Sunday, May 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi 



"Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan dia serahkan padaku.
 
"Liburan. Gue sama Kanya mau liburan," jawab Kenan santai.

"Oya, kapan?"

"Sedang kami rencanakan."

Naren beralih menatapku.  "Jadi, kamu berencana liburan tanpa sepengetahuanku, Sayang?"

Dan sekarang Kenan ikut menatapku karena ucapan Naren. Dahinya berkerut. Aku yakin,  Kenan akan berpikir kalau kami sudah baikkan.

"Kalian berdua? Kembali lagi?" tanya Kenan membuat Naren tersenyum menang.
 
"Sudah seharusnya seperti itu 'kan?"

Aku kesal sumpah dengan jawaban Naren. Tanpa menghiraukannya, aku bangkit dari duduk.

"Jangan dengarkan dia, Kenan. Kamu mau minum apa?" Aku melirik Naren kesal. Tidak mau dia bersikap kekanakan seperti dulu.

"Seperti biasa." Kenan tersenyum.
Aku menyeret langkahku masuk ke dalam rumah.

"Kamu nggak nawarin aku?" Ternyata Naren di belakang mengekoriku.

"Kamu mau minum apa?" tanyaku tak ingin banyak debat.

"Susu ada?"

Aku menggeleng. Lalu beranjak menuju dapur. Merajang air seperlunya. Karena  memang tidak pernah menyimpan persediaan air panas.
Aku membuatkan kopi untuk Kenan dan susu untuk Naren. Meletakkan kedua minuman itu di atas meja ruang tamu.

"Jadi, mau liburan kemana?" Naren sudah duduk di sofa begitu juga Kenan yang sudah menyesap kopinya.

"Gue mau ajak Kanya ke Kota Batu. Kami akan menginap villa di sana."

"Nginep di villa? Hanya kalian berdua?"
Kulihat mata Naren melebar. Kepalanya  mulai berasap jika bisa digambarkan. Ini tidak bagus.

"Maaf Kenan,  seperti yang aku bilang tadi. Aku nggak bisa sepertinya," selaku. Mengingat muka Naren sudah sangat tidak enak dipandang mata.

"Jakarta juga bukan tempat liburan yang buruk."

Rasanya aku ingin menenggalamkan kepala ke meja. Kenapa Kenan masih membahas soal liburan?

Kenan meringis. Bisa kulihat dia sangat puas sudah membuat wajah Naren memerah.  

"Aku jalan dulu, Kanya. Ada janji sama Mas Wirno. Nanti aku telepon lagi."
Kenan bangkit dari duduknya. Itu hanya alasan saja. Dia bisa bertahan berjam-jam di sini sebelum kemunculan Naren.

"Naren, gue cabut dulu."

Naren hanya berdehem. Dan tidak berniat memberi Kenan ucapan apapun. Masih pura-pura sibuk dengan gelasnya.

Setelah mengantar Kenan,  aku kembali duduk. Tidak ada tampang kecut lagi yang aku lihat dari wajah laki-laki di depanku. Naren meletakkan gelasnya, lalu beralih melihatku.

"Jadi, kamu sering liburan berdua sama dia?"

Tepat dugaanku. Aku menghela napas kasar. Hari-hariku akan terasa melelahkan lagi sepertinya.

"Nggak sering, kadang-kadang saja."

"Apa? Kamu nggak ada teman lain selain dia? Teman sesama wanita misalnya? Dan kenapa harus dia?"

Haruskah aku membahas ini? Lima tahun tidak membuatnya berubah banyak. Apalagi sifatnya yang seperti ini.

"Dari semua teman-temanku yang bertahan cuma dia."

"Ya, tentu saja. Dia suka sama kamu."

"Lalu?"

"Jauhi dia, Kanya."

Aku tak percaya. "Nggak ada alasan buatku menjauhi dia."

"Karena aku yang minta."

"Setelah semuanya?"  aku mengibaskan tangan. "Udahlah, aku males debat sama kamu. Aku capek, mau mandi, mau istirahat."

Aku berdiri. Jika dilanjutkan hanya akan menjadi perdebatan yang berkepanjangan seperti yang sering aku lakukan dulu. Aku sudah cukup lelah. Pengalaman dan rasa sakit seolah sudah mengajarkan aku semuanya.

"Kanya... " Naren meraih lenganku, suaranya melembut. "Aku minta maaf. Aku hanya nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."

Ternyata dia sudah ikut berdiri, dan tak segan menarikku ke dalam dekapannya. Aku tak mengerti. Kenapa  selalu seperti ini?  Seolah pasrah saja dengan skinship yang Naren buat. Aromanya masih sama seperti dulu. Menghidunya membuatku merasa nyaman. Untuk sebuah kenyamanan yang sulit aku dapat ini, rasanya enggan untuk lepas lagi.

"Aku ingin mengajakmu makan malam," katanya mengurai pelukan tanpa melepas kedua tangannya dari pinggangku.

"Aku nggak mau kalo berakhir dengan basah kuyup lagi."

Dia tertawa. Dan itu membuatnya semakin terlihat menawan. Ya Tuhan, kadang pesona Naren begitu kuat. Tapi jika aura menyebalkannya sudah keluar, rasanya aku ingin melemparnya sejauh mungkin.

"Nggak lah,  kita nanti langsung ke sana saja."

"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu."
Naren mengangguk, mencium kepalaku, lalu membiarkanku masuk ke kamar.

***

Naren menggandeng tanganku saat memasuki sebuah restoran di pusat kota. Aku  pernah beberapa kali memasuki restoran ini. Menunya bisa membuatku langsung meneteskan air liur. Naren selalu paham, dimana restoran yang bukan hanya sekedar mewah, tapi juga resto dengan menu yang bisa menggoyang lidah.

Seorang pelayan restoran langsung mengantarkan kami, pada tempat yang ternyata sudah lebih dulu Naren reservasi. Masuk ke dalam restoran, kami diajak menuju ruang outdoor yang dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu. 

Aku pikir, Naren akan memilih meja yang khusus hanya untuk kami berdua. Tapi, pelayan itu malah mengantar kami pada meja yang sudah terlihat ada isinya di sana. Semakin langkahku mendekat, firasatku merasa tidak enak. Aku melihat dengan seksama siapa orang di balik punggung yang sudah lebih dulu duduk di sana. Tubuhku mulai menegang, saat aku bisa dengan jelas melihat orang itu. Dia menoleh dan melihat kedatangan kami. Om Damian.

Aku tidak siap, aku tidak siap.

"Selamat malam, Papa," sapa Naren begitu kami sampai di hadapannya.

"Se-selamat malam, Om."

"Hm, selamat malam."

Suara berat Om Damian baru kali ini kudengar menyeramkan. Itu membuatku merasa was-was. Naren menuntunku agar duduk di kursi. Lalu, dia sendiri duduk di sebelahku.

"A-apa kabar, Om?" aku mencoba menyapa lebih dulu. Rasa canggung seperti ini sangat tidak enak. Dan sepertinya, aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki di sebelahku karena tidak memberitahuku akan ada Om Damian di sini.

"Seperti yang kamu lihat, Om baik-baik saja. Lama ya kita tidak jumpa, Kanya? Sudah berapa tahun ya? Rasanya sudah lama sejak kamu memutuskan Naren."

Apa hanya perasaanku yang sedang sensi? Tapi aku merasa ada penekanan saat Om Damian bilang 'memutuskan'. Meskipun itu diucapkan dengan intonasi biasa saja. Tapi rasanya sedikit menggangguku.

"Apa kita pesan sekarang, Pa?" tanya Naren. Kupikir itu hanya pengalihan yang Naren buat.

"Tunggu sebentar, Papa masih menunggu satu orang lagi."

"Siapa?"

Bertepatan dengan itu, tangan Om Damian melambai. Aku dan Naren sontak menoleh. Dan mendapati Nadine sedang berjalan mendekat.

"Maaf Om, Nadine telat, " sapanya begitu datang.

"Tak masalah. Sini duduk di sebelah Om."

Nadine tersenyum sangat manis. "Hay, Naren, Kanya,"  sapanya sembari mengambil tempat duduk.

Kami mulai memesan menu makanan. Setelah pelayan resto mencatat menu yang kami pesan dan pergi untuk menyiapkan pesanan kami, perasaan tidak nyaman menyelimutiku. Apalagi sejak tadi, Om Damian lebih memilih berinteraksi dengan Nadine. Seolah abai dengan kehadiranku di sini.

"Oya,  Kanya. Tadi siang, kenapa ke kantor tidak menemuiku?" 

Aku yang sedari tadi memekuri ponsel, mendongak. Nadine berbicara padaku. Wajah ayunya berkilau di terpa cahaya lampu malam.

"Ah iya. Maaf, Mbak. Tiba-tiba ada klien yang minta bertemu secepatnya. Tapi nanti besok kita bisa bertemu lagi untuk diskusi. Bagaimana?"

"Boleh."

"Kanya, apa kamu nggak ada rencana buat pindah kerja ke Jakarta?" tanya Naren membuatku mengalihkan atensi padanya.

"Hey! Kamu jangan provokasi desaign art-ku ya!" Nadine mengayun-ayunkan telunjuknya ke arah Naren.

"Loh, di Jakarta itu Kanya bisa lebih berkembang dari pada di sini," bela Naren.

"Oya? Surabaya juga nggak kalah hebat dari Jakarta. Kamu pikir hanya di Jakarta saja orang bisa berkembang?"

"Ya nggak gitu, kan kalo di Jakarta Kanya jadi lebih dekat orang tuanya."

Percakapan itu terjeda, ah tidak, keributan kurasa, saat pelayan meletakkan menu yang kami pesan.

"Kalian itu kebiasaan. Hal sepele aja diributkan," ucap Om Damian. Manik cokelatnya bergerak ke arahku.

"Kanya, kamu sudah kembali bertemu dengan Naren...."  

Aku memutar kepala ke arah Om Damian. 

"Kamu nggak berniat pacaran lagi dengan Naren 'kan?"

Aku rasakan Naren mengalihkan pandangan ke arahku. Tidak hanya dia, Nadine juga memberi atensi khusus.

"Saya.... "

"Om harap sih yang sudah, sudah ya, Kanya. Kalian cukup berteman saja. Karena Om berniat menikahkan Naren dengan Nadine. Jadi..."

"Papa!"

"Om!"

Suara Naren dan Nadine kompak menginterupsi. Om Damian melihat mereka berdua bergantian. Senyumnya terbit.

"Tuh kan, Kanya. Bisa dilihat. Mereka sangat kompak."

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Om Damian. Di sini sudah jelas, beliau tidak bisa menerimaku kembali.

"Pah, kita sudah membicarakan ini," ucap Naren dengan suara tertahan. Mukanya sedikit memerah. Meskipun lampu-lampu di sini tidak seterang cahaya matahari, tapi aku bisa melihat rahang Naren mengeras.

"Kita makan dulu yuk." Nadine segera mengalihkan. Jika dilanjutkan, aku tahu persis apa yang akan terjadi.

Daging wagyu di hadapanku harusnya terlihat menggiurkan. Tapi entah mengapa mendadak aku tidak ingin menyentuhnya.

"Kita makan dulu yah." Naren menepuk pelan punggung tanganku. Dengan senyum canggung, aku mengangguk lalu mulai mengangkat garpu dan pisau.

Aku berusaha menikmati makan malam ini. Perutku rasanya sudah penuh. Untuk mendorong sepotong daging ke mulut pun rasanya sulit.

"Apa makanannya nggak enak? Kita bisa pesan makanan lainnya," tawar Naren membuatku langsung menggeleng.

Gila aja. Main ganti makanan seenaknya. Meskipun aku tahu dia mampu, tetap aja itu namanya pemborosan. Harga makanan dipiringku ini saja sudah nyaris membuat bola mataku keluar dari tempatnya. Harusnya tadi, aku tidak membiarkan Naren memilih menu untukku.

"Ya sudah. Sini biar aku potongkan steak-nya."

"Nggak us---"

Bukan Naren kalau dia tidak seenaknya. Perbuatannya mengundang perhatian Om Damian dan Nadine. Aku malu.

"Biar aku saja Naren. Aku bisa sendiri." 

Aku mencoba memgambil piringku kembali. Tapi malah mendapat pelototan.

"Kamu bisa nggak sih nurut sekali ajah."

Aku tidak mau berdebat. Apalagi di hadapan dua pasang mata di sebrangku. Jadi, aku biarkan Naren memotong-motong steak di piringku. Setelah selesai,  dia menyodorkan kembali padaku.

"Habiskan ya," ucapnya tersenyum. Manis banget 'kan dia? Ehem! Aku mengangguk.

"Kamu ini, Kanya itu bukan bocah sampe daging aja nggak bisa motong sendiri."

Gerakan tanganku yang hendak menancapkan potongan daging terhenti,  mendengar ucapan Om Damian.
Itu diucapkan dengan intonasi biasa, tapi kenapa aku merasa tertohok ya?
Sepertinya aku memang sedang  sedikit sensi.

BERSAMBUNG


Aku memandang lamat-lamat ke arah Kanya. Wanita itu sekarang lebih banyak diam. Dia juga sudah jarang mendebat seperti dulu.
Setelah apa yang Papa ucapkan padanya, gestur tidak nyaman jelas sekali terlihat.

"Pah, aku hanya membantu Kanya. Apa salahnya?"

"Ya nggak salah sih. Cuma Kanya itu 'kan bukan anak yang manja. Terlebih dia sudah lama jauh dari kamu dan orang tuanya."

Aku bahkan belum pernah melihat Papa senyir-nyir ini. Seakan tidak peduli lagi, aku kembali memasukkan potongan steak ke dalam mukutku.
Whatever-lah, Pa.

"Jadi, Nadine. Kapan kamu ijinkan Naren bertemu orang tuamu?"

" Om, tapi Naren 'kan memang sudah--"

Ya Tuhan, Papa. Kanya memang tidak terlihat terganggu. Tapi mendengar itu, bisa sajakan setelahnya dia berbuat sesuatu yang tidak aku duga. Tidak, aku tidak mau dia menjauhiku lagi. Hubunganku dengannya sudah mulai membaik.

Aku meletakkan sendok dan pisau. Dentingannya cukup keras, sehingga membuat semua mata di meja ini menoleh padaku. Mengambil tissue, aku mengelap mulutku setelah menenggak habis air putih di gelas panjang.

"Aku pikir ini akan menjadi dinner yang menyenangkan. Tapi, ternyata tidak seperti dugaanku."

Aku melirik Kanya, sebelum akhirnya mendorong kursi lalu berdiri.

"Mau kemana kamu?" tanya Papa meninggikana sedikit volume suaranya.

"Kanya sepertinya sudah tidak berselera makan disini...." wanita itu menoleh tidak percaya. Aku menggapai tangannya untuk ikut berdiri.

Kanya nampak terhenyak.
"Naren--"

"Aku akan menunjukkan sesuatu yang   lebih menarik daripada hanya sekedar makan malam. Kami pamit dulu, Papa."

"Tapi Naren--"

Papa tidak mengatakan apapun. Mulutnya mengatup rapat. Tatapan tajamnya terus dia arahkan padaku. Sampai aku menarik paksa Kanya, untuk meninggalkan restoran ini.
Bagaimana aku tidak kesal? Papa sudah merusak semua rencanaku dengan menghadirkan Nadine. Belum lagi perkataannya yang aku sangat yakin akan berpengaruh pada Kanya. Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran Papa.

PS.  Untuk penulisan yang salah atau typo harap maklum yaa...
Belum ada revisi ini on the spot ajah,  😀

Friday, May 1, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By. Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 15

Kami hampir saja melakukannya, jika saja Naren tidak dengan tiba-tiba memundurkan tubuhnya dari atasku. Aku tidak mengerti, dia memandangku sejenak lantas mengecup dahiku lama.

"Maaf, aku nggak bisa, nggak dengan cara seperti ini."

Aku belum membalas satu patah kata pun saat dia menutupi tubuhku dengan selimut. Pelan dia mundur, dan mengenakan pakaiannya kembali.

"Aku akan tidur di luar."

Dan kamu tahu apa yang aku rasa? Aku syok! Setelah dia melucuti semua pakaianku, dan bermain liar dengan bibir juga tangannya, dia meninggalkanku begitu saja. Dan bodohnya, aku cuma diam tanpa penolakan apapun. Aku tadi benar-benar hanyut bersamanya. Seolah tubuhku melebur jadi satu dengan tubuhnya. Aku yakin, bukan hanya aku saja yang merasakan itu. Dia juga sama. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran? Apa karena dia mengingat seseorang? Entahlah.

Aku bangun dari tidurku. Menatap diriku sendiri. Betapa buruknya aku. Secara tidak langsung aku menerima laki-laki itu kembali. Reaksi tubuhku benar-benar tidak sinkron dengan otak. Agak menyebalkan tapi sulit aku kendalikan. Aku mengusap wajah pelan. Mungkin memang harus aku mulai kembali semuanya dari awal. Menerima kehadirannya kembali di hidupku.

***

Aku menggeliat, merasakan kenyamanan di setiap bagian tubuhku. Ah! Rasanya tidak pernah aku tidur sepuas ini. Mataku mengerjap, dan perlaha membuka.
hal pertama yang aku lihat adalah, wajah Naren yang tengah tersenyum begitu teramat dekat di depan mataku.

"Apa tidurmu nyenyak?"

Aku hanya mengangguk. Sedetik kemudian Naren menarik kepalaku dan mengecup bibirku.

"Bangun dan mandi,  sarapanmu sudah siap." 

Aku menahan tangannya saat dia hendak bangun.

"Tadi malam... " aku berpikir keras untuk menanyakan ini. "apa terjadi sesuatu?"

Naren kembali mendekat. Menarik selimutku agar rapat menutupi tubuhku sampai ke leher. Tiba-tiba wajahku memanas. Aku tadi beneran tidak sadar, kalau selimutku melorot.

"Semalam nggak terjadi apa-apa. Aku minta maaf,  udah bertindak terlalu jauh."

Aku mengangguk. Hanya memastikan saja. Kalau ingatanku tidak salah.

"Tapi Kanya... "

Aku menatapnya lurus, menanti kelanjutannya.

"Kita harus secepatnya menikah."

"Apa?"

"Tadi malam mungkin aku bisa mengendalikan diriku. Tapi aku nggak yakin kalo besok-besok."

What the hell.

Dia berdiri, berkacak pinggang menatapku. Dengan sebuah seringai yang terlihat mengerikan.

"Kamu itu ...  Benar-benar indah dan seksi."

Aku mencengkeram selimutku erat-erat. Detak jantungku kembali berdebar kencang. Seperti kena siraman air panas rasanya. Aku tidak pernah merasakan salting seperti ini di depan Naren. Namun kali ini,  laki-laki itu sukses membuatku malu dan ...  Entah ini apa, tapi aku merasa melayang juga.

*** 

Aku berjalan ringan memasuki kantor milik Nadine. Menemui assistennya yang kelihatan sedang sibuk di depan layar monitor.

"Pagi, Mbak Sari," sapaku begitu sampai di mejanya. Pemilik sepasang alis tebal itu mendongak dan tersenyum ramah.

"Eh Mbak Kanya, udah ditunggu Mbak Nadine di ruangannya."

Aku memang sudah membuat janji bertemu.

"Tapi Mbak, ada tamu juga sih di dalam," beritahu Sari.

"Aku tunggu aja kali ya."

"Tapi Mbak Nadine pesan kalo Mbak Kanya datang suruh langsung masuk aja."

"Oke deh, aku juga nggak bisa lama. Soalnya masih ada janji temu dengan klien."

"Langsung kesana aja Mbak."

"Okeh. Aku ke sana dulu ya."

Sari mengangguk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pintu ruangan Nadine agak terbuka sedikit. Aku hendak mendorongnya, saat telingaku menangkap sebuah suara yang rasanya tidak asing.

"Nadine nggak tahu Om, semua Naren yang memutuskan," samar aku dengar Nadine bersuara.

Sebenarnya ini tidak sopan, tapi entah kenapa aku ingin tahu obrolan itu. Aku sedikit mengintip celah di dalam sana. Seseorang yang sangat aku kenal duduk berhadapan dengan Nadine. Pria seusia ayah dengan garis wajah yang masih terlihat menawan itu menampilkan senyum yang tidak jauh berbeda dengan Naren. Om Damian. Jadi Nadine juga sudah mengenal keluarga Naren?

"Om sangat berharap hubungan kalian segera diresmikan, minimal tunangan dulu lah. Ingat umur dong."

"Tapi Om, Nadine dan Naren nggak punya hubungan sejauh itu."

"Ayolah, hanya kamu yang paling dekat dengan anak itu. Om dan tante juga setuju kalo Naren bisa menikah sama kamu."

"Sepertinya itu nggak mungkin Om. Naren sudah bertemu kembali dengan seseorang yang sangat dia cintai."

"Maksud kamu Kanya?"

"Iya Om,  mereka bertemu kembali."

"Benarkah? Om nggak tahu soal ini."

"Jadi,Om. Sudah pasti Naren akan memilih Kanya daripada aku. Meskipun Nadine mencintai Naren, tapi percuma kalo Naren nggak bisa sebaliknya mencintai Nadine."

Aku bisa mendengar Om Damian menghela napas berat. Mendengar percakapan mereka, membuat detak jantungku berpacu cepat. Aku tidak sampi berpikir sejauh ini. Om Damian  ternyata sangat mengharapkan Nadine. Bukannya aku akan mengecewakan mereka jika aku memutuskan kembali pada Naren?

Ada sedikit nyeri mengetahui kenyataan ini. Mungkin saja, jika aku tidak bertemu kembali dengan Naren, Nadine bisa bersatu dengan laki-laki itu. Di sini aku merasa menjadi sebuah batu penghalang. 

Langkahku mundur perlahan. Tidak jadi masuk ke dalam. Terlebih aku belum siap bertemu kembali dengan Om Damian. Mungkin saja Om Damian memandangku lain,  karena dulu sudah meninggalkan Naren.

Aku menuju meja Sari kembali,  dan menitip berkas yang tadinya mau aku diskusikan dengan Nadine. Mungkin aku akan ke sini lagi besok.

***

Kenan berdiri di depanku dengan wajah sumringah. Setelah pendakian yang dia lakukan waktu itu menjadikannya semakin terlihat keren dan laki banget. Yaa ampun...  Aku memujinya. Bukannya apa, Kenan memang keren,  tidak ada yang menyangkal. Tapi sekeren apapun dia, belum bisa menggantikan posisi Naren di hatiku. Ah! Menyebalkan. 

Setelah kejadian malam di hotel rasa rumah itu, Naren sudah bersikap seperti dulu lagi, makin secure. Dan terus membujukku agar mau cepat menikah.

"Pengalaman Semeru kemarin sangat menyenangkan. Sayang kamu nggak ikut," kelakarnya mengambil tempat duduk di teras depan rumah kontrakanku.

"Aku iri sebenarnya. Tapi kerjaan menumpuk. Banyak yang belum beres. Apa semua ada?" 

Yang aku tanyakan  adalah rombongan medaki kami. Biasanya ada sekitar tujuh orang yang ikut rombongan pendakian termasuk Kenan dan aku.

"Minus kamu doang."
Jawaban Kenan membuatku tambah iri.

"Sebentar lagi musim hujan, nggak mungkin musim hujan ada pendakian. Musim hujan itu enaknya liburan di villa ajah."

Aku menoleh. Tumben,  tidak biasanya Kenan mengusulkan villa. Dia itu tipe outdoor. Lebih suka membuat tenda daripada menginap di villa.

"Bulan depan aku ingin mengajak kamu liburan ke villa di Kota Batu. Aku bilangnya sekarang soalnya biar kamu bisa longgarin jadwal jauh-jauh hari. Gimana?"

"Kita berdua aja?" tanyaku ragu.

"Iya, nggak pa-pa kan? Atau kamu mau ajak teman juga boleh."

Aku meringis. Ke villa berdua dengan Kenan. Aku tidak yakin mengingat ada Naren yang sekarang sudah kembali mengekoriku.

"Itu, aku sepertinya belum bisa ambil keputusan. Nggak tau,  boleh apa nggak aku ambil cuti sama Tata."

"Urusan Tata biar aku yang handle."

Aku melupakan ini. Tata yang notabene sepupu Kenan, kebetulan dia boss tempatku bekerja sekarang. Mereka dekat, dan itu mudah bagi Kenan. Sama halnya saat dia menawarkan pekerjaan ini buatku. Urusan Tata memang dia bisa menangani, tapi Naren?

"Aku nggak janji Kenan. Kalopun aku bisa ambil cuti. Mungkin lebih baik aku gunakan buat pulang ke Jakarta."

"Ah kamu benar. Tapi aku ingin liburan bareng kamu. Kayaknya udah lama kita nggak liburan bersama."

Selain mendaki, Kenan memang kadang mengajakku liburan ke suatu tempat. Kalau sedang dalam mood berantakan,  aku selalu mengiyakan ajakkannya. Kenan itu teman liburan yang seru.

"Juga tentang... " aku masih ingin mendengar kelanjutan ucapan Kenan saat suara mobil mengalihkan perhatian kami. Itu Naren yang datang.

Naren turun dari mobil dengan sebuah tentengan di tangannya. Kaca mata hitamnya melekat sempurna di atas hidungnya yang bangir. Mendadak aku ingat percakapan Om Damian dan Nadine pagi tadi.

BERSAMBUNG



"Jadi kamu akan di sini terus? Tidak mau mengurus usaha Papa di Jakarta. Kamu tau Arsen masih membutuhkan kamu."

Aku menghela, siang tadi Papa menemuiku di kantor. Tadi pagi papa datang dan aku sama sekali tidak tahu soal itu.

"Sepertinya begitu, Pah. Papa juga jangan meragukan kemampuan Arsen. Dia anak yang cerdas."

"Papa nggak meragukan kemampuan anak-anak Papa. Hanya saja hotel dan apartemen kita di Jakarta lebih banyak butuh perhatian kamu."

"Aku yakin, Arsen bisa."

"Apa ada hal lain, yang membuatmu keras kepala ingin tetap tinggal?"

Papa selalu memiliki insting yang tajam. Untuk berbohong padanya kadang aku mengalami kesulitan.

"Apa karena Kanya ada di sini?"

Aku bahkan belum memberitahunya tentang ini. Dari mana papa tahu?
Mataku memejam. Sudah bisa aku tebak,  papa lebih dulu menemui Nadine dari pada aku.

"Papa bicara apa saja dengan Nadine?"

"Papa hanya ingin kalian cepat menikah."

"Aku sudah pernah bilang soal ini Pah."

"Kamu jangan memainkan hati perempuan Naren. Setelah bertemu Kanya kembali kamu mau menyingkirkan Nadine?"

"Nadine itu hanya teman. Papa sama Mama jangan terlalu berpikir sejauh itu."

"Tapi Nadine mencintai kamu, Naren."

Aku berdiri dari kursiku. Tahun lalu, papa juga menyuruhku untuk melamar Nadine. Kenapa kedua orangtuaku tidak mau menerima hubungan kami yang hanya sebatas teman? Aku tidak habis pikir.

Aku memandang lanskap kota Surabaya dari kaca besar di belakang meja kerjaku.

"Naren, masih mencintai Kanya, Papa. Kalopun aku harus menikah, itu artinya  Kanya yang akan aku nikahi, Pah."

Aku tidak lagi mendengar suara papa menyahut. Laki-laki yang sangat aku kagumi itu sepertinya sudah terlalu jengkel dengan sikapku yang masih tidak mau membuka hati untuk Nadine.

Sunday, April 26, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa


Oleh. Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 14

Aku kesal setengah mati dengan perbuatan konyol laki-laki itu hingga berakhir  pada diriku yang basah kuyup. Kelakuannya benar-benar norak. Tak hentinya aku mengumpat sepanjang jalan dia membawaku ke kamarnya di lantai paling atas hotel ini.

"Kamu bisa pake ini." Naren menyerahkan sebuah kemeja lengan panjang. Aku menerimanya ragu. Ya masa aku haruslah pake kemeja doang?

Seakan mengerti dengan kegelisahanku,  Naren kembali ke arah walk in closed dan mengambil sesuatu di sana. Dia menyodorkan sebuah celana pendek bergambar ...  Spongebob! 
Tawaku hampir saja meledak kalau tidak segera kubungkam mulutku dengan tangan. 

"Kalo mau ketawa, ketawa aja. Nggak usah ditahan. Itu memang boxer milikku. Yang milih juga kamu, kalo kamu lupa."

Aku spontan merubah mimikku. Masa iya? Aku mengambil boxer itu dari tangan Naren. Tanpa banyak bicara aku berjalan menuju kamar mandi.

Saat aku keluar, Naren sudah duduk di sofa dengan dua buah cangkir mengepul yang terletak di meja kecil di hadapannya. Dia sudah berganti pakaian juga. Aku menghampiri lalu duduk di sebelahnya.

"Ini jahe susu, minum." 

Naren mengangkat salah satu cangkir itu dan menyerahkannya padaku. Minuman Naren memang tidak jauh-jauh dari susu. Cara hidup sehat yang dia terapkan kadang membawa keuntungan sendiri buatku. Aku bukan tipe orang yang mau repot demi menjaga pola makanku agar tetap bagus.

Jadi dulu itu, saat dirasa aku sudah terlalu berlebihan dengan gaya makanku yang kurang sehat,  Naren akan selalu menjadi alarm buatku. Tapi anehnya, dia terlalu sulit untuk diajak olahraga outdoor yang terlalu berat, karena itu sangat merepotkan  baginya.

Minuman jahe ini langsung bisa menghangatkan tubuhku. Setelah beberapa kali aku menyesapnya,  aku meletakkan kembali cangkir itu ke meja.

"Aku bantu keringkan rambut kamu."

"E-eh nggak perlu... "

Rambutku yang masih basah berjatuhan saat Naren berhasil membuka handuk yang melilit di atas kepalaku.

"Aku bilang nggak perlu, aku bisa sendiri. Siniin handuknya."

Tangan Naren mengelak,  menjauhkan handuk itu dari jangkauanku.

"Udah sih kamu diam, bentar aja kan."

Dia malah memutar badanku agar memunggunginya. 

"Ta-tapi... "

Percuma, tangannya mulai mengusap-ngusap rambutku dengan handuk itu. Tubuhku membeku, entah apa yang aku pikirkan. Aku hanya diam saat tangan Naren terus bergerak lembut di atas kepalaku.

"Wangi."

Kepalaku sontak menjauh saat Naren menciumi aroma rambutku. Sial. Hatiku berdebar tak menentu hanya karena itu.

"Kamu ngapain sih?" aku mendelik.

"Kamu lihatnya aku ngapain?"

"Sini handuknya, biar aku keringin sendiri."

"Kapan sih kamu nggak jutek sehari aja?"

Aku tidak peduli lagi ocehannya. Terserah dia mau berpendapat apa. Bel pintu berbunyi,  Naren beranjak dari duduknya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah nampan besar berisi dua porsi makanan dan dua gelas minuman.

"Kita nggak bisa makan di bawah karena baju kamu basah, jadi aku pesan via room service aja. Dia juga sudah membawa bajumu untuk dilaundry. Nggak papa 'kan?"

Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya sekilas. 

"Ayo kita makan dulu."

Aku mengikutinya menuju dapur kecil yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Mengambil tempat duduk bersebrangan dengannya. Lalu kami makan dalam diam.

Aku  menyuap sendok terakhir saat kulihat Naren sudah menandaskan minuman di gelasnya. Sepertinya dia kelaparan.

"Makanan di sini lumayan enak. Sangat sesuai dengan lidahku."

Aku tidak merespon ucapannya. Tanpa dia kasih tahu pun aku sudah paham seleranya itu seperti apa.

"Kanya,  pembicaraan kita belum selesai."

"Apalagi?"

"Jangan pura-pura lupa, Kanya. Kamu mau 'kan kembali padaku lagi?"

Aku tidak lupa. Cuma malas membahasnya saja. Aku membereskan piringku lantas beranjak ke bak pencucian piring tanpa menjawab pertanyaan Naren. 

Aku hendak mencuci piring kotor itu,  saat Naren dari belakang mencegahku, membuat aku terperanjat.

"Nggak perlu cuci piring itu, nanti mereka juga akan membawanya."

"Oke."

Aku menyalakan keran air dan mencuci tanganku lalu mengeringkannya pada mini dryer yang ada di dinding atas bak cuci piring.

Tanpa aku duga, Naren menyentak tanganku hingga tubuhku limbung dan sukses terjerembab tepat di dadanya.
Dia mendekapku sangat erat,  begitu erat membuatku yang tadi seketika kaget berubah tegang.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku," bisiknya pelan.

Aku seperti terlempar pada sebuah dejavu masa lalu. Ucapannya serasa baru kemarin terlontar dan kini aku mendengarnya lagi. Saat aku merasa muak dengan semua kata cintanya. Ketika aku ingin jauh dan lepas darinya.

Tapi sekarang, yang aku rasakan bukan seperti itu. Aku malah ingin semakin membenamkan diri dalam pelukannya.

"Kanya, stay with me, marry me, please...."

Aku masih membisu. Tidak tahu apa yang ingin aku katakan. Karena tiba-tiba saja wajah Nadine dengan tawanya yang renyah berkelebat.

"Naren, Nadine.... " Aku mendorong dadanya mundur. Dia menatapku dengan kening berkerut. Mungkin aneh, di saat seperti ini kenapa aku malah menyebut nama orang lain?

"Ada apa?"

Posisi kami masih saling menempel dengan kedua tangan Naren yang masih memeluk erat pinggangku.

"Nadine, di-dia menyukai kamu... "

Naren membuang napas, lalu mengendurkan pelukannya. Seolah apa yang aku katakan tadi itu mengganggunya. Tanpa aku duga dia melangkah pergi begitu saja,  dan menjatuhkan diri ke sofa. Aku menatapnya bingung. Apa dia tidak ingin mengatakan sesuatu?

"Bukan hanya Nadine, kalo kamu memang ingin tau." Naren menoleh padaku. Aku melihat ada raut tidak suka yang dia tunjukkan.

"Tapi kenapa itu seolah penting buatmu?"

"Karena Nadine itu temanku," jawabku mendekat padanya.

"Lalu?"

"Dia pasti terluka kalo kamu seperti ini."

Seperti tidak peduli dengan ucapanku, Naren beranjak, mengambil sesuatu kemudian langkahnya menuju balkon. Dia bersandar di sana. Beberapa detik kemudian, pandanganku memicing saat ku lihat dia menjejalkan sesuatu pada mulutnya lalu memantik api. Detik berikutnya asap itu mengepul keluar dari mulutnya perlahan. Naren merokok! 

Cepat-cepat aku berjalan mendekatinya.
"Sejak kapan kamu berani merokok?"

Aku masih tidak percaya. Naren bukan tipe laki-laki yang gemar merokok. Membaui asapnya saja dia paling anti. Lalu ini apa?

"Sejak aku kehilangan kamu," jawabnya tanpa menatapku. Pandangannya menerawang jauh ke gemerlap cahaya lampu malam kota Surabaya yang tampak indah terlihat dari atas sini.
Naren seolah menikmati isapannya pada benda bernikotin itu.

"Na-Naren, kamu nggak seharusnya seperti ini."

"Apalagi, Kanya? Setelah membawaku mencintai batang nikotin ini, kamu mungkin akan segera membawaku mencintai minuman beralkohol. Kamu nggak sadar atau gimana? dari dulu kamu selalu membuatku gila."

"Naren..."

"Apa kurangku Kanya? Apa harga diriku masih belum cukup untuk melawan ego kamu yang besar itu selama ini?"

Naren membuang rokoknya yang masih menyala, lantas menginjaknya hingga baranya mati.

"Aku nggak pernah memikirkan apa pun untuk mencintai kamu. Tapi kamu malah peduli dengan orang lain tanpa memikirkan perasaanku."

"Naren aku,  aku nggak bermaksud... "

Bibirku bergetar, aku selalu takut untuk memulai lagi. Hanya itu. Perasaanku terlalu dalam pada laki-laki ini. Hingga aku merasa takut untuk memulainya kembali jika pada akhirnya aku akan patah hati lagi.

Entah sejak kapan mataku terasa basah dan perih. Dadaku terasa terhimpit dan teramat sesak. Aku bukan sosok yang cengeng. Nyaris tidak pernah menangis di hadapan Naren. Tapi pertahananku kali ini sangat buruk.

"Kanya? Kamu menangis?" Suara Naren panik, dia mendekatiku segera. "Apa ucapanku tadi menyinggungmu? Kanya, sorry. Aku nggak bermaksud kasar..."

Berengsek. Kalaupun aku harus menangis, tidak seharusnya di hadapannya langsung seperti ini. Aku merasa payah. Air mata sialan ini malah semakin menjadi. Terus saja mengalir seolah tidak mau berhenti.

Bagaimana aku bisa bicara dengan baik kalau begini? Tapi aku memang tidak ingin bicara apa pun lagi,  terlebih sekarang Naren membawaku kembali pada pelukannya yang hangat. Rasanya tidak pernah berubah dari dulu. Sekuat apa pun aku menyangkal, nyatanya dekapan laki-laki posesif ini masih sangat menenangkan.
 
Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Naren mengangkat tubuhku, dia membopongku dalam sekali sentak. Tanganku spontan mengalungi lehernya. Lantas kubiarkan langkah Naren membawaku menuju sebuah ruangan yang terdapat bed berukuran besar di tengahnya. Ada pintu kaca tinggi yang terbuka lebar dengan tirai melambai di terpa angin malam. Sepertinya itu balkon kamar.

Naren meletakkan tubuhku dengan pelan  ke atas bed. Lalu dia mengusap sisa air mata di sudut mataku.

"Aku minta maaf." Kubiarkan saat dia melabuhkan kecupan di keningku.
Jarak kami yang dekat seperti ini menyadarkanku  bahwa kenyataannya memang aku sangat merindukan kehadirannya.

Aku memejamkan mata, sedetik kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Sudah sangat lama. Jadi rasanya bagiku seperti  baru mendapat ciuman pertama. Mendebarkan dan menghanyutkan.

BERSAMBUNG
Penerimaannya pada sentuhanku seolah menjadi jawaban. Aku yakin, seyakin-yakinnya perasaannya masih ada untukku.
Tatapan matanya yang berubah sendu. Gerakan bibirnya yang seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak kunjung kudengar juga.

Ini gila. Tapi aku benar-benar merindukannya. Aku terus memagutnya mencurahkan segenap rinduku yang membuncah. Sesekali aku mengurai, tapi kemudian aku mencecap bibirnya kembali tanpa henti. Hingga sampai detik ini, Kanya masih saja candu buatku.

"Kanya... "

Sial! Kenapa suaraku terdengar serak seperti ini? 

Mata beningnya menatapku, seakan menungguku mengatakan sesuatu.

"Kanya, apa aku boleh..."

Di luar dugaanku, Kanya membungkamku dengan bibirnya. Kenapa aku malah dibuat mabuk seperti ini?

Tanpa pikir panjang lagi, aku membalasnya. Kali ini lebih bersemangat dari sebelumnya. Bahkan saat tanganku membuka satu kancing kemejanya dia tidak mempermasalahkannya. Dan berengseknya aku, sebuah lolosan desahan Kanya membuat akal sehatku hilang saat aku bermain pada leher jenjangnya.



Saturday, April 18, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 13


Kenan langsung saja berlalu ke belakang begitu aku membuka pintu, membuat Naren melengos. Aku bisa menebak wajah geram setengah mati yang Naren coba tahan. Aku tidak peduli sih. Aku hendak menyusul Kenan ke belakang saat Naren bersuara.

"Apa dia seperti itu kalo ke sini?"

"Maksudmu? Kenan?"

"Ya, dia bertingkah seolah dia tuan rumahnya saja."

"Nggak usah dipermasalahkan itu udah biasa. Dia cuma mau mengambil peralatan pendakian."

"Kamu mau mendaki?"

"Bukan aku, Kenan."

"Kanya! Semuanya masih oke kan?!" teriak Kenan dari arah dalam.

"Sepertinya aku harus ke sana."

"Aku ikut."

Naren mengekor di belakangku. Dia sudah seperti pengawal saja. Padahal ini rumahku sendiri. Dan orang yang dia khawatirkan hanya Kenan. Selama dia tidak ada, Kenan telah menjadi teman yang baik buatku.

Aku baru akan melihatnya ke kamar tamu saat Kenan sudah menyeret sebuah ransel gunung kebanggaanku. Sudah hampir satu tahun aku tidak ikut rombongan mendaki. Alasannya tentu saja karena pekerjaan. 
Nyaris semua pekerjaan yang aku tangani memintaku agar bekerja lebih cepat. Syukur-syukur Tata masih ingat memberiku libur di hari sabtu-minggu. Kalau tidak, aku akan terpenjara dalam studionya setiap hari.

"Aku tau kamu nggak akan ikut pendakian lagi. Jadi aku nggak perlu repot membawa peralatan pendakiku. Semua masih oke 'kan?" tanya Kenan lagi.

"Semua benda-benda yang aku sayangi akan selalu oke. Kamu nggak perlu meragukan itu."

"Aku tau itu."

"Jadi kapan lo mau mendaki?" itu Naren yang bertanya. Dari tadi dia hanya melihat bagaimana Kenan menata ulang kembali barang-barang yang dia pinjam dariku.

"Lusa. Kenapa? Lo tertarik ikutan?"

"Gue bukan orang gunung. Jadi ya, maaf saja."

"Beda lagi kalo Kanya ikut. Lo pasti akan mendadak berubah jadi orang gunung."

Naren mendengus. Dia terlihat tidak menyukai apa yang Kenan katakan. Setelah beres dengan semuanya,  Kenan membawa ransel itu ke pundaknya untuk digendong.

"Kanya, aku pergi dulu ya. Masih ada keperluan lain yang harus aku beli. Tadinya aku mau ngajak kamu. Berhubung sekarang kamu ada tamu ya terpaksa aku pergi sendiri."

"Kamu yakin nggak mau aku temeni?" tanyaku membuat Naren di sampingku berdecak.

"Dia sudah dewasa Kanya. Timbang gitu doang masa minta temen."

Kenan tertawa, apa ada yang lucu dari ucapan Naren tadi?

"Lo masih sama aja kaya dulu. Posesif, padahal lo bukan siapa-siapa Kanya lagi."

Aku melirik Naren sekilas. Dia mengarahkan tatapan membunuh ke wajah Kenan yang masih saja tetap santai. Entah sejak kapan Kenan punya hobi memancing emosi orang. Dulu yang sering melakukan itu Ramon. Anak itu suka mencari perkara dengan Naren. Ah, mengingat Ramon aku jadi teringat Alisya.

"Ya udah aku cabut yah." 

Kenan melangkah keluar rumah diikuti aku dan Naren. Aku sangat iri saat Kenan menyimpan ransel pendakian itu di tempat duduk bagian belakang mobilnya. Iri sekali,  karena sebenarnya aku sangat rindu mendaki. 

Kenan memundurkan mobil lantas mulai berbelok meninggalkan latar rumah kontrakanku. 

Kini yang ada hanya aku dan Naren. Mendadak suasana hening. Naren memutar badan ke arah ku, menatapku lurus. Hari menjelang senja. Semburat cahaya jingga menerpa wajahnya, semilir angin berhembus mengibarkan helaian rambutnya yang hitam. Melihatnya di hadapanku sekarang seperti oase di musim kemarau panjang.

"Kanya," suara beratnya menyebut namaku. Ada getar aneh yang menyelinap pelan di relung dadaku. Aku bisa melihat dengan jelas tatapan teduhnya. Tatapan penuh harapan dan cinta yang hampir lima tahun tidak pernah aku lihat lagi.

"Apa kamu mau ikut denganku? Ada, sesuatu yang ingin aku tunjukkan."

Aku belum bereaksi apapun saat tiba-tiba saja gerakkan tangan Naren membuatku menahan napas. Dia menyelipkan anak rambutku yang menjuntai ke balik telingaku.  Kakiku melangkah mundur,  aku tidak mau ambil resiko Naren menangkap kegugupanku.

***

Naren mengajakku ke salah satu  residen hotel termewah di Surabaya. Sebenarnya ada tanda tanya besar di kepalaku. Mau apa dia mengajakku ke sini? Apa selama di Surabaya dia menginap di salah satu kamar hotel ini? Atau dia berniat mengajakku makan malam di restoran mewah yang ada di sini? Bukannya apa, dulu Naren sering melakukan itu. Tempat-tempat yang sering dia kunjungi semua berkelas 'wah'  menurutku.

Aku masih belum bersuara saat Naren menghampiri salah satu resepsionis cantik yang ada di front lobbi hotel. Aku memang sudah dua tahun di sini,  tapi belum sekali pun datang ke hotel ini. Dan penampakkan dari depannya saja sudah sangat membuatku berdecak kagum. Mengusung gaya arsitektur jawa tapi kesan modern tidak ketinggalan. Aku lebih memilih duduk di salah satu sofa, yang berjejer rapi di area lobbi. Membiarkan Naren yang terlihat berbicara serius dengan resepsionis itu. Menikmati view dari sini lumayan bisa memanjakan mata.

"Kanya, ayo ikut aku. Sebelum kita ke restoran aku mau kamu melihat-lihat sekeliling hotel ini."

"Tapi kenapa?"

Naren hanya tersenyum, lalu gestur tubuhnya mengajakku untuk segera bangkit mengikutinya.

Naren mengajakku berkeliling area outdoor hotel. Lampu-lampu terpancar indah di sepanjang jalan kami menyusuri tiap jengkal pelataran hotel yang sangat asri.

"Sebagian besar baru selesei renovasi. Biasanya aku sebulan sekali meninjau. Karena di Jakarta sudah ada Arsen,  aku bisa leluasa pergi ke sini untuk beberapa lama. Dan bisa jadi mungkin aku akan di sini seterusnya."

"Maksud kamu apa?"

"Sudah hampir satu tahun  residen hotel ini diambil alih oleh papa."

Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikan tadi. Apa namanya juga sama dengan nama hotel-hotel milik keluarga Naren lainnya?

"Tidak mudah untuk penggantian nama, tapi kasusnya sudah terselesaikan sih. Jadi, sebentar lagi nama barunya akan segera di pasang," terang Naren kembali.

Selain apartemen, keluarga Naren juga memiliki bisnis perhotelan. Aku tahu, Mas Bagas dulu yang pegang proyek pembangunannya di Bandung dan Cirebon. Tapi rasanya janggal, jika Naren hanya mau mengurus hotel ini,  karena jelas dibandingkan yang ada di Jakarta,  ini belum ada apa-apanya.

"Apa yang membuatmu tetap di sini? Aku tau hotel dan apartemen keluarga kamu berpusat di Jakarta. Sebagai anak pertama,  bukannya seharusnya kamu yang mengelola di sana?"

"Aku atau Arsen itu sama aja Kanya. Tidak ada anak pertama atau kedua. Dan lagi pula, ada alasan kuat kenapa aku memutuskan untuk mengelola hotel ini secara langsung."

Aku mengerutkan kening. Alasan kuat? Aku tidak mau berpikir macam-macam. Tapi saat ini tatapan Naren menghunus sempurna ke manik mataku dengan senyum yang sedikit mencurigakan.

"Alasanku adalah kamu, Kanya."

Aku ingin sekali terkejut. Tapi nyatanya tidak. Karena alasan Naren sama seperti yang aku pikir. Aku menghembuskan napas panjang.

"Naren dengar..." langkah kami terhenti tepat di tepi kolam renang. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pegawai hotel dan mungkin beberapa tamu yang hilir mudik.

"Tolong jangan libatkan aku dalam hal ini. Keluargamu lebih membutuhkan tenaga dan pikiran kamu. Nggak ada yang lebih penting dari itu. Kalo kamu memang tetap ingin di sini,  tolong kamu cari alasan lain yang lebih kuat. Yang jelas alasan itu bukan karena aku."

"Kanya, kamu itu penting buat aku. Aku beneran nggak paham akan situasi ini bahkan lima tahun yang lalu. Kamu ninggalin aku, Kanya. Padahal kamu tau, aku sangat mencintai kamu."

Harusnya aku lega mendengar ini. Tapi entah kenapa dadaku malah memanas. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat bagaimana cara dia membuatku kecewa.

"Tidak ada pengkhianatan dalam cinta, Naren." Aku berusaha tetap menjaga intonasi suaraku agar tidak meninggi.

"Aku bahkan sudah minta maaf untuk hal itu. Apa kamu nggak bisa lupain itu dan membuka lembaran baru bersamaku?"

Tidak semudah itu. Aku perlu waktu lama untuk menyembuhkan lukaku sendiri. 
Menerimanya kembali artinya aku membenarkan apa yang dia lakukan dulu.  Meskipun aku akui perasaan sentimentil ini masih ada, aku tidak semudah itu kembali padanya.  Ada banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan.

"Aku nggak bisa."

"Kanya, sekali lagi aku minta maaf." Tatapan mata Naren berubah sendu. Aku membenci ini.

"Dengan wanita manapun aku tidak pernah seperti ini,  termasuk mamaku sendiri. Tapi demi memintamu untuk kembali padaku, aku nggak peduli biarpun aku harus terlihat bodoh di mata orang lain."

Apa-apaan ini? Tindakan Narena sudah diluar perkiraanku. Dia berhasil membuatku terkejut dan malu secara bersamaan.

Naren menjatuhkan kedua lututnya tepat di depan kakiku. Aku kontan mundur, apa yang ada dalam pikiran laki-laki ini?

"Kanya, aku mohon terimalah aku kembali menjadi bagian hidup kamu."

"Naren, hentikan," desisku panik. Orang-orang mulai memperhatikan kami. Astaga! Laki-laki ini benar-benar keras kepala.

"Aku akan berhenti saat kamu mau menerimaku kembali."

"Aku nggak bisa Naren."


Tangan Naren bergerak meraih kakiku, namun aku bisa menghindarinya secepat mungkin. Meskipun akhirnya aku kehilangan keseimbangan karena gerakan tiba-tiba yang aku lakukan. Bodohnya aku,  yang tidak ingat tepat di belakangku itu kolam renang. Ya! Tubuhku sukses basah kuyup karena terjebur ke dalam air kolam. Sial. Ini gara-gara kekonyolan manusia bebal itu.

BERSAMBUNG




Rasanya tidak tahan melihat keakraban Kanya dengan Kenan. Bagaimana tidak? Laki-laki itu dengan bebas memasuki wilayah pribadi Kanya
Aku tidak menyangka saja. Selama aku tidak ada di siai gadis itu, posisiku seolah tergantikan dengan kehadiran Kenan. 

Apapun caranya, aku harus bisa membuat Kanya menerimaku kembali. Bahkan berlutut di depannya sekali pun. Seperti yang aku lakukan sekarang. Tapi sialnya, adegan drama yang aku buat kacau seketika saat tubuh Kanya malah terjatuh ke dalam kolam yang berada tepat di belakangnya.

Kemampuan renang Kanya tidak bisa aku ragukan lagi. Tapi entah kenapa aku tetap saja menceburkan diri, menolongnya. Ah ini bukan menolong. Tapi menyusul masuk ke dalam air. Lihat, dia bisa menepi dengan sendirinya.

"Dasar bodoh!" umpatnya saat berhasil naik ke permukaan kolam.
Dia menatapku garang. Aku sangat rindu tatapan galaknya itu. Tak pelak itu membuatku malah tersenyum.

"Apa yang sebenarnya ada di otakmu itu, heh?!"

"Kamu."

"Berhenti bercandan, Naren. Itu nggak lucu!"

"Siapa bilang lucu? Aku serius."

Dia menatapku kesal. Malah sepertinya berkali-kali lipat kesalnya. Di saat seperti ini, mata jalangku langsung peka. Melihat tubuh Kanya basah kuyup seperti itu membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas. Sial! Aku menelan ludah dibuatnya.

Cepat-cepat aku mengedarkan pandangan. Untungnya ada pegawai hotel yang sigap mengantarkan handuk untuk kami.

Aku segera mengambil handuk itu dan menutup badan Kanya yang kuyup dengan handuk itu. Sumpah, tadi itu membuat naluri kelakianku berdesir. Terlebih karena wanita di depanku itu adalah Kanya.

"Kita harus ganti pakaian. Kalo nggak nanti masuk angin."

Kanya melirikku, "kamu pikir aku siaga bakal basah kaya gini?"

Aku bangkit, dan mengulurkan tangan membantunya berdiri.

"Ayo ke kamarku dulu. Nanti aku suruh pegawai hotel melaundry pakaianmu secepatnya."

Kanya terlihat ragu,  namun akhirnya dia mengalah dan meraih uluran tanganku. 


Friday, April 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F Riyadi 

BAGIAN 12


Aku masih terpaku di tempat. M-E-N-I-K-A-H. Menikah?  Aku tidak salah dengarkan? Atau mungkin sebenarnya aku sedang tidur lalu bermimpi yang aneh seperti ini. Naren mengajakku menikah? Yang benar saja.

"Kanya."

Tapi melihat dia memanggil namaku denga menggoyangkan tanganya yang masih tertaut di tanganku, membuatku sadar kalau ini bukan mimpi atau halusinasiku saja. Buru-buru aku melepas tanganku.

"Naren, kayaknya kamu lagi terserang kantuk parah. Mending sekarang kamu pulang aja."

Matanya mengerjap pelan. "kantuk parah apa? Mataku masih seger gini. Atau kamu mungkin yang ngantuk?"

"Ah ya! Aku yang ngantuk. Jadi sekarang kamu pulang oke?"

Dia menggeleng tapi lantas berdiri. Itu membuat aku bernapas lega. Dia menatapku sekali lagi. 

"Kanya yang aku katakan tadi itu benar,  aku ingin kita menikah."

Aku menelan ludahku dengan susah payah.
 
"Dari dulu sampe sekarang cuma kamu satu-satunya wanita yang mau aku nikahi."

Sengatan kecil menyerangku kembali. Itu hanya sebuah ucapan Kanya. Tidak seharusnya kamu jadi salah tingkah seperti ini. Lagi pula,  aku harus ingat Naren pernah mengkhianatiku.

Aku memalingkan wajah. Ternyata luka itu masih saja bersisa. Dan kadang perasaan seperti ini lah yang membuatku merasa akan lebih baik kalau Naren menjauh saja.

"Aku ngantuk."

Sekarang aku benar-benar tidak ingin melanjutkan percakapan ini.

"Baiklah. Aku pulang. Kamu pergi tidur saja."

Naren beranjak, tangannya terulur hampir menyentuh kepalaku. Namun, dia menariknya kembali.

"Selamat malam."

Dan aku masih saja terpaku di sini saat derum mobilnya pergi meninggalkan pelataran rumahku. Rasanya ada yang salah. Kenapa aku malah menyuruhnya pulang? Harusnya aku ajak saja dia bicara dan menolak ajakkan menikahnya, dengan begitu dia tidak akan repot-repot lagi menemuiku karena sudah aku tolak.
Iya, harusnya seperti itu.

Apa motivku membiarkan tanyanya menggantung? Bahkan untuk menikah saja tidak ada dalam daftar rencanaku. Jika Naren bertanya kembali bagaimana?

***

Wanita di depanku memandangku intens.  Selama mengenalnya baru kali pertama  aku dibuat serisih ini. Apa yang dia pikirkan dengan menatapku seperti itu?

"Aku nggak nyangka ternyata wanita yang sangat Naren puja adalah kamu."

Nadine tertawa getir saat mengatakan itu. Aku sudah mengecewakannya.

"Mbak aku benar-benar nggak tau kalo laki-laki yang kamu maksud adalah dia. Tapi Mbak,  aku sama dia udah lama berakhir."

Nadine menggeleng pelan. "Naren tidak berpikir begitu. Mungkin jarak memisahkan kalian. Tapi sedikit pun dia nggak pernah menghilangkan kamu dari ingatannya. Aku hanya salah seorang saja yang kebetulan belum menyerah untuk bisa bersamanya walaupun sebatas teman. Banyak wanita lain yang menjauh perlahan saat Naren dengan terang-terangan menolaknya."

Itu tidak mungkin. Nadine hanya tidak tahu saja pernah ada wanita lain yang mengisi hati Naren. Namun anehnya aku nggak tahu keberadaannya sekarang.

"Ah! Ada satu lagi."

Mataku sontak memandangnya. Satu lagi?

"Wanita yang aku kenal sangat gigih meminta Naren jadi pacarnya. Tapi dia sudah meninggal dua tahun lalu karena maag akut yang dia derita."

Keningku berkerut halus.

"Namanya Alisya, dia juga kuliah di Harvard bersama kami. Aku mengenalnya di sana."

Mataku melebar kaget. Alisya? Sudah meninggal? Aku tahu dia penyebab hubunganku dengan Naren retak. Tapi mendengar dia sudah meninggal sedikit membuatku pilu. Dia masih sangat muda.

"Apa kamu mengenalnya?"

"Iya. Bukannya dia itu memang sudah berpacaran dengan Naren?"

"Setahuku sih nggak. Tapi perjuangannya mendapatkan Naren aku akui luar biasa. Sayangnya, Naren sama sekali nggak tersentuh. Padahal dia sangat cantikkan?"

Aku menarik gelas panjang mendekat. Mengaduk isinya sebelum memyeruput pelan. Naren tidak pernah berpacaran lagi setelah putus denganku. Apa aku harus bahagia mendengar kabar ini?

Tanganku bergerak gelisah. Awalnya aku pikir pertemuanku dengan Nadine akan membahas soal pekerjaan, tidak tahunya dia penasaran dengan masa lalu Naren, aku.

"Apa kamu masih mencintai Naren?" Nadine bertanya dengan nada pelan. Terkesan hati-hati.

Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku kembali menyeruput minumanku. Aku harus menjawab apa? Dari tatapan matanya aku tahu Nadine ingin jawaban yang membuat hatinya lega. Dia mencintai Naren. Tidak mungkin aku menjawab hal yang akan menyakiti hatinya. Sebisa mungkin aku harus menjaga perasaan nya. 

Tapi hey, hatiku sendiri menanyakan hal serupa dengan yang Nadine tanyakan. Apa aku masih mencintai laki-laki itu?

"Naren  masa laluku Mbak," jawabku akhirnya.

"Lalu? Apa itu menutup kemungkinan kamu masih tetap mencintainya?"

"Aku rasa perasaan itu udah nggak ada."
Entah mengapa hatiku berat mengatakan itu.

"Apa kamu yakin? Seandainya Naren minta balikkan sama kamu,  apa kamu akan menolaknya?"

Aku semakin tidak nyaman. Nadine seolah menekanku dengan pertanyaan itu. Namun tak urung itu membuatku mengangguk pelan.

"Kenapa? Apa karena Kenan?"

"Kenan? Ah nggak. Kenan teman saja."

"Tapi yang aku liat dia nggak menganggapmu begitu."

Sebenarnya aku tidak terlalu suka berbagi privasiku pada orang lain. Jujur aku merasa risih dengan segala pertanyaan yang Nadine lempar. Mungkin aku tidak perlu memberitahu apapun tentang Kenan.

Aku bernapas lega saat dering ponsel menyela obrolan kami.

"Mbak, maaf aku angkat ini dulu ya."

Nadine mengangguk. Aku segera menyingkir dari hadapannya. Panggilan dari Kenan.

"Ya halo?"

"Kamu dimana? Rumah sepi."

"Oh aku lagi sama Nadine di luar. Ini aku mau pulang. Mau nunggu?"

"Baiklah. Nggak pake lama loh."

"Aku usahakan."

Begitu sambungan terputus aku kembali ke meja.

"Mbak, maaf.  Aku kayaknya harus segera balik. Kenan udah nungguin."

"Oh,oke. Kalo gitu kita nanti ngobrol lagi."

"Minumannya bi--"

"Biar aku yang bayar. Kan aku yang ajak kamu."

"Terima kasih ya Mbak. Kalo, gitu aku pamit  ya."

Aku buru-buru keluar dari cafe begitu Nadine mengangguk. Sedikit merasa lega karena bisa lolos dari segala pertanyaan Nadine yang bisa jadi tidak akan berhenti jika aku tidak pergi.

Aku langsung pulang ke rumah,  dan menemukan Kenan sedang duduk di teras. Aku pikir dia sendiri saja, tapi aku salah. Selain dia, mataku menangkap sosok Naren di sana.

Mataku terpejam. Ini tidak akan baik. Aku pikir selepas dari Nadine, aku bisa bernapas sedikit lega. Tapi nyatanya? Ini jauh lebih sulit. Menghadapi mereka berdua itu sangat melelahkan. Apa aku kabur saja sebelum mereka menyadari keberadaanku? Ah iya,  aku rasa itu ide terbaik.

Baru saja aku memutar badan suara seseorang yang sangat familiar berseru memanggilku. Suara pemilik rumah. Gagal sudah rencanaku.

Aku nyengir mendapati wanita bertubuh tambun yang kini berada di hadapanku.

"Mbak Kanya mau kemana? Itu loh ditungguin sama dua laki-laki ganteng. Luar biasa sekali mereka. Kenal dimana sih Mbak? Apalagi yang pake topi itu Mbak, waduh cakepnya ngalahin artis luar negeri."

Aku meringis. Yang dimaksud adalah Naren.

"Mereka teman-temanku dari jakarta Bu."

"Owalah, pantes saja gayanya keren begitu."

Apanya yang keren. Perasaan mereka biasa-biasa aja.

"Yo wes sana,  jangan bikin mereka lama menunggu loh Mbak.  Sayang kalo dianggurin. Saya pamit dulu ya."

Aku mengangguk. Lantas beralih menoleh pada kedua sosok manusia yang sekarang tengah memandangiku heran.

BERSAMBUNG



Harus sekali ya aku bertemu dengannya di sini? Di rumah kontrakan Kanya.  Dia benar-benar ancaman buatku. Untuk apa dia datang kalau tidak untuk mendekati Kanya? Jangan harap keinginannya bisa terwujud selama aku masih hidup.

Aku menatap kesal pada sosok laki-laki yang sedang duduk di teras depan rumah ini. Dia tersenyum sok ramah seperti biasanya.

"Gue pikir lo udah balik ke Jakarta?" tanyanya begitu aku keluar dari mobil.

"Kenapa? Ngarep banget gue cepet balik."

Dia tertawa sok akrab. "Nggak juga sih. Kali aja Kanya malah seneng ketemu lo lagi."

Seneng? Kalau memang iya, tidak mungkin Kanya masih menjaga jarak denganku. Dan itu aku yakin salah satu alasannya karena manusia satu ini.

"Kanya nggak ada?"

"Seperti yang lo liat. Nih gue lagi nunggu dia balik."

Aku sebenarnya males berlama-lama karena ada dia. Tapi aku juga tak sudi membiarkan Kanya berdua saja dengannya nanti.

Sampai aku mendengar seseorang yang memanggil nama Kanya, aku menoleh. Aku melihat seorang ibu sedang berbicara dengan Kanya. Aku tidak mendengar 
jelas mereka membicarakan apa. Tapi raut Kanya seperti merasa tidak nyaman dibuatnya. 

Setelah ibu itu berlalu,  Kanya berjalan pelan mendekat. Ada senyum yang terkesan dia paksa.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.

"Memangnya aku kenapa?"

"Aku kira kamu bermasalah dengan ibu tadi."

"Nggak ada."

"Nadine nggak kamu ajak ke sini?" suara Kenan membuatku menoleh. Maksudnya apa?

"Kamu habis bertemu Nadine?"

Kanya tidak menjawab pertanyaanku. Muka enggannya nampak jelas terlihat. Dia lebih memilih bergerak menuju pintu rumahnya.

Perasaanku mengatakan telah terjadi sesuatu. Setelah kejadian di restoran tempo hari,  aku tidak yakin jika Nadine bertemu dengan Kanya hanya membahas soal pekerjaan. Nadine itu tipe wanita yang serba ingin tahu. Semoga saja Nadine tidak berbuat sesuatu yang membuat Kanya merasa tidak nyaman. Apalagi sampai membuat Kanya ilfil padaku.

Saturday, April 4, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa


By. Yuli F Riyadi 

BAGIAN 11


Aku menggeram kesal. Saat sepanjang perjalanan naik taksi tadi aku terus diam. Kenan menoleh melihat tingkahku. Merasa ada yang tidak beres, dia mendekat.

"Ada apa?" tanyanya.

"Menurutmu?"

"Aku sih biasa aja. Tapi kenapa kamu mencak-mencak? Kamu marah?"

"Kenan please deh,  jangan ngomong kayak gitu lagi di depan dia."

Kenan malah tertawa.  "Si Prince Charming itu ternyata belum bisa move on dari kamu,  kalian sama saja."

"Apa?"

"Nggak usah menyangkal Kanya. Kamu tanya sama hatimu sendiri. Setelah kalian dipertemukan lagi, gimana perasaanmu? Bahagia atau sedih?"

Aku diam. Tidak ada kewajibanku untuk menjawab. Aku lebih memilih pergi ke dapur menyeduh kopi.

"Kamu mau kopi?" tanyaku pada Kenan yang mengikutiku ke dapur.

"Sebaiknya kamu kurangi kopi. Sejak kapan sih kamu suka ngopi?"

"Nggak tau. Aku lupa."

Sejak putus dari Naren,  aku jadi menggilai minuman ini. Padahal Naren paling anti minum kopi. Segala yang Naren tidak suka malah membuatku tertantang untuk mencobanya. Jika aku melakukan hal yang dia, suka lantas mengingatnya itu wajar. Padahal aku melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang disukainya tetap saja itu tidak membuatku terus lupa. Menyebalkan.

"Aku agak sedikit kecewa sih melihat dia hadir di hidupmu lagi."

Gerakkanku mengaduk bubuk pembawa aroma wangi itu terhenti.

"Entahlah aku merasa kamu akan jauh lagi dariku. Kacau sekali aku ini,  udah ditolak, masih nggak tau diri." Kenan tertawa sumbang.

"Dia memang kembali,  tapi bukan berarti aku akan bersamanya lagi. Hubunganku dengannya udah lama berakhir."

"Kalo kamu memang sudah nggak ada rasa. Mungkin kamu akan lebih mudah membuka hati. Tapi nyatanya?"

Aku tertegun. Meskipun tidak ingin, aku akui perasaanku pada Naren yang entah sekarang disebut apa, seperti mengakar jauh ke dalam lubuk hatiku. Tapi dulu itu, rasa sakit karena merasa dipermainkan mengalahkan segala rasa simpati yang aku punya. Dia berhasil meluluhlantakkan segalanya. Dan aku harus jatuh lagi ke lubang yang sama? Rasanya itu bodoh sekali.

Kenan salah,  aku menutup hatiku bukan karena aku masih mencintai Naren. Tapi lebih pada menjaga diriku sendiri agar tidak lagi terluka. Itu saja. Mungkin suatu saat aku akan punya kesiapan menghadapi sebuah perasaan sensitif yang seperti itu lagi.

***
Aku baru saja akan menutup mata saat ponselku berdering. Dengan gerakan malas aku mengambil benda itu di atas nakas. Sejenak aku melihat layarnya,  keningku berkerut, nomor tidak dikenal. Aku biarkan saja hingga dering itu mati sendiri.  Saat ternyata ponselku kembali berdering aku menutupnya dengan bantal.

Aku tersenyum, dering itu terhenti. Aku mengambil kembali ponselku. Tapi tak berapa lama notif Wa muncul.

Kanya, kenapa kamu nggak angkat telponku?

Aku melihat gambar profilnya. Astaga ternyata tadi itu Naren. Bagai tersengat arus listrik, dadaku bergetar. Dan ini kenapa? Jantungku ...  Deg-degan? Aku tidak menyukai ini. Selang beberapa detik, ponselku berdering kembali. Dan bodohnya aku malah bingung sendiri,  antara mau diangkat atau tidak.

Aku menarik napas panjang. Lalu mengeluarkannya pelan. Jariku menggeser ikon berwarna hijau di layar itu.

"Ha-halo?"

Apaan sih aku? Kenapa aku gemetaran seperti ini?

"Kanya..." ponselku kembali menangkap suaranya. Sudah lama sekali rasanya.

"Iya."

"Maaf, apa kamu sudah tidur?" tanyanya.

"Aku... aku sedang membaca buku."

Bah! Kebohongan apalagi yang aku buat. Dan untuk apa aku berbohong? Aku menggigit bibir bawahku.

"Kanya, aku minta maaf."

"Udah berapa kali kamu mengatakan itu? Memangnya, kamu nggak bosan."

"Aku nggak akan pernah bosan. Apalagi itu menyangkut soal kamu."

"Naren aku..."

"Boleh kita bertemu?"

"Apa? Ka-kapan?"

"Sekarang."

"Apa?"

"Aku akan menemuimu sekarang. Aku harap kamu belum tidur."

"Tapi Naren ini sudah ma--"

Sambungan terputus. Aku menatap layar ponselku tak percaya. Naren seenak jidatnya mematikan ponsel padahal aku belum selesai bicara. Aku menengadah, lalu mengusap wajah. Merutuki diri sendiri yang sempat salah tingkah hanya gara-gara laki-laki itu menelepon. Itu benar-benar menggelikan.

Namun tak berapa lama aku tertegun. Saat sebuah suara mobil terdengar dari luar. Mataku membeliak, segera kusingkap selimut dan menuju ke jendela kamar. Aku mengintip dari balik tirai. Dan mendapati mobil Naren sudah terparkir tidak jauh dari rumah.

Laki-laki itu beneran datang? Mau apa? Malam-malam begini. Dasar keras kepala. Aku meraih cardigan panjangku saat suara ketukan dari luar terdengar.

Aku menarik napas panjang sebelum keluar kamar. Dadaku bergemuruh seiring kakiku yang melangkah mendekati pintu ruang tamu. Aku membuka kuncinya dan menguak pintu pelan.

Naren dengan senyum manisnya berdiri tepat di hadapanku. Untuk pertama kalinya kakiku merasa lemas berhadapan dengannya. Tanganku masih berpegangan erat pada engsel pintu. Setidaknya ini bisa aku jadikan sandaran agar tubuhku tidak ambruk ke lantai.

"Aku boleh masuk?" tanyanya. Tidak aku jawab,  namun gerakan tanganku yang membuka lebar pintu memberinya jalan untuk masuk.

"Kamu mau apa ke sini? Ini sudah malam."

"Aku kangen sama kamu."

Mataku melebar.  Jika itu diucapkan saat aku dengannya masih bersama reaksiku mungkin tidak akan seperti ini.

Aku tahu Naren itu orang yang blak-blakan. Ucapan manisnya hampir membuatku bosan dulu. Tapi yang aku dengar sekarang membuatku merasa... entahlah aku bingung. Yang jelas keadaan jantungku di dalam sana terasa mencemaskan.

"Jadi bener kamu sendirian di sini?" tanya Naren lagi kali ini tangannya bergerak menutup pintu.

"Ke-kenapa pintunya ditutup?"

"Diluar banyak angin. Nggak baik."

Naren mengucapkan itu dengan nada biasa-biasa saja namun itu sanggup membuat jantungku yang dari tadi sudah bekerja cukup keras karena kehadirannya,  kini tambah  berdegup semakin keras.

Aku masih terpaku di samping pintu yang tadi Naren tutup. Pandangan kami sesaat bertemu. Sebisa mungkin aku menutupi rasa gugupku.

"Ka-kamu mau minum sesuatu?"

Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari mulutku. Aku harus segera menghindar darinya.

Naren menghela napas. Dia kemudian duduk di satu-satunya sofa ruang tamuku.
"Apa saja,  aku lagi nggak ingin minum sih."

"Jadi?"

"Jadi ya cukup kamu aja duduk di sini nemenin aku." Dia menepuk sofa sebelah kanannya.

Aku melotot. "Mending kamu pulang aja deh. Ini udah malam aku ngantuk."

"Mood kamu masih sama kaya dulu cepet berubah."

"Maksudnya kalo emang nggak ada yang penting-penting banget kamu pulang aja."

"Kangen sama kamu itu penting loh. Dan kalo nggak segera ditangani bisa gawat."

Aku memutar bola mataku. Garing sekali.

"Kenan,  sering ke sini?" tanyanya.

"Kalo dia lagi di Surabaya sering."

"Sekarang dia ada di Surabaya berarti dia akan sering datang ke sini. Itu nggak bagus Kanya."

"Apanya yang nggak bagus? Dia ke Surabaya karena ada seminar di ITS."

"Oya?"

"Dia jelas ada tujuannya. Yang nggaj jelas itu kamu."

"Aku nggak jelas? Aku ke sini memang ada perjalanan bisnis. Meninjau proyek hotel yang lagi dibangun. Dan tujuanku semakin jelas setelah bertemu kamu lagi."

Alisku menukik. Tidak mengerti maksudnya apa. Tapi lantas Naren melebarkan bibirnya, tangannya menjangkau tanganku yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

"Kanya, bagaimana kalo kita menikah saja?"

BERSAMBUNG


Aku tidak menyukai ini. Kenan juga berada di sini. Itu artinya dia pasti akan sering mengunjungi Kanya.

Jadwal awalku di Surabaya hanya sekitar seminggu. Tapi bertemu Kanya kembali rasanya aku enggan cepat-cepat untuk pulang ke Jakarta.

Apalagi setelah laki-laki itu, aku ketahui semakin akrab dengan Kanya. Ini tidak bisa dibiarkan. Selama dia masih di sini,  kemungkinan aku akan tetap bertahan sementara waktu.

Dan tentu saja momen ini akan aku buat semaksimal mungkin untuk mendekati gula jawaku kembali.

Malam ini aku datang ke rumahnya. Sudah hampir pukul sepuluh malam saat aku mengetuk pintu. Tapi Kanya untungnya mau membuka. Aku tahu dia pasti tengah bersiap tidur. Tapi mendengar suaranya saja ditelepon tadi rasanya tidak cukup buatku.

Melihatnya hanya mengenakan baju tidur dan rambut yang dicepol asal-asalan saja dia masih bisa membuatku terpesona. Wajah polos tanpa make up itu membuatku tidak bisa menahan rindu. Mati-matian aku menahan untuk tidak memeluknya.

Aku bisa merasakan kegugupan pada wajahnya. Dan aku suka melihat dia bertingkah seperti itu.  Seolah memberiku sepercik harapan untuk bisa kembali padanya. Aku tidak cukup yakin sih, tapi seperti biasa aku bisa dibilang nekat saat tiba-tiba mengajaknya menikah.

Aku bisa melihat ekspresi Kanya yang agak sedikit terperangah mendengar permintaanku. Tapi untuk ini aku benar-benar serius mengatakannya. Lima tahun berpisah dengannya itu petaka buatku. Kehilangan dia lagi setelah menemukannya, tidak ada dalam impianku sama sekali.

Saturday, March 28, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F Riyadi 

BAGIAN 10



Naren benar-benar ikut menjemput Kenan. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah kontrakanku sejak pukul lima pagi. Terlalu niat. Aku baru selesai sholat shubuh saat membukakan pintu untuknya.
Pukul setengah tujuh, aku dan Naren sudah sampai di Bandara Juanda.

"Apa dia menginap di rumahmu kalo ke Surabaya?" tanya Naren tiba-tiba membuatku menoleh.

"Aku nggak segila itu ngasih ijin laki-laki menginap di rumah orang."

"Syukurlah. Mau aku carikan sarapan?"

"Aku menunggu Kenan saja."

"Masih jam tujuh,  memangnya kamu nggak laper?"

"Aku biasa makan pagi jam delapan."

"Baiklah. Tapi harusnya kamu nggak perlu repot seperti ini sih. Kamu bisa saja menyuruhku menjemput Kenan. Kamunya di rumah aja."

Aku berdecak sebal. Mulut Naren tidak mau diam. 

"Kamu jangan bertingkah aneh kalo bertemu Kenan."

"Memangnya apa yang aku lakukan?"

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Aku bahkan biasa menjemput Kenan sendiri saat dia ke sini."

"Oya? Aku pastikan itu nggak akan pernah terjadi lagi."

Aku menggeleng. Manusia aneh ini, selalu berbuat seenaknya.

"Nadine."

"Kenapa dengan Nadine?"

"Sudah berapa lama kamu kenal dengannya?"

"Setahun belakangan."

"Nadine nggak pernah cerita."

"Untuk apa juga dia cerita. Nadine itu...."
Aku menggantungkan kalimatku. Etis tidak ya kalau aku menanyakan tentang perasaan Naren pada Nadine.

"Ya?"

"Nggak,  nggak apa-apa." Aku mengalihkan pandangan. Naren tidak boleh berpikir macam-macam. Setidaknya dia tidak boleh tahu jika sesuatu di dalam sana sedikit menggangguku saat tahu jika laki-laki yang Nadine suka adalah dia.

"Aku kenal Nadine saat di Cambridge. Karena kami sama-sama mahasiswa Indonesia, jadi kami akrab."

Tanpa aku minta, Naren menjelaskan. Mereka akrab dan wajar kalau Nadine akhirnya bisa menyukai Naren. 

Pemberitahuan mendaratnya pesawat dari Jakarta terdengar. Mungkin salah satu penumpangnya Kenan. Semoga saja Kenan tidak terkejut dengan kehadiran Naren. 

Aku langsung menangkap kehadiran Kenan. Gayanya sesantai biasanya. Jins belel dengan kaos berkerah. Jaket hitam dan tas ransel menempel di badannya. Dia juga sepertinya sudah mendapatiku karena melambaikan tangan ke arahku.

"Hei,  Kan. Kamu oke?" tanyanya begitu sampai di depanku.

"Seperti yang kamu lihat."

"Good. Maaf ya nunggu lama."

"Nggak juga sih."

"Oke, kita pergi sekarang?"

"Eh, tunggu."

Aku celingukkan mencari keberadaan Naren. Tadi padahal masih ada di sampingku. Kenapa sekarang menghilang?

"Kamu nyari siapa?"

"Dia pergi kemana sih?"

"Kamu ke sini sama siapa?"

"Aku ke sini sama--"

"Dia ke sini bareng gue."

Aku dan Kenan kontan menoleh.  Mendapati Naren datang dengan tangan membawa sebotol air mineral.

"Naren?"

"Ya, gue."

"Lo bisa ke sini?"

"Kenapa nggak? Lo aja bisa."

Aku mengamati interaksi mereka berdua. Aku merasakan suasana yang tidak menyenangkan di sini.

"Aku baru beberapa minggu bertemu Naren. Sebaiknya kita segera keluar dari sini."

"Okeh Kanya. Kamu pasti laper." Itu Kenan yang menjawab, dia lantas menggenggam tangan kiriku. Aku agak terkejut sih,  diam-diam aku melirik ke arah Naren.

Mukanya merah padam. Jika lima tahun lalu mungkin saja dia bisa seenaknya memukul Kenan,  kali ini dia nampak diam. Tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.

***
Saat hendak naik mobil, Naren memintaku untuk duduk di depan. Tapi Kenan menyuruhku agar aku di belakang saja. Dia yang akan duduk di depan. Lagi-lagi Naren tidak banyak protes, tapi dia malah menyerahkan kontak mobilnya pada Kenan. Alhasil Kenan yang memegang kemudi.

"Kita akan sarapan dimana?" tanyaku memecah keheningan yang dari tadi tercipta sejak mobil ini meninggalkan pelataran bandara.

"Gimana kalo di tempat biasa, Kan?" usul Kenan.

Aku melirik Naren yang masih belum bersuara. Di tempat yang Kenan maksud adalah bubur ayam pinggir jalan langganan.  Aku tidak yakin Naren bisa makan di sana.

"Mmm,  aku sedang ingin sarapan sandwich sih." Aku bisa merasakan Naren melirikku dari kaca spion depan.

"Oh, okeh. Kalo gitu kita ke resto 24 jam yang nyediain menu sarapan. Naren,  lo mau sarapan apa?" Kenan bertanya pada Naren yang masih saja bergeming.

"Terserah Kanya saja. Dia yang lebih tau aku biasa sarapan apa."

Aku tertegun. Iya aku memang tahu kebiasaannya dulu. Tapi mungkin saja semua sudah berubah seiring dengan waktu kan?

"Itu pun kalo dia masih ingat," sambungnya. Aku tidak membalas ucapannya.

"Baiklah, aku tau kok tempatnya."

Kenan terus berusaha membuat suasana  mencair.  Tidak peduli keengganan yang Naren tunjukkan. Pun saat sudah di resto Naren hanya memintaku agar memesankan sarapannya,  dia lebih memilih langsung duduk di kursi pengunjung. Aku dan Kenan yang memesan sarapan kami.

Setelah beberapa lama aku dan Kenan menuju tempat duduk yang sudah ditempati Naren terlebih dulu.

"Ini sarapanmu." Aku mendorong nampan berisi sandwich dan segelas susu ke hadapan Naren setelah sebelumnya mengambil sarapanku. 

Naren membuka dan mengintip sandwich yang aku pesan untuknya. Lantas senyumnya terbit.

"Kamu memang selalu tau apa kebiasaanku."

Itu bukan pujiankan? Tapi kenapa hatiku berbunga-bunga? Sial.

"Aku nggak nyangka,  ternyata lo masih suka susu." Kenan terkekeh.

"Memang ada apa dengan susu?  Itu lebih sehat dari pada kopi." Naren menunjuk cangkir yang ada di tangan Kenan.

"Memang sih,  tapi sehari tanpa kopi rasanya ada yang kurang buat gue."

"Hanya soal kebiasaan saja."

"Jadi Naren,  kenapa lo bisa ada di Surabaya?  Apa lo sengaja mencari Kanya dan menemukannya di sini?"

Apa maksud Kenan menanyakan hal itu pada Naren? Diam-diam aku melirik Naren dari balik cangkir teh yang sedang kuteguk.
 
"Apa itu perlu gue ceritain?"

"Perlu dong. Lo nggak tau sih perjuangan Kanya selama ini,  apalagi sejak dia merasa tersingkirkan."

Aku tidak tahu kenapa Kenan tiba-tiba jadi secerewet ini. 

"Maksud lo?"

"Maksud gue, setelah sekian tahun dia berusaha menata hatinya hingga menjadi seperti sekarang,  kenapa lo tiba-tiba muncul lagi? Luka yang lo buat sudah tertutup,  tapi kemunculan lo bisa membuat lukanya terbuka kembali."

"Kenan," tegurku. Kenan hanya melirikku sekilas dan tatapan tenang yang biasa aku lihat, tidak ada pada netranya sekarang.
Naren mengepalkan tangannya, menatap lurus pada Kenan. Kedua laki-laki itu seolah saling menabuhkan genderang perang.

"Ka, Kalian sebaiknya lanjutkan makan saja. Aku nggak mau ada percakapan selagi makan." Aku menatap keduanya bergantian. "Kenan please, hentikan ini semua."

Suasana berubah jadi dingin. Pengendalian diri Kenan sedang tidak baik. Mungkin dia lelah karena perjalanan  tadi.

"Kanya, aku sudah sarapannya. Apa kamu mau nambah?"  tanya Kenan mengalihkan perhatiannya padaku. Aku menggeleng.

"Kalo gitu sebaiknya sekarang kita ke penginapanku saja." Dia berdiri, menungguku agar aku ikut beranjak. 

Takut-takut aku melirik Naren. Mukanya masih memerah tangan kirinya masih terkepal sedang yang kanan mengenggam gelas susunya kuat-kuat. Selang beberapa detik,  dia menandaskan isi gelasnya.

"Ayo, Kanya." Kenan mengulurkan tangannya. Aku hampir saja menyambut uluran tangan Kenan saat tiba-tiba Naren bersuara.

"Kanya tidak akan kemana-mana." Dia berdiri menatap Kenan. Keduanya menjulang saling berhadapan.

Mataku memejam, seperti apa yang sudah aku bayangkan. Aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi keduanya?
Tapi tiba-tiba saja sebuah suara merdu terdengar memanggil namaku.

"Kanya!"

Kepalaku menoleh dan kudapati Nadine melambai ke arahku. Wanita itu kenapa ada di sini? Tak perlu waktu berapa lama,  Nadine segera menghampiriku.

"Naren, kamu ada di sini juga?" Nadine baru menyadari kehadiran Naren saat dia tiba di meja kami.

"Mbak kok bisa ada di sini?" tanyaku.

"Iya, aku ke sini sebenernya mau beli sandwich buat Naren. Eh taunya dia sudah ke sini bareng kalian."

"Hai, kamu teman Naren?" tanya Kenan tiba-tiba.

"Mbak Nadine ini klienku Kenan," jawabku.

"Hai kenalkan aku Nadine." Nadine yang cantik mengulurkan tangannya.  Kenan dengan senyuman menyambutnya. 

 "Kenan."

"Kamu pacar Kanya yah?"  tanya Nadine to the poin.

"Bukan Mbak,  Kenan temanku." Aku langsung menjawab pertanyaan Nadine yang aku rasa terlalu blak-blakan.

"Wah bukan yah. Padahal kalian kelihatan serasi."

"Serasi dari mananya? Sebaiknya kamu periksa matamu itu." Naren menyahut sinis membuat Nadine berdecak.

"Jadi kenapa kalian bisa makan di sini bersama? Naren, Kanya dan kalian berdua nggak mengajakku?"

"Maaf Mbak, tadi kami baru pulang menjemput Kenan dari bandara jadi ya sekalian breakfast."

"Oya?"

"Mbak Nadine sepertinya sudah sangat mengenal Naren. Apa nggak apa-apa,  kalo aku dan Kanya pamit sekarang?" Kenan masih saja berusaha untuk pergi dari sini.

"Kalo lo mau pergi ya pergi saja. Kenapa harus mengajak Kanya? Kanya ke sini bareng gue jadi pulangnya juga bareng gue." Naren melambaikan tangan seperti orang mengusir.

"Wait, Naren, Kanya, kalian berdua sudah lama ke ... nal?" Nadine mulai curiga.

"Mereka berdua adalah sepasang kekasih." Jawaban yang keluar dari mulut Kenan membuat mata Nadine terbelalak. "sebelum pengkhianatan merusak hubungan mereka."

"Tutup mulut lo!" hardik Naren.

"Gue ngomong apa adanya."

"Tunggu..., ada yang nggak beres di sini."
Nadine benar,  dan aku harus segera memisahkan Naren dan Kenan secepatnya.

"Naren,Mbak Nadine, maaf aku harus pergi sekarang." Aku mendorong kursiku lantas meminta Kenan agar ikut pergi juga.

"Kanya kamu nggak bisa kemana-mana," cegah Naren.

"Sorry Naren,  kamu sebaiknya lanjutkan sarapanmu sama Mbak Nadine. Aku pergi."

Aku bergegas meninggalkan tempat ini diikuti Kenan setelah sebelumnya pamit pada Nadine. Situasinya akan semakin buruk jika aku masih ada di sini di antara mereka. Dan kalau aku biarkan, mungkin saja adu mulut antara Kenan dan Naren akan terus berlanjut. Dan itu bukan hal yang menguntungkan buatku.

BERSAMBUNG

Sial! Aku beberapa kali mengumpat kesal saat Kanya pergi bersama laki-laki itu. Dia pikir dia itu siapa? Berani sekali bicara begitu padaku.

Dan Kanya, kenapa dia lebih memilih pergi dengan laki-laki itu? Si Kenan Kenan itu terang-terangan mengibarkan bendera persaingan di depanku. Oke,  siapa yang takut. Kita lihat saja.

Dan Nadine, wanita ini masih saja terus menatapku penuh tanda tanya. Matanya menyelidik dengan jari jemari yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja.

"Jadi Kanya perempuan itu?" tanyanya kemudian.

"Iya."

Mata wanita itu memejam. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.

"Dunia ini ternyata begitu sempit." Tawanya terdengar sumbang. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dengannya lagi?"

"Seperti yang sedang kamu pikirkan sekarang."

Aku lihat mata wanita itu terpejam kembali.
"Sepertinya kali ini kamu perlu perjuangan karena ada laki-laki lain di sampingnya."

"Baik dulu atau pun sekarang, aku tidak pernah merasa mudah mendapatkan Kanya. Aku dulu pernah berbuat kesalahan, sulit mendapat maaf dari Kanya. Dulu mengejarnya berat, tapi aku rasa kali ini juga akan semakin berat."

"Kamu selalu tau kemana kamu akan kembali jika merasa lelah."

Lagi-lagi tatapan penuh harapan, Nadine tunjukkan padaku. Entah sudah berapa kali aku katakan padanya. Aku hanya bisa menjadikannya teman,  tidak bisa lebih.

Author note's :

Maaf yaa banyak typo dan tanda baca berantakan dimana-mana.

Aku menulis langsung di papan wp tanpa aku edit lagi. Jadi harap maklum adanya.

Nanti kalo senggang akan kuedit kembali.

Happy weekend.

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...