Saturday, February 15, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

BAGIAN 3

Aku belum sempat mengurai pelukannya saat kulihat Alisya berjalan melewati kami. Astaga! Aku melupakan itu. Tadi Alisya aku tinggalkan di dalam tenda. Aku melihat punggungnya semakin menjauh. Tanpa menoleh sedikit  pun. Aku semakin membuatnya terluka.

Aku melepas pelukan Naren. Menatap wajahnya penuh tanda tanya. Bukannya seharusnya dia masih ada di Makassar? 

"Kenapa kamu ada disini?"

"Sudah aku bilangkan? Aku kangen sama, kamu."

"Memangnya urusan kamu di Makassar udah beres?"

"Udah dong. Makanya aku langsung kesini menyusulmu. Gila, empat hari Kanya kamu nggak ngasih aku kabar. Ponselmu kamu apain?"

Aku melangkah. "Disini nggak ada sinyal. Jadi lebih baik ponsel aku matikan."

Naren mendesah dan segera menjajari langkahku.

"Selama aku nggak ada, banyak yang coba deketin kamu nggak?"

Lihat,  baru datang pertanyaannya sudah membuat orang suntuk. Aku terus berjalan mengabaikan pertanyaan konyolnya.

"Kok nggak dijawab sih. Jadi benar banyak yang gangguin kamu?"

Kakiku berhenti melangkah, menatap Naren setengah geram. "Pacarmu ini nggak ada menariknya sama sekali. Jadi berhenti bertanya seolah aku ini banyak peminatnya."

"Siapa bilang?  Pacarku adalah gadis yang sangat manis dan menggemaskan."

Aku memutar bola mataku. Telingaku sudah kebal dengan ucapannya yang berlebihan. Dia meraih tanganku,  menautkannya ke dalam rangkuman tangannya yang besar. Ada aliran hangat yang aku rasakan. Seolah Naren sengaja mengirimkan energi itu. Aku tidak pernah memungkiri segala sikap manisnya. Itu menyenangkan. Dan hal seperti ini seakan membenarkan ucapan Kenan 'kamu sangat mencintainya'.

"Hari ini ada kegiatan jelajah pulau. Kamu nggak perlu ikut. Kamu istirahat saja. Karena akan sangat melelahkan."

"Tapi siapa nanti yang akan menjagamu?"

"Aku sudah empat hari disini. Semua baik-baik saja. Mereka menjagaku."

Hanya ada tujuh perempuan yang ikut kemping ke sini. Termasuk Alisya. Selebihnya laki-laki. Jumlah mereka cukup untuk menjaga kami.

"Tapi--"

"Kali ini jangan membantahku. Aku yakin dari Makassar kamu langsung kesini. Aku bisa melihat muka lelah di mata kamu. Kamu butuh istirahat."

Dia terlihat ragu. Meskipun dia memaksa ikut,  aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak mau peristiwa merapi tempo hari terulang lagi. 

Naren mengangguk pasrah. Syukurlah aku tidak perlu mendebatnya untuk hal ini.

"Tapi kamu nggak boleh lama-lama. Jangan dekat-dekat dengan Kenan ataupun lainnya."

Astaga! Aku tidak segenit itu.

"Apa aku juga perlu live kegiatanku nanti?"

Naren tergelak. Mengacak rambutku lalu mencubit gemas pipiku. "Sorry sayang."

Apa aku seberuntung itu memiliki pasangan seposesif dia? Tapi kadang aku juga tidak yakin dengan apa yang Naren lakukan. Lagi-lagi aku harus mengatakan ini. Aku bukan gadis istimewa. Yang istimewa di sini adalah Naren.

Mengetahui kenyataan itu, aku tidak ingin memerangkap perasaanku pada Naren terlalu jauh. Risikonya terlalu besar. Meskipun selama ini terlihat baik-baik saja. Pemikiran patah hati kadang tiba-tiba saja hadir. Jadi,  aku membentengi diriku sendiri dengan tidak terlalu menganggap serius hubungan ini. Tapi Naren selalu bisa memporak porandakan benteng yang sudah susah payah aku bangun dengan segala sikap manisnya. Iyah,  aku gampang sekali luluh, padahal baru semenit lalu aku merasa sebal padanya. Itu wanita banget. Hey! Aku juga wanita. 

Siapa yang tahan jika harus dicekoki sikap manis setiap hari oleh laki-laki setampan Naren? Jujur aku malu mengakui ini. Karena selain sikapnya yang manis laki-laki itu juga bisa membuatku jengkel setengah mati.

Saat aku mulai lelah dengan hubungan ini,  ada saja hal yang Naren lakukan untuk bisa membuatku bertahan di sisinya. Selama kesalahan Naren adalah sesuatu yang bisa aku maafkan dengan berbesar hati, maka aku akan tetap menjaga hubungan ini. Iya,  aku akan dengan mudah memaafkan kesalahan Naren selama dia tidak 'bermain' di belakangku. You know? Aku tidak bisa menolerir jika pasanganku berkhianat.

***

Jelajah pulau sangat melelahkan. Kami menyusuri hutan konservasi, merayapi rumpun bruguiera dan rhizopora, menyebrangi jurang curam dengan tali,  mendayung perahu, dan berbasah-basahan di pantai. Menyelam untuk menghitung karang merah di dasar lautan. Seharian ini kami ber-out bound training layaknya pasukan militer. Dan itu sangat menyenangkan sekali.

Aku dan Kenan kembali terlebih dulu dibanding yang lain. Mereka sepertinya masih asyik bermain dengan air laut yang jernih lengkap dengan penghuninya yang menakjubkan. Aku sendiri masih akan terus betah jika tidak ingat Naren aku tinggalkan di tenda sendiri.

Aku mencari sosoknya begitu sampai  tenda. Yang kupikir mungkin dia sedang terlelap ternyata tidak. Dia tidak ada dalam tendanya. Aku mencari dia di sekitaran tenda yang lain.  Tapi tidak juga aku temukan.

"Kenapa Kan?" tanya Kenan.

"Kamu lihat Naren Ken?"

"Di tendanya nggak ada?"

Aku menggeleng, "Di sekitaran tenda lain juga nggak ada."

"Oke, aku bantu cari yah. Mungkin dia di belakang sana."

Kenan menuntunku ke arah sumber mata air. Mungkin saja kan Naren ada di sana. Agak masuk ke dalam hutan konservasi memang ada mata air jernih, ada sungai juga yang mengalir. Kami menggunakan itu untuk mandi.

Aku baru akan bersiap meneriakkan nama Naren saat mataku menangkap sosoknya dari kejauhan. 

Hampir saja aku mendatanginya kalau saja ternyata mataku juga menemukan sosok lain bersamanya.

Aku menghentikan lajuku, Kenan di belakangku juga ikut berhenti.

"Kenapa Kan?" tanya Kenan bingung. "Itu Naren dan Alisya kan?"

Iya benar. Aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa sampai harus pergi berdua seperti itu. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap. Tapi kemudian aku tahu saat tiba-tiba hal yang sama sekali tidak ingin aku lihat terjadi. Alisya merapatkan jaraknya, dia berjinjit menangkup pipi Naren dan menempelkan bibirnya ke bibir laki-laki itu.

Aku hampir saja kehilangan nafas. Mataku terpejam. Mendadak aku menyesal telah menyusulnya ke sini. Aku tak perlu mencarinya kalau tahu akan... Sesakit ini. 

Sulit aku yakini. Tapi aku benar-benar merasa tidak baik. Rasa panas yang tiba-tiba menjalar di dadaku sangat tidak nyaman. Bukan hanya itu, aku tidak menyangka rasanya juga akan sesesak ini.

Aku memutar tubuhku dan mendapati Kenan menatapku dengan pandangan menyedihkan. Satu lagi yang aku sesalkan harusnya aku tidak perlu melibatkan Kenan untuk mencari Naren.

Aku berjalan cepat melewati Kenan begitu saja. Hal yang aku khawatirkan selama ini akhirnya terjadi. Sekuat apapun aku membentengi diri rasa sakit itu ternyata masih bisa menembusnya.

Aku benci diriku yang sekarang. Harusnya aku bisa memaklumi. Aku tidak mungkin bisa disandingkan dengan Alisya. Jelas aku kalah jauh. Dan Naren adalah laki-laki normal. Tentu saja dia akan tertarik pada hal yang lebih baik.

Sial, kenapa mataku ikut menghangat. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak secengeng ini.

"Kanya," suara Kenan di belakangku 
memanggil. Aku hampir melupakannya. Langkahku terhenti.

"Ka_kamu baik-baik aja?" tanyanya pelan.

Aku tidak boleh memejamkan mata. Tidak ingin air mata sialan itu berhasil menerobos kelopak mataku.

"Aku tidak apa-apa," jawabku tanpa membalikkan badan. "Apa aku bisa meminta sesuatu?" 

Masih berusah tetap kuat aku mengadahkan wajahku. Karena aku merasa mataku semakin panas.

"Iya?"

"Tolong, anggap kejadian tadi nggak pernah ada. Aku atau kamu tidak pernah melihatnya," ucapku menahan nada agar tidak bergetar.

"Kanya ak_"

"Bisakan?"

"Baiklah. Tapi apa kamu baik-baik aja?"

"Terima kasih, aku baik-baik aja. Aku balik ke tenda dulu yah."

Tanpa pikir panjang lagi aku kembali melangkah, bergegas menuju tendaku.
Aku kecewa dengan diriku. Air mata yang sudah aku tahan mati-matian akhirnya melaju melewati pipiku. Untuk apa aku menangis? Baru saja aku bicara  soal sebuah kesalahan yang tidak bisa aku maafkan, baru saja aku membahas hal patah hati, dan kejadian yang aku lihat tadi serasa menggodamku.

Apa sebenarnya mereka punya hubungan? Jika mengingat semua perjuangan Naren hanya untuk mendapat kata 'iya'  saat mengajakku berkomitmen, harusnya aku tidak perlu meragukan keyakinanku. Tapi yang aku lihat membuatku harus menelan kembali kata yakin itu.

Aku tahu ada yang salah dengan hubunganku dan Naren. Tapi bodohnya, aku masih mempertahankannya. Jika saja aku lebih berpikir rasional, mungkin saja aku tidak akan seterguncang ini mendapati Naren dan Alisya... Ah!

Aku mengusap kasar air mata sialan yang tidak mau berhenti mengalir ini. Aku harus terlihat tegar apapun yang terjadi. Untuk beberapa saat aku akan mencoba meredam emosi dan sakit yang sebenarnya ingin aku luapkan seketika itu juga. Aku harus bisa, sebelum aku menjatuhkan boom itu.

***

Sisa waktu di Karimunjawa aku habiskan untuk mendiamkan Naren. Aku ingin menutupi rasa marahku. Marah? Iya aku marah. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Setiap kali melihat wajah Alisya dan Naren, kelebatan mereka saling menempelkan bibir itu terbayang. Tak ayal itu membuat dadaku terasa sesak.

Naren seperti tidak menyadarinya, seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Dia masih saja bersikap manis padaku. 

Semakin sering menggenggam tanganku. Aku terpaksa membiarkan, padahal dalam hatiku merasa muak. Disini aku seperti sedang dibohongi. Diam-diam aku juga memperhatikan Alisya yang kerap mencuri pandang ke arah Naren. Mencoba melihat interaksi mereka dalam diam. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak menggubrisnya.

Bus yang menjemput rombongan kami di pelabuhan kartini sudah menunggu. Hari ini kami akan kembali ke Jakarta. Menghabiskan liburan dengan aktivitas kami masing-masing.

Naren masih menggenggam tangaku saat kami keluar bersama rombongan menuju bus. 

"Mobilku sudah menunggu kita," ucapnya.  Iya aku bisa melihat Pak Roni, supir keluarga Naren sudah ada di sana.

"Aku naik bus saja bareng yang lain," tolakku.

"Ayolah Kanya, kita bisa mampir dulu ke hotel untuk istirahat. Perjalanan ke Jakarta masih jauh. Dan kamu terlihat sangat kelelahan."

"Kamu yang lelah, aku nggak."

"Aku sudah menuruti larangan kamu untuk tidak ikut jelajah pulau kemarin. Apa kali ini juga kamu mau menolakku?"

Ya! Dan seharusnya aku tidak membiarkanmu tinggal di tenda dan berduaan dengan si barbie. Hingga.... 

"Aku nggak enak sama yang lain. Aku berangkat bersama mereka jadi aku pulang juga harus sama mereka."

"Aku sudah bicarakan ini sama Kenan. Dan dia nggak masalah."

Aku mendengus kesal. Tentu saja, Naren tidak akan dengan mudah membiarkanku pergi bersama mereka. Aku tidak tahu apa yang laki-laki ini inginkan dengan terus menempel padaku. Bukankah dia sudah mendapatkan yang lebih dari segalanya? Gadis cantik yang digilai para laki-laki di kampus. Sepadan dengannya kan?

Kulempar pandanganku ke arah rombongan di bus. Kenan ada di sana,  mengomando semua agar segera masuk bus. Tatapan kami bertemu. Aku segera berpaling. Tidak mau dia membaca kesedihan dan amarah yang sedang berusaha aku sembunyikan.

Kurasakan Naren meraih dan menggenggam erat sebelah tangan kananku. 

"Ayo!" ajaknya. Aku menyentakkan tanganku dan membuatnya agak sedikit...  Terkejut. Tanpa mempedulikannya aku menghampiri Kenan yang akan hendak menaiki bus.

Laki-laki itu tersenyum canggung. Sambil sesekali matanya melihat ke arah Naren. 

"Sorry ya Ken, aku nggak bisa balik bareng kalian," kataku.

"Yah, aku ngerti. Kamu baik-baik yah." Dia menepuk-nepuk kepalaku sekilas. "Prince charming-mu dari tadi melotot ke arahku,"   bisiknya pelan. Matanya mengedar lagi.
Aku tak peduli.

Kenan tersenyum sebelum masuk bus. 

"Kami berangkat dulu yah."

Aku mengangguk lalu melambaikan tangan melepas rombongan kemping. Aku masih berdiri menatap bus itu merayap meninggalkan area pelabuhan saat seseorang merangkul pundakku.

"Kita juga harus pergi. Kamu perlu diservis extra biar kondisimu fit kembali." 

Aku mengernyit. Menatap Naren kesal. Melepas rangkulannya dan berjalan menghampiri Pak Roni.

Aku tahu setelah ini akan terjadi apa. Si tuan posesif itu akan memanjakanku, menghamburkan uangnya untuk mengajakku menikmati fasilitas hotel dari mulai kamar suit president seluas apartemennya sampai layanan kamar yang tagihannya bisa membuatku tecengang.

BERSAMBUNG




No comments:

Post a Comment

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...