselen dari dinasty Ming, kulitku lebih mirip tembikar dari dinasty Ming yang lupa diangkat dari perapian. Mengenaskan.
Untungnya wajahku tidak jelek-jelek amat. Meskipun aku tidak mewarisi gen kecantikan mama.

Sebenarnya aku tidak suka, tapi orang menyebutku si gula jawa. Kamu taukan gula jawa? Rasanya memang manis tapi warnanya? Ya seperti itulah. Dan si prince charming jatuh cinta pada gula jawa itu.
🌼🌼🌼

Aku sedang memasang hardness saat Kenan ketua klub wall clambing mendekatiku. Hari ini ada latihan rutin di sore hari selepas jam kuliah. Aku bisa bernafas lega karena Naren ada janji dengan dosen. Dia akan segera menyelesaikan skripsinya. Jadi dia tidak akan menungguiku seperti biasanya.

"Kanya, tumben kamu sendiri saja?" tanya Kenan. Pemandangan yang luar biasa bukan? Satpamku tidak ada. Anak-anak di belakang sudah dari tadi menjadikanku bahan olokan keseruan meraka. Sial.

"Hari ini tuh hari kebebasan Kanya, Yu. Patut dirayakan!" Odi tertawa. Anak itu mulutnya minta disumpal.

"Diem lo! Sini lawan gue naik ke atas. Puas banget dari tadi ngetawain gue!" teriakku kesal.

"Lagian gue heran deh. Cewek kaya lo aja sampe segitunya dia jaga. Takut banget ada yang gondol."

"Kaya gue,  maksudnya apa?" aku melotot. Sembarangan aja tuh anak kalau ngomong.

"Sudah, sudah. Lanjutkan latihan kalian." Kenan menengahi. 

Aku sudah siap  dan lengkap dengan safety procedure-ku. Semoga latihan kali ini menyenangkan. Aku bebas berekspresi tanpa pengawasan Naren.

Setelah latihan selesai kami beristirahat. Bergerombol membentuk lingkaran. Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini. Bercerita dan tertawa dengan mereka. Jika waktunya break, biasanya Naren akan menghampiriku lalu mengajakku duduk terpisah dari teman-temanku. Itu sangat menyebalkan.

"Kanya kita sudah kembali, sore ini dia nggak bawa satpamnya."

Lalu tawa pun menyusul. Marahpun percuma,  itu hanya akan menambah kesenangan mereka untuk terus memperolokku.

"Bukannya mau ikut campur Kan. Tapi lebih baik kalo latihan, kamu biarkan saja Naren pulang. Mungkin sajakan dia bete nungguin kamu," ujar Kenan kalem. Hanya Kenan, seniorku, yang pebawaannya paling tenang diantara teman-teman klubku. Dia satu angkatan dengan Naren. Sedang skripsi juga. 

Aku mendesah. Kenan bicara seolah aku yang meminta Naren menungguiku latihan. Kalau bisa aku mengusir Naren, mungkin aku sudah melakukannya sejak dia pertama kali meminta ikut ke tempat latihan.

"Dia orang paling keras kepala yang aku kenal, Ken. Kalo saja aku bisa, aku akan mengusirnya." Aku tertawa lebih menutupi rasa maluku. 

Bukan hanya aku yang tidak nyaman. Aku yakin semua temanku juga sama. Apalagi saat Naren meminta nomornya dimasukkan ke grup whatsapp klub. Jika bukan karena Kenan, mungkin aku sudah lama di kick dari sana. Hufft.

"Kamu sangat menyayanginya ya?"

Aku menoleh saat Kenan tiba-tiba bertanya yang menurutku agak sedikit aneh.
Tatapan kami beradu. Aku belum menjawab saat dia berkata kembali.

"Kalo kamu butuh tempat pengalihan datang saja padaku kapanpun kamu mau aku siap. Aku selalu menunggu saat itu."

Kali ini mataku mengerjap. Mencoba mencerna apa yang barusan dia katakan. Aku belum sepenuhnya mengerti saat dia tiba-tiba tertawa lalu mengacak-acak rambutku dengan gemas. 

"Lupakan," katanya kemudian mengalihkan perhatian ke anak-anak lain.

Itu tadi apa? Pengalihan? Menunggu? Aku yakin saat mengucapkannya, Kenan sedang tidak dalam mode bercanda. Aku masih terbengong di tempatku.

"Ayo pulang." 

Aku tersentak. Sebuah suara yang sangat familier terdengar seperti dengungan di telingaku. Naren. Dia sudah meraih lengan dan menarikku berdiri. Aku pikir ini adalah hari bebasku. Harapanku terlalu jauh. Naren tidak mungkin melepasku begitu saja.

"Tapi_"

"Hay semua! Gue bawa Kanya pulang dulu ya,  sudah selesaikan latihannya?"

Kalau saja Naren bisa aku remas-remas jadi gulungan kecil lalu aku kantongin, saat ini juga sudah aku lakukan. Hampir semua anak-anak disini tahu kelakuan Naren yang seenaknya.

"Sory Bro,  kita masih akan ada rapat sebentar lagi," terang Ramon berdiri. 

Aku memejamkan mata. Aku mencium aroma  tidak menyenangkan disini. Diantara yang lain Ramonlah orang yang paling tidak bisa mengendalikan diri.

"Rapat? Rapat apa? Bercanda dan ketawa ketiwi kalian sebut rapat?"

Aku tahu jika ini dibiarkan tidak akan bagus.

"Hidup jangan serius-serius amat Bro. Kita semua tau lo pacar Kanya,  tapi lo juga harus paham kalo Kanya adalah anggota klub sini. Dan dia berkewajiban ikut segala kegiatan klub."

"Sudah selesaikan? Dan kalo yang kalian sebut rapat itu bercanda dan berkelakar yang nggak jelas, gue rasa Kanya nggak perlu ikut. Sama sekali nggak berguna."

"Lo kalo nggak tau apa-apa jangan asal bacot!!!" Hampir saja Ramon menerjang Naren kalo tidak segera dicegah Kenan dan lainnya.

"Sudah cukup. Kamu mau bawa aku pulangkan? Ayo pulang." Aku menarik lengan  Naren agar tidak terus meladeni Ramon.

"Tentu." Dia tersenyum sinis ke arah Ramon. "Pengendalian diri yang payah," pungkasnya sebelum melangkah.

Dibelakang, Ramon terus mengumpat habis-habisan.

Aku berjalan cepat menuju parkiran kampus. Bisa-bisanya Naren berbuat seperti itu pada mereka. Kebanyakan dari mereka adalah katingku. Bikin malu saja. Mentang-mentang dia paling senior, Naren jadi berani bertindak seenaknya. Tapi tidak juga menyinggung ego mereka. Dia memang keterlaluan.

Aku kesal setengah mati. Entah berapa kali aku sering katakan jangan cari masalah saat aku sedang berkumpul dengan teman klubku kalau memang dia mau menungguku. 

Aku membanting pintu mobilnya keras-keras begitu masuk ke dalam.

"Kamu itu kenapa sih?" tanyanya begitu duduk di kursi kemudinya.

"Kamu itu yang kenapa!? Bisa-bisanya kamu bikin masalah di sana tadi."

"Aku bikin masalah apa? Aku cuma mengatakan yang perlu aku katakan. Temanmu itu yang gampang sekali emosi."

"Dia nggak akan emosi kalo omongan kamu disaring  terlebih dulu."

"Apa yang aku katakan itu benarkan?"

"Terserah kamu lah!" Aku membuang pandangan ke jendela mobil. Rasanya percuma saja berdebat dengannya. 

Tidak kudengar dia membalas lagi sampai mobil Naren meninggalkan pelataran kampus.

Dalam perjalanan aku lebih memilih diam. Memandang ke jalanan kota yang tampak ramai di jam-jam pulang kerja. Biasanya Naren akan mengambil jalan pintas agar tidak terjebak macet. Aku kehilangan minat untuk bicara lagi. Kurasa Narenpun sama. Dia terlihat konsen menyetir.

"Aku tidak suka kamu duduk dekat-dekat dengan Kenan."

Astaga, belum selesai juga?! Aku pikir dia sudah malas mendebatku.

"Apalagi sekarang?" geramku kesal.

"Kanya, jangan pura-pura bego. Bayu itu suka sama kamu!"

Aku berdecak. Omong kosong apalagi ini? Hanya karena Kenan duduk berdekatan denganku, dia menuduhnya menyukaiku. Yang benar saja! 

"Kamu nggak usah ngaco."

"Aku laki-laki Kanya, hanya dengan melihatnya saja aku bisa tau kalo dia itu menyimpan rasa sama kamu."

"Oh sekarang kamu sedang berusaha jadi cenayang ya," ucapku sarkas. Tidak masuk akal. Kulihat Naren menghembuskan nafas. Si tuan posesif menatapku sekilas.

"Dan aku tidak suka dia melakukan skinship sama kamu."

Aku menganga tak percaya. Kedengarannya aku seperti orang yang ketahuan selingkuh. Skinship macam apa yang dia maksud?

"Aku yakin itu cuma akal-akalan dia biar lama-lama sama kamu. Alasannya rapat, rapat apaan?"

Aku mendelik. Suudzunon si manusia posesif ini sudah keterlaluan.

"Kami bener-bener mau rapat,  membahas kegiatan liburan semester."

Kulihat Naren lantas menoleh,  tak lama, karena dia masih menyetir. "Bukannya kamu bilang liburan kali ini nggak ada pendakian?"

"Memang nggak ada,  tapi sebagai gantinya kami berencana kemping di salah satu pulau  di karimunjawa."

Aku belum siap apapun saat badanku merasa terdorong ke depan karena tiba-tiba saja Naren mengerem mobilnya. 

"Apa?! Karimunjawa?! Kalian gila ya?!"

Setelahnya aku mengerang kesal. Dia sukses membuatku sport jantung. Reaksinya berlebihan. Ada yang salah memangnya? 

Untung saja jalanan sedang lengang. Kalau tidak, bisa terjadi tabrakan beruntun karena ulah Naren. Dan aku akan mati sia-sia sebelum rencana kemping ke karimunjawa terwujud. Oh My God!

"Kamu kalo mau ngerem bilang-bilang dong!"

"Hanya mau kemping saja kalian harus jauh-jauh ke karimunjawa? Di Bogor, Anyer, atau jakarta juga banyak tempat kemping yang menyenangkan. Buang-buang waktu saja."

Sulit berdebat dengan Naren. Dia akan terus memaksakan pendapatnya yang menurutnya benar itu.

"Terserah kamu mau ngomong apa. Destinasi kami memang kesana."

"Kamu nggak usah ikut. Aku tidak mengizinkan."

Mataku melebar. Sifat sok mengaturnya muncul lagi. Dia pikir, dia itu siapa?

"Biar kuingatkan, kamu itu cuma pacar aku. Kamu nggak berhak melarangku untuk ikut kegiatan yang aku sukai. Dengar, aku nggak perlu izin kamu untuk berangkat."

"Harusnya aku ingat betapa keras kepalanya kamu. Kalo gitu aku ikut."

Astaga! Sumpah,  ini hanya kemping.
"Kamu bukannya harus meninjau proyek papamu di Makassar sana? Ayolah Naren, aku hanya 5 hari."

Tidak mungkinkan dia mengabaikan kewajibannya di perusahaan papanya dan lebih memilih ikut denganku?

"Dan membiarkanmu disana 5 hari dengan teman-teman konyolmu itu? Tidak Kanya. Aku akan tetap ke Makassar setelah pergi denganmu nanti."

Aku memutar bola mata, kesal. Apa yang tidak bisa dia lakukan? Semester lalu dia pun ikut pendakian ke puncak merapi. Dengan dalih ingin menjagaku. Bukan dia yang menjagaku, tapi aku yang akhirnya menjaganya. Betapa tidak? Belum sampai ke puncak, dia terserang demam. Dan pendakianku gagal gara-gara menunggui Naren sakit di salah satu rumah penduduk.

Sekarang, kalau dia memaksa ikut kegiatan kemping kali ini apa lagi yang akan terjadi nanti. Kami berencana kemping di pulau yang belum berpenghuni. Bukannya aku meremehkan Naren, tapi dia belum terbiasa hidup berteman dengan alam.

****
Karimunjawa adalah kepulauan terpencil yang berada di laut utara jawa. Termasuk  kabupaten Jepara. Kepulauan ini tidak begitu terkenal seperti kepulauan seribu atau bali. Konon banyak nyamuknya, vegetasinya masih liar, dan mungkin saja... angker. Diantara kurang lebih dua puluhan pulau. Hanya beberapa yang sudah berpenghuni. Yang lainnya masih hutan lebat, rimba belantara. Dan rencananya aku dan anggota klub lainnya akan berkemping di salah satu pulau yang masih alami dan tidak berpenghuni.

Sungguh aku sangat bersyukur. Karena Naren akhirnya tidak jadi ikut kemping. Papanya malah memajukan dia untuk terbang ke Makassar. Ada hal penting yang harus segera ditinjau di sana yang tidak bisa ditunda lagi. 

Aku mengantarnya ke bandara saat dia akan berangkat.
Sebelum boarding pun dia sempat-sempatnya menyuruhku untuk membatalkan rencana kempingku. 

Naren hanya bisa menghela nafas saat lagi-lagi aku tidak menuruti kemauannya. Kemauan tidak masuk akal tepatnya.

"Papa punya kenalan pemilik resort di sana. Kamu bisa menghubunginya nanti," katanya.

"Ya ampun Naren. Aku tuh mau kemping,  bukan menginap di resort. Lagi pula aku tidak ke karimunjawanya, aku dan anak-anak akan kemping di pulau kecil yang tidak dihuni manusia."

"Aku yakin kali ini kamu sangat senang karena aku nggak bisa ikut," ucap Naren bertepatan dengan suara petugas yang memanggil penumpang agar segera menaiki pesawatnya.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu. Sudah yaa.  Sekarang kamu harus segera masuk pesawatmu, sebelum tertinggal." 

Aku mendorong tubuh tingginya agar segera beranjak.

"Aku berharap urusanku disana cepat selesai biar bisa segera menyusulmu."

Aku hanya meringis. 'Sayangnya aku berharap urusanmu disana pelik, sehingga nggak perlu menyusulku.' lanjutku dalam hati.

Aku melambai melepas kepergiannya. Si Tuan Posesif-ku akhirnya masuk. Aku bisa bernafas lega akhirnya. Liburanku akan aman tanpa gangguannya. Jangan salah paham. Bukannya aku tidak suka. Meskipun aku kadang hampir menyerah dengan hubungan ini, tapi ada hal yang membuatku tetap bertahan di sisi Naren. Aku tidak tahu pasti itu apa. Yang jelas saat menerima Naren dulu, aku sempat meyakinkan diriku bahwa ini bukan hanya perasaan euforia sesaat.

BERSAMBUNG

Rasanya tak rela saja membiarkannya pergi dengan teman-teman klubnya. Tapi mau bagaimana? Proyek yang sudah menjadi tanggung jawabku ada sedikit masalah. Itu yang membuatku terpaksa melepasnya pergi bersama mereka. 

Aku tidak melihat gurat kesedihan saat dia mengatarku ke bandara. Padahal aku berharap dia akan merengek padaku untuk tetap tinggal. Hah! Sesuatu yang mustahil.

Kanya lebih sering mendebatku daripada merengek padaku. Dia benar-benar gadis yang beda dari kebanyakan gadis yang aku temui selama ini. Kadang, sebagai pacar aku merasa tak berguna bahkan aku merasa disini hanya aku yang mencintainya. Padahal banyak gadis yang mengharapkanku jadi kekasihnya. Gadis yang dengan sukarela menjatuhkan dirinya. Yang bahkan kecantikannya melebihi Kanya. Tapi aku tidak bisa merasakan ketertarikan yang berarti seperti rasa tertarikku pada Kanya. Gadis berkulit coklat itu benar-benar seperti medan magnet bagiku. Bertahun-tahun aku mengenalnya tak sedikit pun perasaanku padanya berkurang. Yang ada malah bertambah. 

Katakanlah aku gila, murahan. Ya aku memang tergila-gila padanya. Aku murahan jika itu menyangkut soal Kanya.










Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...