Sunday, May 10, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi 



"Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan dia serahkan padaku.
 
"Liburan. Gue sama Kanya mau liburan," jawab Kenan santai.

"Oya, kapan?"

"Sedang kami rencanakan."

Naren beralih menatapku.  "Jadi, kamu berencana liburan tanpa sepengetahuanku, Sayang?"

Dan sekarang Kenan ikut menatapku karena ucapan Naren. Dahinya berkerut. Aku yakin,  Kenan akan berpikir kalau kami sudah baikkan.

"Kalian berdua? Kembali lagi?" tanya Kenan membuat Naren tersenyum menang.
 
"Sudah seharusnya seperti itu 'kan?"

Aku kesal sumpah dengan jawaban Naren. Tanpa menghiraukannya, aku bangkit dari duduk.

"Jangan dengarkan dia, Kenan. Kamu mau minum apa?" Aku melirik Naren kesal. Tidak mau dia bersikap kekanakan seperti dulu.

"Seperti biasa." Kenan tersenyum.
Aku menyeret langkahku masuk ke dalam rumah.

"Kamu nggak nawarin aku?" Ternyata Naren di belakang mengekoriku.

"Kamu mau minum apa?" tanyaku tak ingin banyak debat.

"Susu ada?"

Aku menggeleng. Lalu beranjak menuju dapur. Merajang air seperlunya. Karena  memang tidak pernah menyimpan persediaan air panas.
Aku membuatkan kopi untuk Kenan dan susu untuk Naren. Meletakkan kedua minuman itu di atas meja ruang tamu.

"Jadi, mau liburan kemana?" Naren sudah duduk di sofa begitu juga Kenan yang sudah menyesap kopinya.

"Gue mau ajak Kanya ke Kota Batu. Kami akan menginap villa di sana."

"Nginep di villa? Hanya kalian berdua?"
Kulihat mata Naren melebar. Kepalanya  mulai berasap jika bisa digambarkan. Ini tidak bagus.

"Maaf Kenan,  seperti yang aku bilang tadi. Aku nggak bisa sepertinya," selaku. Mengingat muka Naren sudah sangat tidak enak dipandang mata.

"Jakarta juga bukan tempat liburan yang buruk."

Rasanya aku ingin menenggalamkan kepala ke meja. Kenapa Kenan masih membahas soal liburan?

Kenan meringis. Bisa kulihat dia sangat puas sudah membuat wajah Naren memerah.  

"Aku jalan dulu, Kanya. Ada janji sama Mas Wirno. Nanti aku telepon lagi."
Kenan bangkit dari duduknya. Itu hanya alasan saja. Dia bisa bertahan berjam-jam di sini sebelum kemunculan Naren.

"Naren, gue cabut dulu."

Naren hanya berdehem. Dan tidak berniat memberi Kenan ucapan apapun. Masih pura-pura sibuk dengan gelasnya.

Setelah mengantar Kenan,  aku kembali duduk. Tidak ada tampang kecut lagi yang aku lihat dari wajah laki-laki di depanku. Naren meletakkan gelasnya, lalu beralih melihatku.

"Jadi, kamu sering liburan berdua sama dia?"

Tepat dugaanku. Aku menghela napas kasar. Hari-hariku akan terasa melelahkan lagi sepertinya.

"Nggak sering, kadang-kadang saja."

"Apa? Kamu nggak ada teman lain selain dia? Teman sesama wanita misalnya? Dan kenapa harus dia?"

Haruskah aku membahas ini? Lima tahun tidak membuatnya berubah banyak. Apalagi sifatnya yang seperti ini.

"Dari semua teman-temanku yang bertahan cuma dia."

"Ya, tentu saja. Dia suka sama kamu."

"Lalu?"

"Jauhi dia, Kanya."

Aku tak percaya. "Nggak ada alasan buatku menjauhi dia."

"Karena aku yang minta."

"Setelah semuanya?"  aku mengibaskan tangan. "Udahlah, aku males debat sama kamu. Aku capek, mau mandi, mau istirahat."

Aku berdiri. Jika dilanjutkan hanya akan menjadi perdebatan yang berkepanjangan seperti yang sering aku lakukan dulu. Aku sudah cukup lelah. Pengalaman dan rasa sakit seolah sudah mengajarkan aku semuanya.

"Kanya... " Naren meraih lenganku, suaranya melembut. "Aku minta maaf. Aku hanya nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."

Ternyata dia sudah ikut berdiri, dan tak segan menarikku ke dalam dekapannya. Aku tak mengerti. Kenapa  selalu seperti ini?  Seolah pasrah saja dengan skinship yang Naren buat. Aromanya masih sama seperti dulu. Menghidunya membuatku merasa nyaman. Untuk sebuah kenyamanan yang sulit aku dapat ini, rasanya enggan untuk lepas lagi.

"Aku ingin mengajakmu makan malam," katanya mengurai pelukan tanpa melepas kedua tangannya dari pinggangku.

"Aku nggak mau kalo berakhir dengan basah kuyup lagi."

Dia tertawa. Dan itu membuatnya semakin terlihat menawan. Ya Tuhan, kadang pesona Naren begitu kuat. Tapi jika aura menyebalkannya sudah keluar, rasanya aku ingin melemparnya sejauh mungkin.

"Nggak lah,  kita nanti langsung ke sana saja."

"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu."
Naren mengangguk, mencium kepalaku, lalu membiarkanku masuk ke kamar.

***

Naren menggandeng tanganku saat memasuki sebuah restoran di pusat kota. Aku  pernah beberapa kali memasuki restoran ini. Menunya bisa membuatku langsung meneteskan air liur. Naren selalu paham, dimana restoran yang bukan hanya sekedar mewah, tapi juga resto dengan menu yang bisa menggoyang lidah.

Seorang pelayan restoran langsung mengantarkan kami, pada tempat yang ternyata sudah lebih dulu Naren reservasi. Masuk ke dalam restoran, kami diajak menuju ruang outdoor yang dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu. 

Aku pikir, Naren akan memilih meja yang khusus hanya untuk kami berdua. Tapi, pelayan itu malah mengantar kami pada meja yang sudah terlihat ada isinya di sana. Semakin langkahku mendekat, firasatku merasa tidak enak. Aku melihat dengan seksama siapa orang di balik punggung yang sudah lebih dulu duduk di sana. Tubuhku mulai menegang, saat aku bisa dengan jelas melihat orang itu. Dia menoleh dan melihat kedatangan kami. Om Damian.

Aku tidak siap, aku tidak siap.

"Selamat malam, Papa," sapa Naren begitu kami sampai di hadapannya.

"Se-selamat malam, Om."

"Hm, selamat malam."

Suara berat Om Damian baru kali ini kudengar menyeramkan. Itu membuatku merasa was-was. Naren menuntunku agar duduk di kursi. Lalu, dia sendiri duduk di sebelahku.

"A-apa kabar, Om?" aku mencoba menyapa lebih dulu. Rasa canggung seperti ini sangat tidak enak. Dan sepertinya, aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki di sebelahku karena tidak memberitahuku akan ada Om Damian di sini.

"Seperti yang kamu lihat, Om baik-baik saja. Lama ya kita tidak jumpa, Kanya? Sudah berapa tahun ya? Rasanya sudah lama sejak kamu memutuskan Naren."

Apa hanya perasaanku yang sedang sensi? Tapi aku merasa ada penekanan saat Om Damian bilang 'memutuskan'. Meskipun itu diucapkan dengan intonasi biasa saja. Tapi rasanya sedikit menggangguku.

"Apa kita pesan sekarang, Pa?" tanya Naren. Kupikir itu hanya pengalihan yang Naren buat.

"Tunggu sebentar, Papa masih menunggu satu orang lagi."

"Siapa?"

Bertepatan dengan itu, tangan Om Damian melambai. Aku dan Naren sontak menoleh. Dan mendapati Nadine sedang berjalan mendekat.

"Maaf Om, Nadine telat, " sapanya begitu datang.

"Tak masalah. Sini duduk di sebelah Om."

Nadine tersenyum sangat manis. "Hay, Naren, Kanya,"  sapanya sembari mengambil tempat duduk.

Kami mulai memesan menu makanan. Setelah pelayan resto mencatat menu yang kami pesan dan pergi untuk menyiapkan pesanan kami, perasaan tidak nyaman menyelimutiku. Apalagi sejak tadi, Om Damian lebih memilih berinteraksi dengan Nadine. Seolah abai dengan kehadiranku di sini.

"Oya,  Kanya. Tadi siang, kenapa ke kantor tidak menemuiku?" 

Aku yang sedari tadi memekuri ponsel, mendongak. Nadine berbicara padaku. Wajah ayunya berkilau di terpa cahaya lampu malam.

"Ah iya. Maaf, Mbak. Tiba-tiba ada klien yang minta bertemu secepatnya. Tapi nanti besok kita bisa bertemu lagi untuk diskusi. Bagaimana?"

"Boleh."

"Kanya, apa kamu nggak ada rencana buat pindah kerja ke Jakarta?" tanya Naren membuatku mengalihkan atensi padanya.

"Hey! Kamu jangan provokasi desaign art-ku ya!" Nadine mengayun-ayunkan telunjuknya ke arah Naren.

"Loh, di Jakarta itu Kanya bisa lebih berkembang dari pada di sini," bela Naren.

"Oya? Surabaya juga nggak kalah hebat dari Jakarta. Kamu pikir hanya di Jakarta saja orang bisa berkembang?"

"Ya nggak gitu, kan kalo di Jakarta Kanya jadi lebih dekat orang tuanya."

Percakapan itu terjeda, ah tidak, keributan kurasa, saat pelayan meletakkan menu yang kami pesan.

"Kalian itu kebiasaan. Hal sepele aja diributkan," ucap Om Damian. Manik cokelatnya bergerak ke arahku.

"Kanya, kamu sudah kembali bertemu dengan Naren...."  

Aku memutar kepala ke arah Om Damian. 

"Kamu nggak berniat pacaran lagi dengan Naren 'kan?"

Aku rasakan Naren mengalihkan pandangan ke arahku. Tidak hanya dia, Nadine juga memberi atensi khusus.

"Saya.... "

"Om harap sih yang sudah, sudah ya, Kanya. Kalian cukup berteman saja. Karena Om berniat menikahkan Naren dengan Nadine. Jadi..."

"Papa!"

"Om!"

Suara Naren dan Nadine kompak menginterupsi. Om Damian melihat mereka berdua bergantian. Senyumnya terbit.

"Tuh kan, Kanya. Bisa dilihat. Mereka sangat kompak."

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Om Damian. Di sini sudah jelas, beliau tidak bisa menerimaku kembali.

"Pah, kita sudah membicarakan ini," ucap Naren dengan suara tertahan. Mukanya sedikit memerah. Meskipun lampu-lampu di sini tidak seterang cahaya matahari, tapi aku bisa melihat rahang Naren mengeras.

"Kita makan dulu yuk." Nadine segera mengalihkan. Jika dilanjutkan, aku tahu persis apa yang akan terjadi.

Daging wagyu di hadapanku harusnya terlihat menggiurkan. Tapi entah mengapa mendadak aku tidak ingin menyentuhnya.

"Kita makan dulu yah." Naren menepuk pelan punggung tanganku. Dengan senyum canggung, aku mengangguk lalu mulai mengangkat garpu dan pisau.

Aku berusaha menikmati makan malam ini. Perutku rasanya sudah penuh. Untuk mendorong sepotong daging ke mulut pun rasanya sulit.

"Apa makanannya nggak enak? Kita bisa pesan makanan lainnya," tawar Naren membuatku langsung menggeleng.

Gila aja. Main ganti makanan seenaknya. Meskipun aku tahu dia mampu, tetap aja itu namanya pemborosan. Harga makanan dipiringku ini saja sudah nyaris membuat bola mataku keluar dari tempatnya. Harusnya tadi, aku tidak membiarkan Naren memilih menu untukku.

"Ya sudah. Sini biar aku potongkan steak-nya."

"Nggak us---"

Bukan Naren kalau dia tidak seenaknya. Perbuatannya mengundang perhatian Om Damian dan Nadine. Aku malu.

"Biar aku saja Naren. Aku bisa sendiri." 

Aku mencoba memgambil piringku kembali. Tapi malah mendapat pelototan.

"Kamu bisa nggak sih nurut sekali ajah."

Aku tidak mau berdebat. Apalagi di hadapan dua pasang mata di sebrangku. Jadi, aku biarkan Naren memotong-motong steak di piringku. Setelah selesai,  dia menyodorkan kembali padaku.

"Habiskan ya," ucapnya tersenyum. Manis banget 'kan dia? Ehem! Aku mengangguk.

"Kamu ini, Kanya itu bukan bocah sampe daging aja nggak bisa motong sendiri."

Gerakan tanganku yang hendak menancapkan potongan daging terhenti,  mendengar ucapan Om Damian.
Itu diucapkan dengan intonasi biasa, tapi kenapa aku merasa tertohok ya?
Sepertinya aku memang sedang  sedikit sensi.

BERSAMBUNG


Aku memandang lamat-lamat ke arah Kanya. Wanita itu sekarang lebih banyak diam. Dia juga sudah jarang mendebat seperti dulu.
Setelah apa yang Papa ucapkan padanya, gestur tidak nyaman jelas sekali terlihat.

"Pah, aku hanya membantu Kanya. Apa salahnya?"

"Ya nggak salah sih. Cuma Kanya itu 'kan bukan anak yang manja. Terlebih dia sudah lama jauh dari kamu dan orang tuanya."

Aku bahkan belum pernah melihat Papa senyir-nyir ini. Seakan tidak peduli lagi, aku kembali memasukkan potongan steak ke dalam mukutku.
Whatever-lah, Pa.

"Jadi, Nadine. Kapan kamu ijinkan Naren bertemu orang tuamu?"

" Om, tapi Naren 'kan memang sudah--"

Ya Tuhan, Papa. Kanya memang tidak terlihat terganggu. Tapi mendengar itu, bisa sajakan setelahnya dia berbuat sesuatu yang tidak aku duga. Tidak, aku tidak mau dia menjauhiku lagi. Hubunganku dengannya sudah mulai membaik.

Aku meletakkan sendok dan pisau. Dentingannya cukup keras, sehingga membuat semua mata di meja ini menoleh padaku. Mengambil tissue, aku mengelap mulutku setelah menenggak habis air putih di gelas panjang.

"Aku pikir ini akan menjadi dinner yang menyenangkan. Tapi, ternyata tidak seperti dugaanku."

Aku melirik Kanya, sebelum akhirnya mendorong kursi lalu berdiri.

"Mau kemana kamu?" tanya Papa meninggikana sedikit volume suaranya.

"Kanya sepertinya sudah tidak berselera makan disini...." wanita itu menoleh tidak percaya. Aku menggapai tangannya untuk ikut berdiri.

Kanya nampak terhenyak.
"Naren--"

"Aku akan menunjukkan sesuatu yang   lebih menarik daripada hanya sekedar makan malam. Kami pamit dulu, Papa."

"Tapi Naren--"

Papa tidak mengatakan apapun. Mulutnya mengatup rapat. Tatapan tajamnya terus dia arahkan padaku. Sampai aku menarik paksa Kanya, untuk meninggalkan restoran ini.
Bagaimana aku tidak kesal? Papa sudah merusak semua rencanaku dengan menghadirkan Nadine. Belum lagi perkataannya yang aku sangat yakin akan berpengaruh pada Kanya. Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran Papa.

PS.  Untuk penulisan yang salah atau typo harap maklum yaa...
Belum ada revisi ini on the spot ajah,  😀

Friday, May 1, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By. Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 15

Kami hampir saja melakukannya, jika saja Naren tidak dengan tiba-tiba memundurkan tubuhnya dari atasku. Aku tidak mengerti, dia memandangku sejenak lantas mengecup dahiku lama.

"Maaf, aku nggak bisa, nggak dengan cara seperti ini."

Aku belum membalas satu patah kata pun saat dia menutupi tubuhku dengan selimut. Pelan dia mundur, dan mengenakan pakaiannya kembali.

"Aku akan tidur di luar."

Dan kamu tahu apa yang aku rasa? Aku syok! Setelah dia melucuti semua pakaianku, dan bermain liar dengan bibir juga tangannya, dia meninggalkanku begitu saja. Dan bodohnya, aku cuma diam tanpa penolakan apapun. Aku tadi benar-benar hanyut bersamanya. Seolah tubuhku melebur jadi satu dengan tubuhnya. Aku yakin, bukan hanya aku saja yang merasakan itu. Dia juga sama. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran? Apa karena dia mengingat seseorang? Entahlah.

Aku bangun dari tidurku. Menatap diriku sendiri. Betapa buruknya aku. Secara tidak langsung aku menerima laki-laki itu kembali. Reaksi tubuhku benar-benar tidak sinkron dengan otak. Agak menyebalkan tapi sulit aku kendalikan. Aku mengusap wajah pelan. Mungkin memang harus aku mulai kembali semuanya dari awal. Menerima kehadirannya kembali di hidupku.

***

Aku menggeliat, merasakan kenyamanan di setiap bagian tubuhku. Ah! Rasanya tidak pernah aku tidur sepuas ini. Mataku mengerjap, dan perlaha membuka.
hal pertama yang aku lihat adalah, wajah Naren yang tengah tersenyum begitu teramat dekat di depan mataku.

"Apa tidurmu nyenyak?"

Aku hanya mengangguk. Sedetik kemudian Naren menarik kepalaku dan mengecup bibirku.

"Bangun dan mandi,  sarapanmu sudah siap." 

Aku menahan tangannya saat dia hendak bangun.

"Tadi malam... " aku berpikir keras untuk menanyakan ini. "apa terjadi sesuatu?"

Naren kembali mendekat. Menarik selimutku agar rapat menutupi tubuhku sampai ke leher. Tiba-tiba wajahku memanas. Aku tadi beneran tidak sadar, kalau selimutku melorot.

"Semalam nggak terjadi apa-apa. Aku minta maaf,  udah bertindak terlalu jauh."

Aku mengangguk. Hanya memastikan saja. Kalau ingatanku tidak salah.

"Tapi Kanya... "

Aku menatapnya lurus, menanti kelanjutannya.

"Kita harus secepatnya menikah."

"Apa?"

"Tadi malam mungkin aku bisa mengendalikan diriku. Tapi aku nggak yakin kalo besok-besok."

What the hell.

Dia berdiri, berkacak pinggang menatapku. Dengan sebuah seringai yang terlihat mengerikan.

"Kamu itu ...  Benar-benar indah dan seksi."

Aku mencengkeram selimutku erat-erat. Detak jantungku kembali berdebar kencang. Seperti kena siraman air panas rasanya. Aku tidak pernah merasakan salting seperti ini di depan Naren. Namun kali ini,  laki-laki itu sukses membuatku malu dan ...  Entah ini apa, tapi aku merasa melayang juga.

*** 

Aku berjalan ringan memasuki kantor milik Nadine. Menemui assistennya yang kelihatan sedang sibuk di depan layar monitor.

"Pagi, Mbak Sari," sapaku begitu sampai di mejanya. Pemilik sepasang alis tebal itu mendongak dan tersenyum ramah.

"Eh Mbak Kanya, udah ditunggu Mbak Nadine di ruangannya."

Aku memang sudah membuat janji bertemu.

"Tapi Mbak, ada tamu juga sih di dalam," beritahu Sari.

"Aku tunggu aja kali ya."

"Tapi Mbak Nadine pesan kalo Mbak Kanya datang suruh langsung masuk aja."

"Oke deh, aku juga nggak bisa lama. Soalnya masih ada janji temu dengan klien."

"Langsung kesana aja Mbak."

"Okeh. Aku ke sana dulu ya."

Sari mengangguk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pintu ruangan Nadine agak terbuka sedikit. Aku hendak mendorongnya, saat telingaku menangkap sebuah suara yang rasanya tidak asing.

"Nadine nggak tahu Om, semua Naren yang memutuskan," samar aku dengar Nadine bersuara.

Sebenarnya ini tidak sopan, tapi entah kenapa aku ingin tahu obrolan itu. Aku sedikit mengintip celah di dalam sana. Seseorang yang sangat aku kenal duduk berhadapan dengan Nadine. Pria seusia ayah dengan garis wajah yang masih terlihat menawan itu menampilkan senyum yang tidak jauh berbeda dengan Naren. Om Damian. Jadi Nadine juga sudah mengenal keluarga Naren?

"Om sangat berharap hubungan kalian segera diresmikan, minimal tunangan dulu lah. Ingat umur dong."

"Tapi Om, Nadine dan Naren nggak punya hubungan sejauh itu."

"Ayolah, hanya kamu yang paling dekat dengan anak itu. Om dan tante juga setuju kalo Naren bisa menikah sama kamu."

"Sepertinya itu nggak mungkin Om. Naren sudah bertemu kembali dengan seseorang yang sangat dia cintai."

"Maksud kamu Kanya?"

"Iya Om,  mereka bertemu kembali."

"Benarkah? Om nggak tahu soal ini."

"Jadi,Om. Sudah pasti Naren akan memilih Kanya daripada aku. Meskipun Nadine mencintai Naren, tapi percuma kalo Naren nggak bisa sebaliknya mencintai Nadine."

Aku bisa mendengar Om Damian menghela napas berat. Mendengar percakapan mereka, membuat detak jantungku berpacu cepat. Aku tidak sampi berpikir sejauh ini. Om Damian  ternyata sangat mengharapkan Nadine. Bukannya aku akan mengecewakan mereka jika aku memutuskan kembali pada Naren?

Ada sedikit nyeri mengetahui kenyataan ini. Mungkin saja, jika aku tidak bertemu kembali dengan Naren, Nadine bisa bersatu dengan laki-laki itu. Di sini aku merasa menjadi sebuah batu penghalang. 

Langkahku mundur perlahan. Tidak jadi masuk ke dalam. Terlebih aku belum siap bertemu kembali dengan Om Damian. Mungkin saja Om Damian memandangku lain,  karena dulu sudah meninggalkan Naren.

Aku menuju meja Sari kembali,  dan menitip berkas yang tadinya mau aku diskusikan dengan Nadine. Mungkin aku akan ke sini lagi besok.

***

Kenan berdiri di depanku dengan wajah sumringah. Setelah pendakian yang dia lakukan waktu itu menjadikannya semakin terlihat keren dan laki banget. Yaa ampun...  Aku memujinya. Bukannya apa, Kenan memang keren,  tidak ada yang menyangkal. Tapi sekeren apapun dia, belum bisa menggantikan posisi Naren di hatiku. Ah! Menyebalkan. 

Setelah kejadian malam di hotel rasa rumah itu, Naren sudah bersikap seperti dulu lagi, makin secure. Dan terus membujukku agar mau cepat menikah.

"Pengalaman Semeru kemarin sangat menyenangkan. Sayang kamu nggak ikut," kelakarnya mengambil tempat duduk di teras depan rumah kontrakanku.

"Aku iri sebenarnya. Tapi kerjaan menumpuk. Banyak yang belum beres. Apa semua ada?" 

Yang aku tanyakan  adalah rombongan medaki kami. Biasanya ada sekitar tujuh orang yang ikut rombongan pendakian termasuk Kenan dan aku.

"Minus kamu doang."
Jawaban Kenan membuatku tambah iri.

"Sebentar lagi musim hujan, nggak mungkin musim hujan ada pendakian. Musim hujan itu enaknya liburan di villa ajah."

Aku menoleh. Tumben,  tidak biasanya Kenan mengusulkan villa. Dia itu tipe outdoor. Lebih suka membuat tenda daripada menginap di villa.

"Bulan depan aku ingin mengajak kamu liburan ke villa di Kota Batu. Aku bilangnya sekarang soalnya biar kamu bisa longgarin jadwal jauh-jauh hari. Gimana?"

"Kita berdua aja?" tanyaku ragu.

"Iya, nggak pa-pa kan? Atau kamu mau ajak teman juga boleh."

Aku meringis. Ke villa berdua dengan Kenan. Aku tidak yakin mengingat ada Naren yang sekarang sudah kembali mengekoriku.

"Itu, aku sepertinya belum bisa ambil keputusan. Nggak tau,  boleh apa nggak aku ambil cuti sama Tata."

"Urusan Tata biar aku yang handle."

Aku melupakan ini. Tata yang notabene sepupu Kenan, kebetulan dia boss tempatku bekerja sekarang. Mereka dekat, dan itu mudah bagi Kenan. Sama halnya saat dia menawarkan pekerjaan ini buatku. Urusan Tata memang dia bisa menangani, tapi Naren?

"Aku nggak janji Kenan. Kalopun aku bisa ambil cuti. Mungkin lebih baik aku gunakan buat pulang ke Jakarta."

"Ah kamu benar. Tapi aku ingin liburan bareng kamu. Kayaknya udah lama kita nggak liburan bersama."

Selain mendaki, Kenan memang kadang mengajakku liburan ke suatu tempat. Kalau sedang dalam mood berantakan,  aku selalu mengiyakan ajakkannya. Kenan itu teman liburan yang seru.

"Juga tentang... " aku masih ingin mendengar kelanjutan ucapan Kenan saat suara mobil mengalihkan perhatian kami. Itu Naren yang datang.

Naren turun dari mobil dengan sebuah tentengan di tangannya. Kaca mata hitamnya melekat sempurna di atas hidungnya yang bangir. Mendadak aku ingat percakapan Om Damian dan Nadine pagi tadi.

BERSAMBUNG



"Jadi kamu akan di sini terus? Tidak mau mengurus usaha Papa di Jakarta. Kamu tau Arsen masih membutuhkan kamu."

Aku menghela, siang tadi Papa menemuiku di kantor. Tadi pagi papa datang dan aku sama sekali tidak tahu soal itu.

"Sepertinya begitu, Pah. Papa juga jangan meragukan kemampuan Arsen. Dia anak yang cerdas."

"Papa nggak meragukan kemampuan anak-anak Papa. Hanya saja hotel dan apartemen kita di Jakarta lebih banyak butuh perhatian kamu."

"Aku yakin, Arsen bisa."

"Apa ada hal lain, yang membuatmu keras kepala ingin tetap tinggal?"

Papa selalu memiliki insting yang tajam. Untuk berbohong padanya kadang aku mengalami kesulitan.

"Apa karena Kanya ada di sini?"

Aku bahkan belum memberitahunya tentang ini. Dari mana papa tahu?
Mataku memejam. Sudah bisa aku tebak,  papa lebih dulu menemui Nadine dari pada aku.

"Papa bicara apa saja dengan Nadine?"

"Papa hanya ingin kalian cepat menikah."

"Aku sudah pernah bilang soal ini Pah."

"Kamu jangan memainkan hati perempuan Naren. Setelah bertemu Kanya kembali kamu mau menyingkirkan Nadine?"

"Nadine itu hanya teman. Papa sama Mama jangan terlalu berpikir sejauh itu."

"Tapi Nadine mencintai kamu, Naren."

Aku berdiri dari kursiku. Tahun lalu, papa juga menyuruhku untuk melamar Nadine. Kenapa kedua orangtuaku tidak mau menerima hubungan kami yang hanya sebatas teman? Aku tidak habis pikir.

Aku memandang lanskap kota Surabaya dari kaca besar di belakang meja kerjaku.

"Naren, masih mencintai Kanya, Papa. Kalopun aku harus menikah, itu artinya  Kanya yang akan aku nikahi, Pah."

Aku tidak lagi mendengar suara papa menyahut. Laki-laki yang sangat aku kagumi itu sepertinya sudah terlalu jengkel dengan sikapku yang masih tidak mau membuka hati untuk Nadine.

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...