Saturday, March 28, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F Riyadi 

BAGIAN 10



Naren benar-benar ikut menjemput Kenan. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah kontrakanku sejak pukul lima pagi. Terlalu niat. Aku baru selesai sholat shubuh saat membukakan pintu untuknya.
Pukul setengah tujuh, aku dan Naren sudah sampai di Bandara Juanda.

"Apa dia menginap di rumahmu kalo ke Surabaya?" tanya Naren tiba-tiba membuatku menoleh.

"Aku nggak segila itu ngasih ijin laki-laki menginap di rumah orang."

"Syukurlah. Mau aku carikan sarapan?"

"Aku menunggu Kenan saja."

"Masih jam tujuh,  memangnya kamu nggak laper?"

"Aku biasa makan pagi jam delapan."

"Baiklah. Tapi harusnya kamu nggak perlu repot seperti ini sih. Kamu bisa saja menyuruhku menjemput Kenan. Kamunya di rumah aja."

Aku berdecak sebal. Mulut Naren tidak mau diam. 

"Kamu jangan bertingkah aneh kalo bertemu Kenan."

"Memangnya apa yang aku lakukan?"

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Aku bahkan biasa menjemput Kenan sendiri saat dia ke sini."

"Oya? Aku pastikan itu nggak akan pernah terjadi lagi."

Aku menggeleng. Manusia aneh ini, selalu berbuat seenaknya.

"Nadine."

"Kenapa dengan Nadine?"

"Sudah berapa lama kamu kenal dengannya?"

"Setahun belakangan."

"Nadine nggak pernah cerita."

"Untuk apa juga dia cerita. Nadine itu...."
Aku menggantungkan kalimatku. Etis tidak ya kalau aku menanyakan tentang perasaan Naren pada Nadine.

"Ya?"

"Nggak,  nggak apa-apa." Aku mengalihkan pandangan. Naren tidak boleh berpikir macam-macam. Setidaknya dia tidak boleh tahu jika sesuatu di dalam sana sedikit menggangguku saat tahu jika laki-laki yang Nadine suka adalah dia.

"Aku kenal Nadine saat di Cambridge. Karena kami sama-sama mahasiswa Indonesia, jadi kami akrab."

Tanpa aku minta, Naren menjelaskan. Mereka akrab dan wajar kalau Nadine akhirnya bisa menyukai Naren. 

Pemberitahuan mendaratnya pesawat dari Jakarta terdengar. Mungkin salah satu penumpangnya Kenan. Semoga saja Kenan tidak terkejut dengan kehadiran Naren. 

Aku langsung menangkap kehadiran Kenan. Gayanya sesantai biasanya. Jins belel dengan kaos berkerah. Jaket hitam dan tas ransel menempel di badannya. Dia juga sepertinya sudah mendapatiku karena melambaikan tangan ke arahku.

"Hei,  Kan. Kamu oke?" tanyanya begitu sampai di depanku.

"Seperti yang kamu lihat."

"Good. Maaf ya nunggu lama."

"Nggak juga sih."

"Oke, kita pergi sekarang?"

"Eh, tunggu."

Aku celingukkan mencari keberadaan Naren. Tadi padahal masih ada di sampingku. Kenapa sekarang menghilang?

"Kamu nyari siapa?"

"Dia pergi kemana sih?"

"Kamu ke sini sama siapa?"

"Aku ke sini sama--"

"Dia ke sini bareng gue."

Aku dan Kenan kontan menoleh.  Mendapati Naren datang dengan tangan membawa sebotol air mineral.

"Naren?"

"Ya, gue."

"Lo bisa ke sini?"

"Kenapa nggak? Lo aja bisa."

Aku mengamati interaksi mereka berdua. Aku merasakan suasana yang tidak menyenangkan di sini.

"Aku baru beberapa minggu bertemu Naren. Sebaiknya kita segera keluar dari sini."

"Okeh Kanya. Kamu pasti laper." Itu Kenan yang menjawab, dia lantas menggenggam tangan kiriku. Aku agak terkejut sih,  diam-diam aku melirik ke arah Naren.

Mukanya merah padam. Jika lima tahun lalu mungkin saja dia bisa seenaknya memukul Kenan,  kali ini dia nampak diam. Tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.

***
Saat hendak naik mobil, Naren memintaku untuk duduk di depan. Tapi Kenan menyuruhku agar aku di belakang saja. Dia yang akan duduk di depan. Lagi-lagi Naren tidak banyak protes, tapi dia malah menyerahkan kontak mobilnya pada Kenan. Alhasil Kenan yang memegang kemudi.

"Kita akan sarapan dimana?" tanyaku memecah keheningan yang dari tadi tercipta sejak mobil ini meninggalkan pelataran bandara.

"Gimana kalo di tempat biasa, Kan?" usul Kenan.

Aku melirik Naren yang masih belum bersuara. Di tempat yang Kenan maksud adalah bubur ayam pinggir jalan langganan.  Aku tidak yakin Naren bisa makan di sana.

"Mmm,  aku sedang ingin sarapan sandwich sih." Aku bisa merasakan Naren melirikku dari kaca spion depan.

"Oh, okeh. Kalo gitu kita ke resto 24 jam yang nyediain menu sarapan. Naren,  lo mau sarapan apa?" Kenan bertanya pada Naren yang masih saja bergeming.

"Terserah Kanya saja. Dia yang lebih tau aku biasa sarapan apa."

Aku tertegun. Iya aku memang tahu kebiasaannya dulu. Tapi mungkin saja semua sudah berubah seiring dengan waktu kan?

"Itu pun kalo dia masih ingat," sambungnya. Aku tidak membalas ucapannya.

"Baiklah, aku tau kok tempatnya."

Kenan terus berusaha membuat suasana  mencair.  Tidak peduli keengganan yang Naren tunjukkan. Pun saat sudah di resto Naren hanya memintaku agar memesankan sarapannya,  dia lebih memilih langsung duduk di kursi pengunjung. Aku dan Kenan yang memesan sarapan kami.

Setelah beberapa lama aku dan Kenan menuju tempat duduk yang sudah ditempati Naren terlebih dulu.

"Ini sarapanmu." Aku mendorong nampan berisi sandwich dan segelas susu ke hadapan Naren setelah sebelumnya mengambil sarapanku. 

Naren membuka dan mengintip sandwich yang aku pesan untuknya. Lantas senyumnya terbit.

"Kamu memang selalu tau apa kebiasaanku."

Itu bukan pujiankan? Tapi kenapa hatiku berbunga-bunga? Sial.

"Aku nggak nyangka,  ternyata lo masih suka susu." Kenan terkekeh.

"Memang ada apa dengan susu?  Itu lebih sehat dari pada kopi." Naren menunjuk cangkir yang ada di tangan Kenan.

"Memang sih,  tapi sehari tanpa kopi rasanya ada yang kurang buat gue."

"Hanya soal kebiasaan saja."

"Jadi Naren,  kenapa lo bisa ada di Surabaya?  Apa lo sengaja mencari Kanya dan menemukannya di sini?"

Apa maksud Kenan menanyakan hal itu pada Naren? Diam-diam aku melirik Naren dari balik cangkir teh yang sedang kuteguk.
 
"Apa itu perlu gue ceritain?"

"Perlu dong. Lo nggak tau sih perjuangan Kanya selama ini,  apalagi sejak dia merasa tersingkirkan."

Aku tidak tahu kenapa Kenan tiba-tiba jadi secerewet ini. 

"Maksud lo?"

"Maksud gue, setelah sekian tahun dia berusaha menata hatinya hingga menjadi seperti sekarang,  kenapa lo tiba-tiba muncul lagi? Luka yang lo buat sudah tertutup,  tapi kemunculan lo bisa membuat lukanya terbuka kembali."

"Kenan," tegurku. Kenan hanya melirikku sekilas dan tatapan tenang yang biasa aku lihat, tidak ada pada netranya sekarang.
Naren mengepalkan tangannya, menatap lurus pada Kenan. Kedua laki-laki itu seolah saling menabuhkan genderang perang.

"Ka, Kalian sebaiknya lanjutkan makan saja. Aku nggak mau ada percakapan selagi makan." Aku menatap keduanya bergantian. "Kenan please, hentikan ini semua."

Suasana berubah jadi dingin. Pengendalian diri Kenan sedang tidak baik. Mungkin dia lelah karena perjalanan  tadi.

"Kanya, aku sudah sarapannya. Apa kamu mau nambah?"  tanya Kenan mengalihkan perhatiannya padaku. Aku menggeleng.

"Kalo gitu sebaiknya sekarang kita ke penginapanku saja." Dia berdiri, menungguku agar aku ikut beranjak. 

Takut-takut aku melirik Naren. Mukanya masih memerah tangan kirinya masih terkepal sedang yang kanan mengenggam gelas susunya kuat-kuat. Selang beberapa detik,  dia menandaskan isi gelasnya.

"Ayo, Kanya." Kenan mengulurkan tangannya. Aku hampir saja menyambut uluran tangan Kenan saat tiba-tiba Naren bersuara.

"Kanya tidak akan kemana-mana." Dia berdiri menatap Kenan. Keduanya menjulang saling berhadapan.

Mataku memejam, seperti apa yang sudah aku bayangkan. Aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi keduanya?
Tapi tiba-tiba saja sebuah suara merdu terdengar memanggil namaku.

"Kanya!"

Kepalaku menoleh dan kudapati Nadine melambai ke arahku. Wanita itu kenapa ada di sini? Tak perlu waktu berapa lama,  Nadine segera menghampiriku.

"Naren, kamu ada di sini juga?" Nadine baru menyadari kehadiran Naren saat dia tiba di meja kami.

"Mbak kok bisa ada di sini?" tanyaku.

"Iya, aku ke sini sebenernya mau beli sandwich buat Naren. Eh taunya dia sudah ke sini bareng kalian."

"Hai, kamu teman Naren?" tanya Kenan tiba-tiba.

"Mbak Nadine ini klienku Kenan," jawabku.

"Hai kenalkan aku Nadine." Nadine yang cantik mengulurkan tangannya.  Kenan dengan senyuman menyambutnya. 

 "Kenan."

"Kamu pacar Kanya yah?"  tanya Nadine to the poin.

"Bukan Mbak,  Kenan temanku." Aku langsung menjawab pertanyaan Nadine yang aku rasa terlalu blak-blakan.

"Wah bukan yah. Padahal kalian kelihatan serasi."

"Serasi dari mananya? Sebaiknya kamu periksa matamu itu." Naren menyahut sinis membuat Nadine berdecak.

"Jadi kenapa kalian bisa makan di sini bersama? Naren, Kanya dan kalian berdua nggak mengajakku?"

"Maaf Mbak, tadi kami baru pulang menjemput Kenan dari bandara jadi ya sekalian breakfast."

"Oya?"

"Mbak Nadine sepertinya sudah sangat mengenal Naren. Apa nggak apa-apa,  kalo aku dan Kanya pamit sekarang?" Kenan masih saja berusaha untuk pergi dari sini.

"Kalo lo mau pergi ya pergi saja. Kenapa harus mengajak Kanya? Kanya ke sini bareng gue jadi pulangnya juga bareng gue." Naren melambaikan tangan seperti orang mengusir.

"Wait, Naren, Kanya, kalian berdua sudah lama ke ... nal?" Nadine mulai curiga.

"Mereka berdua adalah sepasang kekasih." Jawaban yang keluar dari mulut Kenan membuat mata Nadine terbelalak. "sebelum pengkhianatan merusak hubungan mereka."

"Tutup mulut lo!" hardik Naren.

"Gue ngomong apa adanya."

"Tunggu..., ada yang nggak beres di sini."
Nadine benar,  dan aku harus segera memisahkan Naren dan Kenan secepatnya.

"Naren,Mbak Nadine, maaf aku harus pergi sekarang." Aku mendorong kursiku lantas meminta Kenan agar ikut pergi juga.

"Kanya kamu nggak bisa kemana-mana," cegah Naren.

"Sorry Naren,  kamu sebaiknya lanjutkan sarapanmu sama Mbak Nadine. Aku pergi."

Aku bergegas meninggalkan tempat ini diikuti Kenan setelah sebelumnya pamit pada Nadine. Situasinya akan semakin buruk jika aku masih ada di sini di antara mereka. Dan kalau aku biarkan, mungkin saja adu mulut antara Kenan dan Naren akan terus berlanjut. Dan itu bukan hal yang menguntungkan buatku.

BERSAMBUNG

Sial! Aku beberapa kali mengumpat kesal saat Kanya pergi bersama laki-laki itu. Dia pikir dia itu siapa? Berani sekali bicara begitu padaku.

Dan Kanya, kenapa dia lebih memilih pergi dengan laki-laki itu? Si Kenan Kenan itu terang-terangan mengibarkan bendera persaingan di depanku. Oke,  siapa yang takut. Kita lihat saja.

Dan Nadine, wanita ini masih saja terus menatapku penuh tanda tanya. Matanya menyelidik dengan jari jemari yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja.

"Jadi Kanya perempuan itu?" tanyanya kemudian.

"Iya."

Mata wanita itu memejam. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.

"Dunia ini ternyata begitu sempit." Tawanya terdengar sumbang. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dengannya lagi?"

"Seperti yang sedang kamu pikirkan sekarang."

Aku lihat mata wanita itu terpejam kembali.
"Sepertinya kali ini kamu perlu perjuangan karena ada laki-laki lain di sampingnya."

"Baik dulu atau pun sekarang, aku tidak pernah merasa mudah mendapatkan Kanya. Aku dulu pernah berbuat kesalahan, sulit mendapat maaf dari Kanya. Dulu mengejarnya berat, tapi aku rasa kali ini juga akan semakin berat."

"Kamu selalu tau kemana kamu akan kembali jika merasa lelah."

Lagi-lagi tatapan penuh harapan, Nadine tunjukkan padaku. Entah sudah berapa kali aku katakan padanya. Aku hanya bisa menjadikannya teman,  tidak bisa lebih.

Author note's :

Maaf yaa banyak typo dan tanda baca berantakan dimana-mana.

Aku menulis langsung di papan wp tanpa aku edit lagi. Jadi harap maklum adanya.

Nanti kalo senggang akan kuedit kembali.

Happy weekend.

Saturday, March 21, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 9

Oleh. Yuli F Riyadi


Pertemuan yang tidak terduga dengan Naren minggu lalu,  sedikit menggangguku. Otak dikepala memaksaku memutar kembali memori tentang laki-laki itu. Lima tahun mencoba melupakan dia dari ingatanku, aku akui sedikit agak sulit. Berusaha membuka hati mati-matian untuk orang lain juga tidak segampang yang aku pikir. Sekuat itukah jejak yang dia tinggalkan untukku? Sumpah, kadang ini terlalu menyiksaku.

Moodku berantakan, beberapa gambar yang aku buat malah melenceng dari tema seharusnya. Ku putuskan meninggalkan buku sketsaku dan beranjak menyeduh kopi. Sedikit cafein mungkin saja bisa menenangkan pikiranku. Beberapa kali pesan WA dari Kenan belum aku balas. Semenjak aku putus dari Naren, laki-laki itu belum mau menyerah. Tiga tahun yang lalu dia menyatakan cintanya padaku. Tapi aku menolaknya dengan halus. Untungnya dia laki-laki yang bisa mengerti keadaan, tidak suka memaksakan kehendak. Sampai saat ini, dia tidak pernah telat mengingatkanku agar jangan lupa makan. Ada rasa tidak enak juga dengan segala kebaikannya selama ini. Tapi perasaanku padanya tidak bisa meningkat sedikit pun. Aku masih saja lebih nyaman disanding sebagai teman.

Tok! Tok! 

Aku yakin itu pemilik rumah. Sudah jatuh tempo untuk pembayaran kontrak rumah bulan ini. Aku meletakkan cangkirku di meja dapur, lalu menyeret langkahku menuju pintu depan.

"Maaf Bu, saya baru sa--"

Mulutku tertahan begitu juga tanganku yang kurasakan kuat mengerat pegangan pintu. 

Dia yang berada di depanku, tersenyum. Senyum yang hampir tidak pernah kulihat lagi sejak lama. Berdiri menjulang dengan tampang yang nyaris masih sama sempurnanya seperti dulu.

"Hai, Sa--, Kanya."

Ini kejutan yang tidak bagus sama sekali. Dari mana Naren tahu alamatku?

"Boleh aku masuk?"

Aku belum menjawab apa-apa saat kakiku kurasakan melangkah mundur dan menguak  pintu semakin lebar memberinya jalan.

"Ka-kamu...,  kenapa bisa ada di sini?"

"Itu,  ya tentu saja aku tau sendiri."

Aku mengernyit. Jangan bilang dia mengikutiku.

"Seperti yang kamu pikirkan." Dia nyengir lebar.

Ternyata,  dia sama sekali belum berubah. Meskipun penampilannya sekarang berbeda, tapi aku yakin sifatnya masih sama saja. 

Naren datang mengenakan kesejahteraan slim flit yang lengannya dia gulung sampai ke siku. Celana jins pendek selutut dan topi. Sneaker warna putih yang...  Astaga! Itu sneaker pemberianku dulu.

"Duduk aja,  aku buatkan minum."

Tidak mungkin juga aku mengusirnya. Aku segara ngacir ke dapur. Naren tidak menyukai kopi,  minum teh pun takaran gulanya harus sesuai. Tapi yang aku punya hanya persediaan teh dan kopi instan.

Akhirnya aku membawa secangkir teh hangat ke depan. Meletakkannya di depan meja tamu.

"Boleh aku minum?"

"Itu dibuat untuk diminum."

"Kamu belum mempersilahkan tadi."

"Oke, Silahkan."

Aku memasang wajah sedatar mungkin. Kendati agak sedikit gugup. Kenapa sih aku harus segugup ini berhadapan dengan Naren? Padahal dulu tidak.

"Kamu masih ingat takaran gulanya? Manisnya pas, sama seperti yang dulu kamu buat."

Harusnya aku tadi bikin kesalahan saja. Membuat tehnya terlalu manis mungkin, jadi aku tidak perlu merasakan ada kupu-kupu terbang di dalam perutku.

"Kamu apa kabar?" tanyaku mengalihkan dan menghalau rasa gugup yang masih saja dengan kuat aku sembunyikan.

"Aku tidak pernah lebih baik seperti hari ini. Bisa minum teh buatanmu lagi adalah hal baikku di hari ini."

Oke, lagi. Kupu-kupu sialan ini menari-nari di dalam perut.

"Ada perlu kamu ke sini?" Aku sempatkan berdehem sebentar sebelum melontarkan pertanyaan ini.

"Aku menemuimu karena kangen."

Setelah semuanya? Setelah waktu yang bagiku teramat lama? Haruskah aku percaya padanya? Baiklah aku mengalah.  Orang tidak lama jumpa timbul perasaan rindu aku anggap kewajaran.

"Kamu nggak berharap aku ngucapin hal yang sama kan?"

"Kalopun iya,  kamu nggak akan pernah melakukannya."

"Oke, aku anggap kamu paham."

"Aku minta maaf,  sudah bikin kamu kecewa."

"Aku sudah pernah mengatakan, kalo aku memaafkanmu."

"Tapi kamu nggak mau menarik ucapanmu. Aku masih merasa kamu itu milikku Kanya."

Tatapan kami beradu. Ini terlalu cepat. Dia tidak pernah mengerti betapa aku sudah bersusah payah hidup tanpa bayang-bayangnya. Rasanya tega sekali jika sekarang dia berkata seperti itu. Bahkan aku tidak tahu kehidupannya, setelah kami berpisah itu seperti apa.

"Kanya, aku ingin memulai lagi denganmu."
Kali ini mataku sukses melebar.

"Jauh dari kamu itu berat. Aku sudah mencobanya. Melupakanmu itu sulit. Aku nggak bisa."

Ada nyeri yang masih terasa saat aku mengingatnya bersama Alisya dulu.

"Lima tahun itu bukan waktu yang singkat. Dan melihat keadaanmu sekarang ini aku yakin kamu melewati hari-harimu dengan bahagia. Dan itu tanpa aku. Pun kalo selamanya aku nggak ada,  nggak akan menjadikanmu lantas terpuruk."

"Kamu salah. Aku menempuh pendidikanku lebih lambat dari yang seharusnya. Aku melewati masa sulitku dengan harapan agar aku bisa segera kembali padamu. Harusnya aku sadar saat kamu nggak datang ke bandara waktu itu, artinya aku harus lupain kamu. Tapi nyatanya aku nggak bisa."

Arsen ternyata menurutiku agar tidak berkata apapun pada Naren. Aku menghela napas.

"Apa kabar Alisya?"

Ada raut tak suka yang Naren perlihatkan saat aku bertanya tentang Alisya.

"Untuk apa kamu tanya dia?"

"Bukannya setelah kita pisah kamu sama dia?"

"Aku sudah bilangkan aku nggak punya hubungan apapun sama perempuan itu."
Mataku memejam. Aku jelas melihat Alisya menggenggam tangannya waktu itu. Reaksi Naren biasa saja.

Ponselku bunyi.

"Maaf aku harus mengangkat telpon dulu."
Aku beranjak meninggalkan Naren di ruang tamu. Panggilan itu dari Kenan. Aku melirik kalender yang ada di nakas panjang dekat jendela dapur sebelum menjawab panggilan Kenan.

"Ya, halo."

"Kamu liburkan besok?"

"Iya, kenapa?"

"Pesawatku tiba pukul tujuh pagi, kamu mau menjemputku. Aku janji akan mentraktirmu sarapan."

Aku terkekeh. Kenan selalu menjanjikan sesuatu agar aku mau menjemputnya saat dia datang ke Surabaya. Padahal dia tidak perlu melakukannya. Tanpa iming-iming darinya pun kalau aku ada waktu pasti akan menjemputnya.

"Oke,  jam tujuh kan?"

"Jadi, kita sarapan bersama?"

"Iya, baiklah. Aku nggak boleh menolak rejeki."

Terdengar tawa Kenan di sana. Tak lama lalu aku mengakhiri percakapanku.
Aku baru akan kembali ke ruang tamu saat ternyata Naren sudah berdiri di belakangku. Membuatku kaget saja.

"Apa itu tadi pacarmu?"

Aku tidak langsung menjawab. Otak di kepalaku memberiku sinyal agar aku berkata 'iya'.  Mungkin saja kalau aku jawab seperti itu urusanku dengan laki-laki ini tidak akan panjang. Tapi.... 

"Dia Kenan." Mulutku sulit diajak bekerjasama.

"Kenan? Dia masih saja mengganggumu?"

"Aku nggak pernah merasa terganggu sama Kenan. Dia banyak membantuku selama ini."

"Itu karna dia menginginkan sesuatu dari kamu."

"Mungkin. Tapi aku nggak peduli."

"Kanya, jangan naif. Apa dia masih sering menemuimu?"

"Dia akan menemuiku kalo datang ke Surabaya, besok dia akan datang ke sini. Dan seperti biasa aku akan menjemputnya."

"Apa?"

Naren gusar. Gestur yang sering dia tampakkan dulu kalau sikap posesifnya kambuh.

"Jam berapa pesawatnya tiba?" tanyanya.

"Apa aku harus memberitahumu?"

"Kanya jelas saja aku harus tau. Kamu itu pa--"

Aku mengangkat alisku. Perkataannya ter henti tiba-tiba.

"Oke, aku akan menemanimu menjemput Kenan."

"Ya?"

"Aku ikut kamu menjemput dia. Pahamkan sekarang?"

Aku menganga tak percaya. Setelah sekian lama, kenapa dia masih saja bersikap konyol seperti ini?

BERSAMBUNG


Aku tidak pernah merasakan segugup ini. Lima tahun tidak berjumpa membuat gula jawaku semakin ....
Lagi-lagi aku jatuh pada pesona Kanya. Selama ini aku tidak pernah berhenti memikirkannya. Mencoba melupakan Kanya jauh lebih sulit dari apa yang kubayangkan.
Dan pertemuan kembali hari itu, seolah membuka mataku bahwa aku memang tidak ditakdirkan untuk melupakan gadis itu.
Demi apapun, aku tidak mau melepasnya lagi.

Author's note :
Tiap bagian memang sengaja dibuat pendek yaah...
Tidak seperti my ex boss
Kuy baca bareng di malam minggu....

Prince Charming Vs Gula Jawa



BAGIAN 8 

Oleh. Yuli F Riyadi 

Lima tahun kemudian.

Aku bergegas memasukkan semua sketsa yang aku buat untuk seorang klien yang lumayan sering memakai jasa perusahaan tempatku bekerja untuk brandnya. 

Terhitung sudah ke sepuluh kalinya dia memintaku untuk mendesaign brand tas produksinya sejak aku pindah ke sini.
Beberapa tahun ini aku bekerja di sebuah perusahaan  desaign art  yang lumayan famous di Surabaya. Aku di sini atas rekomendasi Kenan. 

Yah, aku pindah dari Jakarta ke Surabaya setelah lulus. Suasana baru lebih membuatku fokus. Semua dimulai dari nol. Tidak ada jejak kenangan yang membuatku sakit di sini. Aku bisa lebih leluasa berkarya. Sesekali jika libur bekerja, aku akan mengisi dengan pendakian atau traveling. Jawa timur memiliki destinasi yang menarik untuk dijelajah.

Aku memasuki lobi sebuah gedung berlantai sepuluh. Kantor klienku ada di lantai delapan. Beberapa contoh desaign baru yang aku buat sudah aku bawa. Tara,  bosku yang nyentrik itu bersikukuh memintaku agar terus menangani klien yang satu ini. Lebih ke sama-sama perempuan jadi aku dianggap lebih tahu keinginannya. 

Tidak seperti biasanya klienku  ini memintaku mendesaign sesuatu bernuansa cinta. Aku sempat bingung akan mendesaign apa. Cinta,  mendefinisikannya saja rasanya aku sudah tidak bisa. Bagaimana aku bisa menuangkannya dalam sebuah gambar?

Aku sudah jera menyeret diri pada sesuatu yang bearomakan cinta. Akhirnya aku hanya menggambar beberapa sketsa tentang bunga. Mungkin cinta bisa diidentikkan perasaan yang penuh bunga. Yaa, itu mungkin saja kan? Aku bahkan sudah lupa rasanya mencintai itu seperti apa.

Aku masuk ke sebuah ruangan saat pemilik di dalamnya mempersilahkan masuk. Seorang wanita cantik dengan senyum yang ramah menyambutku.

"Hai Kanya... Gimana? Berhasil?" tanyanya kemudian. Karena sering bekerjasama mungkin kami sedikit agak akrab.

"Mbak Nadine bisa lihat sendiri. Aku nggak tau desaignku kali ini sesuai yang Mbak ingin atau nggak. Jujur aku agak tahu harus menggambar apa dengan tema cinta."

Nadine tergelak. "Memangnya kamu nggak pernah jatuh cinta?"

Salah tingkah aku menggaruk dagu. "Entah, lupa."

Wanita itu kembali tertawa. "Aku nggak yakin kalo kamu belum pernah rasain yang namanya jatuh cinta. Hampir semua manusia yang ada di bumi ini pasti mengalaminya."

Tentu saja itukan perasaan yang manusiawi. Tapi kalau boleh memilih mending aku tidak perlu merasakannya daripada akhirnya berujung kecewa. Astaga. Aku sudah seperti orang yang trauma saja.

"Gambarnya bagus sih, tapi ada sesuatu yang beda dari gambarmu kali ini. Gimana ya? Menurutku kamu menggambarnya kurang maksimal nggak seperti biasanya," komen Nadine saat sudah melihat beberapa hasil gambar sketsaku. Tapi lantas kemudian dia menatapku dengan mata sedikit melebar.

"Astaga Kanya! Jadi kamu beneran belum pernah jatuh cinta?"

Aku berdecak. "Apa hubungannya sih Mbak?"

"Aku udah beberapa kali menggunakan desaign kamu. Dan hasilnya luar biasa. Tapi kali ini kamu mengerjakannya seperti setengah hati. Ada apa denganmu? Aku pikir tema kali ini nggak terlalu sulit untuk menghasilkan gambar yang uwaw."

"Jadi desaignku gak cocok ya Mbak?"

"Desaign ini bagus, tapi nggak sesuai ekspetasiku." Nadine menggeleng kecewa. Dan aku mendesah.

"Kamu bisa cerita padaku kalo ada masalah," wanita berkulit putih itu menatapku.

"Aku nggak ada, masalah apa-apa. Yang bermasalah itu Mbak. Nggak biasanya minta desaign bertema cinta."

Lagi-lagi Nadine tertawa. "Memangnya kenapa? Wanita itu identik dengan cinta."

"Kecuali kalo Mbak Nadine memang lagi jatuh cinta."

Nadine mengibaskan tangan. "Nggak kok. Aku selalu jatuh cinta pada orang yang sama tapi nggak pernah berhasil. Jadi nggak ada hubungannya. Kamu taukan sebentar lagi bulan februari. Bulan yang kata orang bulan cinta itu harus aku manfaatkan dengan launching produk baru bertemakan cinta."

Aku melongok. Lebih pada kalimatnya yang pertama. Seorang wanita cantik seperti Nadine terjebak cinta pada orang yang sama tapi tidak pernah berhasil. Maksudnya apa ya?

"Itu... Jadi Mbak nggak lagi jatuh cinta?"

"Kalo kamu anggap menunggu seseorang yang suka menggantungkan perasaan itu bisa disebut jatuh cinta."

Hah?

Dan aku semakin tidak paham. Sedetik kemudian sebuah notif dari ponselnya mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum membaca isi pesan dari benda persegi itu.

"Ternyata dia di Surabaya."

"Hah, siapa?"

"Pria itu."

"Pacar Mbak Nadine?"

Dia menggeleng. "Itu hanya keinginanku. Kamu tau aku selalu ditolak saat mengajaknya pacaran." Lalu wanita itu tertawa. 

Aku malah takjub. Seorang wanita cantik seperti dia? Ditolak? Laki-laki jenis apa yang menolak pesona Nadine?

"Laki-laki bodoh mana yang berani menolak kamu Mbak?"

"Rasanya aku harus menyerah saja. Kamu pun mengakui aku cantikkan? Tapi nggak buat pria itu. Ah, aku bahkan kalah saing sama seseorang yang nggak berwujud."

"Aku semakin bingung deh Mbak. Kalah saing sama yang nggak berwujud? Maksudnya apa?"

"Dia mencintai wanita lain yang bahkan aku sendiri nggak tau wanita itu beneran ada atau nggak."

Hah! Ribet banget. Aku semakin bersyukur tidak terlibat sesuatu yang rumit bernama cinta. Cukup sekali dulu itu. Dan sekarang sama kali tidak berminat.

"Secara logika aku yang harusnya memenangkan hatinya dong. Tapi si keras kepala itu sepertinya sudah buta."

"Bodohnya dia."

"Dia memang bodoh. Tapi kenapa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki bodoh itu ya?" Nadine tertawa lagi. Kali ini terdengar sumbang.

"Aku akan mengenalkannya padamu. Dia lagi otw,  mungkin bentar lagi dia datang. Kita makan siang bareng yah."

"Kok Mbak Nadine masih mau aja sih diajak ketemuan. Diakan udah phpin Mbak."

"Dia temanku Kanya. Ditolak sebagai pacar masa iya mendadak aku jadi nggak mau berteman. Kita itu bukan abg lagi."

Kali ini aku yang tertawa,  menyadari pikiranku yang kekanakan. Nadine bukan wanita lemah, aku tahu. 

Cinta itu rumit dan menyakitkan. Bahkan untuk seorang yang cantiknya bak bidadari seperti Nadine. Padahal aku yakin,  di luar sana dia masih bisa mendapatkan pria mana pun yang lebih menghargai perasaannya. Tidak terjebak dan terpaku hanya pada seseorang yang bahkan mencoba menyelami hatinya pun enggan.

Sebuah ketukan di pintu membuat wajah Nadine sumringah. Dengan lantang ia menyuruh orang yang masih di balik pintu itu masuk. Pintu terbuka,  dan yang terlihat adalah seorang laki-laki yang wajahnya sengaja di tutupi dengan bunga buket lily besar. Konyol. Tapi itu membuat tawa Nadine pecah.

Ini kah orang yang php-in seorang Nadine. Dan dia masih saja bersikap sok romantis membawakan Nadine sebuket bunga. Nadine berdiri menyongsong sosok itu.

"Baiklah,  itu cukup mengejutkan. Sekarang aku ingin mengenalkanmu pada desaignerku yang manis ini. Turunkan bungamu itu."

Aku ikut tersenyum melihat Nadine yang nampak ceria. Dia tambah cantik. Laki-laki itu menurunkan buket bunganya.
Senyumku lenyap seketika, mataku agak sedikit melebar. 

Begitu pun laki-laki itu saat tatapannya jatuh tepat ke arahku. Wajah terkejutnya tidak bisa disembunyikan. 

Lima tahun, aku tidak pernah melihatnya lagi. Sebuah luka yang belum sepenuhnya kering terasa membasah kembali. Dia laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku dan dia juga laki-laki yang sudah menorehkan luka yang membuatku enggan untuk mengenali apa itu cinta. Naren, dia berdiri tepat di hadapanku.

Wajahnya masih semenawan dulu. Tubuh kokohnya berbalut kemeja panjang dengan lengan yang dia gulung sampai ke siku. Kami masih saling menatap dalam diam. Bibirku terkatup rapat. Bahkan aku merasakan gigiku saling terkait kencang.

"Naren, dia Kanya. Art desaignerku. Penjualanku laris manis selama aku memakai desaignnya yang keren-keren.  Tapi kali ini dia mengecewakanku, desaign yang bertema cinta yang aku ingin tidak dia buat secara maksimal." 

Nadine mengenalkanku pada Naren dengan sangat antusias. Membuatku tersadar. Aku langsung mengalihkan pandanganku padanya.

Naren yang lebih dulu mengulurkan tangannya. Dia masih belum melepas tatapannya padaku. Ragu aku menyambutnya. 

"Apa kabarmu?" tanyanya.

"Apanya yang apa kabar? Bahkan kalian baru bertemu. Harusnya kamu sebutin nama. Ya ampun Naren," protes Nadine membuatku salah tingkah.

"Oh ya, aku Naren."

"Kanya," balasku lalu segera melepaskan tangan.

"Jadi, Naren. Kita makan siang?" tanya Nadine.

"Mmm, okeh."

"Kanya ayo!"

"Mmm, sorry aku kayakya nggak bisa Mbak. Ada janji makan siang dengan klien." Aku mencari alasan agar bisa segera pergi dari sini.

"Oya? Tadi kamu nggak bilang begitu?"
Aku melirik Naren.

"Iya aku lupa. Baik, kalo gitu aku pergi dulu ya mbak sebelum terlambat. Nanti aku perbaiki sketsaku lagi."

Aku bergegas meraih tasku.

"Sayang sekali yaah. Oke. Nanti aku telpon lagi yah."

"Baik Mbak. Aku permisi dulu ya."

Aku buru-buru keluar dari ruangan Nadine. Ini tidak baik buatku. Sesuatu yang ada di dalam dadaku berdegup cepat. Setelah berhasil melewati Naren,  aku bernapas lega. 

Astaga. Ini perasaan apa? Sudah lima tahun berlalu. Hanya terkejut. Aku yakin tidak ada yang perlu aku khawatirkan.
Naren, kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini? Jadi, laki-laki yang Nadine ceritakan adalah Naren. Aku merasa sial. Dari sekian banyak laki-laki kenapa harus  Naren? Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?

BERSAMBUNG


Tuesday, March 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 7

Oleh. Yuli F Riyadi



Silvi melotot saat melihatku berdiri dengan sebuah ransel besar di punggung tepat di depan pintu kamar kostnya. Tanpa dipersilahkan, aku ngeloyor masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan ransel yang lumayan berat membebani punggungku. Pegel juga. Silvi masih melotot, kali ini dia bersedekap tangan menghampiriku.

“Lo apa-apaan? Bawa ransel ginian ke kostan gue. Minggat dari rumah lo ya?”

Aku cuma nyengir. Kemana lagi aku harus kabur selain kostan dia? Hanya Silvi satu-satunya teman cewek yang dekat denganku. Ada sih lainnya beberapa, tapi aku tidak akrab dengan mereka.

“Gue nginep beberapa hari ya di sini. Gue bayar kok, beneran.”

Silvi menayun-ayunkan tangannya. “Masalahnya kenapa lo kabur begini?”

“Gue males ditanya macem-macem sama orang rumah.”

“Emangnya lo habis ngapain?”

“Mph ... “ aku mengarahkan kedua telunjuk tanganku ke kedua lubang telingaku dan menyumpalkannya di sana. “Gue putus sama Naren.”

“Whatttt?!!!!!!!!!”

Hufht, untung aku sudah antisipasi teriakan yang bisa-bisa memecahkan gendang telinga. Menyangkut soal Naren reaksi Silvi akan selalu berlebihan.

“Lo sinting? Lo bego?! Kan gue udah bilang , lo harus pertahanin Naren dari si barbie centil itu. Masa lo malah nyerah gitu aja?! Percuma gue support hubungan lo.”

Harusnya memang aku tidak datang ke tempat Silvi, ke penginapan aja sekalian. Pun di sini aku mendapat omelannya. Sebenarnya orang rumah belum tahu aku putus dengan Naren, tapi aku yakin mereka akan segera tahu. Naren masih terus menemuiku di rumah. Berusaha membujukku agar mau mendengarnya.

“Mending lo sekarang temuin Naren dan bilang sama dia nggak jadi putus.”

“Igh! Nggaklah. Lo kira keputusan gue main-main. Gue benci dikhianati.”

“Kan gue udah bilang bisa saja si Alisya yang nyosor duluan.”

“Tapi Naren membalasnya.”

“Oh membalasnya.” Silvi mengangguk paham. Sejurus kemudian dia terperangah. “Apa?! Membalasnya?!”

Aku mengangguk lantas merebahkan diri di satu-satunya tempat tidur di kamar ini.

“Selama ini gue selalu percaya sama dia. Tapi mendengar dia bilang begitu kok rasanya nyesek yaa? ” ujarku menatap langit-langit kamar. “Gue nggak pernah aneh-aneh. Satunya cowok yang nyentuh gue ya dia. Tapi dia malah main sosor seenaknya sendiri.”

Silvi duduk di sampingku menatap penasaran ke arahku. “Emang lo udah diapain aja sama prince charming?”

Aku menatap Silvi malas. Anak ini pikirannya pasti sudah mulai ngawur.

“Kepo!” aku membalikkan badan menyamping menghadap tembok memunggungi Silvi yang rautnya berubah cemberut.

“Cerita dikit kan nggak apa-apa Kan. Gue penasaran aja. Eh-eh ... gimana sih rasanya ciuman sama prince charming? Gue bener-bener suka liat bibir merahnya, gemes gitu. Kalo dicium pasti manis.”

“Gue mau tidur. Nggak mau ngomongin hal yang nggak penting kayak gitu.”

Kurasakan Silvi mendorong pundakku gemas. Tapi dia membiarkanku tidur juga.

-oOo-

Aku memutuskan langsung pergi ke kampus. Saat bangun tadi, Silvi sudah tidak ada di kamar. Mungkin dia sedang berada di workshop. Dari kemarin aku belum sempat mengaktifkan ponselku. Setelah mendapat izin dari ibu aku langsung bergegas pergi ke kostan Silvi.

Dan saat aku menyalakan ponsel puluhan notif masuk. 50 panggilan tak terjawab dari Naren, dua dari ibu dan satu dari mas Bagas. Belum lagi pesan-pesan WA saat sejenak aku menghidupkan paket data. Tanpa mau membacanya, aku mematikan ponselku lagi. Aku tidak ingin diganggu. Malas menanggapi apapun.

“Idih, ini dia! Cewek sok kecakepan yang berani mutusin Naren.”

Baiklah,  tebalkan telinga Kanya.

Astaga! Gue kira cantik banget eh nggak taunya lebih cantik pembokat gue.”

Sabar Kanya.

“Sok-sokan mutusin cowok ganteng. Lagian Naren bego sih mau-maunya jalan sama cewek model begitu. Cantikkan gue kemana-mana lah yaw.”

Emang model lo kayak apa???

Yaelah cewek kaya gitu aja belagu. Dia pikir dia siapa?!”

Gue Kanyalah dodol.

Sumpah, aku paling malas menghadapi manusia model seperti ini. Aku pacaran dengan Naren salah, putus juga salah. Kalau aku menuruti setan yang ada dalam hatiku sudah bisa dipastikan akan ada perang adu mulut yang tidak terelakkan. Dan aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk hal konyol seperti itu.

Selain Silvi, aku tidak memberitahukan pada siapapun soal kandasnya hubunganku dengan Naren. Tapi kenapa gosipnya cepat sekali menyebar? Aku hanya menarik napas dalam-dalam saat melewati gerombolan orang nyir-nyir barusan. Meladeni mereka itu artinya aku sama-sama gila.

Tujuanku semula adalah menyusul Silvi ke workshop DKV tapi langkah kakiku membawaku ke wilayah berkumpulnya anak-anak klub wall climbing. Beban yang menumpuk di dada harus tersalurkan segera caranya adalah ....

“Woy! Siapa yang mau tanding sama gue naik ke atas?!”

Seluruh kepala yang ada di sana menengok mendengar teriakanku. Dengan langkah kesal aku menghampiri Odi yang sedang membawa hardness.

“Ayo, siapa yang mau lawan gue?”

Tidak ada suara. Mereka malah melongo melihatku.

“Kenapa pada diem?!”

Dan tak lama kemudian mereka saling tunjuk. Pemandangan menyebalkan apalagi ini?

“Oke, kalo nggak ada yang mau gue tunjuk acak. Lo!” tunjukku pada salah satu anak yang aku ketahui bernama Ran, anak fakultas tehnik. Seketika kulihat wajahnya pias.

"Kok gue? Kak Odi ajah tuh!"

"Lah, lo yang ditunjuk," elak Odi langsung.

"Gue mah belum bisa apa-apa Kak Kan,  beneran."

Aku berdecak.  "Cemen kalian semua!"

"Udah Ran, maju aja sana. Nggak bakal mati juga."

Akhirnya Ran menerima tantanganku dengan wajah pasrah. Kebiasaanku kalau sedang badmood sudah terbaca oleh mereka.
Wajah-wajah yang bikin moodku anjlog seketika akan pecah saat aku sudah berhasil menyentuh puncak dinding.

-oOo-

Kenan menyambutku saat aku baru turun. Membuka sebotol minuman mineral dan memberikannya padaku. Sejak kapan dia datang?

"Aku tau kamu hebat. Jadi,  sudah lega?" tanyanya begitu aku selesai meneguk minumanku yang sekarang tinggal setengah.

Sebenarnya aku malas menjawabnya. Untuk ukuran orang yang baru saja patah hati tentu tidak bisa kemudian langsung menjadi lega setelah memanjat dinding, belum lagi cemoohan kaum sok tahu dan sok paling benar yang dengan seenaknya mengumbar omongan unfaedah yang bisa bikin kuping terasa panas.

"Apa yang aku dengar itu benar?" tanya Kenan lagi. Bahkan dia sudah tahu. Kali ini aku bersamanya duduk agak jauh dari tempat latihan. Bersandarkan tembok gedung dengan mata lurus ke depan dan sesekali melihat kekonyolan teman-temanku lainnya.

"Kelihatannya?"

"Begini Kanya,  tidak semua yang kita lihat itu benar. Jadi itulah perlunya orang untuk saling berbicara."

"Aku sudah bicara. Dan apa yang aku lakukan menurutku benar."

"Jadi, Naren bilang apa?"

"Dia sadar sesadarnya saat melakukannya. Mataku juga nggak rabun." Aku mengedik.

"Mau aku traktir es krim?" Kenan berdiri kemudian mengulurkan tangannya.

"Mungkin aku memang butuh yang manis-manis sekarang."

Aku tersenyum menyambut uluran tangannya. Apa salahnya? Aku tahu Kenan hanya ingin menghiburku. Dengan tidak menanyakan terus menerus masalahku dengan Naren, itu sudah cukup memberitahuku bahwa dia bisa memposisikan dirinya agar aku bisa tetap nyaman jalan bersamanya.

Namun tak sampai berapa detik waktu berlalu, tangan Kenan yang tadinya menggenggam tanganku terlepas.

"Naren!" pekikku terkejut melihat tubuh Kenan terhempas mundur dan terjatuh.

Laki-laki posesif itu merangsek maju mendekati Kenan yang belum siap menerima serangan dadakan. Entah sejak kapan Naren tiba-tiba muncul. Aku segera melompat dan menarik tubuh Naren sebelum dia kembali melayangkan tinjunya. Manusia ini benar-benar sudah gila.

"Naren, stop!" teriakku berusaha mencegah tubuhnya yang terus saja ingin menerjang Kenan.

"Berani-beraninya lo nyentuh Kanya!" tunjuk Naren berang ke arah Kenan yang kini sedang berusaha untuk bangkit. Keributan ini mengundang anak-anak klub. Mereka cepat bergerak menolong Kenan.

"Maaf Kenan,  nanti kita bicara lagi," ucapku menatap Kenan menyesal. Lalu beralih memaksa si tuan posesif agar pergi dari tempat ini. "Cepet kita keluar."

Aku terus menarik tangan Naren keluar gedung. Memalukan. Memang apa yang sudah Kenan lakukan sehingga dia pantas mendapat pukulan dari manusia ini? Harusnya dia yang pantas mendapatkannya.

"Kamu gila ya?! Kenapa kamu memukul Kenan?" aku menghempas tangan Naren saat kami sudah tiba di tempat parkir,  area yang agak sepi dari jangkauan anak-anak kampus.

"Kanya,  dia memegang tangan kamu."

"Lalu masalahmu apa?"

"Kamu itu pacar aku, Kanya."

"Kita sudah putus kalo kamu lupa."

"Aku belum sepakat soal itu."

"Aku tidak perlu kesepakatan dari pengkhianat seperti kamu."

"Aku bukan pengkhianat?"

"Terus apa? Tukang selingkuh?"

"Kanya please! Semua nggak seperti apa yang kamu pikir. Aku dan Alisya nggak ada hubungan apapun. Dia yang terus menggangguku."

Aku jengah. Nggak ada hubungan apa-apa kok ciuman? Mengajak Naren putus memang tidak segampang itu, aku sadar. Tapi untuk apa juga dipertahankan?

"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku sudah anggap kita selesai. Dan jangan coba-coba bertindak bodoh lagi di depan teman-temanku seperti tadi."

Aku mundur selangkah untuk kemudian berbalik. Namun sebelum aku menggerakkan kaki lagi, Naren menyambar lenganku.

"Kanya please, jangan seperti ini. Aku minta maaf. Iya aku salah. Aku minta maaf. Tapi tolong jangan menjauh. Aku nggak akan tenang pergi ke Harvard kalo kamu seperti ini." Nadanya kembali melembut.

"Ada atau nggak ada aku,  kamu akan tetap pergikan? Nggak usah berlebihan deh."

"Tapi aku ingin saat aku berangkat,  kamu bisa mengantarku dengan senyuman Kanya. Bukan dengan kobaran api seperti ini. Please, aku minta maaf Kanya."

Naren melangkah maju. Mencoba menyentuh wajahku.

"Stop, jangan bergerak."

"Kanya,  kamu mau maafin aku kan?"

Bukan berarti panas setahun dihapus hujan sehari. Tapi kesalahan Naren kali ini bagiku seperti racun. Mematikan perasaan dan meninggikan egoku. Darimana pikiran itu berasal? aku merasa Naren memang punya hubungan khusus dengan Alisya tanpa sepengetahuanku.

Jika saja aku tidak melihat kejadian itu, entah sampai kapan Naren akan menyembunyikan semuanya dariku. Bahkan sampai saat ini, dia masih meyakinkanku kalau mereka tidak ada hubungan apapun.
Mana ada maling ngaku?

Mataku memejam, lagi-lagi bayangan mereka saling menempelkan bibir memutar.
Menghela napas, aku mencoba menenangkan dadaku yang mulai bergemuruh.

"Baik,  aku maafin kamu_"
Aku menggantungkan kalimatku saat kulihat dia mengukir senyum. "Tapi aku mau semuanya cukup sampe disini, " sambungku membuat senyum itu lantas  memudar.

"Ka--Kanya."

Aku mundur beberapa langkah. "Dari awal kita memang tidak cocok. Selama ini aku mungkin yang terlalu memaksakan diri untuk bisa ngimbangin kamu. Dan aku rasa kamu memang lebih cocok dengan perempuan itu. Dia lebih baik dariku segala-galanya."

Naren menggeleng.

"Kamu nggak perlu cemas Naren, nggak akan ada lagi si keras kepala yang membuatmu kesal. Dan perempuan itu pastinya lebih menghargaimu daripada mendebatmu."

Naren masih terus menggeleng.

"Kamu tampan, dia cantik, paskan? Orang nggak akan sakit mata kalo lihat kalian jalan berdua karena kalian pasangan yang sangat serasi."

Aku tersenyum getir. Mengingat kembali tiap kali jalan berdua dengan Naren di lingkungan kampus ada saja orang yang mencibir.

"Kanya, nggak seperti itu."

"Jangan menggangguku lagi Naren, please ... biarkan aku sendiri."
Mataku sudah terasa panas. Kuangkat tanganku saat Naren hendak mendekat.

Aku bergegas menjauh. Rasanya begitu sesak. Ada sesuatu yang hendak meledak di dalam dadaku. Dan membiarkan air mata tidak tahu diri ini mengalir di depan Naren, bukanlah hal yang ingin kulakukan. Sehancur apapun perasaanku saat ini.

-oOo-

Beberapa hari setelahnya, Naren benar-benar menuruti apa mauku. Dia tidak lagi menelepon atau pun mengirimiku pesan. Aku memutuskan kembali ke rumah.

Tepat saat kakiku menginjak halaman rumah kembali, sebuah notif WA muncul di ponsel.

Besok pesawatku terbang pukul 7 malam. Aku masih berharap kamu mau mengantarku Honey.

Aku mendesah pelan sebelum melangkah memasuki rumah.

"Galaunya sudah sembuh Dek?"

Aku berjengit kaget. Kukira tidak ada orang di rumah. Tiba-tiba saja Mas Bagas muncul dari arah dapur membawa sebuah mangkok yang kutahu dari aromanya bisa kutebak berisi mi rebus.

"Yee,  siapa yang galau."

Aku membaui aroma mi rebus yang membuat produksi air liurku meningkat.

"Bagi dong Mas."

"Mau?"

Aku mengangguk antusias.

"Bikin aja sendiri."

"Pelit ah," sungutku kesal.

"Perutku lagi laper banget Dek, ibu lagi ke rumah budhe, nggak ada makanan apapun selain mi instan. Jadi, kalo kamu laper juga, gih buat sendiri aja."

"Aku nggak laper, sebelum pulang tadi makan dulu di warteg sama Silvi."

Mas Bagas mulai menyantap mi rebusnya.

"Naren, apa kabar? Dia pernah sekali kesini pas kamu nggak ada di rumah. Kasian banget aku liat mukanya. Sebenarnya kalian ada apa sih? Berantem?"

Aku menghela napas. Tanpa aku bicara pun, Mas Bagas sepertinya sudah bisa menebak.

"Aku nggak mau ikut campur urusan kalian sih. Cuma jangan sampe kamu buat keputusan yang bikin kamu nyesel nantinya."

Nyesel? Aku belum sampai pada tahap itu kurasa.

"Besok pesawatnya berangkat pukul tujuh malam," beritahuku tanpa Mas Bagas minta.

"Kamu mau nganter dia ke bandara?"

"Aku nggak tau Mas."

"Kalo kamu emang mau, pergi aja. Tekan dulu yang namanya ego. Kaliankan udah kenal lama. Kasian loh, dia pasti ngarepin kamu anter."

Tidak aku pungkiri aku memikirkan kata-kata Mas Bagas saat aku masuk ke kamarku. Aku mencoba menyelami hatiku sendiri. Masih adakah sedikit rasa empatiku untuk Naren setelah semuanya?

Jawabannya membuat kepalaku menggeleng keras. Aku tidak menyukai ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja seiring dengan berjalannya waktu. Kami akan sama-sama disibukkan oleh dunia masing-masing. Yah, aku rasa itu memang yang terbaik.

-oOo-

Aku bergerak gelisah di atas ranjangku. Sebentar berguling, sebentar duduk. Sesekali melihat ke arah jarum jam yang terus bergerak. Sebentar lagi pesawat Naren take off. Kalau sekarang aku pergi ke bandara, mungkin masih bisa kekejar.
Aku kemudian meraih tasku,  berdiri sebentar, tapi lantas duduk lagi. Berpikir lagi. Bertanya pada diri sendiri. Perlukah aku ke sana?

Baiklah, Aku memang sudah putus dengan Naren. Tapi rasanya tidak salah kalau aku mengantarnya ke bandara. Setidaknya aku akan mengucapkan salam perpisahan sebelum dia pergi jauh. Mas Bagas benar. Aku bergegas bangkit sebelum berubah pikiran lagi. Selamat kau menang wahai hati.

Dan sekarang aku di sini. Di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Sial, aku tidak tahu Naren ada di gate berapa. Tempat ini sangat luas.  Aku sedang melihat LCD besar yang menampilkan schedule penerbangan luar negeri saat sebuah suara memanggilku.

"Mbak Kanya!"

Aku menoleh dan mendapati Arsen melambai kepadaku. Dia berlari kecil menghampiriku. Di tangannya ada sebuah gelas kertas yang menguarkan aroma kopi.

"Mba Kanya di sini juga? Pasti mau nganter Kak Naren kan?" tanyanya begitu sampai di depanku. Melihat Arsen aku jadi merasa tertolong,  setidaknya aku tidak perlu kebingungan mencari-cari Naren di tempat seluas ini.

"Oh, iyah. Kamu juga?"

"Ya iya dong aku kan adiknya. Ada Papa sama mama juga kok. Ayok Mbak kita kesana."

Aku berjalan beriringan bersama Arsen. Dia itu mukanya sebelas duabelas dengan Naren. Tinggi juga hampir sama. Tipe fansgirl banget. Aku yakin ketenarannya di sekolah juga tidak beda jauh dengan Naren. Bedanya apa yaa???

"Haiii manis, malam ini cantik deh."

"Halo cantik, kapan-kapan kita minum kopi bareng yah."

Astaga! Itu dia bedanya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak belasan tahun di sampingku. Hampir semua cewek yang berpas-pasan dengan kami dia kerling. Sepertinya anak ini punya jiwa playboy yang lagi diasah.

"Nah, tuh Kak Naren ada di sana."

Aku mendongak saat telunjuk Arsen mengarah ke deretan kursi tunggu yang tak jauh dari kami.

"Eh tapi, dia sama siapa ya? Perasaan tadi cewek itu nggak ada deh."

Itu Alisya. Mataku melihat perempuan itu menggenggam tangan Naren. Aku terpaku, tidak jadi melanjutkan langkah. 

"Kok mbak Kanya berhenti?"

Sebenarnya tidak ingin, tapi aku memaksakan diri untuk tetap tersenyum di depan Arsen.

"Arsen, maaf aku lupa sesuatu. Tiba-tiba saja aku ingat ada janji malam ini dengan temanku. Sepertinya aku nggak bisa mengantar Naren. Maaf Ya... " sekuat hati aku menyembunyikan perasaanku yang mendadak ngilu di hadapan Arsen.

"Tapi Mbak,  katanya_"

"Tolong kamu jangan bilang Naren kalo aku ke sini yah, please."

"Tapi_"

"Arsen, berjanjilah, aku mohon yaah."

"Oke,tapi Mbak_"

"Kalo gitu aku pergi dulu."

Aku buru-buru membalikkan badan dan berjalan cepat.

"Tapi Mbak ... Mbak Kanya tunggu ...."

Sempat aku mendengar Arsen masih terus memanggilku.

Bodoh! Untuk apa aku datang ke sini? Jelas-jelas Naren sudah melupakanku. Ada Alisya, perempuan cantik yang bisa Naren banggakan. Harusnya aku bersikukuh dengan tekad awalku. Sekarang mungkin logikaku sedang mengejekku karena lebih menuruti kata hati dari pada mendengar perintah otak di kepalaku.

Ya Tuhan,  kenapa aku jadi secengeng ini? Berengsek memang. Aku benci produksi air mataku yang melimpah ruah. Tapi aku harus akui, ini jauh lebih sakit dari saat pertama kali tahu Naren bermain di belakangku.

BERSAMBUNG





Prince bakalan slow update karena aku sedang on going belajar menulis lebih baik lagi.

Semoga semuanya berjalan lancar terkendali.

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...