Friday, May 1, 2020

Prince Charming Vs Gula Jawa

By. Yuli F. Riyadi 

BAGIAN 15

Kami hampir saja melakukannya, jika saja Naren tidak dengan tiba-tiba memundurkan tubuhnya dari atasku. Aku tidak mengerti, dia memandangku sejenak lantas mengecup dahiku lama.

"Maaf, aku nggak bisa, nggak dengan cara seperti ini."

Aku belum membalas satu patah kata pun saat dia menutupi tubuhku dengan selimut. Pelan dia mundur, dan mengenakan pakaiannya kembali.

"Aku akan tidur di luar."

Dan kamu tahu apa yang aku rasa? Aku syok! Setelah dia melucuti semua pakaianku, dan bermain liar dengan bibir juga tangannya, dia meninggalkanku begitu saja. Dan bodohnya, aku cuma diam tanpa penolakan apapun. Aku tadi benar-benar hanyut bersamanya. Seolah tubuhku melebur jadi satu dengan tubuhnya. Aku yakin, bukan hanya aku saja yang merasakan itu. Dia juga sama. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran? Apa karena dia mengingat seseorang? Entahlah.

Aku bangun dari tidurku. Menatap diriku sendiri. Betapa buruknya aku. Secara tidak langsung aku menerima laki-laki itu kembali. Reaksi tubuhku benar-benar tidak sinkron dengan otak. Agak menyebalkan tapi sulit aku kendalikan. Aku mengusap wajah pelan. Mungkin memang harus aku mulai kembali semuanya dari awal. Menerima kehadirannya kembali di hidupku.

***

Aku menggeliat, merasakan kenyamanan di setiap bagian tubuhku. Ah! Rasanya tidak pernah aku tidur sepuas ini. Mataku mengerjap, dan perlaha membuka.
hal pertama yang aku lihat adalah, wajah Naren yang tengah tersenyum begitu teramat dekat di depan mataku.

"Apa tidurmu nyenyak?"

Aku hanya mengangguk. Sedetik kemudian Naren menarik kepalaku dan mengecup bibirku.

"Bangun dan mandi,  sarapanmu sudah siap." 

Aku menahan tangannya saat dia hendak bangun.

"Tadi malam... " aku berpikir keras untuk menanyakan ini. "apa terjadi sesuatu?"

Naren kembali mendekat. Menarik selimutku agar rapat menutupi tubuhku sampai ke leher. Tiba-tiba wajahku memanas. Aku tadi beneran tidak sadar, kalau selimutku melorot.

"Semalam nggak terjadi apa-apa. Aku minta maaf,  udah bertindak terlalu jauh."

Aku mengangguk. Hanya memastikan saja. Kalau ingatanku tidak salah.

"Tapi Kanya... "

Aku menatapnya lurus, menanti kelanjutannya.

"Kita harus secepatnya menikah."

"Apa?"

"Tadi malam mungkin aku bisa mengendalikan diriku. Tapi aku nggak yakin kalo besok-besok."

What the hell.

Dia berdiri, berkacak pinggang menatapku. Dengan sebuah seringai yang terlihat mengerikan.

"Kamu itu ...  Benar-benar indah dan seksi."

Aku mencengkeram selimutku erat-erat. Detak jantungku kembali berdebar kencang. Seperti kena siraman air panas rasanya. Aku tidak pernah merasakan salting seperti ini di depan Naren. Namun kali ini,  laki-laki itu sukses membuatku malu dan ...  Entah ini apa, tapi aku merasa melayang juga.

*** 

Aku berjalan ringan memasuki kantor milik Nadine. Menemui assistennya yang kelihatan sedang sibuk di depan layar monitor.

"Pagi, Mbak Sari," sapaku begitu sampai di mejanya. Pemilik sepasang alis tebal itu mendongak dan tersenyum ramah.

"Eh Mbak Kanya, udah ditunggu Mbak Nadine di ruangannya."

Aku memang sudah membuat janji bertemu.

"Tapi Mbak, ada tamu juga sih di dalam," beritahu Sari.

"Aku tunggu aja kali ya."

"Tapi Mbak Nadine pesan kalo Mbak Kanya datang suruh langsung masuk aja."

"Oke deh, aku juga nggak bisa lama. Soalnya masih ada janji temu dengan klien."

"Langsung kesana aja Mbak."

"Okeh. Aku ke sana dulu ya."

Sari mengangguk dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pintu ruangan Nadine agak terbuka sedikit. Aku hendak mendorongnya, saat telingaku menangkap sebuah suara yang rasanya tidak asing.

"Nadine nggak tahu Om, semua Naren yang memutuskan," samar aku dengar Nadine bersuara.

Sebenarnya ini tidak sopan, tapi entah kenapa aku ingin tahu obrolan itu. Aku sedikit mengintip celah di dalam sana. Seseorang yang sangat aku kenal duduk berhadapan dengan Nadine. Pria seusia ayah dengan garis wajah yang masih terlihat menawan itu menampilkan senyum yang tidak jauh berbeda dengan Naren. Om Damian. Jadi Nadine juga sudah mengenal keluarga Naren?

"Om sangat berharap hubungan kalian segera diresmikan, minimal tunangan dulu lah. Ingat umur dong."

"Tapi Om, Nadine dan Naren nggak punya hubungan sejauh itu."

"Ayolah, hanya kamu yang paling dekat dengan anak itu. Om dan tante juga setuju kalo Naren bisa menikah sama kamu."

"Sepertinya itu nggak mungkin Om. Naren sudah bertemu kembali dengan seseorang yang sangat dia cintai."

"Maksud kamu Kanya?"

"Iya Om,  mereka bertemu kembali."

"Benarkah? Om nggak tahu soal ini."

"Jadi,Om. Sudah pasti Naren akan memilih Kanya daripada aku. Meskipun Nadine mencintai Naren, tapi percuma kalo Naren nggak bisa sebaliknya mencintai Nadine."

Aku bisa mendengar Om Damian menghela napas berat. Mendengar percakapan mereka, membuat detak jantungku berpacu cepat. Aku tidak sampi berpikir sejauh ini. Om Damian  ternyata sangat mengharapkan Nadine. Bukannya aku akan mengecewakan mereka jika aku memutuskan kembali pada Naren?

Ada sedikit nyeri mengetahui kenyataan ini. Mungkin saja, jika aku tidak bertemu kembali dengan Naren, Nadine bisa bersatu dengan laki-laki itu. Di sini aku merasa menjadi sebuah batu penghalang. 

Langkahku mundur perlahan. Tidak jadi masuk ke dalam. Terlebih aku belum siap bertemu kembali dengan Om Damian. Mungkin saja Om Damian memandangku lain,  karena dulu sudah meninggalkan Naren.

Aku menuju meja Sari kembali,  dan menitip berkas yang tadinya mau aku diskusikan dengan Nadine. Mungkin aku akan ke sini lagi besok.

***

Kenan berdiri di depanku dengan wajah sumringah. Setelah pendakian yang dia lakukan waktu itu menjadikannya semakin terlihat keren dan laki banget. Yaa ampun...  Aku memujinya. Bukannya apa, Kenan memang keren,  tidak ada yang menyangkal. Tapi sekeren apapun dia, belum bisa menggantikan posisi Naren di hatiku. Ah! Menyebalkan. 

Setelah kejadian malam di hotel rasa rumah itu, Naren sudah bersikap seperti dulu lagi, makin secure. Dan terus membujukku agar mau cepat menikah.

"Pengalaman Semeru kemarin sangat menyenangkan. Sayang kamu nggak ikut," kelakarnya mengambil tempat duduk di teras depan rumah kontrakanku.

"Aku iri sebenarnya. Tapi kerjaan menumpuk. Banyak yang belum beres. Apa semua ada?" 

Yang aku tanyakan  adalah rombongan medaki kami. Biasanya ada sekitar tujuh orang yang ikut rombongan pendakian termasuk Kenan dan aku.

"Minus kamu doang."
Jawaban Kenan membuatku tambah iri.

"Sebentar lagi musim hujan, nggak mungkin musim hujan ada pendakian. Musim hujan itu enaknya liburan di villa ajah."

Aku menoleh. Tumben,  tidak biasanya Kenan mengusulkan villa. Dia itu tipe outdoor. Lebih suka membuat tenda daripada menginap di villa.

"Bulan depan aku ingin mengajak kamu liburan ke villa di Kota Batu. Aku bilangnya sekarang soalnya biar kamu bisa longgarin jadwal jauh-jauh hari. Gimana?"

"Kita berdua aja?" tanyaku ragu.

"Iya, nggak pa-pa kan? Atau kamu mau ajak teman juga boleh."

Aku meringis. Ke villa berdua dengan Kenan. Aku tidak yakin mengingat ada Naren yang sekarang sudah kembali mengekoriku.

"Itu, aku sepertinya belum bisa ambil keputusan. Nggak tau,  boleh apa nggak aku ambil cuti sama Tata."

"Urusan Tata biar aku yang handle."

Aku melupakan ini. Tata yang notabene sepupu Kenan, kebetulan dia boss tempatku bekerja sekarang. Mereka dekat, dan itu mudah bagi Kenan. Sama halnya saat dia menawarkan pekerjaan ini buatku. Urusan Tata memang dia bisa menangani, tapi Naren?

"Aku nggak janji Kenan. Kalopun aku bisa ambil cuti. Mungkin lebih baik aku gunakan buat pulang ke Jakarta."

"Ah kamu benar. Tapi aku ingin liburan bareng kamu. Kayaknya udah lama kita nggak liburan bersama."

Selain mendaki, Kenan memang kadang mengajakku liburan ke suatu tempat. Kalau sedang dalam mood berantakan,  aku selalu mengiyakan ajakkannya. Kenan itu teman liburan yang seru.

"Juga tentang... " aku masih ingin mendengar kelanjutan ucapan Kenan saat suara mobil mengalihkan perhatian kami. Itu Naren yang datang.

Naren turun dari mobil dengan sebuah tentengan di tangannya. Kaca mata hitamnya melekat sempurna di atas hidungnya yang bangir. Mendadak aku ingat percakapan Om Damian dan Nadine pagi tadi.

BERSAMBUNG



"Jadi kamu akan di sini terus? Tidak mau mengurus usaha Papa di Jakarta. Kamu tau Arsen masih membutuhkan kamu."

Aku menghela, siang tadi Papa menemuiku di kantor. Tadi pagi papa datang dan aku sama sekali tidak tahu soal itu.

"Sepertinya begitu, Pah. Papa juga jangan meragukan kemampuan Arsen. Dia anak yang cerdas."

"Papa nggak meragukan kemampuan anak-anak Papa. Hanya saja hotel dan apartemen kita di Jakarta lebih banyak butuh perhatian kamu."

"Aku yakin, Arsen bisa."

"Apa ada hal lain, yang membuatmu keras kepala ingin tetap tinggal?"

Papa selalu memiliki insting yang tajam. Untuk berbohong padanya kadang aku mengalami kesulitan.

"Apa karena Kanya ada di sini?"

Aku bahkan belum memberitahunya tentang ini. Dari mana papa tahu?
Mataku memejam. Sudah bisa aku tebak,  papa lebih dulu menemui Nadine dari pada aku.

"Papa bicara apa saja dengan Nadine?"

"Papa hanya ingin kalian cepat menikah."

"Aku sudah pernah bilang soal ini Pah."

"Kamu jangan memainkan hati perempuan Naren. Setelah bertemu Kanya kembali kamu mau menyingkirkan Nadine?"

"Nadine itu hanya teman. Papa sama Mama jangan terlalu berpikir sejauh itu."

"Tapi Nadine mencintai kamu, Naren."

Aku berdiri dari kursiku. Tahun lalu, papa juga menyuruhku untuk melamar Nadine. Kenapa kedua orangtuaku tidak mau menerima hubungan kami yang hanya sebatas teman? Aku tidak habis pikir.

Aku memandang lanskap kota Surabaya dari kaca besar di belakang meja kerjaku.

"Naren, masih mencintai Kanya, Papa. Kalopun aku harus menikah, itu artinya  Kanya yang akan aku nikahi, Pah."

Aku tidak lagi mendengar suara papa menyahut. Laki-laki yang sangat aku kagumi itu sepertinya sudah terlalu jengkel dengan sikapku yang masih tidak mau membuka hati untuk Nadine.

No comments:

Post a Comment

Prince Charming Vs Gula Jawa ( BAGIAN 16)

By. Yuli F. Riyadi  "Kalian lagi bahas apa?" Naren bersuara begitu sampai di depan kami. Sebuah paper bag berlogo makanan d...