Saturday, March 28, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By.  Yuli F Riyadi 

BAGIAN 10



Naren benar-benar ikut menjemput Kenan. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah kontrakanku sejak pukul lima pagi. Terlalu niat. Aku baru selesai sholat shubuh saat membukakan pintu untuknya.
Pukul setengah tujuh, aku dan Naren sudah sampai di Bandara Juanda.

"Apa dia menginap di rumahmu kalo ke Surabaya?" tanya Naren tiba-tiba membuatku menoleh.

"Aku nggak segila itu ngasih ijin laki-laki menginap di rumah orang."

"Syukurlah. Mau aku carikan sarapan?"

"Aku menunggu Kenan saja."

"Masih jam tujuh,  memangnya kamu nggak laper?"

"Aku biasa makan pagi jam delapan."

"Baiklah. Tapi harusnya kamu nggak perlu repot seperti ini sih. Kamu bisa saja menyuruhku menjemput Kenan. Kamunya di rumah aja."

Aku berdecak sebal. Mulut Naren tidak mau diam. 

"Kamu jangan bertingkah aneh kalo bertemu Kenan."

"Memangnya apa yang aku lakukan?"

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Aku bahkan biasa menjemput Kenan sendiri saat dia ke sini."

"Oya? Aku pastikan itu nggak akan pernah terjadi lagi."

Aku menggeleng. Manusia aneh ini, selalu berbuat seenaknya.

"Nadine."

"Kenapa dengan Nadine?"

"Sudah berapa lama kamu kenal dengannya?"

"Setahun belakangan."

"Nadine nggak pernah cerita."

"Untuk apa juga dia cerita. Nadine itu...."
Aku menggantungkan kalimatku. Etis tidak ya kalau aku menanyakan tentang perasaan Naren pada Nadine.

"Ya?"

"Nggak,  nggak apa-apa." Aku mengalihkan pandangan. Naren tidak boleh berpikir macam-macam. Setidaknya dia tidak boleh tahu jika sesuatu di dalam sana sedikit menggangguku saat tahu jika laki-laki yang Nadine suka adalah dia.

"Aku kenal Nadine saat di Cambridge. Karena kami sama-sama mahasiswa Indonesia, jadi kami akrab."

Tanpa aku minta, Naren menjelaskan. Mereka akrab dan wajar kalau Nadine akhirnya bisa menyukai Naren. 

Pemberitahuan mendaratnya pesawat dari Jakarta terdengar. Mungkin salah satu penumpangnya Kenan. Semoga saja Kenan tidak terkejut dengan kehadiran Naren. 

Aku langsung menangkap kehadiran Kenan. Gayanya sesantai biasanya. Jins belel dengan kaos berkerah. Jaket hitam dan tas ransel menempel di badannya. Dia juga sepertinya sudah mendapatiku karena melambaikan tangan ke arahku.

"Hei,  Kan. Kamu oke?" tanyanya begitu sampai di depanku.

"Seperti yang kamu lihat."

"Good. Maaf ya nunggu lama."

"Nggak juga sih."

"Oke, kita pergi sekarang?"

"Eh, tunggu."

Aku celingukkan mencari keberadaan Naren. Tadi padahal masih ada di sampingku. Kenapa sekarang menghilang?

"Kamu nyari siapa?"

"Dia pergi kemana sih?"

"Kamu ke sini sama siapa?"

"Aku ke sini sama--"

"Dia ke sini bareng gue."

Aku dan Kenan kontan menoleh.  Mendapati Naren datang dengan tangan membawa sebotol air mineral.

"Naren?"

"Ya, gue."

"Lo bisa ke sini?"

"Kenapa nggak? Lo aja bisa."

Aku mengamati interaksi mereka berdua. Aku merasakan suasana yang tidak menyenangkan di sini.

"Aku baru beberapa minggu bertemu Naren. Sebaiknya kita segera keluar dari sini."

"Okeh Kanya. Kamu pasti laper." Itu Kenan yang menjawab, dia lantas menggenggam tangan kiriku. Aku agak terkejut sih,  diam-diam aku melirik ke arah Naren.

Mukanya merah padam. Jika lima tahun lalu mungkin saja dia bisa seenaknya memukul Kenan,  kali ini dia nampak diam. Tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.

***
Saat hendak naik mobil, Naren memintaku untuk duduk di depan. Tapi Kenan menyuruhku agar aku di belakang saja. Dia yang akan duduk di depan. Lagi-lagi Naren tidak banyak protes, tapi dia malah menyerahkan kontak mobilnya pada Kenan. Alhasil Kenan yang memegang kemudi.

"Kita akan sarapan dimana?" tanyaku memecah keheningan yang dari tadi tercipta sejak mobil ini meninggalkan pelataran bandara.

"Gimana kalo di tempat biasa, Kan?" usul Kenan.

Aku melirik Naren yang masih belum bersuara. Di tempat yang Kenan maksud adalah bubur ayam pinggir jalan langganan.  Aku tidak yakin Naren bisa makan di sana.

"Mmm,  aku sedang ingin sarapan sandwich sih." Aku bisa merasakan Naren melirikku dari kaca spion depan.

"Oh, okeh. Kalo gitu kita ke resto 24 jam yang nyediain menu sarapan. Naren,  lo mau sarapan apa?" Kenan bertanya pada Naren yang masih saja bergeming.

"Terserah Kanya saja. Dia yang lebih tau aku biasa sarapan apa."

Aku tertegun. Iya aku memang tahu kebiasaannya dulu. Tapi mungkin saja semua sudah berubah seiring dengan waktu kan?

"Itu pun kalo dia masih ingat," sambungnya. Aku tidak membalas ucapannya.

"Baiklah, aku tau kok tempatnya."

Kenan terus berusaha membuat suasana  mencair.  Tidak peduli keengganan yang Naren tunjukkan. Pun saat sudah di resto Naren hanya memintaku agar memesankan sarapannya,  dia lebih memilih langsung duduk di kursi pengunjung. Aku dan Kenan yang memesan sarapan kami.

Setelah beberapa lama aku dan Kenan menuju tempat duduk yang sudah ditempati Naren terlebih dulu.

"Ini sarapanmu." Aku mendorong nampan berisi sandwich dan segelas susu ke hadapan Naren setelah sebelumnya mengambil sarapanku. 

Naren membuka dan mengintip sandwich yang aku pesan untuknya. Lantas senyumnya terbit.

"Kamu memang selalu tau apa kebiasaanku."

Itu bukan pujiankan? Tapi kenapa hatiku berbunga-bunga? Sial.

"Aku nggak nyangka,  ternyata lo masih suka susu." Kenan terkekeh.

"Memang ada apa dengan susu?  Itu lebih sehat dari pada kopi." Naren menunjuk cangkir yang ada di tangan Kenan.

"Memang sih,  tapi sehari tanpa kopi rasanya ada yang kurang buat gue."

"Hanya soal kebiasaan saja."

"Jadi Naren,  kenapa lo bisa ada di Surabaya?  Apa lo sengaja mencari Kanya dan menemukannya di sini?"

Apa maksud Kenan menanyakan hal itu pada Naren? Diam-diam aku melirik Naren dari balik cangkir teh yang sedang kuteguk.
 
"Apa itu perlu gue ceritain?"

"Perlu dong. Lo nggak tau sih perjuangan Kanya selama ini,  apalagi sejak dia merasa tersingkirkan."

Aku tidak tahu kenapa Kenan tiba-tiba jadi secerewet ini. 

"Maksud lo?"

"Maksud gue, setelah sekian tahun dia berusaha menata hatinya hingga menjadi seperti sekarang,  kenapa lo tiba-tiba muncul lagi? Luka yang lo buat sudah tertutup,  tapi kemunculan lo bisa membuat lukanya terbuka kembali."

"Kenan," tegurku. Kenan hanya melirikku sekilas dan tatapan tenang yang biasa aku lihat, tidak ada pada netranya sekarang.
Naren mengepalkan tangannya, menatap lurus pada Kenan. Kedua laki-laki itu seolah saling menabuhkan genderang perang.

"Ka, Kalian sebaiknya lanjutkan makan saja. Aku nggak mau ada percakapan selagi makan." Aku menatap keduanya bergantian. "Kenan please, hentikan ini semua."

Suasana berubah jadi dingin. Pengendalian diri Kenan sedang tidak baik. Mungkin dia lelah karena perjalanan  tadi.

"Kanya, aku sudah sarapannya. Apa kamu mau nambah?"  tanya Kenan mengalihkan perhatiannya padaku. Aku menggeleng.

"Kalo gitu sebaiknya sekarang kita ke penginapanku saja." Dia berdiri, menungguku agar aku ikut beranjak. 

Takut-takut aku melirik Naren. Mukanya masih memerah tangan kirinya masih terkepal sedang yang kanan mengenggam gelas susunya kuat-kuat. Selang beberapa detik,  dia menandaskan isi gelasnya.

"Ayo, Kanya." Kenan mengulurkan tangannya. Aku hampir saja menyambut uluran tangan Kenan saat tiba-tiba Naren bersuara.

"Kanya tidak akan kemana-mana." Dia berdiri menatap Kenan. Keduanya menjulang saling berhadapan.

Mataku memejam, seperti apa yang sudah aku bayangkan. Aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi keduanya?
Tapi tiba-tiba saja sebuah suara merdu terdengar memanggil namaku.

"Kanya!"

Kepalaku menoleh dan kudapati Nadine melambai ke arahku. Wanita itu kenapa ada di sini? Tak perlu waktu berapa lama,  Nadine segera menghampiriku.

"Naren, kamu ada di sini juga?" Nadine baru menyadari kehadiran Naren saat dia tiba di meja kami.

"Mbak kok bisa ada di sini?" tanyaku.

"Iya, aku ke sini sebenernya mau beli sandwich buat Naren. Eh taunya dia sudah ke sini bareng kalian."

"Hai, kamu teman Naren?" tanya Kenan tiba-tiba.

"Mbak Nadine ini klienku Kenan," jawabku.

"Hai kenalkan aku Nadine." Nadine yang cantik mengulurkan tangannya.  Kenan dengan senyuman menyambutnya. 

 "Kenan."

"Kamu pacar Kanya yah?"  tanya Nadine to the poin.

"Bukan Mbak,  Kenan temanku." Aku langsung menjawab pertanyaan Nadine yang aku rasa terlalu blak-blakan.

"Wah bukan yah. Padahal kalian kelihatan serasi."

"Serasi dari mananya? Sebaiknya kamu periksa matamu itu." Naren menyahut sinis membuat Nadine berdecak.

"Jadi kenapa kalian bisa makan di sini bersama? Naren, Kanya dan kalian berdua nggak mengajakku?"

"Maaf Mbak, tadi kami baru pulang menjemput Kenan dari bandara jadi ya sekalian breakfast."

"Oya?"

"Mbak Nadine sepertinya sudah sangat mengenal Naren. Apa nggak apa-apa,  kalo aku dan Kanya pamit sekarang?" Kenan masih saja berusaha untuk pergi dari sini.

"Kalo lo mau pergi ya pergi saja. Kenapa harus mengajak Kanya? Kanya ke sini bareng gue jadi pulangnya juga bareng gue." Naren melambaikan tangan seperti orang mengusir.

"Wait, Naren, Kanya, kalian berdua sudah lama ke ... nal?" Nadine mulai curiga.

"Mereka berdua adalah sepasang kekasih." Jawaban yang keluar dari mulut Kenan membuat mata Nadine terbelalak. "sebelum pengkhianatan merusak hubungan mereka."

"Tutup mulut lo!" hardik Naren.

"Gue ngomong apa adanya."

"Tunggu..., ada yang nggak beres di sini."
Nadine benar,  dan aku harus segera memisahkan Naren dan Kenan secepatnya.

"Naren,Mbak Nadine, maaf aku harus pergi sekarang." Aku mendorong kursiku lantas meminta Kenan agar ikut pergi juga.

"Kanya kamu nggak bisa kemana-mana," cegah Naren.

"Sorry Naren,  kamu sebaiknya lanjutkan sarapanmu sama Mbak Nadine. Aku pergi."

Aku bergegas meninggalkan tempat ini diikuti Kenan setelah sebelumnya pamit pada Nadine. Situasinya akan semakin buruk jika aku masih ada di sini di antara mereka. Dan kalau aku biarkan, mungkin saja adu mulut antara Kenan dan Naren akan terus berlanjut. Dan itu bukan hal yang menguntungkan buatku.

BERSAMBUNG

Sial! Aku beberapa kali mengumpat kesal saat Kanya pergi bersama laki-laki itu. Dia pikir dia itu siapa? Berani sekali bicara begitu padaku.

Dan Kanya, kenapa dia lebih memilih pergi dengan laki-laki itu? Si Kenan Kenan itu terang-terangan mengibarkan bendera persaingan di depanku. Oke,  siapa yang takut. Kita lihat saja.

Dan Nadine, wanita ini masih saja terus menatapku penuh tanda tanya. Matanya menyelidik dengan jari jemari yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja.

"Jadi Kanya perempuan itu?" tanyanya kemudian.

"Iya."

Mata wanita itu memejam. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.

"Dunia ini ternyata begitu sempit." Tawanya terdengar sumbang. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dengannya lagi?"

"Seperti yang sedang kamu pikirkan sekarang."

Aku lihat mata wanita itu terpejam kembali.
"Sepertinya kali ini kamu perlu perjuangan karena ada laki-laki lain di sampingnya."

"Baik dulu atau pun sekarang, aku tidak pernah merasa mudah mendapatkan Kanya. Aku dulu pernah berbuat kesalahan, sulit mendapat maaf dari Kanya. Dulu mengejarnya berat, tapi aku rasa kali ini juga akan semakin berat."

"Kamu selalu tau kemana kamu akan kembali jika merasa lelah."

Lagi-lagi tatapan penuh harapan, Nadine tunjukkan padaku. Entah sudah berapa kali aku katakan padanya. Aku hanya bisa menjadikannya teman,  tidak bisa lebih.

Author note's :

Maaf yaa banyak typo dan tanda baca berantakan dimana-mana.

Aku menulis langsung di papan wp tanpa aku edit lagi. Jadi harap maklum adanya.

Nanti kalo senggang akan kuedit kembali.

Happy weekend.

No comments:

Post a Comment

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...