BAGIAN 6
Naren menjemputku tepat pukul tujuh malam. Dan aku? belum bersiap apapun saat dia datang. Selain ada serial kartun kesayangan, sebenarnya aku sendiri ogah-ogahan ke rumah Naren. Kalau bukan karena menghormati tante Wanda mungkin lebih baik aku bergelung dengan selimutku lebih awal. Tentu saja aku juga enggan berdebat dengan ayah karena disebut anak bengal yang tidak menghargai orangtua. Biar bagaimanapun perusahaan papa Naren adalah klien yang lumayan sering menggunakan biro milik ayah. Beberapa kali ayah memenangkan tender dari proyek perusahaan Om Damian, papa Naren.
Lihat saja, sekarang Naren dan ayah juga Mas Bagas sedang bercengkrama di ruang tamu. Mereka terlihat sangat akrab. Dan yang selama ini aku tangkap, ayah seolah memberikan sinyal harapan padaku agar selalu bersikap baik terhadap Naren dan mungkin saja ayah juga mengharap sesuatu yang lebih dari hanya sekedar berpacaran. Maaf ayah, rasanya yang satu itu belum bisa aku kabulkan.
"__Harvard bagus itu." Sepenggal kalimat yang keluar dari mulut ayah membuatku berhenti melangkah menuju ruang tamu. Aku berdiri di belakang sekat yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu. Dari sini percakapan mereka terdengar cukup jelas.
"Jadi lo kapan berangkatnya?" Itu suara Mas Bagas yang bertanya.
"Minggu depan."
"Gue pernah mimpi ambil S2 disana, sampe sekarang belum terwujud. Tapi gue cukup puas dengan mengambil S2 di Indonesia sih."
Harvard? Apa Naren akan melanjutkan study di sana? Dan apa tadi? Minggu depan? Naren bahkan tidak pernah membahas soal itu denganku. Aku yakin tidak secara mendadak dia memutuskan pergi ke sana. Ada banyak yang perlu diurus pastinya. Dan dalam rentang waktu itu, Naren sama sekali tidak pernah menyinggung sedikitpun. Apa dia akan menjadikanku orang terakhir yang tahu kalau dia akan pergi?
Tanganku refleks mengepal. Aku semakin merasa salah dalam hubungan ini. Mungkin aku tidak sepenting yang dia katakan. Dia yang meminta padaku untuk jangan pergi meninggalkannya, sekarang dia sendiri yang akan pergi jauh dariku.
Kanya, ada apa denganmu? Dia pergi untuk belajar bukan untuk memutuskan hubungan seperti yang kamu inginkan.
Kepalaku mendadak berdenyut. Aku terlalu berlebihan. Lalu apa? Kalau Naren memang mau pergi ke luar negeri ya pergi saja. Bukannya jalan untuk lepas dari laki-laki itu malah menjadi mudah? Aku mengganguk mantap sebelum keluar.
"Kamu sudah siap Kanya?" ayah yang menangkap kedatanganku pertama kali bertanya. Aku hanya mengangkat bahu.
"Kita berangkat sekarang saja ya, takutnya nanti kamu pulang kemalaman," ujar Naren berdiri diikuti yang lain. "Om kami berangkat dulu yah."
Naren sempat menjabat tangan ayah dan Mas Bagas sebelum keluar rumah. Aku mengekor di belakangnya.
"Kamu beda, malam ini kamu cantik banget," kata Naren saat kami sudah berada di dalam mobil. Aku melotot padanya yang dari tadi menatapku lekat.
"Kamu dandan yah?"
"Apa?"
Aku dandan? Yang benar saja! Tadi aku cuma pakai bedak tipis dan lipgloss. Tunggu! Benarkah aku dandan? Seketika aku meraba pipiku yang menghangat. Sial. Naren masih saja terus melihatku.
"Apa yang kamu lihat?! Ada yang aneh?" tanyaku was-was.
Naren menggeleng. "Kamu cantik, aku senang kamu melakukan ini buatku."
Apa? Orang ini tingkat kepedeannya tinggi sekali. Aku akan bertemu orang tuanya, dan hanya sedikit dandan agar tidak malu-maluin di depan mama dan papanya. Siapa juga yang dandan untuknya?
"Lebih baik cepat jalan, waktu terus berjalan."
"Oke manis."
Aku memutar bola mata jengah. Perlahan mobil Naren melaju meninggalkan pelataran rumahku.
"Jadi beneran kamu lulus?" tanyaku memecah keheningan.
"Kamu meragukan kecerdasan pacarmu?"
Hah! See? Sifat narsisnya muncul lagi. Biarkan saja, mungkin dia mendapatkan kepuasan tersendiri dengan sifatnya itu.
"Jadi tante merayakan kelulusanmu sekarang?"
"Nggak sih, mama cuma bilang ingin mengundangmu makan malam. Katanya sudah lama sekali kamu nggak ke rumah."
Huft! Ini akan sulit. Aku harus berbasi basi dengan tante Wanda.
"Di rumah ada siapa aja?"
"Papa, mama, dan Arsen."
Arsen itu adik Naren. Dia masih sekolah menengah kejuruan.
Tiba di rumah Naren, tante Wanda menyambutku antusias. Pelukan hangatnya langsung menyerangku.
"Sayang, apa kabarmu? Kenapa sekarang nggak pernah datang kesini lagi? Kalian baik-baik aja kan?"
Aku tersenyum canggung. Tidak sebaik yang tante harap. Tentu saja itu cuma aku katakan dalam hati.
"Kanya, agak sedikit sibuk di kampus tante."
"Liburan kalian menyenangkan kan?"
"Iya tante." Aku melirik Naren yang masih berjalan di belakangku. Dia menunduk memainkan kunci mobilnya. Entah hanya perasaanku, tapi aku melihat ada raut sedih dari wajahnya.
"Tante masak spesial buat kamu dan Naren. Ayo kita makan sekarang. Papa dan Arsen bentar lagi turun."
Di meja makan sudah tertata rapi hidangan istimewa. Ada cumi saos padang kesukaanku. Ternyata tante Wanda masih ingat. Dan juga ada ayam penyet makanan favorit Naren. Serta lauk pauk lain juga sayur.
Tak lama Om Damian dan Arsen datang. Setelah berbasa basi sebentar, kami langsung duduk di depan meja makan. Tante Wanda dengan antusias menawarkan macam-macam menu yang tersaji. Aku jadi merasa tidak enak.
Mereka, orang tua Naren menerimaku dari pertama kali aku datang. Disaat aku minder dengan diriku sendiri, meraka malah bilang aku sangat cantik dan manis. Aku tahu kok, itu hanya untuk menghiburku. Kenyataannya bahkan tante Wanda masih lebih cantik jika dibandingkan denganku.
"Kamu harus sering mengunjungi kakekmu nanti di Brooklyn." Om Damian menatap Naren yang duduk di sampingku.
"Kakekmu pasti sangat senang kamu akan melanjutkan mastermu di Cambridge,"
Naren menoleh ke arahku. Aku pura-pura tidak tahu saja dengan terus menekuri isi piringku.
"Yes, Pah," jawab Naren singkat.
"Jadi, nggak apa-apa kan sementara kalian berdua long distance?" Itu suara tante Wanda. Wanita yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang menginjak setengah abad itu memandangku dan Naren bergantian.
"Sebenarnya aku nggak suka berjauhan dengan Kanya Mah."
"Belajar yang baik Nak. Mama yakin tak sampai dua tahun pasti kamu bisa lulus."
Tante Wanda benar. Biar bagaimanapun aku harus mengakui kecerdasan Naren. Di sekolah dulu, dia kerap menjuara berbagai macam olympiade. Akademisnya bagus sangat timpang denganku yang malah menyukai seni dan petualangan. Di saat anak-anak lain memilih klub sains, aku malah memilih klub seni rupa dan wall climbing. Aku sudah cukup kesulitan belajar fisika dan tetek bengeknya, tidak mungkin sekali aku harus menceburkan diri ke klub sains dengan taruhan kepalaku akan retak jika dijejali rumus-rumus yang membuat aku harus memutar otak dengan keras. Itu namanya bunuh diri.
Aku pamit tak lama setelah makan malam selesai. Tidak. Tepatnya Naren yang mengajakku untuk segera meninggalkan rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus saja diam. Hingga tanpa aku sadar mobil Naren sudah berhenti.
Aku tersentak. Ini bukan pelataran rumahku. Ini seperti ....
"Mampir sebentar yah sebelum aku antar ke rumah."
Ya! Aku berada di parkir bawah tanah tower apartemen Naren.
"Ada apa?" tanyaku keluar dari mobil.
Naren menarik pinggangku mendekat. Membawaku masuk ke lift yang menghubungkan langsung ke unitnya di lantai 18.
Naren tinggal terpisah dengan orang tuanya. Dengan alasan mempersingkat waktu. Kampus dan kantornya memang tidak jauh dari sini. Naren bekerja di kantor milik Om Damian. Aku tidak heran jika Om Damian mempercayakan beberapa proyek untuk anaknya itu. Naren sangat kompeten.
Aku langsung duduk di sofa putih begitu masuk ke unitnya. Aku sudah jarang main ke sini setahun belakangan. Banyak tugas kuliah dan tentu saja aku lebih sering menghabiskan waktu latihan di klub.
Naren ikut duduk di sampingku membawa dua minuman jus kalengan yang dia ambil dari kulkas. Membuka penutupnya dan memberikannya padaku. Aku teguk sekali dan meletakkannya di atas meja. Tidak terlalu haus.
Naren ikut duduk di sampingku membawa dua minuman jus kalengan yang dia ambil dari kulkas. Membuka penutupnya dan memberikannya padaku. Aku teguk sekali dan meletakkannya di atas meja. Tidak terlalu haus.
"Maaf, kamu harus mendengarnya bukan dariku langsung. Rasanya aku berat mengatakan itu sama kamu."
Naren bersuara, aku tidak terlalu menghiraukan. Lebih fokus menatap layar ponselku. Aku tidak pernah lebih malas dari malam ini sebelumnya berhadapan dengan laki-laki itu. Astaga, aku ingin marah tapi tidak bisa.
"Bagaimana menurutmu?"
Aku bergeming. Masih asik berselancar di media sosial membaca beberapa berita yang bagiku lebih menarik dari ocehan Naren.
"Kanya, kamu mendengarku kan?"
"Ya, aku dengar," jawabku tanpa berbalas menatapnya. Ku dengar desahan nafasnya lirih.
"Jadi bagaimana menurutmu?"
"Ya, pergi saja. Kamu kan kesana untuk belajar."
Aku mendengar dia mendesah kembali.
"Kanya aku benar-benar nggak ngerti. Ada apa denganmu? Aku minggu depan akan berangkat."
"Lalu?"
"Gimana aku bisa tenang? Kamu masih bersikap seperti ini."
Naren menatapku gusar. Lalu kedua tangannya mengusap wajah seperti orang frustasi. Sejenak kulepaskan mataku dari layar ponsel.
"Aku mau kita putus, " kataku akhirnya.
Mendengar itu, gerakan tangannya yang mengusap wajah terhenti. Dia lantas menatapku tak percaya.
"Ka_kamu bicara apa Kanya?"
"Aku mau kita putus." Aku mengulang kalimatku. Sebisa mungkin aku mengucapkannya tanpa ekspresi.
Naren menggeleng seolah yang dia dengar hanya gurauan.
"Jadi ini yang menyebabkan kamu beberapa hari ini berbeda. Kamu ingin semuanya berakhir?" tanyanya lirih.
Aku melempar pandangan kemanapun asalkan tidak ke wajah laki-laki itu.
"Apa yang kurang dariku Kanya?" lirihnya nyaris tak bersuara. "Aku sudah berusaha, kadang aku merasa hanya aku yang mencintai kamu. Disini aku merasa berjuang sendiri. Tapi bodohnya aku, itu nggak membuatku lantas berhenti mencintai kamu. Aku seperti orang yang terjebak. Masih saja terus berharap kamu menganggap aku ada. Memandangku sebagai orang yang juga kamu cintai."
"Berhenti bicara seolah-olah kamu hanya memiliki satu hati Naren."
Jujur aku muak mendengarnya. Aku benci dia menilaiku seperti itu. Seolah menuduhku manusia yang tidak memiliki perasaan.
"Maksudmu? Kamu pikir berapa hati yang aku punya?" Dia memundurkan badannya. Menatapku lebih seksama.
"Aku minta putus bukan tanpa alasan. Aku bisa memaklumi segala kesalahan tapi tidak dengan pengkhianatan." Aku beranikan diri menatap matanya. Menghujamkan tatapan tajam.
"Pengkhianatan?" matanya memicing.
"Sudahlah, aku pulang."
Naren menarik tanganku saat aku mulai berdiri.
"Kita belum selesai bicara Kanya. Astaga Kanya! Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" tanyanya tak terima.
"Kita belum selesai bicara Kanya. Astaga Kanya! Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" tanyanya tak terima.
Dia sudah berhasil lulus ujian skripsi dan sebentar lagi dia akan pergi ke Cambridge. Aku rasa tak masalah jika sekarang aku memuntahkan semua kekesalan yang beberapa hari ini menimbun di dadaku. Hah! Seharusnya aku tidak perlu mempertimbangkan itu semua kalau aku tidak ingin dia terluka.
"Aku melihat itu ...."
Mataku memejam. "Aku melihat kalian berciuman."
"Aku melihat itu ...."
Mataku memejam. "Aku melihat kalian berciuman."
Cengkramannya di tanganku terlepas. Aku sudah cukup tahu arti dari reaksinya sekarang.
Beberapa saat keheningan menyelimuti kami. Naren yang terenyak dan aku yang terus menatap matanya.
"Kanya ... Itu tidak, seperti yang kamu pikirkan."
"Jadi menurutmu aku harus berpikir apa saat melihat pacarku mencium perempuan lain?" kedua alisku terangkat.
Naren mengusap wajah dengan sebelah tangannya. Aku ingin tahu penyangkalan apa yang akan dia berikan untuk membenarkan sikapnya.
"Waktu itu Alisya yang_"
"Yang melakukannya terlebih dulu? Begitu?" sambarku cepat.
"Aku_"
"Kamu membalasnya?"
"Kanya ini nggak seperti apa yang_"
"Cukup jawab iya atau tidak."
Naren semakin gusar. Aku terus saja menekannya. Seandainya saja dia mengamini ajakanku untuk putus, aku tidak perlu membahas masalah yang dari kapan hari menggangguku ini. Tapi bukan Naren artinya jika hanya menuruti apa yang aku mau.
"Iya, aku membalasnya tapi semata hanya agar dia tidak menggangguku, mengganggu hubungan kita."
Dia membalasnya. Ingin rasanya aku menghentikan rasa sakit yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Itu artinya dia menerima, menikmati, tidak peduli alasan apapun yang mengiringinya. Dia bisa saja menghindar atau bahkan mendorong perempuan itu sebagai bentuk penolakan. Tapi dia membalasnya. Aku bisa berkata apalagi? Dan beberapa hari setelahnya dia melakukannya padaku tanpa merasa bersalah, tanpa merasa ada yang perlu dijelaskan. Lalu jika aku menuduhnya berkhianat, apa aku salah?
"Oke, itu cukup. Keputusanku rasanya, benar. Kita selesai Naren."
Aku bergegas melangkah menuju pintu keluar.
"Kanya,kamu nggak bisa gini. Aku nggak pernah menginginkan putus. Kamu hanya mengambil keputusan sepihak, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu."
Naren membuntutiku, terus membujukku untuk tetap tinggal.
Naren membuntutiku, terus membujukku untuk tetap tinggal.
Aku sudah tidak peduli lagi apa yang dia katakan. Telingaku rasanya tuli. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar penjelasan apapun darinya. Bersamanya aku melambung tinggi karena berasumsi jika tidak akan pernah ada perempuan lain selain aku. Tapi kini aku dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.
Naren terus mengejarku hingga ke lobbi. Memohon padaku agar aku mau mendengar penjelasannya. Beruntungnya aku begitu keluar sudah ada taksi di sana sehingga aku bisa langsung naik.
"Kanya, please dengarkan aku. Kejadiannya nggak sesimpel itu. Kamu perlu tau yang sebenarnya. Jangan pergi dulu, please."
Naren masih terus berusaha membuatku berubah pikiran. Dia mengetuk-ngetuk jendela taksi agar aku mau keluar.
"Jalan, Pak," kataku pada supir taksi yang sepertinya kebingungan.
Taksi melaju perlahan dengan posisi Naren yang masih terus memintaku berhenti.
"Mbak mas itu ... "
"Terus jalan Pak."
"Baik Mbak."
Sampai aku berhasil lepas dari laki-laki itu. Aku memukul dadaku kuat-kuat. Ini memang keputusanku, tapi kenapa aku merasa sesakit ini. Dadaku teramat sesak. Dan lagi-lagi air mata sialan ini mengiringi rasa sakitku.
Meyakinkan diri sendiri agar tidak menyesali keputusanku. Seperti yang Silvi bilang, soal ciuman itu bisa saja Alisya yang melakukannya dulu. Aku hampir saja mau menerima itu, tapi mendengar Naren yang ternyata membalas ciuman itu, tidak mungkin rasanya dia melakukannya secara impulsif.
Mau memberi penjelasan apalagi? Mau bilang kalau dia tidak sadar melakukannya? Aku bukan gadis kecil lagi yang bisa dia bohongi. Bagiku tindakan Naren sudah terlampau jauh. Jika tidak karena ada sesuatu mustahil dia bisa berbuat seperti itu, menghianati perempuan yang katanya sangat dia cintai. Bullshit.
BERSAMBUNG
Aku mengerang kesal. Bukan ini yang aku harapkan di hari aku dinyatakan lulus oleh dosen penguji. Bukan ini yang aku inginkan saat aku akan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study.
Aku tidak menyangka saja beberapa hari keanehan yang Kanya lakukan berakhir dengan tindakannya yang ingin putus dariku.
Jelas ini hanya salah paham. Kanya melihatku berciuman denga Alisya saat di Karimunjawa. Astaga! Aku meremas rambutku jengkel. Merutuki kebodohanku. Harusnya aku menyadari itu dari awal. Aku terlampau tenang karena kukira Kanya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, aku pikir hal itu tidak perlu aku beritahukan padanya. Aku pikir itu tidak terlalu penting. Tapi lagi-lagi dia seperti boom waktu.
Aku yakin beberapa hari setelah itu dia berusaha menekan amarahnya padaku agar tidak meledak saat itu juga. Alasan dia tidak ingin liburan denganku, alasan dia menolak sentuhanku, dan alasan dia seolah menjaga jarak denganku. Ya Tuhan! Aku sudah menyakitinya tapi sumpah niatku tidak seperti itu.
Kanya tidak tahu betapa rumitnya perempuan yang bernama Alisya itu. Ah! Sialan! Aku merasa sudah dijebak. Melihat perempuan itu ada di pulau bersama Kanya, aku sudah memiliki firasat yang tidak menyenangkan. Dan see? Semuanya berakhir seperti ini.
Tidak, ini belum berakhir. Kanya harus mau mendengarku. Kehilangan Kanya adalah mimpi buruk. Aku tidak mau itu terjadi.


No comments:
Post a Comment