"Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan dia serahkan padaku.
"Liburan. Gue sama Kanya mau liburan," jawab Kenan santai.
"Oya, kapan?"
"Sedang kami rencanakan."
Naren beralih menatapku. "Jadi, kamu berencana liburan tanpa sepengetahuanku, Sayang?"
Dan sekarang Kenan ikut menatapku karena ucapan Naren. Dahinya berkerut. Aku yakin, Kenan akan berpikir kalau kami sudah baikkan.
"Kalian berdua? Kembali lagi?" tanya Kenan membuat Naren tersenyum menang.
"Sudah seharusnya seperti itu 'kan?"
Aku kesal sumpah dengan jawaban Naren. Tanpa menghiraukannya, aku bangkit dari duduk.
"Jangan dengarkan dia, Kenan. Kamu mau minum apa?" Aku melirik Naren kesal. Tidak mau dia bersikap kekanakan seperti dulu.
"Seperti biasa." Kenan tersenyum.
Aku menyeret langkahku masuk ke dalam rumah.
"Kamu nggak nawarin aku?" Ternyata Naren di belakang mengekoriku.
"Kamu mau minum apa?" tanyaku tak ingin banyak debat.
"Susu ada?"
Aku menggeleng. Lalu beranjak menuju dapur. Merajang air seperlunya. Karena memang tidak pernah menyimpan persediaan air panas.
Aku membuatkan kopi untuk Kenan dan susu untuk Naren. Meletakkan kedua minuman itu di atas meja ruang tamu.
Aku membuatkan kopi untuk Kenan dan susu untuk Naren. Meletakkan kedua minuman itu di atas meja ruang tamu.
"Jadi, mau liburan kemana?" Naren sudah duduk di sofa begitu juga Kenan yang sudah menyesap kopinya.
"Gue mau ajak Kanya ke Kota Batu. Kami akan menginap villa di sana."
"Nginep di villa? Hanya kalian berdua?"
Kulihat mata Naren melebar. Kepalanya mulai berasap jika bisa digambarkan. Ini tidak bagus.
"Maaf Kenan, seperti yang aku bilang tadi. Aku nggak bisa sepertinya," selaku. Mengingat muka Naren sudah sangat tidak enak dipandang mata.
"Jakarta juga bukan tempat liburan yang buruk."
Rasanya aku ingin menenggalamkan kepala ke meja. Kenapa Kenan masih membahas soal liburan?
Kenan meringis. Bisa kulihat dia sangat puas sudah membuat wajah Naren memerah.
"Aku jalan dulu, Kanya. Ada janji sama Mas Wirno. Nanti aku telepon lagi."
Kenan bangkit dari duduknya. Itu hanya alasan saja. Dia bisa bertahan berjam-jam di sini sebelum kemunculan Naren.
"Naren, gue cabut dulu."
Naren hanya berdehem. Dan tidak berniat memberi Kenan ucapan apapun. Masih pura-pura sibuk dengan gelasnya.
Setelah mengantar Kenan, aku kembali duduk. Tidak ada tampang kecut lagi yang aku lihat dari wajah laki-laki di depanku. Naren meletakkan gelasnya, lalu beralih melihatku.
"Jadi, kamu sering liburan berdua sama dia?"
Tepat dugaanku. Aku menghela napas kasar. Hari-hariku akan terasa melelahkan lagi sepertinya.
"Nggak sering, kadang-kadang saja."
"Apa? Kamu nggak ada teman lain selain dia? Teman sesama wanita misalnya? Dan kenapa harus dia?"
Haruskah aku membahas ini? Lima tahun tidak membuatnya berubah banyak. Apalagi sifatnya yang seperti ini.
"Dari semua teman-temanku yang bertahan cuma dia."
"Ya, tentu saja. Dia suka sama kamu."
"Lalu?"
"Jauhi dia, Kanya."
Aku tak percaya. "Nggak ada alasan buatku menjauhi dia."
"Karena aku yang minta."
"Setelah semuanya?" aku mengibaskan tangan. "Udahlah, aku males debat sama kamu. Aku capek, mau mandi, mau istirahat."
Aku berdiri. Jika dilanjutkan hanya akan menjadi perdebatan yang berkepanjangan seperti yang sering aku lakukan dulu. Aku sudah cukup lelah. Pengalaman dan rasa sakit seolah sudah mengajarkan aku semuanya.
"Kanya... " Naren meraih lenganku, suaranya melembut. "Aku minta maaf. Aku hanya nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Ternyata dia sudah ikut berdiri, dan tak segan menarikku ke dalam dekapannya. Aku tak mengerti. Kenapa selalu seperti ini? Seolah pasrah saja dengan skinship yang Naren buat. Aromanya masih sama seperti dulu. Menghidunya membuatku merasa nyaman. Untuk sebuah kenyamanan yang sulit aku dapat ini, rasanya enggan untuk lepas lagi.
"Aku ingin mengajakmu makan malam," katanya mengurai pelukan tanpa melepas kedua tangannya dari pinggangku.
"Aku nggak mau kalo berakhir dengan basah kuyup lagi."
Dia tertawa. Dan itu membuatnya semakin terlihat menawan. Ya Tuhan, kadang pesona Naren begitu kuat. Tapi jika aura menyebalkannya sudah keluar, rasanya aku ingin melemparnya sejauh mungkin.
"Nggak lah, kita nanti langsung ke sana saja."
"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu."
Naren mengangguk, mencium kepalaku, lalu membiarkanku masuk ke kamar.
***
Naren menggandeng tanganku saat memasuki sebuah restoran di pusat kota. Aku pernah beberapa kali memasuki restoran ini. Menunya bisa membuatku langsung meneteskan air liur. Naren selalu paham, dimana restoran yang bukan hanya sekedar mewah, tapi juga resto dengan menu yang bisa menggoyang lidah.
Seorang pelayan restoran langsung mengantarkan kami, pada tempat yang ternyata sudah lebih dulu Naren reservasi. Masuk ke dalam restoran, kami diajak menuju ruang outdoor yang dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu.
Aku pikir, Naren akan memilih meja yang khusus hanya untuk kami berdua. Tapi, pelayan itu malah mengantar kami pada meja yang sudah terlihat ada isinya di sana. Semakin langkahku mendekat, firasatku merasa tidak enak. Aku melihat dengan seksama siapa orang di balik punggung yang sudah lebih dulu duduk di sana. Tubuhku mulai menegang, saat aku bisa dengan jelas melihat orang itu. Dia menoleh dan melihat kedatangan kami. Om Damian.
Aku tidak siap, aku tidak siap.
"Selamat malam, Papa," sapa Naren begitu kami sampai di hadapannya.
"Se-selamat malam, Om."
"Hm, selamat malam."
Suara berat Om Damian baru kali ini kudengar menyeramkan. Itu membuatku merasa was-was. Naren menuntunku agar duduk di kursi. Lalu, dia sendiri duduk di sebelahku.
"A-apa kabar, Om?" aku mencoba menyapa lebih dulu. Rasa canggung seperti ini sangat tidak enak. Dan sepertinya, aku akan membuat perhitungan dengan laki-laki di sebelahku karena tidak memberitahuku akan ada Om Damian di sini.
"Seperti yang kamu lihat, Om baik-baik saja. Lama ya kita tidak jumpa, Kanya? Sudah berapa tahun ya? Rasanya sudah lama sejak kamu memutuskan Naren."
Apa hanya perasaanku yang sedang sensi? Tapi aku merasa ada penekanan saat Om Damian bilang 'memutuskan'. Meskipun itu diucapkan dengan intonasi biasa saja. Tapi rasanya sedikit menggangguku.
"Apa kita pesan sekarang, Pa?" tanya Naren. Kupikir itu hanya pengalihan yang Naren buat.
"Tunggu sebentar, Papa masih menunggu satu orang lagi."
"Siapa?"
Bertepatan dengan itu, tangan Om Damian melambai. Aku dan Naren sontak menoleh. Dan mendapati Nadine sedang berjalan mendekat.
"Maaf Om, Nadine telat, " sapanya begitu datang.
"Tak masalah. Sini duduk di sebelah Om."
Nadine tersenyum sangat manis. "Hay, Naren, Kanya," sapanya sembari mengambil tempat duduk.
Kami mulai memesan menu makanan. Setelah pelayan resto mencatat menu yang kami pesan dan pergi untuk menyiapkan pesanan kami, perasaan tidak nyaman menyelimutiku. Apalagi sejak tadi, Om Damian lebih memilih berinteraksi dengan Nadine. Seolah abai dengan kehadiranku di sini.
"Oya, Kanya. Tadi siang, kenapa ke kantor tidak menemuiku?"
Aku yang sedari tadi memekuri ponsel, mendongak. Nadine berbicara padaku. Wajah ayunya berkilau di terpa cahaya lampu malam.
"Ah iya. Maaf, Mbak. Tiba-tiba ada klien yang minta bertemu secepatnya. Tapi nanti besok kita bisa bertemu lagi untuk diskusi. Bagaimana?"
"Boleh."
"Kanya, apa kamu nggak ada rencana buat pindah kerja ke Jakarta?" tanya Naren membuatku mengalihkan atensi padanya.
"Hey! Kamu jangan provokasi desaign art-ku ya!" Nadine mengayun-ayunkan telunjuknya ke arah Naren.
"Loh, di Jakarta itu Kanya bisa lebih berkembang dari pada di sini," bela Naren.
"Oya? Surabaya juga nggak kalah hebat dari Jakarta. Kamu pikir hanya di Jakarta saja orang bisa berkembang?"
"Ya nggak gitu, kan kalo di Jakarta Kanya jadi lebih dekat orang tuanya."
Percakapan itu terjeda, ah tidak, keributan kurasa, saat pelayan meletakkan menu yang kami pesan.
"Kalian itu kebiasaan. Hal sepele aja diributkan," ucap Om Damian. Manik cokelatnya bergerak ke arahku.
"Kanya, kamu sudah kembali bertemu dengan Naren...."
Aku memutar kepala ke arah Om Damian.
"Kamu nggak berniat pacaran lagi dengan Naren 'kan?"
Aku rasakan Naren mengalihkan pandangan ke arahku. Tidak hanya dia, Nadine juga memberi atensi khusus.
"Saya.... "
"Om harap sih yang sudah, sudah ya, Kanya. Kalian cukup berteman saja. Karena Om berniat menikahkan Naren dengan Nadine. Jadi..."
"Papa!"
"Om!"
Suara Naren dan Nadine kompak menginterupsi. Om Damian melihat mereka berdua bergantian. Senyumnya terbit.
"Tuh kan, Kanya. Bisa dilihat. Mereka sangat kompak."
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Om Damian. Di sini sudah jelas, beliau tidak bisa menerimaku kembali.
"Pah, kita sudah membicarakan ini," ucap Naren dengan suara tertahan. Mukanya sedikit memerah. Meskipun lampu-lampu di sini tidak seterang cahaya matahari, tapi aku bisa melihat rahang Naren mengeras.
"Kita makan dulu yuk." Nadine segera mengalihkan. Jika dilanjutkan, aku tahu persis apa yang akan terjadi.
Daging wagyu di hadapanku harusnya terlihat menggiurkan. Tapi entah mengapa mendadak aku tidak ingin menyentuhnya.
"Kita makan dulu yah." Naren menepuk pelan punggung tanganku. Dengan senyum canggung, aku mengangguk lalu mulai mengangkat garpu dan pisau.
Aku berusaha menikmati makan malam ini. Perutku rasanya sudah penuh. Untuk mendorong sepotong daging ke mulut pun rasanya sulit.
"Apa makanannya nggak enak? Kita bisa pesan makanan lainnya," tawar Naren membuatku langsung menggeleng.
Gila aja. Main ganti makanan seenaknya. Meskipun aku tahu dia mampu, tetap aja itu namanya pemborosan. Harga makanan dipiringku ini saja sudah nyaris membuat bola mataku keluar dari tempatnya. Harusnya tadi, aku tidak membiarkan Naren memilih menu untukku.
"Ya sudah. Sini biar aku potongkan steak-nya."
"Nggak us---"
Bukan Naren kalau dia tidak seenaknya. Perbuatannya mengundang perhatian Om Damian dan Nadine. Aku malu.
"Biar aku saja Naren. Aku bisa sendiri."
Aku mencoba memgambil piringku kembali. Tapi malah mendapat pelototan.
"Kamu bisa nggak sih nurut sekali ajah."
Aku tidak mau berdebat. Apalagi di hadapan dua pasang mata di sebrangku. Jadi, aku biarkan Naren memotong-motong steak di piringku. Setelah selesai, dia menyodorkan kembali padaku.
"Habiskan ya," ucapnya tersenyum. Manis banget 'kan dia? Ehem! Aku mengangguk.
"Kamu ini, Kanya itu bukan bocah sampe daging aja nggak bisa motong sendiri."
Gerakan tanganku yang hendak menancapkan potongan daging terhenti, mendengar ucapan Om Damian.
Itu diucapkan dengan intonasi biasa, tapi kenapa aku merasa tertohok ya?
Sepertinya aku memang sedang sedikit sensi.
Itu diucapkan dengan intonasi biasa, tapi kenapa aku merasa tertohok ya?
Sepertinya aku memang sedang sedikit sensi.
BERSAMBUNG

Aku memandang lamat-lamat ke arah Kanya. Wanita itu sekarang lebih banyak diam. Dia juga sudah jarang mendebat seperti dulu.
Setelah apa yang Papa ucapkan padanya, gestur tidak nyaman jelas sekali terlihat.
"Pah, aku hanya membantu Kanya. Apa salahnya?"
"Ya nggak salah sih. Cuma Kanya itu 'kan bukan anak yang manja. Terlebih dia sudah lama jauh dari kamu dan orang tuanya."
Aku bahkan belum pernah melihat Papa senyir-nyir ini. Seakan tidak peduli lagi, aku kembali memasukkan potongan steak ke dalam mukutku.
Whatever-lah, Pa.
Whatever-lah, Pa.
"Jadi, Nadine. Kapan kamu ijinkan Naren bertemu orang tuamu?"
" Om, tapi Naren 'kan memang sudah--"
Ya Tuhan, Papa. Kanya memang tidak terlihat terganggu. Tapi mendengar itu, bisa sajakan setelahnya dia berbuat sesuatu yang tidak aku duga. Tidak, aku tidak mau dia menjauhiku lagi. Hubunganku dengannya sudah mulai membaik.
Aku meletakkan sendok dan pisau. Dentingannya cukup keras, sehingga membuat semua mata di meja ini menoleh padaku. Mengambil tissue, aku mengelap mulutku setelah menenggak habis air putih di gelas panjang.
"Aku pikir ini akan menjadi dinner yang menyenangkan. Tapi, ternyata tidak seperti dugaanku."
Aku melirik Kanya, sebelum akhirnya mendorong kursi lalu berdiri.
"Mau kemana kamu?" tanya Papa meninggikana sedikit volume suaranya.
"Kanya sepertinya sudah tidak berselera makan disini...." wanita itu menoleh tidak percaya. Aku menggapai tangannya untuk ikut berdiri.
Kanya nampak terhenyak.
"Naren--"
"Naren--"
"Aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih menarik daripada hanya sekedar makan malam. Kami pamit dulu, Papa."
"Tapi Naren--"
Papa tidak mengatakan apapun. Mulutnya mengatup rapat. Tatapan tajamnya terus dia arahkan padaku. Sampai aku menarik paksa Kanya, untuk meninggalkan restoran ini.
Bagaimana aku tidak kesal? Papa sudah merusak semua rencanaku dengan menghadirkan Nadine. Belum lagi perkataannya yang aku sangat yakin akan berpengaruh pada Kanya. Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran Papa.
Bagaimana aku tidak kesal? Papa sudah merusak semua rencanaku dengan menghadirkan Nadine. Belum lagi perkataannya yang aku sangat yakin akan berpengaruh pada Kanya. Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran Papa.
PS. Untuk penulisan yang salah atau typo harap maklum yaa...
Belum ada revisi ini on the spot ajah, 😀
Belum ada revisi ini on the spot ajah, 😀

