Saturday, March 21, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa



BAGIAN 8 

Oleh. Yuli F Riyadi 

Lima tahun kemudian.

Aku bergegas memasukkan semua sketsa yang aku buat untuk seorang klien yang lumayan sering memakai jasa perusahaan tempatku bekerja untuk brandnya. 

Terhitung sudah ke sepuluh kalinya dia memintaku untuk mendesaign brand tas produksinya sejak aku pindah ke sini.
Beberapa tahun ini aku bekerja di sebuah perusahaan  desaign art  yang lumayan famous di Surabaya. Aku di sini atas rekomendasi Kenan. 

Yah, aku pindah dari Jakarta ke Surabaya setelah lulus. Suasana baru lebih membuatku fokus. Semua dimulai dari nol. Tidak ada jejak kenangan yang membuatku sakit di sini. Aku bisa lebih leluasa berkarya. Sesekali jika libur bekerja, aku akan mengisi dengan pendakian atau traveling. Jawa timur memiliki destinasi yang menarik untuk dijelajah.

Aku memasuki lobi sebuah gedung berlantai sepuluh. Kantor klienku ada di lantai delapan. Beberapa contoh desaign baru yang aku buat sudah aku bawa. Tara,  bosku yang nyentrik itu bersikukuh memintaku agar terus menangani klien yang satu ini. Lebih ke sama-sama perempuan jadi aku dianggap lebih tahu keinginannya. 

Tidak seperti biasanya klienku  ini memintaku mendesaign sesuatu bernuansa cinta. Aku sempat bingung akan mendesaign apa. Cinta,  mendefinisikannya saja rasanya aku sudah tidak bisa. Bagaimana aku bisa menuangkannya dalam sebuah gambar?

Aku sudah jera menyeret diri pada sesuatu yang bearomakan cinta. Akhirnya aku hanya menggambar beberapa sketsa tentang bunga. Mungkin cinta bisa diidentikkan perasaan yang penuh bunga. Yaa, itu mungkin saja kan? Aku bahkan sudah lupa rasanya mencintai itu seperti apa.

Aku masuk ke sebuah ruangan saat pemilik di dalamnya mempersilahkan masuk. Seorang wanita cantik dengan senyum yang ramah menyambutku.

"Hai Kanya... Gimana? Berhasil?" tanyanya kemudian. Karena sering bekerjasama mungkin kami sedikit agak akrab.

"Mbak Nadine bisa lihat sendiri. Aku nggak tau desaignku kali ini sesuai yang Mbak ingin atau nggak. Jujur aku agak tahu harus menggambar apa dengan tema cinta."

Nadine tergelak. "Memangnya kamu nggak pernah jatuh cinta?"

Salah tingkah aku menggaruk dagu. "Entah, lupa."

Wanita itu kembali tertawa. "Aku nggak yakin kalo kamu belum pernah rasain yang namanya jatuh cinta. Hampir semua manusia yang ada di bumi ini pasti mengalaminya."

Tentu saja itukan perasaan yang manusiawi. Tapi kalau boleh memilih mending aku tidak perlu merasakannya daripada akhirnya berujung kecewa. Astaga. Aku sudah seperti orang yang trauma saja.

"Gambarnya bagus sih, tapi ada sesuatu yang beda dari gambarmu kali ini. Gimana ya? Menurutku kamu menggambarnya kurang maksimal nggak seperti biasanya," komen Nadine saat sudah melihat beberapa hasil gambar sketsaku. Tapi lantas kemudian dia menatapku dengan mata sedikit melebar.

"Astaga Kanya! Jadi kamu beneran belum pernah jatuh cinta?"

Aku berdecak. "Apa hubungannya sih Mbak?"

"Aku udah beberapa kali menggunakan desaign kamu. Dan hasilnya luar biasa. Tapi kali ini kamu mengerjakannya seperti setengah hati. Ada apa denganmu? Aku pikir tema kali ini nggak terlalu sulit untuk menghasilkan gambar yang uwaw."

"Jadi desaignku gak cocok ya Mbak?"

"Desaign ini bagus, tapi nggak sesuai ekspetasiku." Nadine menggeleng kecewa. Dan aku mendesah.

"Kamu bisa cerita padaku kalo ada masalah," wanita berkulit putih itu menatapku.

"Aku nggak ada, masalah apa-apa. Yang bermasalah itu Mbak. Nggak biasanya minta desaign bertema cinta."

Lagi-lagi Nadine tertawa. "Memangnya kenapa? Wanita itu identik dengan cinta."

"Kecuali kalo Mbak Nadine memang lagi jatuh cinta."

Nadine mengibaskan tangan. "Nggak kok. Aku selalu jatuh cinta pada orang yang sama tapi nggak pernah berhasil. Jadi nggak ada hubungannya. Kamu taukan sebentar lagi bulan februari. Bulan yang kata orang bulan cinta itu harus aku manfaatkan dengan launching produk baru bertemakan cinta."

Aku melongok. Lebih pada kalimatnya yang pertama. Seorang wanita cantik seperti Nadine terjebak cinta pada orang yang sama tapi tidak pernah berhasil. Maksudnya apa ya?

"Itu... Jadi Mbak nggak lagi jatuh cinta?"

"Kalo kamu anggap menunggu seseorang yang suka menggantungkan perasaan itu bisa disebut jatuh cinta."

Hah?

Dan aku semakin tidak paham. Sedetik kemudian sebuah notif dari ponselnya mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum membaca isi pesan dari benda persegi itu.

"Ternyata dia di Surabaya."

"Hah, siapa?"

"Pria itu."

"Pacar Mbak Nadine?"

Dia menggeleng. "Itu hanya keinginanku. Kamu tau aku selalu ditolak saat mengajaknya pacaran." Lalu wanita itu tertawa. 

Aku malah takjub. Seorang wanita cantik seperti dia? Ditolak? Laki-laki jenis apa yang menolak pesona Nadine?

"Laki-laki bodoh mana yang berani menolak kamu Mbak?"

"Rasanya aku harus menyerah saja. Kamu pun mengakui aku cantikkan? Tapi nggak buat pria itu. Ah, aku bahkan kalah saing sama seseorang yang nggak berwujud."

"Aku semakin bingung deh Mbak. Kalah saing sama yang nggak berwujud? Maksudnya apa?"

"Dia mencintai wanita lain yang bahkan aku sendiri nggak tau wanita itu beneran ada atau nggak."

Hah! Ribet banget. Aku semakin bersyukur tidak terlibat sesuatu yang rumit bernama cinta. Cukup sekali dulu itu. Dan sekarang sama kali tidak berminat.

"Secara logika aku yang harusnya memenangkan hatinya dong. Tapi si keras kepala itu sepertinya sudah buta."

"Bodohnya dia."

"Dia memang bodoh. Tapi kenapa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki bodoh itu ya?" Nadine tertawa lagi. Kali ini terdengar sumbang.

"Aku akan mengenalkannya padamu. Dia lagi otw,  mungkin bentar lagi dia datang. Kita makan siang bareng yah."

"Kok Mbak Nadine masih mau aja sih diajak ketemuan. Diakan udah phpin Mbak."

"Dia temanku Kanya. Ditolak sebagai pacar masa iya mendadak aku jadi nggak mau berteman. Kita itu bukan abg lagi."

Kali ini aku yang tertawa,  menyadari pikiranku yang kekanakan. Nadine bukan wanita lemah, aku tahu. 

Cinta itu rumit dan menyakitkan. Bahkan untuk seorang yang cantiknya bak bidadari seperti Nadine. Padahal aku yakin,  di luar sana dia masih bisa mendapatkan pria mana pun yang lebih menghargai perasaannya. Tidak terjebak dan terpaku hanya pada seseorang yang bahkan mencoba menyelami hatinya pun enggan.

Sebuah ketukan di pintu membuat wajah Nadine sumringah. Dengan lantang ia menyuruh orang yang masih di balik pintu itu masuk. Pintu terbuka,  dan yang terlihat adalah seorang laki-laki yang wajahnya sengaja di tutupi dengan bunga buket lily besar. Konyol. Tapi itu membuat tawa Nadine pecah.

Ini kah orang yang php-in seorang Nadine. Dan dia masih saja bersikap sok romantis membawakan Nadine sebuket bunga. Nadine berdiri menyongsong sosok itu.

"Baiklah,  itu cukup mengejutkan. Sekarang aku ingin mengenalkanmu pada desaignerku yang manis ini. Turunkan bungamu itu."

Aku ikut tersenyum melihat Nadine yang nampak ceria. Dia tambah cantik. Laki-laki itu menurunkan buket bunganya.
Senyumku lenyap seketika, mataku agak sedikit melebar. 

Begitu pun laki-laki itu saat tatapannya jatuh tepat ke arahku. Wajah terkejutnya tidak bisa disembunyikan. 

Lima tahun, aku tidak pernah melihatnya lagi. Sebuah luka yang belum sepenuhnya kering terasa membasah kembali. Dia laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku dan dia juga laki-laki yang sudah menorehkan luka yang membuatku enggan untuk mengenali apa itu cinta. Naren, dia berdiri tepat di hadapanku.

Wajahnya masih semenawan dulu. Tubuh kokohnya berbalut kemeja panjang dengan lengan yang dia gulung sampai ke siku. Kami masih saling menatap dalam diam. Bibirku terkatup rapat. Bahkan aku merasakan gigiku saling terkait kencang.

"Naren, dia Kanya. Art desaignerku. Penjualanku laris manis selama aku memakai desaignnya yang keren-keren.  Tapi kali ini dia mengecewakanku, desaign yang bertema cinta yang aku ingin tidak dia buat secara maksimal." 

Nadine mengenalkanku pada Naren dengan sangat antusias. Membuatku tersadar. Aku langsung mengalihkan pandanganku padanya.

Naren yang lebih dulu mengulurkan tangannya. Dia masih belum melepas tatapannya padaku. Ragu aku menyambutnya. 

"Apa kabarmu?" tanyanya.

"Apanya yang apa kabar? Bahkan kalian baru bertemu. Harusnya kamu sebutin nama. Ya ampun Naren," protes Nadine membuatku salah tingkah.

"Oh ya, aku Naren."

"Kanya," balasku lalu segera melepaskan tangan.

"Jadi, Naren. Kita makan siang?" tanya Nadine.

"Mmm, okeh."

"Kanya ayo!"

"Mmm, sorry aku kayakya nggak bisa Mbak. Ada janji makan siang dengan klien." Aku mencari alasan agar bisa segera pergi dari sini.

"Oya? Tadi kamu nggak bilang begitu?"
Aku melirik Naren.

"Iya aku lupa. Baik, kalo gitu aku pergi dulu ya mbak sebelum terlambat. Nanti aku perbaiki sketsaku lagi."

Aku bergegas meraih tasku.

"Sayang sekali yaah. Oke. Nanti aku telpon lagi yah."

"Baik Mbak. Aku permisi dulu ya."

Aku buru-buru keluar dari ruangan Nadine. Ini tidak baik buatku. Sesuatu yang ada di dalam dadaku berdegup cepat. Setelah berhasil melewati Naren,  aku bernapas lega. 

Astaga. Ini perasaan apa? Sudah lima tahun berlalu. Hanya terkejut. Aku yakin tidak ada yang perlu aku khawatirkan.
Naren, kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini? Jadi, laki-laki yang Nadine ceritakan adalah Naren. Aku merasa sial. Dari sekian banyak laki-laki kenapa harus  Naren? Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?

BERSAMBUNG


No comments:

Post a Comment

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...